Anugrah terindah dalam hidupku, yaitu bisa menjadi seorang Ibu. Aku bersyukur bisa memberi keturunan untuk keluarga ku, walaupun penantian ini sangat lama dan penuh rintangan untuk bisa memiliki seorang anak. Suami ku bernama Akhmad Toha, dia sangat menyayangi ku dan keluarga kami. Apalagi sekarang setelah kami dikaruniai seorang putri, bernama Hani Kharisma.
Perjalanan untuk memiliki Hani sangatlah panjang, dan penuh dengan usaha yang membuat kami hampir menyerah. Bersyukur kami masih punya Ibu yang sangat sabar, dan selalu memberikan nasihat kepada anak-anaknya. Suatu hari aku dihina karena kami belum punya keturunan, sore itu kami menggunakan sepeda motor yang bertujuan mau mencari angin.
Ada seorang yang bertemu dengan kami di jalan, dia bernama Ridwan yang terkenal sebagai juragan bawang asal desa Banjaratma.
"Bu guru! Belum punya anak sampai sekarang?, kamu mandul?." Dengan nada keras, Ridwan melontarkan pertanyaan yang sangat menyakitkan hatiku dan suamiku.
Hampir saja, aku menangis di jalan. Namun suami mencoba untuk menenangkan hatiku, dengan memegang tanganku dan mengalungkan tanganku di perutnya.
Tidak lama setelah keliling mengitari desa Banjaratma, kami segera pulang karna waktu menjukkan pukul 11.15. Saat itu hari jumat, jadi waktunya suami untuk bersiap-siap berangkat sholat jumat.
Sesampainya di rumah Ibu, suami segera mandi dan berangkat sholat jumat di masjid yang dekat dari rumah Ibu.
"Nok Uci, Kenapa melamun?." Seketika Ibu membuyarkan lamunanku, memanggil ku dengan panggilan sayangnya kepadaku. "Oh! Nggak apa-apa Bu.” Aku menjawab pertanyaan Ibu dengan nada rendah, dan mataku berkaca-kaca. "Kamu menangis?.” Kedua kalinya Ibu bertanya, dengan nada lembut dan melihat mataku yang hampir meneteskan air mata. "Coba ceritakan sama Ibu, sebenarnya apa yang terjadi?. Padahal tadi kalian baik-baik saja, apa kalian berantem?.” Tanya Ibu.
Akhirnya peluh airmata ku jatuh bercucuran, ketika mendengar begitu banyak pertanyaan Ibu. Alhasil, aku ceritakan kepada Ibu apa yang sedang aku rasakan.
"Sini Bu duduk samping aku, aku mau cerita sama Ibu.” Sambil menangis, aku bercerita sama Ibu. Bahwa tadi ketika kami jalan-jalan, kami dihina karena kami belum dikaruniai seorang anak atas pernikahan kami yang hampir 3 tahun lamanya.
“Bu! Beri aku nasihat agar aku bisa memiliki keturunan, aku malu Bu, aku sakit hati karena dihina sama Om Ridwan, gara-gara aku belum memiliki keturunan.” Badanku panas dingin, dan kepala mulai terasa pusing.
"Oh! Masalah ini yang membuat kamu melamun dan menangis?.” Tanya Ibu, sambil menatap mataku. "Iya Bu! Aku sangat sedih, wanita mana yang ngga mau jadi seorang Ibu?" Jawabku sambil menghapus air mataku. "Ibu punya saran buat kamu dan Akhmad.” Ujar Ibu dengan wajah memelas.” Apa itu, Bu?” Tanyaku dengan semangat, ingin tahu apa saran Ibu.
Akhirnya Ibu memberi saran untuk kami, agar kami bisa memiliki keturunan. Yaitu kami disuruh program hamil, berobat ke dokter dengan mengecek dan memeriksa kesehatan ku dan Akhmad. Atau kami pergi ke orang pintar yaitu Pa Kyai, karena barangkali berobat menggunakan supranatural juga bisa berhasil.
"Assalamualaikum" Terdengar suara suamiku pulang dari masjid. "Waalaikumsalam"
Aku dan Ibu menjawab salam dari Akhmad.
"Kenapa mata kamu sembab Nok Uci?" Tanya suamiku dengan wajah bingung dan penuh tanya.
"Aku menceritakan kepada Ibu, kejadian tadi sebelum sholat jumat, lalu Ibu memberikan saran" Jawabku kesal. "Oh..... Iya, lantas apa yang akan kita lakukan?" Tanya suami sambil melepas sarung dan baju kokonya.
Setelah aku sudah menceritakan semua sama suami, suamipun mengiyakan saran Ibu dan segera menyiapkan berkas untuk daftar berobat di Rumah Sakit Bakti Asih Brebes.
Keesokan harinya, aku dan suami dipriksa. Aku priksa USG, dan suami priksa kesehatannya juga. Hasil priksa sudah diketahui, ternyata rahimku bermasalah kata Dokter Ari. Aku harus menjalani 6 bulan pengobatan rahim, karena ada penyakit PCOS dalam rahimku. Yaitu penyakit yang ada dalam rahim, dan mengakibatkan wanita susah hamil karena tipe rahim yang jaring-jaring.
Sedangkan hasil cek lab milik suami belum keluar dan, ditunggu selama 3 jam.
Sambil menunggu hasil cek lab keluar, kami mencari makan karena hari sudah mulai siang dan waktunya makan siang. Sambil makan siang, kami berdiskusi bagaimana kedepannya dan langkahapa yang akan kami ambil.
Makan siang selesai, kami kembali ke rumah sakit untuk mengambil dan mengetahui hasil cek lab suami. Hasil sudah keluar, dan alhamdulillah suami dinyatakan normal dan sehat wal afiat. Berarti karena rahimku yang bermasalah, jadi aku belum bisa hamil.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mengikuti pengobatan PCOS selama 6 bulan.
Selama pengobatan berlangsung, kami sangat berharap agar PCOS dalam rahimku bisa hilang dan aku bisa hamil. Kami berdoa, agar Allah Swt meridhoi niat kami untuk memiliki keturunan. Tak terasa 6 bulan, sudah aku lalui pengobatan rahim dari bulan Juli - Januari.
Hasil terakhir pengecekan rahim, ternyata aku harus oprasi agar bisa hamil. Batinku meronta, "kenapa harus seperti ya Allah?" Terucap tanya dalam benakku.
Suami mengajak aku pulang, dan sesampainya di rumah Ibu. Kami menceritakan kepada Ibu, bahwa aku harus menjalani oprasi rahim. Namun Ibu menolak, dan memberi saran kedua yaitu ke Pa Kyai yang dianjurkan sama Emah. Emah teman dekatku, sekaligus tetangga belakang rumah Ibu.
Tak berfikir lama, aku ambil ponsel.
Aku langsung menghubungi Emah lewat ponselku, aku ceritakan Semua ke Emah dan Emah mau menemani aku untuk berobat ke Pa Kyai. Abah Sholikin, nama beliau.
Malam hari aku main ke rumah Emah, minta tolong agar Emah menyampaikan pesan ke Pa Kyai. Bahwa aku dan suamiku, mau berobat ke Pa Kyai. Pa Kyai mengiyakan, dan menyanggupi untuk mengobati rahimku.
Minggu sore kami bertiga, aku, Emah, dan Suamiku pergi ke rumah Abah Sholikin. Sesampainya disana, aku dan suami diperiksa hanya sekitar 5 menit. Ternyata memang ada kendala dalam rahimku, dan perlu segera diobati dengan jeruk nipis selama 81 hari.
Dengan cara, aku minum perasan air juruk nipis setiap hari setelah sarapan. Hari pertama 1 buah jeruk nipis, hari kedua 2 buah jeruk nipis, hari ketiga 3 buah jeruk nipis. Begitu seterusnya sampai hari ke 41, yaitu minum 41 buah jeruk nipis peras asli tanpa campuran air apapun.
Dilanjut hari ke 42 yaitu minum 40 buah jeruk nipis peras, hari ke 43 minum 39 buah. Dan seterusnya dengan pengurangan jumlah jeruk nipis, setiap harinya dikurangi 1 buah jeruk nipis. Sampai hari ke 81 yaitu minum 1 buah jeruk nipis.
Selama 81 hari, aku membeli jeruk nipis dan suami yang bantu memeras jeruk nipis setiap pagi. Semua berjumlah 1681 biji buah jeruk nipis yang saya minum, yaitu 80 kg.
Sempat ada kendala ketika menjalankan terapi ada itu, karena Ibu dirawat di ICU selama 8 hari karena sakit jantung. Pada waktu itu, terapi minum perasan air jeruk nipis untuk hari ke 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31. Saya sempat mabok dan hampir muntah, karna kondisi badan sedang lelah. Tapi Alhamdulillah, aku mampu melewati semuanya. Ibu sudah diperbolehkan pulang, dan aku melanjutkan terapi di rumah.
81 hari terapi minum jeruk nipis peras asli tanpa campuran apapun, sudah aku lewati. Pada waktu itu bulan Januari-Maret. Aku, Emah, dan suamiku kembali ke rumah Abah Sholikin untuk mengecek perkembangan rahimku.
"Insya Allah. Pengobatan ini berhasil dan kamu bisa punya keturunan" Ujar Abah Sholikin dengan rasa yakin sama pertolongan Allah Swt. "Aamiin! Mudah-mudahan doa kami dikabulkan Allah Swt." Jawabku penuh harap.
Jika aku bisa hamil dan dikaruniai seorang anak, maka aku akan memcuci kaki ibu. Airnya aku minum dan sisanya buat mandi, itu sebagai nadar ku. Mudah-mudahan Allah Swt memberi pertolongan kepada kami sebagai umatnya yang lemah.
Bulan April, Ibu dibawa ke ICU lagi. Karena detak jantungnya lemah, jadi Ibu harus menjalani perawatanan jantung. Setelah Ibu sembuh dan keluar dari rumah sakit, bulan Mei aku kembali melakukan pengecekan rahim ke Dokter. Namun, aku memutuskan untuk ganti Dokter. Yaitu Dokter Sigit, aku kembali melakukan program hamil. Alhamdulillah.
Bulan Juli aku telah haid, setelah dites urin. Ternyata aku hamil, syukur Alhamdulillah aku mampu melewati semuanya dengan sabar. Pada waktu itu juga, aku memberitahukan kabar Bahagia ini ke Ibu, dan aku langsung mencuci kedua kaki Ibu. Airnya aku minum, dan sisa airnya buat mandi.
Selama 9 bulan 7 hari aku mengandung, dan melahirkan secara sesar di Rumah Sakit Bakti Asih – Brebes. Tanggal 24 April 2020, lahirlah putri cantik yang kami beri nama Hani Kharisma. Nama yang telah lama aku siapkan, untuk anak kami jika anak kami perempuan. Semua nasihat Ibu, sudah kami jalankan dengan hasil yang memuaskan. Terimakasih Ibu atas semuanya, Engkaulah Malaikat Tak Bersayap.