Suatu ketika, ku berangkat mengarungi lautan dengan tekad yang besar. Tiba-tiba kabut tebal datang menerpa wajahku, menghalangi retinaku untuk melihat keindahan laut.
Remang-remang kulihat seorang bidadari sedang duduk dengan anggunnya, memanjakan mata ini enggan berpaling sejenak darinya.
Wajahnya begitu mempesona bak bunga mawar yang baru mekar, matanya yang begitu memukau berwarna biru, serta bibirnya nan indah dengan coretan sangat menarik.
Aku hanya bisa memandang tanpa sepengetahuanya. Aku mencoba memantapkan diri untuk menghampirinya. Tapi, apalah daya hanya sebuah kumbang kecil dengan seribu keinginan.
Aku pun berkhayal, tentang diriku denganya di sebuah taman besar, yang di penuhi dengan aneka bunga indah, dimana hanya ada kita berdua. Sungguh indahnya jika itu sebuah kenyataan, tapi entah kapan kenyataan ini akan datang.
Tanpa sadar aku melihat dirinya sedang melamun, entah memikirkan apa. Tetapi dibalik matanya yang memukau berwarna biru, memberikan rambu tentang suatu masalah telah menerpanya.
Aku pun merasa iba melihat sang bidadari sedang termenung pilu, rasanya ingin menghampirinya, dan bertanya “ada apa gerangan.?” Tapi, aku sadar “siapa diri ini,?” aku hanya pengagum yang tidak sopan dan lemah.
Terompet kapal telah berbunyi, menandakan bahwa telah sampai ke dermaga. Dia pun beranjak dari tempat duduknya, tanpa menoleh sedikit pun padaku “Ha Ha Ha,” aku hanya tersenyum tipis dengan hal itu. Dia pun hilang dalam pandanganku, hanya saja bayangannya masih ada dalam pikiranku.
Sebelum aku beranjak dari tempat duduk-ku, dalam hatiku berdo’a, “Semoga aku dipertemukan lagi olehnya” dan “Semoga dia adalah jawaban-ku selama ini.” Aamiin.