PELAKOR?
Julukan ini sebenarnya tak pantas untuknya, meski aku tetap ingin menyematkan kata itu padanya. Mengapa kubilang tak pantas? Ia perempuan baik, sopan, cerdas, dan berprofesi mulia. Meski tidak cantik, ia memiliki daya tarik pada gaya bicara dan bahasanya. Penampilannya tidak istimewa, jauh dari kesan modis, meskipun tidak juga jadul.
Pokoknya ia biasa saja.
Tapi aku tetap memberi label PELAKOR, kenapa? Karena ia mencintai suamiku, dan suamiku juga mencintainya. Meski tak ada hubungan apa pun diantara keduanya, aku tetap merasa sakit hati.
Siapa yang tidak sakit hati, saat tahu suaminya diam-diam masih mencintai perempuan lain dari masa lalu? Siapa yang tidak sakit hati, ketika tahu ada perempuan lain yang mencintai suami kita diam-diam. Siapa yang tidak sakit hati ketika tahu bahwa keduanya ternyata begitu romantis dalam diam? Diam-diam saling mencintai, diam-diam saling mendoakan, diam-diam menyimpan kenangan, diam-diam menikmati keindahan perasaannya... aaaahh... 😭😭😭
Bagiku, pelakor bukan hanya akronim perebut laki orang tetapi juga pecinta laki orang. 😎😎 Nah, dia masuk kategori kedua.
Aku benci, benci sekali pada perempuan itu! Tapi aku tak bisa melakukan apa pun kepadanya. Aku pernah berkirim pesan padanya, memperingatkan untuk tidak saling berkirim pesan lagi dengan suamiku. Tetapi pesanku diabaikan. Hanya dibaca, tanpa balas. Tak ada penerimaan pun penolakan. Apalagi permintaan maaf. Aku kesal sekali!!!
Aku ingin memarahinya secara langsung, bila perlu mempermalukannya, tapi aku khawatir jika nanti aku sendiri yang akan dipermalukan. Sebab tak ada bukti autentik bahwa ia merebut perhatian suamiku, selain chat messenger yang entah berapa bulan sekali, namun itu belum cukup dijadikan bukti bahwa ia merayu suamiku, sebab pesan romantis nya itu pun tertulis di laman sastra online miliknya. Ya, dia juga seorang penulis. Dan yang paling membuatku surut ada beberapa balasan dari suamiku untuknya yang juga terkesan romantis.
Banyak orang bilang, selingkuh emosi itu lebih bahaya dari selingkuh fisik. Mengungkapkan perasaan secara tertulis, efeknya lebih dalam daripada pengungkapan secara lisan. Kurasa itu benar. Suamiku mencintai perempuan itu sejak berumur 14 tahun, kini usia suamiku 49 tahun. Artinya 35 tahun ia menyimpan perasaan cinta kepada perempuan itu, bukan hanya disimpan tetapi bahkan dipelihara. Ditutup saat lupa, dikeluarkan saat diserang rindu. Sialnya lagi, perempuan itu pun memiliki perasaan yang sama.
Bayangkanlah bagaimana perasaanku.. 😭😭
Delapan belas tahun lalu aku menikah dengan suamiku. Aku merasa mengenalnya dengan sempurna. Ia lelaki baik, Sholeh, cerdas, berakhlak mulia, ramah dan humoris. Pokoknya is the best. Kami tinggal di kampung yang sama, RT yang sama, bertetangga. Orangtua kami kenal baik. Itu sebabnya orangtuaku tidak menolak (bahkan mungkin merasa beruntung) saat ia melamarku untuk dijadikan istri.
Selain kualitas pribadinya yang "top", ia juga berstatus PNS di sebuah lembaga hukum. Keluarganya dikenal terhormat dan disegani di kampung kami. Tanpa keberatan apa pun orangtuaku menikahkan kami, meski umurku baru menginjak 20 tahun dan baru saja menyelesaikan kuliah diploma di jurusan bahasa asing. Usia kami terpaut sebelas tahun, ia genap tigapuluh satu tahun saat itu.
Aku sendiri jatuh cinta pada suamiku sejak aku masih remaja, ia cinta pertama bagiku. Aku belajar baca tulis Al-Qur'an di TPA yang didirikan oleh keluarganya, guru-guru mengaji kami adalah suamiku dan saudara-saudara kandungnya. Bagiku ia guru mengaji paling asyik. Wajahnya tampan dengan kulit putih kemerahan, rambut pirang yang selalu tercukur pendek dan tersisir rapi, gaya bicaranya ramah, selera humornya basah. Gaya bercandanya menyenangkan. Aku yakin, bukan hanya aku yang jatuh cinta padanya kala itu. Maka aku merasa beruntung sekali saat ia mendekatiku dan menyatakan cinta, lalu melamarku. Dunia adalah milikku, bisik hatiku.
Rumah tanggaku berlangsung bahagia, pertengkaran kecil memang ada tapi selalu bisa dilalui bersama. Aku anak pertama dalam keluarga, hingga harus bisa menjadi teladan bagi adik-adikku dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan berkeluarga. Sholehnya suamiku juga mendukung kondisi ini. Kami adalah pasangan ideal dalam kacamata keluarga dan tetangga.
Putra pertama kami lahir disusul adiknya setahun kemudian, mereka lucu-lucu, nyaris seperti anak kembar. Secara umum tidak ada masalah yang prinsip dalam keluarga kecil kami. Aku seperti ratu dalam rumah tanggaku. Suamiku sangat pandai mengambil hatiku. Terlebih aku memang sangat mencintainya, hingga seluruh jiwa dan ragaku memang bulat-bulat kuserahkan padanya.
Menjelang keberangkatan ibadah haji kami sepuluh tahun lalu, suamiku mengajak berbicara dari hati ke hati. Meminta keikhlasanku dan permohonan maaf atas semua khilaf dan kesalahan selama kami berumahtangga, demikian pun aku. Namun tak pernah kusangka, dalam pengakuannya terselip nama seorang perempuan yang pernah dicintai dan mencintai suamiku di masa remaja, tetapi mereka tak berjodoh. Perempuan itu menikah lebih dahulu.
Aku menganggap cerita suamiku sebagai kisah cinta monyet belaka. Toh kini ia telah menjadi suamiku dan kami hidup dengan bahagia. Perempuan itu juga bahagia dengan keluarganya. Dia tidak berarti apa-apa lagi.
Kepercayaan diriku pun lebih bertambah saat di tanah suci suamiku bersumpah untuk menjadikan aku sebagai satu-satunya wanita yang ia cintai. Aku bahagia sekali, tak pernah sedikitpun aku meragukan kekasih halalku ini.
Ternyata aku keliru.
Mendengar penuturan suamiku bahwa ia bertemu kembali dengan perempuan itu di media sosial membuat aku ingin mencoba bermedia sosial juga. Maka suamiku membuatkan aku sebuah akun medsos. Aku menikmati dunia baru ini, aku terus menambah teman-teman di dunia mayaku. Sebagian besar teman-teman kerja suamiku, sebagian lagi teman-teman sekolah dan tetanggaku yang sudah lebih dulu memiliki akun media sosial.
Saat seorang temanku menyukai sebuah status, aku pun mengunjungi beranda si pemilik status. Kulihat status-statusnya yang disetting publik bagus-bagus. Aku pun mengirimkan permintaan pertemanan yang beberapa hari kemudian approved. Lalu dengan leluasa aku melihat informasi pribadi dan statusnya yang ternyata banyak sekali dan kuakui "bagus-bagus". Kata-katanya indah, kalimatnya penuh makna. Bahkan status kesehariannya pun menarik untuk dibaca.
Dengan ringan aku memberikan tanda jempol pada setiap statusnya, mengomentari, dan bertukar komentar di berandanya. Ia ramah, pintar, dan baik hati. Itu kesanku tentangnya.
Nama profilnya terdiri dari dua kata, dan entah kenapa aku lebih suka menyebut nama belakangnya dalam setiap komentar atau membalas komentarnya di statusku, meskipun nama belakang ini mirip dengan nama "teman" suamiku itu.
Berteman dengannya di medsos cukup menyenangkan, ia seperti menebarkan energi positif bagi sekelilingnya. Ia seorang perempuan yang hangat dan penuh semangat. Meskipun kadang statusnya puitis dan melankolis.
Cukup lama kami berteman, hingga suatu hari aku iseng membuka akun medsos suamiku, membaca pesan-pesan yang masuk, dan terkejut sekali mendapati nama teman baruku itu dalam daftar pesan suamiku. Penuh rasa penasaran aku membukanya, banyak percakapan disana. Percakapan awal adalah tentang keyakinan suamiku mengirimkan permintaan pertemanan padanya, mungkin saat itu suamiku tak tahu bahwa teman baruku ini adalah "teman"nya di masa lalu, percakapan berlanjut. Ada pembicaraan tentang komitmen mereka untuk tidak mengungkit masa lalu. Lalu percakapan lainnya, yang membuat air mataku tak henti mengalir. Pesan-pesan itu tidak terkirim secara rutin, namun pada setiap pesannya tersimpan rindu yang buncah dari perasaan terdalam. Ternyata... teman baruku ini adalah perempuan yang pernah diceritakan suamiku dan kisah sedih tentang cinta mereka terus berlanjut.. 😭😭😭
Meski hatiku sakit luar biasa membaca pesan-pesan itu, aku mengulang-ulangnya. Seperti ada magnet dari setiap kata yang mereka tuliskan, mungkin karena mereka menuliskannya benar-benar dari hati sehingga mampu menghipnotis pembaca, terutama aku, yang seolah seperti orang ketiga diantara mereka.
Mereka "tidak berteman", tetapi puluhan percakapan mereka kutemukan dalam messenger.
Aku terus membaca pesan-pesan mereka, meski sambil menangis. Aku menangisi kisah mereka sekaligus menangisi penderitaanku. Mereka tersiksa dengan perasaan yang mereka tanggung, aku pun tersiksa dengan perasaan yang mereka miliki satu sama lain.
Suamiku dan perempuan itu sama-sama piawai menyusun kata. Kalimat-kalimat mereka yang indah itu tidak hanya melukai mereka berdua, tetapi juga menusuk-nusuk jantungku. Betapa kejamnya kata-kata itu, menikam hatiku ribuan kali.
Terpikir olehku, dengan kapasitas dan kualitas suamiku di masa lajang, aku yakin banyak perempuan lain yang pernah "dekat". Tetapi hanya Perempuan ini yang dianggap istimewa olehnya, hingga pernah menjadi obyek pembicaraan kami dan permintaan maafnya bertahun-tahun lalu. Ia terlalu dalam bersembunyi dalam hati suamiku, hingga sulit untuk dikeluarkan. Memikirkan hal ini hatiku semakin sakit, air mataku berderai-derai lagi.
Satu hal yang membuatku sedikit lega, tak kutemukan janji temu dalam percakapan mereka, sehingga aku menduga mereka memang tak pernah bertemu muka. Paling tidak, mereka masih menjaga muruah masing-masing.
Aku tetap berteman dengannya, pura-pura tidak tahu siapa dia. Sampai suatu saat kulihat dia tidak ada lagi dalam daftar temanku. Mungkin dia menghapusku dari pertemanan, entah kenapa. Bisa jadi ada hubungannya dengan pertengkaran aku dan suamiku perihal chat messenger mereka.
Aku pun menghitung waktu antara pertengkaran satu dengan pertengkaran berikutnya tentang perempuan ini, ternyata berselang lima tahun. Berarti selama lima tahun ini suamiku belum berubah, masih tetap mencintainya, menyimpan sosok perempuan itu dalam hatinya.
Betapa sedihnya aku... 😭😭😭
Aku mencari tahu nama lengkap perempuan itu dan menemukan profilnya di FB. Dia seperti memiliki dua kehidupan dengan dua akun. Di akun aslinya dia tampak profesional, statusnya cenderung berat dan ilmiah, membahas berbagai aspek kehidupan dalam persepsi obyektif, positif, dan adil. Nyaris tak kutemukan kata-kata puitis romantis seperti tertulis di beranda akunnya yang lain. Pasti ada alasan mengapa seperti ini.
Di akun asli ini, suamiku terblokir. Saat aku mencari nama ini dengan akun suamiku, ia tak kutemukan. Padahal saat aku menggunakan akunku sendiri, nama itu menjadi satu-satunya nama yang ada di jagat FB.
Jujur saja, Perempuan ini bahkan menarik keingintahuanku lebih lanjut tentangnya. Namun mempertimbangkan hatiku yang semakin berdarah tiap kali melihat foto-foto dan aktifitas nya, aku pun menghindar. Terus terang, aku kalah "roh". Dia yang terlihat biasa dan sederhana, namun aku tetap merasa tidak sebanding. Kami tidak satu level, dia terlalu jauh diatasku. Maka cemburuku pun semakin menjadi-jadi padanya.
Lalu aplikasi bergambar telepon dengan latar hijau mulai populer. Hampir semua pemilik HP android menggunakannya, tak terkecuali aku dan suamiku.
Suatu hari aku iseng membuka HP suamiku, terbaca pesan:
["melihat foto profilmu, wajahmu benar-benar seperti wajah orang yang susah... susah dilupain.. 😀😀]
Hatiku yang sudah agak lama "mendingin" jadi "panas" lagi. Tanpa berkompromi, aku memblokir nomor itu dari nomor suamiku.
Kami berdebat panjang soal chat WA itu. Suamiku membela diri, bukan dia yang berkirim chat lebih dulu. Aku tahu, ia kesal sekali padaku yang terlalu posesif. Tapi aku berharap ia lebih kesal lagi pada perempuan tak tahu malu itu. Dalam kejengkelannya, suamiku pun un-install aplikasi.
Apakah selesai..? Tidak!
Beberapa waktu suamiku tidak menggunakan aplikasi WhatsApp, hingga kesulitan sekali saat teman-teman kerjanya menyampaikan informasi kerja melalui WAG. Akhirnya ia minta izin untuk menginstal aplikasi hijau itu lagi. Aku izinkan, dengan syarat nomor perempuan itu tetap terblokir.
Aku mengawasi chat WA nya secara ketat, kutandai nomor-nomor tak dikenal. Aku tak ingin suamiku terjerumus dalam dosa, itu alasanku. Padahal sebenarnya aku sedang terserang virus cemburu.
Hingga suatu ketika aku menemukan suamiku tergabung dalam grup kelasnya di SMP, tentu saja satu diantara anggotanya adalah perempuan itu. Diam-diam aku memantau percakapan grup setiap Minggu, saat suamiku pulang. Ya, suamiku bertugas di kantor kabupaten yang agak jauh sehingga harus tinggal di mess dan pulang ke rumah setiap Jumat sore.
Kulihat percakapan dalam grup normal-normal saja, bahkan suamiku dan Perempuan itu tak pernah saling sapa. Baguslah.Tapi tetap saja aku dihantui rasa takut.
Mungkin suamiku paham perasaanku, beberapa kali ia memergoki aku sedang membaca chat grup SMP nya. Suatu hari ia berpamitan keluar grup. Aku pun menjadi agak tenang. Kemungkinan mereka untuk saling baca komentar dalam grup dan menyimak kabar masing-masing tidak ada lagi.
Semoga saja dengan waktu yang terus berjalan dan usia yang terus bertambah, perasaan mereka pun berubah.
Ternyata aku keliru lagi.
Beberapa bulan kemudian aku melihat notifikasi percakapan grup itu lagi, ternyata seorang teman kembali memasukkan nomor suamiku ke dalam WAG. Namun beberapa hari berikutnya kulihat Perempuan itu berpamitan keluar grup. Terus terang aku senang sekali! Aku tak perlu mengamati percakapan grup secara ketat. Toh, dia sudah tidak ada.
Tapi ternyata mungkin anggota grup itu banyak yang menginginkan dia kembali masuk grup, dengan alasan sosoknya "ngangenin". Kuakui memang, membaca percakapan grup mereka terasa seru jika Perempuan itu ada, ia yang paling aktif berkomentar dan menanggapi canda dan curhat teman-temannya.
Aku pun dag dig dug lagi.
Beberapa bulan kemudian kulihat Perempuan itu sudah kembali menjadi anggota grup. Aku kembali mengamati percakapan grup. Malam-malam saat suamiku mengajar di TPA, aku mengikuti percakapan WAG, demikian juga saat dia tidur. Diam-diam aku mencuri baca percakapan grup. Kulihat keduanya sama-sama menahan diri, tak sekata pun mereka saling sapa. Meski ada yang mulai memancing, mereka tampaknya tetap bertahan. Aku pun agak lega.
Sampai suatu petang, selesai sholat Maghrib, suamiku seperti biasa mengajar ke TPA dan HP tertinggal di rumah. Aku melihat percakapan grup agak ramai, iseng kubuka beberapa pesan yang belum sempat dibaca suamiku. Betapa terkejutnya aku, ternyata siang itu suamiku mengirimkan puisi ke grup yang mengundang berbagai komentar dari teman-temannya, dan secara tersirat puisi itu ditujukan kepada perempuan itu. Hatiku terasa panas, dadaku membara, nafasku serasa bercampur api. Rasa tak sabar aku menunggu suamiku pulang.
Duabelas tahun, mereka tak berubah. Perasaan mereka masih kuat satu sama lain. Aku dibakar cemburu. Tubuhku terasa disayat sembilu, jantungku bagai ditikam belati. Ini lima tahun kedua sejak pertengkaran pertama. Cerita mereka tak juga usai. Suamiku, aku yakin sekali masih menyimpan rasa yang sama. Demikian juga Perempuan itu. Meski ia menanggapi komentar teman-temannya dengan santai, aku tahu dia pun merasa tidak nyaman dengan ulah suamiku.
Marahku hingga ke ubun-ubun, kutumpahkan semua saat suamiku pulang. Ia hanya diam, tenang, seolah sudah memprediksi keadaan. Aku menangis, tak terima. Teganya mereka kepadaku.
Aku memaksanya keluar grup, aku sendiri yang mengeluarkannya. Kukirim pesan pada seorang temannya untuk menyampaikan alasan suamiku keluar grup, kukatakan istrinya (aku) benci sekali pada perempuan itu. Biar ia malu. Aku benar-benar emosi. Aku berharap semua selesai sampai disini.
Ternyata tidak.
Dua minggu kemudian aku melihat namanya muncul dalam notif chat messenger suamiku. Perempuan ini benar-benar tidak tahu malu. Aku sudah siap untuk memakinya dalam chat messenger, lalu kubaca pesannya dengan dada berdebar karena marah. Tapi aku terhenyak membaca pesannya yang lumayan panjang namun berbahasa santai. Ia seolah tak bersalah, baginya tak ada masalah apa pun. Ia justru menumpahkan kekesalannya pada suamiku dengan cara yang "santuy"... bahkan berterimakasih atas ulah suamiku di grup. Weleeh.. pesaing macam apa yang kuhadapi ini..?
Aku membalas chatnya, kukatakan aku tak suka jika ia berkirim pesan pada suamiku. Aku berkata sopan meski tetap menyengat. Bagaimanapun aku mengimbangi sikapnya. Aku tak mau menjadi lebih rendah karena ketidaksopananku dalam kemarahan. Namun aku kecewa lagi, ia sama sekali tidak merespon chat itu. Aku merasa diabaikan, peringatanku tak digubris.
Duapuluh bulan sudah berlalu, tak satu pun notifikasi pesan masuk dari Perempuan itu. Aku pun mencari berita tentangnya, tak mungkin ia hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Ternyata ia kini memimpin sebuah lembaga pendidikan. Mungkin kesibukan membuatnya tak sempat lagi memikirkan suamiku. Diam-diam aku bersyukur.
Semoga semuanya berakhir, dan kali ini aku bermohon kepada Tuhan, jangan membuatku keliru lagi.
Tapi tunggu dulu, kemarin sore aku melihat ada tambahan menu di ponsel suamiku. Sebuah aplikasi bergambar pesawat kertas berwarna biru. Tampaknya ini aplikasi sejenis WA, bertajuk Telegram. Mungkinkah sekarang mereka menggunakan aplikasi ini? Kuharap tidak.
Setidaknya hingga saat ini aplikasi ini belum menerima pesan dari Perempuan itu.