waktu menunjukan pukul 19.00 Irawan berjalan gontai, wajahnya menampakkan lelah yang sangat setelah beraktivitaa dari pagi hari. tidak di hiraukanya panggilan penjualan makanan yang berderet di jalan masuk gang yang hanya berukuran lebar 2,5 meter tersebut.
"apaguna ijasah ini?" hardiknya dalam hati di dalam lamunanya.
arya adalah seorang pemuda yang lahir di lingkungan kumuh dimana kekerasan dan kata2 kasar adalah hal biasa.
arya adalah anak yang pintar dari sekolah dasar hingga pendidikan menengah selalu menduduki pringkat di kelasnya, bahkan di bangku kuliah arya adalah mahasiswa yang berprestasi dengan kelulusan suma cumlaude.
arya lahir dari keluarga miskin ibunya adalah tukang cuci pakaian, dan ayahnya hanya kuli panggul, dimana penghasilan mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan 4 orang anaknya. arya adalah anak pertama dimana teman-teman di kompleksnya menganggap sekolah membuang waktu, arya tidak karena dia yakin untuk mengubah harkat dan martabat keluarganya adalah dengan pendidikan. walau keluarganya tidak sanggup memenuhi kebutuhanya, arya tidak ambil pusing dari kecil dia melakukan apasaja untuk dapat terus bersekolah, bahkan ketika arya memutuskan melanjutkan pendidikan menengah warga kampungnya mencibir dan mengoloknya.
"mungkin benar yang mereka katakan tidak ada gunanya pendidikan ini" bathin arya lagi.
arya terus menyusuri gang tersebut dengan gontai mencoba membalas sapaan tetangganya yang seperti mengolok dengan senyum.
"tukang sarjana, kok rapi amat sudah sugih ya? sapa salah seorang
"wah cah pinter kampung pulang, bagi-bagi duit donk" yang lain menimpali
menghadapi sapaan yang mencucuk hati itu, arya mempercepat langkahnya, akhirnya dia tiba di depan gubuk kecil.
"assalamualaikum"
"waalikum salam, kok malem banget pulangnya nak"
"nggih bu, tadi arya mengunjungi 4 perusahaan untuk wawancara kerja"
"piye hasilnya nak?"
"gagal bu"
"oh, sing sabar ya nak, awakmu sudah makan tadi ibu ada masak sedikit buat ade-ade mungkin masih ada sisa"
" nggih bu, arya sudah makan, buat bapak aja" walaupun belum makan seharian arya tau bahwa orang tuanya adalah tipikal yang menyembunyikan kesusahan di depan anak-anaknya, selama anak-anak bisa makan, ayah dan ibunya berbagi supermi sebungkus atau tidak makan sudah biasa. dan arya semenjak remaja mengetahui itu dan selalu ber alasan selalu sudah makan di luar.
arya bergegas ke bilik kamar mandi, sejurus kemudian dia sudah memasuki kamarnya dan berbaring di lampin sambil melihat tumpukan lamara yang tinggi di pojokan kamarnya.
"tak ada guna keseriusan ini," batinya.
pikirannya melayang mengingat-ingat kejadian yang di alaminya.
sejak wisuda 3 bulan lalu, arya optimis dengan nilai yang di milikinya dia akan bisa sukses dan bisa membawa kebaikan buat keluarganya.
dia bersemangat mencari info lowongan kerja dimana-mana, menyusun curicullum vitae dan membuat surat lamaran pekerjaan, dia juga bersemangat mengantarkan ke perusahaan-perusahaan yang di harapkan sambil menuggu panggilan dari perusahaan tersebut.
ada yang menolak, ada yang menerima surat lamaran tersebut, bagi arya yang sudah hidup susah dari kecil, hal itu tidak mematahkan semangatnya.
dari beberapa surat yang di terima ada yang tidak ada kabarnya ada juga yang memanggil untuk wawancara, tapi semua senada, semua menolak dengan berbagai alasan, bidangmu tidak sesuai kompetensi perusahaan, sampai alasan yang sangat receh dan tidak masuk akal "nilaimu terlalu tinggi, perusahaan tidak bisa menentukan gajihmu"
"memuakkan dan irasional" kata yang terlontar setiap mengingat hal tersebut.
arya sangay tahu dia hidup di dunia kapitalis dimana orang yang memiliki uang bebas bicara apa saja dan semua itu menjadi rasional.
bahkan arya adalah orang yang tertawa geli dan muak sewaktu membaca berita ada istri seorang miliader bangga sudah bisa memecahkan telor, dan membelikan hadiah mewah buat istrinya tersebut." prestasi akan kalah dengan kecantikan dan kekayaan" kesimpulan arya membaca berita itu.
arya semakin tenggelam dalam lamunanya tentang kejadian hari tadi, ada salah satu kejadian dimana nilai IPKnya yang 3,8 kalah dengan seorang wanita berok mini dengan baju hem menonjolkan belahan dadanya yang besar bahkan arya sial mendapat nomor panggilan di bawah wanita itu, karena setelah 30 menit wawancara. wanita itu keluar dari ruangan bergandeng dengan si pewawancara dan mengumumkan bahwa wanita penerimaan telah selesai. arya merasa tidak percaya dan bergegas menuju meja HRD mencoba mengintip berkas wanita tersebut ternyata IPK nya hanya 2,5..
mengingat kejadian itu arya tersenyum " kalau kau bodoh setidaknya harus cantik dan tidak bermoral" dia tertawa sambil mengusap matanya yang berkaca "brengsek kau moralitas" batinnya
"awakmu nopo le, ketawa sendiri?" ibunya menegur dari balik dinding kamar, memecah sesaat lamunan arya
"ora nopo-nopo bu" arya menjawab simpel
dia duduk mengambil sisa rokok di asbak dan membakar, di hisapnya dalam-dalam "dunia apa salahku, apakah kurang keras usahaku?" arya terdiam pikiranya melayang memandang dinding kamar dan matanya sejurus melihat kalender pembagian waktu pemilu kemaren, matanya tertuju pada tulisan "KAMI SIAP MENSEJAHTERAKAN RAKYAT".
" tai kucing" hardik arya
arya berdiri dan memandangi kalender itu membaca tulisan visi misi yang tertuang dan program-programnya.
"mengurangi kemiskinan, membuka lapangan pekerjaan,pendidikan gratis," arya membaca sambil tanganya menunjuk wajah penuh senyum dan gagah berdasi di kalender itu.
"hai bandot tua, kemiskinan di negeri ini selalu meningkat, lapangan kerja tidak pernah tersedia , kalaupun ada di sikat oleh keluarga dan relasimu, pendidikan gratis omong kosong, kamu tau betapa susahnya aku mengumpulkan uang untuk menebus buku-buku itu?, kesehatan gratis bullshit, kamu tau berapa kali ibuku sakit di tolak di rumah sakit karena kami tidak sanggup bayar BPJS?"
setelah dia puas menghardik dia kembali di dapinnya meluruskan pinggangnya.
" ya tuhan, bukanya hamba mengeluh, tolong bolak balikkan hati mereka" guman arya lirih.
arya memiringkan badannya, melihat kembali tumpukan berkas lamaran yang belum di antarnya
"aku tidak butuh apa-apa di dunia ini ya Tuhan, cukup berikan situasi, dimana cukup dengan berusaha giat, tanpa harus terlahir di tempat yang tepat, tanpa harus menyogok dan menyuap, tanpa harus punya koneksi, semua orang bisa sukses"
arya memejamkan matanya dan berlahan hanyut dalam kantuknya, cukup sudah keluh kesahnya hari ini, dan biarkan besok kehidupan akan menuntunya kembali mencari peruntungan. bukankah selama daun masih tumbuh perjuangan akan terus berjalan.
......tamat.....