Hai, Saya Jason.
Dari dulu sampai sekarang, Saya selalu kerja sendiri tanpa bantuan orang. Bangkit, lalu tumbang lagi, setelah bangkit, Saya tumbang lagi dan begitu seterusnya.
Saya tipe orang yang pendiam. Lebih banyak berbuat dari pada berbicara. Lebih banyak bukti dari pada menggertak. Lebih waspada, tidak mudah percaya pada siapapun.
Meskipun Saya sadar kalau selama ini sifat Saya itu buruk dan cenderung di jauhi banyak orang. Tapi karena itulah, banyak orang juga tidak berani macam-macam dengan saya.
Saya tinggal sendirian di sebuah Apartemen pribadi. Makanan mewah, pakaian mewah, fasilitas mewah, apapun itu pasti diakhiri dengan kata "Mewah".
Terkadang saya berfikir.
"Meskipun segalanya mewah, untuk apa jika semuanya itu hanya untuk sendiri? Uang semakin bertambah, tapi semua itu entah di habiskan untuk apa"
Barang yang di beli pasti pada akhirnya akan rusak menjadi sampah. Saya selalu berharap bisa memiliki pasangan yang bisa mengatur semua uang itu menjadi berguna.
Pekerjaan Saya saat ini adalah Investor, Pengusaha hotel besar dan seorang Bos Manajer transportasi Internasional. Tidak ada satupun orang yang menyemangati Saya di saat Saya tengah naik daun dan saat Saya dalam keterpurukan.
Rasanya tidak ada waktu bagi Saya untuk beristirahat. Tidur hanya dua menit dalam sehari, dan sarapan hanya dengan memakan satu buah apel dan satu cangkir kopi.
Sejujurnya Saya muak dengan semua ini. Tapi, kehidupan Saya berubah semenjak Saya kembali bertemu dengan adik kelas Saya dulu semasa masih menginjak sekolah dasar.
Sudah sekian lama semenjak perpisahan Sekolah, adik kelas saya itu selalu memaksa Saya untuk bermain dengannya. Baik itu saat dengan banyak orang, maupun saat berduaan saja.
(Tersenyum kecil) Saat itu, Saya merasa risih dengannya. Tapi lama kelamaan, entah kenapa Saya mulai terbiasa dengan tingkahnya itu. Usianya dengan saya hanya berjarak 4 tahun.
Sampai sekarang Saya tidak menyangka kalau dia tumbuh menjadi seorang guru SMA yang cantik dan terdidik. Saya bertemu dengannya itu saat Saya sedang menjemput keponakan Saya yang masih berusia delapan tahun. Kebetulan Sekolah dasar itu berdampingan dengan sekolah SMA dan SMP.
Pada saat itu dari kejauhan setelah keponakan Saya turun dari mobil. Saya melihat seseorang yang tidak asing dimata Saya, sedang berjalan berdampingan dengan banyak guru.
Karena merasa tidak asing, Saya akhirnya memasuki sekolah SMA itu dan mengikutinya dari belakang. Tidak jauh dari tempat saya memarkirkan mobil, orang itu masuk ke ruang kelas 12 A.
Dari balik jendela saya diam-diam mengintipnya. Setelah memperhatikan, sepertinya orang itu mengajarkan 2 mata pelajaran yaitu Kimia dan Matematika.
"Itu 2 mata pelajaran yang paling Saya hindari saat SMA" ucap batin Jason.
Saya terus berusaha keras mengingat orang itu baik dari namanya dan wajahnya saat dulu. Saat itu ingatan Saya terasa kabur.
Beberapa jam setelah pelajaran berlangsung. Dua orang siswa dari dalam kelas meminta izin pada gurunya untuk pergi ke toilet. Merasa ada kesempatan, langsung saja setelah siswa itu keluar dari ruang kelas Jason menanyakan langsung pada keduanya mengenai nama guru itu.
"Oh namanya Ibu Fiya om," jawab Siswa itu.
"Dia tinggal dimana sekarang?," tanya Jason berkelanjutan.
"Emangnya kenapa om? Om naksir ya?Ciee..," Anak itu mengabaikan pertanyaan Jason dan bergegas pergi ke toilet.
"Tidak, bukan seperti itu!"
...
"Pft, jadi kayak gitu kelakuan kamu...," Fiya tersenyum.
"Yah.. habisnya Saya lupa nama kamu waktu itu," jawab Jason sedikit menahan malu.
"Iya~ terserah kamu.. Udahan dulu ah ceritanya. Makanan kamu udah siap tuh, mending makan bareng sama anak-anak terus kita pergi kasih sumbangan ke tempat panti asuhan dan panti jompo," Fiya menegur.
"Oke"
Sampai disinilah cerita singkat pertemuan kembali Saya bersama dengan Fiya. Kami berdua telah menikah dan memiliki 4 orang anak.
---Tamat---