"Kita ada dimana ini?" tanya Reja kebingungan.
"Aku tidak tahu, ja. Sepertinya kita sudah tersesat terlalu jauh." balas Mita.
"Jadi bagaimana caranya agar kita bisa kembali ke pos pendaki? tanya Bayu sambil memandang area sekitarnya.
"Hmm Entahlah." jawab Saka yang tak tahu.
Di sore hari yang mana matahari sudah hampir tenggelam, Reja beserta teman-temannya yaitu Mita, Bayu, Saka, dan Nastya, tengah tersesat di dalam hutan kala sedang menuju pos pendaki.
Mereka semua berjalan terlalu jauh. Di sebabkan karena sebelumnya, Saka mengajak mereka semua untuk pergi menelusuri lebatnya hutan di kawasan gunung yang telah selesai didaki tersebut.
Sekarang, perasaan resah dan bingung pun tiba.
Nastya mulai melampiaskan amarahnya pada Saka, karena membuat mereka semua tersesat saat ini. Dan Saka pun balik membalas Nastya dengan emosi.
"Semua gara-gara kamu!" kata Nastya menyalahkan.
"Kalian juga kan yang mau mengikutiku. Jangan salahkan aku sepenuhnya!" balas Saka.
Saka dan Nastya adu mulut hingga membuat suasana bising karenanya. Mendengar keributan dari dua orang temannya itu, Reja langsung membentak mereka berdua.
"Diam! Kalian membuat kita tambah pusing! Sadarilah bahwa ini salah kita semua. Percuma menyalahkan kalau ujung-ujungnya ngikut juga di awal." Reja marah dan seketika membuat dua orang temannya itu terdiam.
"Sudah. Jangan ada keributan lagi. Kalau kita saling salah menyalahkan, ini tidak akan selesai. Lebih baik kita cari jalan untuk sampai ke pos." tutur Mita.
"Maaf telah membentak kalian. Tapi Kita harus sampai di pos sebelum hari gelap sepenuhnya."
Saka menoleh ke arah Nastya. Lalu dia meminta maaf. Begitu pula dengan Nastya itu sendiri. Melakukan hal yang sama yaitu meminta maaf juga.
Setelah berbaikan, mereka semua mulai melangkah menelusuri hutan dengan harap menemukan jalan keluar dari sana dan bertujuan untuk sampai ke pos pendaki.
Berjalan dan terus berjalan. Belum ada titik terang dari langkah kaki mereka tersebut. Hari mulai gelap secara perlahan. Dan hutan pun terasa dingin kala bulan memancarkan cahayanya.
"Hari sudah gelap dan kita masih di dalam hutan ini." kata Bayu yang masih terus berjalan.
"Kita harus terus mencari. Tolong di ingat-ingat lagi rute yang kita lalui sebelumnya." cakap Reja pada semua teman-temannya.
Suara burung hantu terdengar, membuat suasana hutan menjadi tambah seram. Jalan secara berurutan, berharap dapat menemukan jalan keluar dari sana.
"Seingatku tadi kita lewat sini." Nastya mengingat akan rute laluannya.
"Lewat sini?" heran Mita.
"Tapi..."
"Tapi kenapa, Nas?" tanya Bayu.
"Kita sudah beberapa kali melewati tempat ini." jawab Nastya yang seketika menggegerkan para temannya.
"Hah? Yang benar kamu?" tanya Bayu tak percaya.
"Benar. Aku sudah menandai beberapa bagian dan kalian tidak sadarkah?"
"Berarti ini terjadi secara berulang?"
Nastya mengangguk.
Reja mengajak seluruhnya untuk tetap terus berjalan. Dan sesaat ingin lanjut melangkah, Saka mengambil sebuah pisau dari dalam tasnya.
"Ada apa Saka?" tanya Reja.
"Tidak ada apa-apa." jawab Saka.
"Mungkin sebagai penanda di batang pohon atau semacamnya?" terka Mita.
"Itu ide bagus." ucap Bayu.
"Baiklah. Sekarang ayo jalan." Reja memimpin perjalanan mereka dalam menelusuri lebatnya hutan malam.
Semak belukar hingga aliran air pegunungan dilalui oleh mereka berlima. Saat tengah melewati jalan yang cukup curam, Nastya terpeleset dan dalam sekejap Bayu menolongnya.
"Hampir saja. Hati-hati Nastya." ucap Bayu seraya memegang erat tangannya.
"Terima kasih, Bayu." Nastya bangkit dan lanjut melangkah.
Reja masih membuka jalan bagi para temannya itu.
Usai menjelajah dalam waktu yang lama, akhirnya ia menemukan sebuah jalan keluar dari hutan lebat tersebut.
"Ini jalan keluarnya." Reja berlari setelah melihat jalan keluar yang ada di depan matanya.
"Akhirnya kita semua bebas!" Teriak Reja dengan rasa senangnya.
Larian itu terhenti setelah Reja keluar dari hutan tersebut. Dan dirinya menoleh ke arah teman-temannya yang ada di belakang.
Akan tetapi...
Mereka semua sudah tidak ada lagi di belakang Reja.
"Kemana mereka pergi? Bukankah tadi mereka semua bersamaku?" tanyanya dalam hati.
Melangkah mendekati hutan itu kembali. Reja memikirkan teman-temannya tersebut. Teriakan seolah memanggil sudah dilakukannya. Tetapi tetap tidak ada balasan dari dalam hutan sana.
"Apa mereka tertinggal di dalam sana?"
Lalu dirinya memandang ke bawah. Betapa terkejutnya dia. Di dekat sepatunya, terdapat sebuah pisau milik salah seorang temannya yaitu Saka. Pisau itu sudah tidak bersih lagi. Hanya ada cairan merah yang melapisi mata pisau tersebut.
Reja gemetar hebat dan terduduk setelahnya.
Sulit berkata-kata, sehingga air mata keluar dengan derasnya.
Setelah itu Reja pun berteriak sekencang-kencangnya atas kejadian yang sudah dilihatnya barusan.
-----SELESAI-----