Nakajima Yuki, siswi kelas 1 SMA di Akihabara Internasional School mempunyai postur tubuh yang tinggi dan langsing. Rambut panjangnya yang berwarna pirang selalu terurai panjang kecuali saat olahraga, ia selalu menguncir rambutnya menjadi dua. seperti biasa masa remaja adalah dimana masa-masa itu sudah mengenal yang namanya cinta, begitu juga dengan Yuki, ia naksir berat dengan teman sekolahnya Nakashima Kei , cowok paling populer di sekolahnya, bisa dibilang cowok cool yang pintar dan jago main basket. Namun, ia agak sedikit menyebalkan menurut Yuki. Entah, apa bisa Yuki mendapatkan hatinya.
"Hey, Yuki! Mengapa kamu melamun saja? Ayo taruh baju kamu di loker, kita kan hari ini olahraga." kata Reina, sahabatnya. "Ah, baiklah." kataku lalu bangkit dari tempat dudukku. "Kenapa harus olahraga lagi sih? Menyebalkan." kataku sambil memasukkan baju dan almamaterku ke loker.
"Mengapa kamu selalu berkata seperti itu saat pelajaran olahraga?" tanya seseorang.
"Karena aku membencinya! Memang kenapa kamu ber..." kataku terputus saat menutup lokerku dan melihat orang yang berkata barusan. "Kei?!" kataku terperanjat. "Kamu bilang membencinya? Dasar perempuan payah." kata Kei lalu meninggalkan aku. "Arghh.... dasar kamu laki-laki tidak tahu sopan santun!" geramku.
Kei hanya melihat ke arah aku sebentar sambil tersenyum sinis. "Yuki, ayo kita pergi ke lapangan . Aku dan Reina sudah siap." Kata Nara.
"Baiklah, ayo Reina, Nara kita pergi ke lapangan." ajakku.
Sesampainya di lapangan, Pak Madoka memberitahu bahwa hari ini ada latihan marathon jarak pendek. Pertandingannya hanya 1 lawan 1 itu artinya hanya ada 2 peserta. Ternyata Reina Hikari dan Himoru melawan Riko. "Lalu bagaimana dengan aku?" batinku. "Nakajima Yuki melawan Nakashima Kei!" kata pak Madoka. kata pak Madoka. "APAA!!!" jerit Yuki seperti disambar halilintar. "Pak, mengapa aku harus dengan Kei?" protesku. "Menurut absen disini menuliskan nama marganya terlebih dahulu dan nama marga kalian adalah Nakajima dan Nakashima." kata pak Madoka. Aku melihat Kei tersenyum sinis terhadap aku. "Kenapa? Apa kamu takut berlomba dengan aku?" ejek Kei. "Apa? Aku takut berlomba dengan kelinci kecil seperti kamu? itu konyol!" ejekku. "Baguslah, aku mengira kamu takut berlomba dengan kelinci karena kelinci adalah hewan yang lari dengan cepat." kata Kei lalu pergi. Aku menutup mulutku. "Kelinci? Astaga, aku salah bicara mengapa mengatakannya kelinci? Harusnya kan siput. Ah, bodoh sekali aku ini!" batinku.
Aku melihat teman-teman aku bertanding. Kulihat Reina menang melawan Hikari, Riko pun begitu. Tak lama kemudian aku pun dipanggil pak Madoka, "Yuki dan Kei silahkan untuk bersiap." DEG! Jantungku serasa ingin jatuh, bagaimana jika aku kalah nanti. Aku mengepalkan kedua tanganku dan mulai menarik nafas, aku pu bersiap-siap.
"Hey kamu takut ya?" ejek Kei.
"Aku sama sekali tidak takut!" kataku.
"Baguslah siput." kata Kei sambil tersenyum sinis.
"Ah tutup mulutmu!" bentakku
"Siap, bersedia... MULAI!" terika pak Madoka sambil meniup peluit. Aku berlari sekuat tenaga, tadinya aku ingin menyerah saja tapi aku teringat pesan nenek aku. Beliau bilang jangan menyerah dalam apapun keadaanmu karena Tuhan selalu ada didekatmu. "Ya, Tuhan selalu ada di dekatku, aku yakin Tuhan akan menolongku." gumamku. Aku berlari sekuat tenaga hingga akhirnya aku menang! "Yeah!" teriakku gembira. Kei hanya tersenyum tanpa sepengetahuan Yuki, entah itu senyum apa. Sinis atau terharu.
"Yuki, kamu hebat!" kata Reina.
"Terimakasih teman-teman.." kata Yuki lalu pingsan.
"Yuki!!!" teriak semua murid.
Kei tampak terkejut ia langsung membawa Yuki menuju UKS. Sesampainya di UKS Yuki mendapat pertolongan.
"Uhh... dimana ini?" gumamku.
Ceklek! Pintu UKS pun dibuka oleh seseorang. "Sudah sadar?" tanya orang itu.
"Kamu lagi!" kataku
"Bukankah seharusnya kamu berterima kasih hah?" kata Kei.
"Huh, terima kasih" kataku singkat lalu mencoba turun dari tempat tidur UKS.
"Butuh bantuan?" kata Kei.
"Tidak perlu aku bisa sen... aww!" ringisku. Kakiku sulit sekali rasanya untuk bangun. "Aduh... tolong aku..." ringisku.
"Katanya kamu tidak butuh bantuan".
"Huh, aku tidak membutuhkan bantuanmu!"
"Kamu yakin?
"Tentu saja!"
"Ya, baguslah kalau begitu. Mungkin kamu tak akan keluar dari UKS sampai pulang nanti." kata Kei.
"Huh, menyebalkan!" gumamku. Aku mencoba bangun dann... GUBRAK! "Aku menyerahh... aku tidak bisa berdiri..." kataku sambil melambaikan tanganku. Kei hanya menoleh tanpa berkata-kata. "Hey! Tolong aku!" kataku.
"Menolongmu?"
"Iya! Tolong aku!"
"Tadi kamu tidak membutuhkan aku".
"Sekarang aku membutuhkanmu" kataku
Kei menghela nafas panjang. "Gadis aneh sekali, tapi perjuangannya untuk berdiri luar biasa walaupun ia sampai jatuh. Padahal kakinya sempat terkilir." batin Kei.
Kei pun mengangkat tubuh Yuki dan menggendongnya di belakang. "Sekarang kamu tahu arti dari menolong?" tanya Kei. "Iya maafkan aku..." kataku menyesal. "Kamu hidup di dunia ini tidak sendiri, kamu pasti membutuhkan orang lain. Maka dari itu jangan terlalu bangga dengan kekuatan kamu sendiri." Kata Kei.
KRIINGG...!!! bel berbunyi tanda istirahat.
"Kamu mau aku antar ke kelas atau kantin?" tanya Kei.
"Kelas saja..." jawabku lemas.
"Kenapa kamu pingsan tadi?" tanya Kei.
"Entah, mungkin aku belum sarapan." kataku pelan
Sesampainya dikelas...
"Hey! itu Yuki! kata Riko. Teman-teman sekelasku tampaknya iri melihat aku digendong oleh Kei.
"Ayo bantu dia" kata Reina.
Reina dan Riko pun membantuku duduk di kursiku.
"Arigatou..." kataku.
"Ini makanlah tadinya aku ingin memberimu ini di UKS tapi tadikan kamu tidak membutuhkan aku". Kata Kei sambil menyodorkan sebuah roti coklat dan 1 susu UHT coklat ukuran mini.
"Terimakasih Kei... sudahlah tidak usah membahas hal itu lagi." kataku lemas
"Itu fakta bukan fitnah" kata Kei lalu pergi meninggalkan aku.
"Dasar menyebalkan" gumanku.
"Yuki, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Reina.
"Aku baik-baik saja kok" kataku sambil meminum susu coklat.
"Uwaa... senangnya kamu bisa digendong Kei". kata Riko.
"Huh, biasa saja" kataku.
Tampaknya teman sekelasku iri dengan kejadian tadi, huh bakalan ada gosip deh...
Keesokan harinya....
"Ya, jadi bisa dikatakan kalau tenaga nuklir itu berbahaya tapi sekaligus hebat. Lalu..." perkataan Bu Harumi terputus.
"Permisi" kata seseorang sambil mengetuk pintu.
"Silahkan masuk" kata Bu Harumi.
"Maaf menganggu Bu. Kami minta waktunya sebentar. kata pak kepala sekolah.
"Silahkan." kata Bu Harumi.
"Selamat siang semua".
"Selamat siang pak!" kata murid-murid serempak.
"Sehubungan sebentar lagi akan diadakannya pentas seni untuk kelulusan kalian, pihak sekolah akan mengadakan sebuah drama yang berjudul "Daiyamondo". Namun, tidak semua murid dapat menjadi peran. Kami hanya akan memilih 4 peran utama dan berdasarkan hasil keputusan rapat, serta penilaian dari guru-guru, inilah peran utamanya. Untuk yang berperan menjadi pangeran Edgar yaitu Nakashima Kei" kata pak kepala sekolah. Semua murid bersorak, begitu antusias.
"Lalu yang menjadi pangeran Zen adalah Nakamura Arata. Yang menjadi putri Yona adalah Igarashi Riko atau Reina!" kata pak kepala sekolah. Tenyata kedua sahabatku terpilih menjadi peran utama. "Selamat ya..." kataku sambil mengulurkan tangan kepada Riko dan Reina.
Terima kasih Yuki. Jangan kecewa atas keputusan kepala sekolah ya, kami mohon...." kata Reina.
"Tidak, sama sekali tidak. Aku senang kalian bisa menjadi peran utama untuk mewakili kelas kita." kataku sambil tersenyum.
Hari demi hari, aku sering melihat Reina dan Riko berlatih di aula. Semenjak mereka menjadi peran, aku sering pulang sendiri. Ah, tidak apa-apa mungkin aku belum pantas untuk menjadi seorang pemain drama. Suatu malam, aku melihat-lihat internet. Hanya sekedar membaca cerpen yang berjudul Daiyamondo. Aku pun membacanya, ternyata alur ceritanya mirip dengan drama di sekolahku, yaitu tentang 4 perjuangan sahabat yang masing-masing mempunyai saudara kembar dan akhirnya mereka menikah. "Dongeng yang indah..." gumamku.
Hari kelulusan pun tiba, aku berangkat ke sekolah lebih awal. Pagi itu aku melihat mereka sedang sibuk mempersiapkan kostum. "Selamat pagi, Reina" sapaku kepada Reina yang pagi itu sibuk menata rambutnya.
"Selamat pagi Yuki, oh iya apa kamu melihat Riko? Dia belum datang sedari tadi. Padahal waktunya tampil 1 jam lagi." kata Reina
"Tidak, aku tidak melihatnya." kataku.
"Dia kemana ya?" kata Reina
"Hei Reina! Aku baru mendapat kabar kalau Riko tiba-tiba tidak bisa mengikuti drama! Kakinya terkilir." kata Hayate.
"APA?!" kataku dan Reina bersamaan. Kami benar-benar tidak percaya.
"Bagaimana ini..." kata Reina.
"Bu, Bu Harumi!!! Riko tidak bisa tampil kakinya terkilir tadi pagi!" teriak Reina pagi itu.
"Apa?! Lalu bagaimana dengan dramanya?" tanya Bu Harumi. "Aku tahu, siapa yang bisa menggantikan Riko." Kata Kei. Semuanya menatap kearah Kei. Lalu tiba-tiba Kei menunjuk ke arahku.
"Aku?" tanyaku.
"Ya kamu, kamu bisa menggantikan Riko. Rambutmu mirip dengan Riko." Kata Kei.
"Tapi, aku tidak siap, kostumku, rambutku, naskahnya? aku benar-benar tidak siap..." kataku.
"Kalau urusan tata rias dan busana kami bisa membantumu. Kamu kan anak yang mempunyai imajinasi tinggi. Kamu bisa menggunakan kata-kata sendiri nanti. Percayalah." kata bu Harumi. Aku pun mengangguk akhirnya mereka semua membantuku, pertama-tama mencari kostum untukku.
Aku mencoba membaca naskahnya sekilas. Aku sudah membaca cerita ini semalam, jadi aku tahu sedikit alur ceritanya. "Nah, kamu pakai kostummu dulu sana" perintah Reina. Aku mengangguk dan segera mengganti pakaianku. Setelah mengganti pakaian, bu Harumi dan Reina membantu menata riasku. Sedangkan Hayate dan Kei membantu menyiapkan panggung.
30 menit kemudian...
"Selesai!" pekik .
"Lihatlah betapa cantiknya dirimu Yuki." kata Reina. Aku pun melihat ke cermin.
"Ya ampun... apa ini aku? Apa aku mimpi?" kataku tidak percaya. Aku memakai gaun putih dan sarung tangan putih serba mahkota bunga putih yang melingkar di kepalaku. "Rambutku... seharusnya rambut putri Yona itu bergelombang lebat kan? Mengapa ini hanya dibawah saja?" tanyaku.
"Ya, mengingat tidak ada waktu untuk merubah rambutmu, jadi lebih baik dimodifikasi sedikit." kata Reina. "Semuanya, apakah sudah sele..." kata-kata Kei terputus saat ia melihat Yuki.
"Siapa gadis itu?" tanya Kei.
"Ini Yuki". kata Bu Harumi.
"Cantiknya, kamu terlihat perfect Yuki." kata Hayate.
"Terimakasih, ayo kita ke panggung." kataku.
"Yuki, dia manis sekali... dia benar-benar mirip putri Yona yang akan menikah dengan pangeran Zen. Dia bagaikan bidadari... kenapa aku tak pernah menyadarinya?" batin Kei.
Pertunjukkan pun berlangsung dengan lancar, walaupun saat dialog terakhir, aku melupakan sesuatu. Maklum saja, aku berkata-kata dengan kalimat yang ada dipikiran aku sendiri dan sana sekali tidak ada naskah. Di tengah-tengah acara aku melihat Riko duduk dikursi roda sambil tersenyum mengacungkan jempolnya kepadaku. Aku pun tersenyum. Setelah drama selesai, aku pun mengganti kostumku dengan seragam sekolah dan naik kembali ke atas untuk membaca puisi serta menyanyikan lagu perpisahan bersama teman-temanku.
Acara perpisahan pun selesai dan berakhir dengan air mata, semuanya berpelukan. Aku sendiri duduk di bangku taman sekolah. "Kamu tahu, perpisahan itu menjadi hal yang berat untuk dilaksanakan. Tapi tidak selamanya perpisahan berakhir dengan air mata." Kata Kei lalu duduk di sebelahku.
"Maksud kamu? tanyaku.
"Dulu, aku menganggap kamu sebagai perempuan yang payah, ceroboh, pemarah, bawel, lemah tapi sekarang.."
"Sekarang kenapa?" tanyaku.
"Apakah kamu mau menjadi pacarku?" Aku menyukaimu, aku benar-benar menyukaimu!." kata Kei sambil menyodorkan bunga.
Aku agak kaget dan bingung. Bagiamana bisa Kei menyukaiku?.
Apakah aku bermimpi lagi? Tapi, ini jelas bukan mimpi. "umm.... aku pikir iya..." kataku sambil menitikkan air mata.
"Sungguh?!" tanya Kei. Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Yeahh!!!" teriak Kei bahagia.
"Hahaha..." kami pun tertawa bersama.
"Lihatlah sepasang kekasih baru!" teriak seseorang.
Aku dan Kei menoleh ke belakang. Rupanya mereka semua teman sekelasku.
"Selamat ya!!!" sorak mereka semua.
Tanpa aku sadari aku meneteskan air mata bahagia. Tak lama kemudian di balik kerumunan, terlihat Riko muncul dengan kursi roda yang didorong oleh Reina dan mendekatiku. "Yuki, peranmu tadi sebagai putri Yona benar-benar menakjubkan. Kamu seperti putri Yona yang asli. Selamat ya untuk kalian berdua. Terima kasih ya Yuki, telah ingin menggantikan peran aku sebagai putri Yona." kata Riko.
"Tidak masalah..." kataku sambil tersenyum lalu memeluk erat Riko dan Reina.
"Teman-teman, izinkan aku menyampaikan kata-kata perpisahanku yang terakhir... aku berterima kasih kepada kalian, karena telah mau menjadi teman yang baik untukku. Maafkan aku, bila aku dulu kasar dengan kalian. Sekarang aku akan mengambil langkah baru untuk masa depanku nanti. Aku ingin kita bisa berkumpul setiap ada Hayate. Untuk Kei, terima kasih telah menolong aku waktu itu. Maafkan aku yang waktu itu menyebalkan bagimu." kataku sambil menatap Kei. "Senyummu sudah cukup untuk membalas semuanya Yuki". kata Kei lembut sambil tersenyum.
Akhirnya kami pun berpelukan satu sama lain melepas haru dan sedih. Setelah itu kami berfoto bersama sebagai kenangan terakhir kami. Sungguh, perpisahan yang berakhir dengan indah sekaligus menyedihkan. Perpisahan yang tak akan aku lupakan seumur hidupku. Aku sayang kalian, Riko, Reina, dan tentu kamu Kei... Aku mencintaimu.
*
*
*
Nama penulis : Eve Vallerina. R. T