Author: Nocita Maria
Length: 1shoot
Main Characters
- Park Jimin as Jimin
- Kang Seulgi as Seulgi
Cameo
- Jeon Jungkook as Kookie
Genre: Romance
Disclaimer: I own this story. So please do not copy.
Dont forget to leave your comment and press the like button okay. 😊
Happy Reading. 😉
☆☆☆
☆☆☆
☆☆
Pagi hari di awal musim gugur, terlihat dedaunan yang kering mulai terlepas satu persatu dari ranting-ranting pohon yang menyangganya. Seorang gadis yang tengah mengenakan sweater merah jambu yang senada dengan gaun pink yang dikenakannya, tampak gadis tersebut tengah berdiri dengan santai di bawah guguran dedaunan di hadapannya.
Senyumnya sesekali menghiasi bibirnya yang tipis. Sementara matanya yang sipit, tampak tengah serius memperhatikan helaian daun yang tergeletak di atas telapak tangannya yang terbuka.
Sementara itu dari kejauhan, seorang pria tengah memperhatikan tingkahnya.
"Apa kau begitu sukanya dengan dedaunan yang berguguran itu?" tanya namja tadi dengan langkah kaki mendekati si gadis.
"Oh Jiminnie, akhirnya kau sampai juga," ujar si gadis yang justru terlihat bahagia begitu melihat presensi namja di depannya.
"Musim gugur ini, apa masih menjadi musim yang paling kau sukai, Kang Seulgi?" tanya namja bernama Park Jimin tiba-tiba, mengabaikan sapaan manis dari gadis di hadapannya barusan.
"Eum, majayo. Geundae, bukan berarti musim yang lainnya aku tak suka Jim," sahut Seulgi dengan bibir ikut tersenyum, tak peduli walau namja di depannya bersikap sangat dingin padanya.
"Lalu, apa alasanmu menyukai musim gugur, eoh?" tanya Jimin yang merasa sedikit penasaran.
"Mm, bagaimana mengatakannya ya?!" gumam Seulgi bingung, dan tampak berpikir beberapa saat sebelum kembali membuka bibir tipisnya lagi.
"Nah, itu mungkin karena musim gugur adalah musim yang paling berkesan untukku, Jim," jawab Seulgi beberapa saat kemudian, dengan bibir kembali melengkungkan senyum indahnya.
"Aku heran!! Jika orang lain, mereka pasti lebih memilih musim semi atau musim panas," komentar Jimin, dengan tangan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ah itu, mungkin karena di musim semi mereka bisa melihat bunga-bunga yang bermekaran. Sedangkan di musim panas mereka bisa bermain di pantai dan berjemur. Bukankah begitu?" tebak Seulgi, seketika diangguki oleh Jimin.
"Hahaha ... aku tau hal itu, Jim!!" kekeh Seulgi yang tertawa.
"Tapi hanya saja, menurutku musim gugur itu sedikit berbeda dari musim lainnya!" lanjutnya kemudian.
"Eoh, berbeda apanya?" tanya Jimin dengan mata menatap Seulgi di depannya.
"Berbeda, karena musim gugur biasanya ia akan membawa kesedihan," jelas Seulgi, dan membuat Jimin tampak kaget.
"Hehe ... maksudku, setidaknya membawa kesedihan untuk para dedaunan yang harus terpaksa meninggalkan pohon-pohon mereka. Tidakkah menurutmu itu menyedihkan?!" ujar Seulgi, dan membuat Jimin kembali menatap padanya.
"Geundae ... tapi menurutku bukan hanya di musim gugur saja dedaunan berguguran. Bukannya mereka juga berguguran setiap harinya?" Tanggap Jimin kemudian, yang mencoba untuk memberikan pendapatnya.
"Tapi di musim gugur, dedaunan itu dipaksa untuk berguguran, Jim!! Lihatlah, bahkan pohon ini hanya tinggal meninggalkan ranting-rantingnya saja. Itu kejam menurutku," balas Seulgi, dengan jari tangan ikut menunjukkan pohon yang dimaksud pada Jimin di depannya.
"Aa ... okay, kuanggap kau benar!!" Respon Jimin yang mengalah.
"Nah, cukup sudah dengan basa-basinya. Kau memintaku ke sini, bukankah ada hal penting yang ingin dibicarkan?" tanya Jimin kemudian dengan mata menatap serius gadis di hadapannya.
"Tch, padahal kau yang memulai." Sungut Seulgi, namun dihiraukan oleh si empunya.
"Sudahlah. Jangan buang waktuku. Ayo cepat katakan, kenapa kau mengajakku bertemu hari ini?" ulang Jimin lagi, dan entah kenapa membuat raut wajah tenang Seulgi langsung berubah seketika.
"Eum, baiklah. Kurasa memang sudah cukup buang waktunya," sahut Seulgi menyetujui dan membuat Jimin yang ada di depannya menunggu tak sabar.
"Jimin-ie begini ... aku, kau, kita berdua sudah saling mengenal hampir 6 tahun lamanya. Aku juga sudah sangat tau seperti apa anggota keluargamu. Karena itu, kurasa sebaiknya kau turuti mereka saja, Jim ..!!" ujar Seulgi akhirnya dan hanya mendapat lirikan malas dari yang diajaknya bicara.
"Tidak usah mengkhawatirkan aku. Pokoknya kau tenang saja," suara Seulgi melanjutkan, dan seketika membuat aura Jimin menghilang entah ke mana.
"Kau serius ..!!" seru Jimin, antara ingin marah dan kesal bercampur menjadi satu.
"Mm, tenang saja. Karena aku juga akan tetap di sini, Jim. Jadi kau bisa fokus dengan studimu," sahut Seulgi dengan yakin.
"Hei, apa maksudmu?" tanya Jimin yang merasa tak terima.
"Kejarlah mimpimu, Jim. Dan hiraukan saja hal lain yang bisa menghambatmu untuk mencapainya." Abai Seulgi dengan berusaha meredam isak tangisnya yang tiba-tiba akan keluar.
"Kau pasti bercanda," sungut Jimin tak terima.
"Enak saja, aku serius." Marah si gadis menatap Jimin di depannya dengan garang.
"Karena akupun juga akan mengejar impian ku di sini," lanjut Seulgi kemudian dengan ekspresi kembali melembut.
"Jadi kurasa sudah saatnya kita sibuk dengan mimpi-mimpi kita sendiri. Bukankah aku benar?" kata Seulgi lagi. Lalu dengan cepat mendongakkan wajahnya ke atas begitu setetes air mata tanpa izin mengalir begitu saja dari mata cantiknya.
"Kau menangis?" tanya Jimin khawatir.
"Ani. Mataku hanya kelilipan." sahut Seulgi berbohong, yang tentu saja Jimin menyadarinya.
Suasana hening sejenak. Untuk beberapa saat kedua orang itu hanya bisa terpaku di tempat mereka masing-masing tanpa saling berbicara.
"Seulgi-ya, jika aku pergi, berarti kau tau apa artinya itu, kan?" ujar Jimin tiba-tiba, dan memecahkan kesunyian di antara mereka berdua.
"Hmm. Aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi," jawab Seulgi dengan serak.
"Geundae ... kwenchanayo, Jimin-ie. 4 tahun akan segera berlalu dengan cepat," kekeh Seulgi yang berusaha mencairkan suasana kembali.
"Seandainya saja appa dan eomma tidak memaksaku untuk kuliah di Jepang, aku ingin sekali satu kampus denganmu, Seul," curhat Jimin kemudian.
"Haha ... kau seperti anak ayam yang kehilangan induknya saja, Jim!! Kau takut, ya?" ejek Seulgi, sontak dihadiahi jitakan kecil pada dahi mulusnya yang tak tertutupi anak rambut.
"Appo ..!!" teriaknya refleks.
"Jadi kau benar-benar sangat ingin aku pergi, ya?" rajuk Jimin, dengan mata menatap gadis yang ada di hadapannya dengan sebal.
"Ya. Karena dengan perginya dirimu, itu artinya aku akan bebas dari mahluk yang selalu mengangguku setiap harinya. Bukankah itu menyenangkan?" kekeh Seulgi.
"Yaa ... kau ..!!" seru Jimin yang bermaksud ingin menjitak dahi Seulgi kembali.
"Tidak untuk kedua kalinya, Tuan Park!!" kekeh Seulgi yang sudah menjauh dari posisi Jimin berada.
"Awas kau ya ..!!" ancam Jimin, dan sekarang tengah memasang ancang-ancang untuk menangkap si gadis pujaan hatinya tersebut.
Wuushh ..!!
Suara angin yang tiba-tiba saja berhembus cukup kencang, membuat beberapa dedaunan berjatuhan menerpa 2 orang tersebut.
"Omo Jim, ini sudah saatnya kau pergi!!" teriak Seulgi tiba-tiba.
Sementara Jimin yang diteriaki, refleks segera mengecek jam pada pergelangan tangannya.
"Aku tak mau pergi ..!!" tolak Jimin.
"Yaa Park Jimin, kau mau mati ya? Pergi sana ke bandara." Usir Seulgi, dan dengan tangan kali ini ikut mendorong punggung Jimin untuk pergi menghampiri supir pribadinya yang telah menunggu.
"Aduh! Aku bisa jalan sendiri, Nona!!" Protes Jimin yang berusaha melepaskan diri.
Tak lama kemudian, Jimin kini telah berada di dalam mobilnya.
"Ne Tuan Park, aku akan menunggumu. Jadi berhentilah memasang duck face-mu itu." Terdengar suara Seulgi berkomentar, lantaran sikap Park Jimin sangat tidak sesuai dengan usianya. Hilang sudah sifat cool-nya, pergi entah kemana.
"Janji ya kau akan menungguku? Aku akan menagihmu nanti," ancam Jimin, dan hanya diangguki malas oleh Seulgi.
"Ahjussi silahkan jalan!!" pinta Seulgi pada sang supir, dan menghiraukan Jimin yang tengah menatapnya.
"Aku akan kembali, Seul. Ingat itu ya?" lambai Jimin, dan perlahan mulai meninggalkan Seulgi yang menatapnya dalam diam.
Begitu sosok Jimin benar-benar telah pergi, kini hanya tinggal Seulgi dan juga beberapa helaian daun yang kembali rontok tertiup angin. Salah satu dari daunan itu, bahkan ada yang mendarat sempurna di telapak tangan Seulgi yang terbuka.
"Kau sama sepertinya. Kalian berdua sama-sama meninggalkan seseorang di belakang kalian." Lirih Seulgi yang berbisik pada daun yang ada ditangannya tersebut.
.
.
.
.
.
4 tahun kemudian.
"Wah ... photo-photo hasil jepretanmu kali ini benar-benar indah, Seulgi-ya. Kau pasti akan dapat banyak uang kali ini." Terdengar seorang gadis yang berkata dengan heboh, selagi matanya menatap ke layar computer yang menampilkan hal yang dimaksud.
"Hmm, aku sedang beruntung di musim gugur ini, Joy. Musim-musim kemarin, aku selalu saja gagal mendapatkan hasil jepretan yang bagus. Sudah kuduga, musim gugur memang yang terbaik," sahut yang dipuji, namun tampak sibuk dengan lensa kameranya.
"Ne Seulgi-ya, tiba-tiba saja ini terlintas dibenakku!Apa aku boleh menanyakannya?" tanya si gadis bernama Joy tiba-tiba.
"Eh, tentang apa memangnya? Tanyakan saja," balas Seulgi mengizinkan dan kini telah selesai dengan urusan mengecek lensa kamera miliknya.
"Mengenai sahabat priamu ... apa kau benar-benar sudah tidak pernah menghubunginya lagi?" tanya Joy kemudian, dan membuat Seulgi sedikit tersentak karenanya.
"Kenapa kau membahasnya lagi, Joy!! Itu sudah 4 tahun lamanya. Sudah banyak musim juga yang kami lewati. Aku yakin dia pasti sudah lupa!!" jawab Seulgi cuek, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia pun telah lupa dengan namja tersebut.
Ckk ... kau masih saja suka berbohong pada dirimu sendiri, Seul, batin Joy yang gemas melihat tingkah sahabatnya tersebut.
.
.
.
.
.
Klik ... klik ... klik!!
Suara jepretan kamera Seulgi, yang saat ini tengah sibuk mengambil sebuah objek gambar berupa pohon yang telah gundul dan bersih dari dedaunan.
"Wah ..!! Eomma coba lihat, pohon yang itu benar-benar sudah tak ada daunnya sekarang!! Bukankah itu keren?" teriak seorang anak kecil, yang berada tak jauh dari tempat Seulgi berada.
Sementara Seulgi yang mendengar kehebohan si anak, ia lantas segera menolehkan kepalanya.
"Haha, dia suka musim gugur juga rupanya," kekeh Seulgi, dan tanpa sadar menyunggingkan senyuman di bibirnya yang tadi tampak kecut. Tapi tak berlangsung lama, begitu tiba-tiba ia kembali ingat akan masa lalunya.
"Tidak tidak tidak!! Apa yang kau katakan, Seul. Ingat, kau tak menyukai musim gugur lagi. Sungguh, kau bahkan sangat benci dengan musim gugur ini," racau Seulgi tiba-tiba.
"Oh ayolah, jangan menangis, pabo!! Kau pikir dia akan datang, eoh? Apa yang kau harapkan, hah? Kau pikir dia akan ingat denganmu? Dia bahkan tidak pernah menghubungimu," monolog Seulgi.
"Pabo pabo pabo. Dasar yeoja pabo. Kenapa kau masih mengharapkannya, eoh? Kau harus lupakan Park Jimin sialan itu, Seul. Harus, dan jangan pernah menunggunya lagi," kata Seulgi melanjutkan, namun kali ini sudah terisak sendiri di tempatnya.
Lupa dengan tujuannya, lupa juga jika ia tengah menjadi pusat perhatian saat ini.
"Eomma Eomma ..!! Kenapa noona yang ada di sana itu menangis?" tanya si anak yang sempat heboh tadi, dengan tangan menunjuk ke arah Seulgi yang tengah sibuk mengusap air matanya.
"Mm, mungkin ia sedang sedih karena melihat dedaunan di pohon itu sudah berguguran, Kookie!!" sahut yang ditanya, dengan tangan membelai rambut anaknya penuh kasih.
"Kalau begitu, Kookie harap semoga musim semi akan segera tiba Eomma," ujarnya dengan tulus.
"Eh ... waeyo?" tanya eomma-nya dengan penasaran.
"Supaya daun-daun tumbuh kembali, dan noona itu tidak bersedih lagi, Eomma," jawab si anak dengan lugu, tak lupa dengan mengembangkan senyumnya yang begitu sangat imut dan menggemaskan.
"Aigo ... pintar sekali sih anak Eomma," kekeh si eomma, dan kini telah merangkul lengan anaknya untuk ia bawa berjalan-jalan ke tempat lain.
Kembali pada Seulgi, perlahan tapi pasti gadis itu telah berhasil meredam isak tangisnya saat ini. Sembari sibuk menghapus air mata yang berjatuhan menggunakan tisu yang ia bawa. Tak ketinggalan, umpatan-umpatan indah ikut pula menyertai kegiatannya.
"Menyebalkan. Pokoknya aku benci musim ini. Aku benci ..!!" gerutunya, namun sesekali tetap terisak.
"Hei kau gadis yang tengah terisak di sana!! Kau begitu sangat menyukai musim gugur ini sampai-ssampai kau menangis dibuatnya, ya?" tegur suara seseorang tiba-tiba. Suaranya yang agak cempreng, sontak membuat Seulgi seketika menoleh.
Tak lupa dengan air mata yang masih banjir, mata Seulgi tampak terkesiap beberapa saat dan kini tengah berusaha mati-matian menahan isakannya agar tak kembali keluar.
"Hahaha ... kau masih tidak berubah, Seulgi!" ujar seseorang yang diketahui bergender namja tadi, dan kini telah berdiri di depan Seulgi yang masih duduk di tempatnya.
"Annyeong!! Aku kembali, Seulgi-ya," sapa si pria. Dan tak lupa dengan ikut menampilkan senyum manisnya yang sudah sangat lama dirindukan oleh Seulgi.
"Pa--Park Jimin sialan ... a-akhirnya ... akhirnya kau kembali, pabo!" rutuk Seulgi terbata. Dan segera saja menubrukkan dirinya dalam pelukan si pria yang dengan sigap menangkapnya.
"Hahaha, aigo ... aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama, ne? Mian Seulgi-ya," bisik Jimin di telinga sang terkasih. Lain halnya Seulgi yang justru sibuk menumpahkan air matanya, lupa total jika mereka berada di tempat umum.
END
Tinggalkan jejak kalian, ya. 😊