Ketika hujan turun, semua orang bersuara, semua orang bersenandung, semua orang bernyanyi, kecuali aku; Sebelum hujan turun langit mendung, putih awan berangsur kelabu, berlari-lari pulang sekawanan burung-burung gereja, sebab dari arah utara sangat kencang angin berhembus, bergegas balik ke sarang, bersuara riuh mereka sambut derai-derai yang luruh. Semuanya bersuara, semuanya bersenandung, semuanya bernyanyi, kecuali aku; Aku tegak berdiri, langit batasku!
Semua orang yang bersuara, semua orang yang bersenandung, semua orang yang bernyanyi keluar memenuhi jalan-jalan; jalan-jalan penuh dengan lautan orang, jalan-jalan riuh dengan suara-suara, jalan-jalan dipenuhi dengan senandung-senandung, jalan-jalan ramai dengan gema nyanyian-nyanyian; Hujan masih membasahi bumi, aku tegak berdiri, langit batasku!
Mereka adalah suara-suara yang merindu, aku juga merindu, tapi aku merindu dengan cara yang berbeda. Setelah sekian lama memang pantas ia dirindu-- sungai yang kering, sumur yang kerontang, tanah yang retak dan patah-patah, pohon-pohon yang meranggas-- kehidupan kembali, wajar mereka bersuara, pantas mereka bersenandung, tak salah bila mereka bernyanyi-nyanyi, siapa yang tak bersuka adalah aneh, seperti aku? Tidak. Aku pun bersuka, aku bersuka dengan caraku, aku berdiri tegak langit batasku.
Seraya ia mengucur deras membasahi tanah-tanah yang retak dan patah-patah, sumur-sumur yang kering, pepohonan-pepohonan yang meranggas, sungai-sungai yang kerontang, aku bersuara, mengajukan tanya: kemana saja engkau selama ini?