Deretan kursi terduduk rapi di sebuah ruangan besar tanpa seorang pun berada di sana kecuali seorang gadis yang sedang sibuk mencari sesuatu. Ia menggeser-geser kursi-kursi itu mencoba menemukan benda yang hilang. Kain biru yang sengaja diselimuti pada setiap kursi di ruangan ini sangat menyulitkannya. Itulah alasan ia harus menggeser satu-persatu seluruh kursi yang ada di ruangan ini.
Tangannya cekatan menggeser setiap kursi, matanya sengaja mengurangi kedipan khawatir tak sengaja melewatkan sesuatu. Sesekali ia mengangkat kepalanya dan melihat betapa luasnya ruangan ini. Dan memikirkan berapa lama lagi ia harus melakukannya. Hari ini benar-benar hari yang buruk baginya. Sejak pagi tadi hingga saat ini banyak sekali yang sudah terjadi dan semua itu benar-benar menurunkan moodnya.
"Semua diawali bapak itu, tanpa alasan ia menamparku di depan umum, aku bahkan tak pernah melihatnya," gerutu gadis itu mulai kesal karena kunjung menemukan kuncinya.
Benda yang hilang adalah kunci rumahnya, tentu ia harus menemukannya jika ingin pulang. Ia terus mencari benda itu hingga akhirnya ia menyelesaikan setengah bagian. Ia duduk dan meluruskan kakinya terlebih dahulu. Mengatur napasnya kembali. Menyandarkan tubuhnya pada kursi dan mulai mengamati seluruh ruangan.
"Kapan semua ini selesai? Aku harap kuncinya berada tidak jauh lagi," gumamnya tak pada siapa pun.
Di tengah pelepasan rasa letihnya, terdengar suara detakan sepatu yang mendekat. Ia menoleh ke arah sumber suara dan menemukan pak satpam berjalan mendekatinya. Ia mengerti waktunya telah habis. Tapi, ia belum menemukan kunci itu.
"Bagaimana mbak? Apa sudah ditemukan?" tanya pak satpam dengan ramah.
"Belum pak."
Gadis ini sama sekali tak merasa kesal melihat satpam ini baru tiba setelah setengah bagian ia selesaikan. Jelas sekali ia melihat saat itu pak satpam sedang sibuk dengan kelompok ibu-ibu yang tak kunjung menemukan aula yang mereka tuju, sehingga mau tak mau pak satpam ini harus mengantar mereka dan gadis itu harus mencari kunci sendirian.
"Bagaimana kalau mbaknya balik lagi besok? Nanti akan saya kabarkan ke petugas yang membersihkan aula ini kalau ada kunci yang mungkin tertinggal."
Penawaran yang bagus, terlebih lagi sepertinya tubuh ini sudah telalu letih untuk menyelesaikan setengah bagian lainnya, pikir gadis itu.
"Baiklah pak, besok saya balik lagi, terima kasih pak, maaf merepotkan," jawabku kemudian kami pergi dari aula itu.
Sebuah tempat makan tak jauh dari gedung ini terlihat tak terlalu ramai, sehingga ia memutuskan untuk mampir sembari mencari tempat untuk bermalam. Beberapa nama hotel masuk dalam rencananya. Semoga saja ada kamar kosong.
"Hai, Vera!" sapa seseorang dari sudut lain.
"Dita?" gadis bernama Dita itu segera menghampirinya dan mulai berbincang manis dengannya.
Sudah cukup lama gadis ini tak berjumpa dengan temannya itu. Tepat setelah kelulusan putih biru mereka. Beberapa topik mereka mainkan hingga akhirnya sampai pada sesi curhat. Percakapan ini mengalir begitu saja dan gadis itu mulai bercerita kalau ia sedang mencari tempat untuk bermalam. Mendengar semua itu Dita menawarkan rumahnya, "Kalau gitu bagaimana kalau kamu menginap di rumahku, lagian kita sudah cukup lama tidak ngobrol seperti ini."
"Apa tidak merepotkan? Bagaimana dengan suami kamu?"
"Aku belum menikah, karena itu santai saja, mau ya."
"Baiklah, terima kasih."
**
"Wah, sekarang kamu susah sukses ya," puji gadis itu melihat indahnya rumah kawannya itu.
"Banyak pengorbanan untuk ini," jawab Dita menatap rumahnya.
"Pengorbanan itu tidak sia-sia," lanjut Vera dengan senyum hangatnya.
Dita menunjukkan kamar khusus untuk Vera beristirahat malam ini. Tapi karena Vera maupun Dita belum merasa ngantuk, mereka memutuskan untuk menonton film terlebih dahulu. Dita menyiapkan beberapa camilan untuk menemani mereka nonton malam ini dan Vera sibuk memilih film mana yang akan mereka tonton.
Setelah perdebatan yang cukup panjang--cukup untuk membuat meja yang awalnya kosong telah terisi dengan banyak camilan dan minuman bersoda, akhirnya Vera dan Dita memutuskan menonton film horor yang tengah ramai diperbincangkan. Banyak artikel mengatakan film tersebut merupakan adaptasi dari kisah nyata. Dan kebetulan keduanya belum menonton film tersebut.
Beberapa waktu berlalu, ketegangan dalam film benar-benar membuat suasana rumah yang awalnya damai menjadi sedikit menakutkan. Melihat jarum kecil pada jam di dinding telah hampir menginjak angka 12, keduanya memilih tidur karena esok hari harus dimulai bahkan sejak matahari belum benar-benar menampakkan dirinya. Apalagi Vera harus kembali ke aula itu untuk mengambil kuncinya.
"Ver, jangan lupa pakai selimutnya ya, akam terasa dingin biasanya dan tidur yang nyenyak, bangun besok pagi," saran Dita yang masih terduduk di sofa depan televisi.
"Oke, aku duluan ya," jawab gadis itu lalu menghilang di balik pintu kamarnya.
"Jangan lupa pakai selimutnya, bangun besok pagi," gumam Dita dalam kesendirian.
Detika jam bersautan dengan langkah kaki Vera yang beranjak pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar Vera segera membaringkan tubuhnya, membuat dirinya nyaman setelah satu hari ini seperti terkena pandangan buruk. Tak lupa ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut cukup tebal. Perlahan rasa kantuk mulai datang, membuat matanya tak lagi kuat menahan redupnya cahaya smartphone. Ia meletakkannya di atas laci dan mulai memejamkan matanya.
**
Tuk tuk
Tuk tuk
"Apa itu?" gumam Vera terbangun dengan suara seakan ada seseorang yang memukul dinding dengan palu.
Mata yang disipitkannya karena rasa kantuk mencoba mencari sumber suara. Ia merasa suara itu tak jauh dari kamar ini. Ia memastikan tak ada seorang pun yang tiba-tiba masuk ke kamar ini, khawatir seorang perampok berusaha masuk ke dalam rumah.
Setelah beberapa waktu Vera tak lagi mendengar suara ketukan itu, ia kembali memejamkan matanya. Ia berusaha kembali ke mimpi indahnya yang sempat terputus.
Tuk tuk
Tuk tuk
"Sebenarnya suara apa itu?" ucapnya dalam hati yang tetap memejamkan mata berusaha tak mendengarkan suara ketukan yang semakin lama semakin mengganggu. Ia tak tahan dengan suara itu, tapi rasa lelah dan kantuknya tak membiarkan ia pergi memeriksa sumber suara itu.
Kring
Tiba-tiba suara lonceng kecil berbunyi, lonceng kecil yang mengingatkan Vera pada kunci rumahnya yang hilang. Tapi entah kenapa rasanya ia sangat malas untuk bangkit dan memeriksa. Dan ia pun terlelap kembali dalam tidurnya yang akhirnya damai.
**
"Selamat pagi," sapa Dita yang tengah sibuk di dapur.
"Pagi." Vera mencoba membantunya menyiapkan sarapan. "Masak apa?"
"Hanya nasi goreng dan telur dadar resep mama, semoga kamu suka."
Vera tak biasa dengan sarapan, sedangkan Dita setiap paginya selalu sarapan karena menurutnya itu sangat penting. Selain itu, kebiasaan dari kecil tak bisa dihilangkannya. Setelah sekian lama Vera sarapan dan rasanya sedikit aneh untuknya.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Dita.
"Aku tidur sangat nyenyak dan rasanya sangat segar pagi ini," jawab Vera semangat setelah merasakan kesegaran yang berbeda.
"Syukurlah."
"Tapi semalam aku sempat mendengar suara ketukan dan juga lonceng kecil," lanjut Vera.
"Biasa, di sini setiap ada tamu selalu seperti itu, sepertinya ada yang tidak suka aku memiliki tamu, tetangga sebelah selalu membuat keributan, maaf ya kalau sampai kamu terganggu," jelas Dita.
"Tidak masalah, lagi pula semalam aku benar-benar lelah, karena itu, setelah aku terlelap dalam tidurku lagi, aku tidak mendengar suara itu, aku merasa sangat nyaman, terima kasih sekali lagi," jelas Vera membuat senyuman hangat terlihat di wajahnya.
"Ini kuncimu, tadi pagi sewaktu kamu mandi, petugas aula datang." Sebuah kuncir bergantungkan lonceng kecil diberikan pada Vera.
"Bagaimana bisa ia tahu?"
"Kamu bilang kunci itu hilang di aula itu dan kebetulah aku kenal dengan dengan pemiliknya, jadi ya kamu mengertilah."
"Terima kasih sekali lagi, aku jadi tidak perlu putar balik karena arah kantorku berlawanan dengan aula itu."
"Iya tidak masalah."
Sarapan mereka telah selesai dan tiba waktunya untuk berangkat kerja. Vera berpamitan terlebih dahulu dan Dita kembali masuk untuk mengambil beberapa barang.
"Sepertinya dia menyukaimu Vera," gumamnya tersenyum hangat.