Terdapat rumor beredar bahwa ada kucing yang bisa berubah menjadi manusia. Hal itu tersebar di sebuah sekolah.
Oja merupakan siswa laki-laki biasa yang tidak begitu tertarik dengan rumor tak jelas tersebut. Ia hanya sekedar dengar dari percakapan keras para teman sekelasnya.
"Rumor baru kali ini berbau mistis." ucapnya dengan nada rendah.
Sesaat setelah itu, seorang guru masuk ke kelas, yang sekaligus membubarkan kerumunan murid-murid tersebut.
Jam istirahat tengah berlangsung. Oja makan siang bersama teman-temannya di kantin. Para teman-temannya sibuk membahas rumor yang beredar itu. Sedangkan Oja lebih memilih menyantap makanan yang ada di depan matanya dan mengabaikan obrolan mereka semua.
"Oja, apakah kamu percaya bahwa hal itu benaran terjadi?" Tanya salah seorang temannya yang bernama Keil.
Oja hanya menggeleng kepala sambil menyantap makanan.
"Oja kamu tanya hal beginian. Dia tidak mungkin mau membahasnya, apalagi percaya." saut temannya Loris.
"Benar juga ya." kata Keil sambil senyum cengengesan.
Sesudah makan, mereka pun kembali menuju kelas. Saat tengah berjalan, Oja merasa ingin buang air kecil. Lantas dia pun berubah arah menuju toilet seorang diri dan meninggalkan teman-temannya yang duluan ke kelas.
Toilet tampak sepi. Oja menyelesaikan urusannya itu dan bergegas pergi dari sana. Saat dirinya melangkah keluar, tiba-tiba ada seekor kucing datang menghampirinya. Kucing itu berhenti didekat Oja. Kemudian binatang itu mulai menggerakkan kepalanya ke kaki dari laki-laki tersebut. Oja hanya melihatnya sejenak. Dan mulai menyingkirkan kucing tersebut.
Berjalan menuju ruang kelas. Dengan sadar ia sudah diikuti oleh kucing itu dari toilet tadi. Oja terus melangkah hingga memasuki ruang kelas.
Duduk dibangku dan... Kucing itu pun naik ke pangkuan Oja seketika.
"Huh? Kenapa dia mengikutiku?" ucap Oja sambil menatap kucing tersebut.
Para murid yang melihatnya, langsung mendekati Oja dan mengelus-ngelus kucing tersebut. Para perempuan sekelasnya sibuk memegang kucing yang ada di pangkuan Oja. Melihat hal itu, Oja segera menyingkirkan kucing tersebut dan meletakkannya di lantai. Akan tetapi kucing itu tetap memilih kembali ke pangkuan Oja.
"Kucing itu tidak mau beranjak dari pangkuanmu, Oja." kata seorang teman sekelasnya bernama Lita.
"Aku tidak tahu kenapa kucing ini mengikutiku dari tadi." Oja merasa heran.
"Mungkin dia menyukaimu." balas Lita menerka.
Lalu guru jam pelajaran berikutnya masuk dan semua murid pun kembali lanjut belajar.
"Karena dia ada di langkuanku, dia tidak akan ketahuan selama jam pelajaran berlangsung." gumam Oja.
Pelajaran terus berlangsung hingga waktu pulang sekolah selesai.
Kucing itu menaiki sebelah pundak Oja dan tetap berada di sana tidak mau pindah.
"Apa mau kucing ini sih?" Oja bertanya-tanya.
"Kamu bawa peliharaan?" tanya Keil.
"Mana ada. Ini saja kucing entah dari mana aku juga tidak tahu. Dia mengikutiku dari toilet tadi malah." jawab Oja disela menghela nafas.
"Apakah kamu akan merawatnya?" tanya Loris.
"Sepertinya tidak. Aku akan meletakkannya di suatu tempat saat berjalan pulang." balas Oja melirik kucing yang ada di pundaknya.
"Apa jangan-jangan itu jelmaan yang..."
"Hei jangan omongin hal itu." tegas Oja yang tidak mau mendengar rumor tersebut.
"Sudah aku bilangkan tadi, Keil." ujar Loris pada Keil.
"Maaf."
Oja pun pergi meninggalkan kelas.
Ia dilirik oleh para murid-murid di saat sedang berjalan. Oja mendengar kata-kata yang mereka semua ucapkan.
Imut, lucu, menggemaskan, dan semacamnya.
Kucing itu menjadi sorotan utama di setiap jalan yang dilalui oleh Oja.
Matahari semakin terbenam. Oja sebentar lagi akan sampai di rumahnya. Dan beberapa saat kemudian, dirinya mulai meletakkan kucing itu di bawah.
"Cukup sampai disini ya. Aku ingin pulang. Dan aku tidak bisa memeliharamu. Jadi sampai jumpa."
Oja pergi meninggalkan kucing tersebut.
Di jalanan sempit, Oja bertemu dengan kawanan preman yang sedang mabuk. Dirinya menatap ke preman yang menghalangi jalan tersebut.
Lalu...
"Berikan kami uang. Cepat!" kata si preman mabuk itu.
"Aku tidak punya uang." balas Oja.
Lelaki itu lanjut berjalan. Akan tetapi langkahnya seketika terhenti. Si l
preman itu menahan sebelah tangan Oja. Lalu melangyangkan tinjuan ke arahnya.
Oja terjatuh dan merasa sakit karena pukulan keras itu. Ia berusaha bangkit, lalu coba melawan mereka semua. Pertarungan terjadi di antara mereka. Preman itu mulai mengeroyok Oja yang seorang diri. Kemudian sebuah pukulan benda menghantam tubuhnya. Oja tersungkur dengan luka yang mengeluarkan darah cukup banyak.
"Jangan main-main dengan kami!" ucap preman itu dengan tatapan menantang.
"Sebaiknya kita geledah dia dan habisi setelahnya." kata salah seorang preman.
Oja di geledah. Dari tas hingga dompet. Terdapat uang didalamnya. Setelah itu mereka pun berniat untuk menghabisi Oja.
"Katakan selamat tinggal pada dunia nak."
Preman itu mulai mengambil ancang-ancang untuk memukul.
Pukulan dari sebuah benda keras dilayangkan. Dan...
"Hah?!"
"Jangan harap kau bisa menghabisinya."
Seorang gadis muncul di hadapan Oja. Dengan sebuah samurai, Ia berdiri dengan gagahnya dengan posisi pedang yang menangkis serangan barusan.
"Telinga kucing... Samurai... Siapa kau?" tanya Oja.
Lalu gadis itu mulai beraksi dan melancarkan serangan terhadap para preman tersebut.
Satu persatu, mereka terkena tajamnya samurai milik sang gadis misterius itu. Dan berakhir dengan kaburnya para preman tersebut.
"Sekarang kamu aman. Dan ini uangmu." ucap gadis itu dengan selingan senyum.
Oja bertanya mengenai gadis misterius yang datang secara tiba-tiba di hadapannya. Akan tetapi...
"Kamu akan tahu nanti. Hati-hati dijalan. Aku permisi dulu."
gadis itu pergi meninggalkan Oja seorang diri disana.
Lelaki itu menaruh rasa penasaran. Dan hal itu terjadi pada hari seterusnya dengan dugaan yang telah dipikirkan setelah kejadian tersebut.
"Apakah rumor itu benar adanya?"
-----SELESAI-----