Ada sebuah permainan yang sekarang sedang naik daun di Los Angeles, Amerika Serikat. Permainan ini pertama kali dikenalkan oleh seorang YouTubers yang sedang naik daun akibat permainan yang ia ciptakan.
Devils Around You, permainan yang sebenarnya merupakan hasil kawin silang dari Ouija Board serta Hide & Seek. Permainan yang mengundang iblis, dan pada akhirnya bersembunyi untuk menghindar dari sang iblis.
Permainan itu akan membutuhkan lilin yang jumlahnya sama dengan jumlah pemain, sebuah gelas beserta koin di dalamnya, serta ruangan kosong yang sunyi dan tidak memiliki sumber cahaya apapun kecuali lilin yang akan dinyalakan nanti.
Setelah sang arwah datang dan mulai mencari mereka, mereka tidak boleh bergerak dan bersuara sama sekali dari tempat mereka bersembunyi. Jika mereka sengaja ataupun tidak sengaja melakukan semua pantangan itu, celaka menanti.
Rebecca, Emma, Clarissa, dan Veronica termasuk para remaja yang penasaran dengan permainan itu. Veronica yang tidak mengenal takut pun menantang mereka bertiga untuk datang ke rumah nya dan bermain permainan 'Devils Around You' yang sedang booming di kalangan remaja Los Angeles.
"Hei! Kalian tahu tentang permainan Devils Around You kan? Bagaimana jika malam ini kita bermain hal itu? Itu pasti akan sangat mengasyikkan bukan?" ucap Veronica yang mendatangi meja Emma saat bel istirahat berbunyi. Mereka masih pelajar di Senior High School, dan akan lulus pada musim panas tahun ini.
"Apa kau gila Ver? Kau memanggil iblis! Bukan tukang es krim!" Seru Rebecca. Perasaan nya mulai tidak enak saat mendengar ucapan Veronica yang mengajak mereka untuk bermain permainan Devils Around You.
"Haish, kau ini terlalu penakut Rebecca! Ayolah, mari kita buktikan apakah permainan itu benar ada nya atau hanya mengada ngada," ucap Clarissa.
"Kalian semua benar benar gila!" Seru Emma. Ia mendekat kearah Veronica dan berbisik tanpa perasaan bersalah sama sekali.
"Jam berapa mulai nya, Ver?" Tanya Emma dengan senyuman.
"Haish, kau ternyata juga ingin melakukannya Emma!" Seru Clarissa. Dia memukul punggung Emma dengan buku yang berada di depannya.
"Kalian saja deh, aku tidak ikut," ucap Rebecca.
"Ayolah Rebecca! Tidak akan seru jika tidak ada kau. Everything will be fine," ucap Clarissa. Ia yang sangat penasaran dengan permainan itu tidak henti hentinya membujuk Rebecca yang memiliki rasa takut lebih besar dari ketiga temannya.
Rebecca berpikir sejenak, ia sebenarnya ingin ikut tapi sayangnya rasa takut nya melebihi apapun. Tapi setelah diyakinkan berulang kali oleh temannya, Rebecca akhirnya mengangguk setuju. Entah ini akan menjadi keputusan yang paling disesali nya atau tidak.
"Baiklah! Jam sepuluh malam kita berkumpul di rumah ku, setelah itu kalian bisa menginap semalam dan pulang keesokan harinya," ucap Veronica dengan senyuman.
*****
Semua sumber cahaya telah dihilangkan, jendela ditutup agar tidak dimasuki oleh sinar rembulan dan lampu kota yang terang benderang, lampu di gudang itu di matikan, keempat lilin di nyalakan.
Mereka bertiga memegang sebuah gelas yang di dalamnya terdapat sebuah koin antik milik ayah Veronica. Koin di dalamnya tiba tiba saja bergerak tak beraturan seperti sedang di mainkan oleh seseorang, gelas yang sedari tadi tidak mereka gerakkan mulai bergerak sendiri kesana kemari tidak beraturan. Gelas itu pecah, dan tandanya sang iblis sudah datang dan akan menangkap mereka yang tidak mematuhi aturan.
Masing masing dari mereka mematikan lilin yang menjadi satu-satunya sumber cahaya, Rebecca dengan wajah ketakutan, Emma dengan raut wajah datar seolah tidak perduli apapun, Clarissa dengan senyuman karena tidak sabar ingin memulai nya, dan Veronica dengan lirikan tajam kearah sebuah sisi di ruangan itu serta seringai-an tipis.
Mereka berempat bersembunyi di tempat mereka masing masing dan menunggu sampai sang iblis menyerah mencari mereka.
Semuanya berpencar, mencari tempat persembunyian mereka sendiri-sendiri. Rebecca di belakang lemari, Emma di bawah meja kaca yang tertutup taplak sampai kebawah lantai, Clarissa di sebuah ruangan kecil yang penuh dengan barang, dan Veronica bersembunyi di bawah tempat tidur ruangan itu.
Keringat mulai merembes membasahi kening Rebecca yang sedari tadi memang sudah menampakkan raut wajah ketakukan, namun karena ajakan dari Clarissa akhirnya dia memberanikan diri.
Terdengar suara decitan pintu yang teramat sangat keras menggema di ruangan itu, suasana mendung diluar makin menambah kengerian tempat gelap itu.
Terdapat sebuah suara yang terdengar seperti sebuah kapak yang diseret di lantai, semua orang terlihat hanya diam. Hanya Rebecca yang terlihat meneteskan air mata, ia melirik sebelahnya dan mendapati ada sebuah pisau kecil yang tergeletak di lantai sampingnya, Rebecca mengambil pisau itu lalu keluar dari tempat persembunyian dan berdiri di depan lemari sambil mengacungkan pisau itu ke kegelapan.
"Tuhan, tolong aku," batin Rebecca.
Sontak, suara kengerian itu berhenti namun digantikan oleh suara petir yang menggelegar layaknya membelah langit kota Los Angeles.
"Oh Tuhan, pertanda apa ini," gumam Emma.
Seperti ada seseorang yang mendorong, lemari itu rubuh dan menimpa tubuh Rebecca yang terdapat di depannya. Darah segar mulai mengalir deras di lantai dan sampai ke tempat Emma.
Refleks, Emma menjerit namun kemudian dia langsung menutup mulutnya dengan sangat erat. Suara kapak itu terdengar kembali dan sepertinya menuju kearah Emma.
"Ya Tuhan, tolong aku." Hanya batin Emma lah yang dapat menjerit meminta pertolongan sekarang. Bibir nya kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Prangg! Suara pecahan kaca terdengar sangat jelas di telinga Clarissa, dia keluar dari tempat persembunyian dan melihat sebuah meja di ruangan itu pecah dengan darah yang mengalir dari bawah meja itu serta dari lemari.
"Emma?!?!" batin Clarissa.
Suasana sunyi dan hening, tak ada terdengar suara sebuah petir pun disana. Tiba-tiba, Clarissa merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa di punggung nya. Setelah meraba apa yang terjadi, ia mendapati bahwa tangannya dipenuhi darah merah.
Clarissa menoleh dan melihat sebuah sosok perempuan dengan gigi-gigi tajamnya sedang mengoyak kulit Clarissa, Clarissa mematung saat melihat kejadian itu. Sosok itu langsung meraih jantung Clarissa dan pada akhirnya Clarissa tewas dengan kondisi yang tak kalah mengenaskan dari ketiga temannya.
Hanya tersisa Veronica seorang, ia keluar dari tempat persembunyian dan melakukan kontak mata dengan sang iblis yang masih membawa sebuah kapak. Veronica menyeringai lebar, ia menatap iblis itu dengan sorotan mata bangga. Sang iblis keluar, disusul menghilangnya sosok perempuan yang merenggut nyawa Clarissa tadi.
Entah bagaimana, darah di tempat itu perlahan menghilang dan membuat tempat itu menjadi seperti semula. Benar benar misterius!
"Empat korban sudah berhasil di tumbalkan."
Now it's your turn to Guess Who is the mastermind behind all this incident. Human or Demon?
-The End-