Di tengah kegelapan aku tengah memakai topeng dua wajah.
Menyembunyikan kebenaran sebagai dusta.
Seseorang yang melakukan sekali kebohongan, Ia akan terus-menerus melakukan hal itu.
Bagiku
Nikmat sekali rasanya senikmat menyiram luka orang lain dengan air garam.
Walaupun aku tahu hal itu akan menyakitkan dirinya, tetap saja aku melakukannya tanpa timbang rasa.
Kebenaran yang diubah menjadi dusta bagaikan kayu di makan api, perlahan-lahan habis terbakar.
Lantas hanya menyisakan remah abu yang tidak mungkin, berwujud kayu seperti semula.
Diriku tidak lagi aku kenali, Bahkan aku tidak tahu siapakah aku ini sebenarnya.
Sering kali aku berkaca di depan cermin, lantas bertanya kepada diriku sendiri.
Apakah sosok yang ada dihadapan cermin ini adalah diriku.
Aku selalu mencari jawaban tentang siapakah diriku, orangtuaku, saudariku, keluargaku, namaku, dan di tahun kapan aku terlahir.
Tapi semua itu sia-sia.
Aku tidak menemukan jawaban yang aku cari, aku sudah menyerah dan tidak berharap pada siapapun.
Menyendiri adalah kamusku, dunia ini seperti kaca tembus pandang di mataku.
Tidak ada gunanya juga aku bicara, dunia begitu menjijikkan, dan menyebalkan, berisik, membuatnya telingaku berdenging, sakit jika melihat orang berbicara kepada sahabat, orang-orang yang di sayangi.
Aku lebih baik tidak pernah melihat itu, karena hanya membuat mata, hatiku, jantungku, bahkan pendegaranku, terasa sakit jika aku melihat semuanya...! mendengar semuanya.
Hah...!!!
Bahkan makhluk halus tertawa melihat diriku yang konyol ini, aku tidak menghiraukannya aku sudah terbiasa melihat hal itu.
"Mata sialan.
Aku menggores samping mataku, berniat untuk melukainya namun aku memandangi diriku sendiri.
Aku menyibak rambutku memperlihatkan mata keparat yang ku maksud, padahal aku sendiri enggan tuk melihatnya, tapi sudahlah.
Kubuka lens mataku, lens yang berwarna hitam kutaruh ketempat nya semula, lalu aku memandangi wajahku aku mendesis.
Ck...!!!
Gen mata merah, banyak orang-orang selalu memakai lens merah, namun bagiku mata ini menjijikkan, dan ku pandang setiap inci wajahku.
Kulit yang begitu pucat, hah aku kembali mendesis lalu ku pandang dahiku, yang terukir sebuah tato menyerupai sebuah angka yang tidak ku ketahui apa artinya, dan sebekas luka di leher aku tidak mengetahui apa penyebabnya.
Aku memukul kaca lemari hingga pecah
"Pranggg....!!!
"Begitu menjijikkan...! bahkan aku tidak tahu apa ini maksudnya...!!!
"Brengsek mana yang melahirkan anak seperti diriku ini...!!!
Hah...! percuma aku teriak, tidak ada yang peduli karena apartemenku no190, dan berada di lantai paling atas.
Aku memakai pakaian ku lagi, kemudian memakai lens biru serta penutup wajah dan aku keluar menuju RS.
"Apakah anda yakin hasil X-ray saya tidak tertukar dengan orang lain, Saya yakin ada peristiwa yang terjadi seperti itu ucapku datar.
"Sayangnya tidak tuan.
Aku menyatakan yang ada di benakku dengan lebih bersungguh-sungguh
"Laporan Laboratorium itu mungkin secara tidak sengaja, petugasnya menempelkan nama saya pada kertas yang salah.
Perlahan dia menggelengkan kepalanya
"Saya sudah memeriksanya dua kali, saya selalu melakukannya dalam kasus-kasus seperti ini keamanan praktek medis seperti biasa, dan lagi anda bisa mencari orang lain saja untuk mengecek sendiri mata anda saya angkat tangan tuan, Saya tidak bisa terlibat lebih dalam.
"Hey, apa maksudmu?!
Dokter itu berlalu pergi tanpa menoleh aku, Berdecak sinis.
"Ck...! Sudah kuduga orang-orang ini, semuanya brengsek hanya mencari alasan...!
"Bilang saja otakmu tidak mampu...! Aku berlalu pergi meninggalkan RS menyebalkan itu.
Skip
Aku tidak tahu sudah seberapa jauh aku berjalan di tengah terik matahari pagi, dan yang aku ketahui dari diriku aku berjalan mau seberapa jauh pun aku tidak merasakan adanya lelah bahkan keringat pun tidak keluar, menyebalkan.
Sampai aku tiba di sebuah jembatan panjang yang melengkung turun ke sebuah lapangan di pinggir danau.
Ingin rasanya aku membenamkan diri ke dalam danau itu sampai malaikat maut mencabut nyawaku, tenggorokan ku terasa haus.
Aku melangkahkan kaki menyusuri jalan untuk mencari minimarket terdekat.
Akhirnya ketemu...
Kulihat hanya ada aku, si kasir, dan Bapak tua yang sedang mencari sesuatu di rak obat.
Setelah beberapa lama, kudengar kasir itu membentak Bapak tua itu.
"Kau pikir aku peduli dengan masalahmu?
"Tapi aku benar-benar lupa membawa kartu ATM ku. Jawab Bapak tua itu lirih
"Itu bukan urusanku kau pulang saja kerumahmu sekarang!
"Maaf nak aku benar-benar butuh aspirin sekarang, Aku bisa meninggalkan KTP sebagai jaminan.
"Pergilah...! Bisa bangkrut minimarket ini dengan orang sepertimu.
Akhirnya bapak tua itu pergi dengan kesedihan di wajahnya.
Aku melangkah menuju kasir, dan berbicara dengannya namun dia malah marah dan mengusirku, aku pun melangkah pergi dengan sinis.
Dengan hati yang marah, aku memutuskan untuk duduk menenangkan diri di halte bis disekitar situ.
Kusibak lengan bajuku, dan terlihatlah sebuah pistol, ku buka dan kuisi dengan peluru, aku melangkah kembali ke minimarket itu.
Terpikir sebuah ide, ide yang menarik bukan.
Aku paling benci kepada orang yang kasar sok berkuasa.
Pegawai kasar itu sedang menutup pintu minimarket.
"Berapa usiamu?
Dia melotot dan mendorongku
"Bukan urusanmu, Ucapnya.
Kutodongkan pistol ke dahinya, dia langsung ketakutan dan menjawab.
"Du...dua puluh tiga tahun tuan.
"Sayang sekali jika saja kamu bisa berlaku sopan kamu bisa panjang umur.
Dia gemetar, kutekan pelatuk pistolku bersiap menembak namun ada seseorang yang tengah berjalan sekitar lima orang, aku tidak mau berlama-lama.
Aku mnyibak lengan kiriku, mengambil sebuah pisau putih, lalu kutusukkan di lehernya supaya dia mati dan tidak mengeluarkan suara, Ahh aku terbawa suasana lagi ku tekan lebih dalam lagi, Kuputar-putar pisau ku.
Keluarlah darah segar membasahi tanganku, pegawai itu mati aku menutup kepalaku dan bergegas pergi tidak lupa aku menuliskan sesuatu di kertas dan menyelipkannya di saku pria itu.
"MULUT YANG KASAR SUNGGUH TIDAK BERMAKNA, ORANG INI LAYAK MATI...!!!
Tertanda : Ol****D.
"Aku segera menuju bis terakhir dan pulang ke apartemen ku, aku lelah hari ini.
Malam ini aku tidur sangat nyenyak dan damai dan ketika aku bangun, ternyata sudah pukul sembilan, setelah mandi aku menuju dapur dan meminum minuman kaleng serta sepotong roti, aku memakai pakaian ku yang terbaik lalu aku ingat aku kehabisan painkiller ku.
Akupun mampir di sebuah apotek di sudut jalan, tempat itu belum pernah di kunjungi sebelumnya.
~Penjaganya mengenakan jas yang terlihat seperti dokter, duduk di belakang teko soda sambil membaca koran dan seorang agen penjual keliling sedang mencatat sesuatu di buku pesanannya yang besar.
Penjaga itu tidak menoleh dari bacaannya ketika aku masuk
Aku membeli koran dan membaca aksi pembunuhan ku.
Agen itu menatapku dan berkata
"Mereka mendapatkan sidik jarinya pada kertas notes itu, Mereka juga mendapatkan tulisannya dan inisial si pelaku, Dan mereka tidak menemukannya juga. Ada apa sih dengan para polisi sekarang? si angen mengangkat bahu.
Ketika si agen pergi si apoteker itu masih saja membaca koran, aku berdehem dia segera menyelesaikan bacaannya yang panjang lalu mendongak.
"Ya...!?
"Aku mau membeli pain killer jenis ini dan harganya seratus ribu.
Apa yang kukatakan membuatnya bagai tersambar petir, Dia hanya memandangku selama lima belas detik penuh kemudian dia beranjak dari kursi dan berjalan pelan menuju ke belakang apotek menuju rak toko berteralis.
Langkahku mendadak berhenti demi melihat pipa-pipa yang di pajang di rak, setelah beberapa saat aku merasa ada yang mengawasi dan aku menoleh.
Si apoteker itu berdiri di ujung rak terjauh, dengan satu tangan berkacak pinggang dan tangan lain memegang botol obatku dengan acuh
"Kau mau aku membawakannya?
"Terserah" Jawabku.
"Dasar orang aneh serta menjijikkan yang malang, kau terkena kanker ya ejeknya.
Aku bergerak mendekati si apoteker dan mengeluarkan pisau dari balik kemejaku lalu menempelkannya di lehernya.
"Apakah jika memang benar aku orang kampung,aku tidak boleh membeli obat?!
"Sungguh berisik.
Dia ketakutan dan menjawab.
"Maaf, Maafkan saya dik.
"Berapa usiamu?!
"31 tahun dik, Ampunilah saya dik ambillah uang di kasir...! Pintanya memelas.
Namun di mataku, orang memelas di luarnya saja namun di dalamnya ck aku bisa melihatnya.
"Menjijikkan...!!!
"Jlebb...!!!"
Ya aku menusukkan pisauku ke perutnya dan mengorek isinya dan mengeluarkannya, apoteker itu langsung tergeletak mati aku berlalu pergi.
Ketika dia mati aku menuliskan pesan, saat ini aku membunuh untuk diriku sendiri dan sepertinya aku perlu minum obat.
Aku berlalu pergi meninggalkan apotek dan menuju rumah mengambil tas ku dan barang-barang ku yang perlu saja dan pergi meninggalkan kota Jakarta, pergi kemana saja batinku yang terpenting tidak bertemu dengan orang-orang menyebalkan seperti mereka semua.
Membunuh itu menyenangkan. kataku dalam hati dan berjalan pergi di dalam hati aku bergumam.
"Jadi untuk yang kasar, dan tidak menghargai orang tua dan orang di sekelilingnya
Orang sombong dan sok berkuasa...!!!
"Jangan sampai kau bertemu denganku...!!!
[๐๐ฅ๐ข๐ฏ๐๐ซ ๐. ๐๐ฌ๐ก๐ฐ๐จ๐จ๐๐ฌ]