Pukul 03.00 sore di sebuah tempat makan cepat saji,aku menunggu seseorang.
Tiga puluh menit berlalu. Segelas moca float sudah kuhabiskan separuh bagian gelas. Aku belum memesan makanan. Selain belum terlalu lapar,aku ingin makan berdua dengannya. Dia pasti juga sedang lapar dan menunggu waktu agar bisa makan bersama denganku. Jadi, akan egois sekali kalau aku makan duluan tanpa dia.
"Kamu sudah dimana?"Tanyaku melalui telepon
"Sebentar...,"jawabnya, suaranya setengah ditahan. Lalu telepon ditutup tiba tiba
Aku mengerti. Kuambil sebuah novel dari dalam tasku. Novel bersampul putih berjudul kata hujan. Membaca akan menyibukkan pikiranku. Salah seorang temanku -Ratna-merekomindasikan novel penulis ini. Terlepas dari tulisan-tulisannya yang ringan, aku tidak memgenal siapa dia. Seperti sebelum-sebelumnya, aku tidak begitu tertarik mengenal penulis. Apalagi kehidupan pribadinya. Aku lebih suka pada apa yang dia tulis. Bagiku, kehidupan pribadi seseorang, itu selayaknya tidak menjadi konsumsiku.
Kegiatan membaca ini mulai kusukai beberapa tahun lalu, saat seorang lelaki kutu buku di kampus mengenalkan diri kepadaku. Kejadian di tahun pertama itu menyisakan kesan yang dalam sampai hari ini. Katanya, buku akan mengubah pandanganku akan hidup ini.
Aku tenggelam dalam buku hingga akhirnya kusadari waktu sudah lewat dari pukul 04.00 sore. Perutku keroncongan. Aku melihat jam ditanganku lagi. Lalu, akhirnya, aku memutuskan memesan makanan. Perutku benar-benar sudah lapar. Aku baru makan pagi dan belum makan siang sama sekali. Dia belum memberi kabar sejak tadi. Artinya, dia pasti datang lebih lama lagi. Seperti yang sudah-sudah, aku sudah terbiasa dengan pola seperti ini. Menunggu tanpa tahu pasti pukul berapa dia akan datang. Namun, aku tahu, dia pasti akan datang. Itulah alasan kenapa aku selalu bersedia menunggunya. Dia tidak pernah ingkar janji. Hanya sering telat datang dari waktu yang seharusnya. Dan, untuk urusan itu, aku punya pemakluman berkali lipat untuk dia
Dua puluh menit kemudian, saat aku baru menyantap setengah makananku dia datang dengan terburu-buru.
"Maaf,aku harus memperlakukanmu seperti tadi lagi.menutup telepon dengan cara yang tidak menyenangkan lagi". Dia segera minta maaf atas keterlambatannya. Di wajahnya,tergaris penyesalan. Padahal, hal seperti itu sudah sering sekali terjadi. Dan, aku selalu memaafkan memakluminya. Namun, dia tetap saja melakukan hal yang sama.
Aku hanya tersenyum, lalu berdiri mendekatinya, mengusap lembut bahunya. "Duduklah" bisikku, "Kamu pasti capek dan lapar banget". Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan kursiku. "Sebentar ya, aku pesankan dulu makanan untukmu." Aku berjalan menuju gerai pemesanan restoran cepat saji itu. Memilihkan makanan yang biasa dia makan.
Dia menungguku di meja yang sama. Seperti biasa, aku sama sekali tidak marah dan merajuk saat dia telat. Aku paham posisi dan pekerjaannya. Aku juga paham posisiku bagaimana dan siapa
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Semuanya terkendali. Bos lagi banyak maunya, tapi masih bisa kuatasi."
"Jangan terlalu diforsir. Kalau kamu sudah tidak kuat dengan tekanan kantormu, tak ada salahnya kamu pindah pekerjaan ke tempat lain," ucapku
Aku tahu, bekerja sebagai seorang salesmen yang memjual mobil dengan target cukup tinggi tiap bulannya bukanlah hal yang mudah. Beban kerja dan tekanan atasnya sungguh tidak ringan. Itulah sebabnya aku berusaha tidak pernah mengeluh kepadanya meski menunggunya berjam-jam sebelum dia datang "Kamu memang perempuan yang paling mengerti aku," ucapnya
"Karena aku mencintaimu," Jawabku
"Terima kasih."
"Tidak perlu. Itu sudah menjadi kewajiban dan risiko saat aku menerimamu. Aku harus menerimammu seutuhnya, termasuk jika kamu sangat sibuk sekalipun dan tidak punya waktu untukku."
"Aku tidak salah memilihmu." Dia tersenyum
"Makanannya dimakan. Keburu dingin."
"Iya."
Dia makan dengan lahap. Menikmati seporsi ayam goreng cepat saji yang sudah dipotong-potong kecil itu. Yang dilumeri dengan saus.
"Bulan ini aku dapat rezeki lumayan besar."
"Wah, Syukurlah, itu artinya Tuhan menjawab doa-doaku," jawabku dengan senyum. Aku menatap ke arah dia sejenak sebelum melanjutkan makan.
Dia masih makan dengan begitu lahap. Namun, tetap terus bercerita. Kebiasaan yang tidak berubah dari dirinya. Mungkin karena pekerjaannya yang penuh tekanan. Dia harus terburu-buru dalam semua hal. Termasuk saat makan pun dia tidak melewatkannya tanpa membicarakan hal-hal yang ingin dia utarakan.
"Iya. Aku berhasil melobi Bapak Pejabat Kabupaten X. Kemungkinan dia akan mengambil mobil untuk dipakai oleh pejabat dikantornya, beberapa unit. Lumayan bonusnya. Cuma aku memang harus sabar. Biasanya, dia harus memuluskan urusannya dengan prosedur kantor," ucapnya
Aku bukan tidak peduli dia dapat uang dari mana degan cara apa. Hanya saja,untuk urusan ini aku memang tidak mau membantahnya. Dia sudah terlalu lelah bekerja
"Enak, ya. Jadi pejabat yang seperti itu. Mau pakai mobil mewah, bisa dipakai dana dari uang negara. Uang rakyat."
"Tidak semua sih, yang begitu. Tapi, memang ada. Mereka yang hanya memikirkan diri mereka."
Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana dan memberikan reaksi apa. Satu sisi, dia bekerja dan mendapatkan uang dari jualannya kepada bapak pejabat itu. Di sisi lain, aku tahu itu tidak sepenuhnya jual beli yang "bersih".
"Tidak usah kau pikirkan. Nanti, setelah kita menikah, aku akan meninggalkan semua ini," ucapnya, seolah bisa membaca kekhawatiranku.
Dia sudah selesai makan. Aku masih menunggu apa yang akan dia bicarakan. Biasanya sehabis makan, dia akan merokok. Namun, sejak beberapa bulan lalu, dia memutuskan berhenti merokok. "Akhirnya aku sadar, merokok tidak lebih hanya sekadar kebiasaan merugikan diriku sendiri," ucapnya waktu itu, saat dia baru selesai memeriksa kesehatan dan mendapati paru-parunya bermasalah. Aku tidak mau mempermasalahkan untuk hal itu. Meski aku tidak mendukung dia merokok, bagiku, merokok atau tidak dia, itu tetap keputusannya. Kupikir lelaki dewasa tidak suka diatur terlalu keras. Dia bisa berpikir sendiri. Sekarang, dia sadar dengan sendirinya kalau kebiasaan itu tidak bail untuk kesehatannya. Aku bersyukur sekali dia menyadari kebiasaan buruk itu memang tidak layak diteruskan.
"Bagaimana kabar Moli?"
Dia hanya diam. Tidak menjawab. Bergeming beberapa saat. Moli adalah kekasihnya perempuan yang lebih dulu memiliki dia dari pada aku. Entahlah, hubungan ini memang rumit untuk kujelaskan. Tapi, cinta kadang memang serumit ini. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun pada kasus ini. Setidaknya, aku sadar diri siapa dan bagaimana posisiku selama ini. Itu juga yang membuatku todak banyak menuntut ini itu dan membebaskan apa saja yang dia mau.
Hal itu juga yang membuatnya tetap mempertahankanku. Setahuku-dari ceritanya-Moli adalah perempuan yang suka mengaturbini itu. Dia bahkan tidak punya kebebasan. Dia sering pusing menghadapi Moli. Beban kerjanya yang ditambah berat ditambah dengan kebiasaan Moli yang suka membesar-besarkan masalah. Membuat dia butuh pelarian. Dan, dia menemukan aku dalam pelarian itu.
Barangkali, seperti pengakuannya kepadaku,dia hanya ingin menjadikan aku tempat pelepas penat. Selingan di antara hubungannya dengan Moli. Namun,dalam perjalanan hubungan kami, kini dia malah tidak ingin lepas dariku.Entah kenapa ,aku juga merasakan hal yang sama. Aku sama sekali tidak ingin melepaskannya
"Kamu sabar,ya. Semua akan selesai pada waktunya. Aku butuh waktu untuk menyelesaikan semuanya dengan Moli"ucapnya. Ucapan sama yang dia katakan berkali kali kepadaku. Setiap kami membahas persoalan ini.
Tentu aku tidak mempermasalahkan lagi. Aku sama sekali tidak menuntut dia. Aku membiarkan saja apa yang ingin dia lakukan. Itulah hal yang membuat dia betah denganku. Dia tidak mendapatkan semua itu dari Moli. Dan, sesungguhnya, dari banyak kasus yang kulihat, dan kupelajari, Laki-laki akan selingkuh bukan karena pasangannya tidak menarik lagi. Hanya saja ,lebih banyak pada persoalan psikologis. Hubungan mereka sering didominasi oleh keegoisan satu pihak. Hingga pihak lain merasa hubungan itu bukan milik bersama lagi. Namun, milik satu orang saja di antara dua orang yang menjalaninya. Dan dia merasakan hal itu. Hubungannya dengan Moli adalah milik Moli saja. Perempuan itu merasa memiliki kuasa penuh atas dirinya.
Aku juga menyadari apa yang dirasakan oleh dia. Itulah sebabnya, aku tidak ingin menuntut dia melakukan banyak hal. Bahkan, saat dia,datang telat berjam jam hanya untuk menenangkan Moli. Aku tetap saja tidak marah. Dia hanya sudah terlalu lama terjerat hubungan dengan Moli. Seperti kebanyakan hubungan menyedihkan lainnya. Hubungan mereka dipertahankan semata karena durasi yang lama. Bukan karena kualitas yang terjaga.
"Kamu mau tambah minuman atau makanan lagi".Ucapnya membuyarkan lamunanku.
"Tidak usah. Aku sudah kenyang"
"Mau kemana sehabis ini?"
"Aku ikut kamu saja"
"Aku harus menemui Moli"
Aku terdiam.
"Antar aku pulang ke rumah saja" ucapku. Entah kenapa, kali ini aku merasa cemburu dan rasa itu terasa lebih kuat dari biasanya.
Dia seolah mengerti apa yang ada di kepalaku. Sesampai didalam mobilnya, dia memeluk tubuhku. Seperti seseorang yang akan ditinggalkan. Dia terlihat cemas dan ketakutan.
"Kamu tidak akan lama lagi menunggu,"bisiknya
"Tidak apa-apa aku paham kok, aku sudah menerimamu dengan segala resikonya"
"Jangan membuatku merasa bersalah"
"Kamu tidak bersalah. Tidak ada yang salah diantara kita.Kamu kebetulan saja lebih dulu dipertemukan dengan Moli
Dia memelukku lagi sebelum melajukan mobilnya menuju rumah. Tepat pukul 8 malam, aku sampai didepan rumah. Lalu aku melihat orang yang kucintai dan mencintaiku meninggalkanku demi menemukan seseorang yang lain. Aku mencoba tersenyum. Setidaknya, dia bukan menghilang tiba-tiba. Dia hanya pergi menyelesaikan urusan yang harus dia selesaikan. Aku selalu menganggap Moli hanyalah kliennya. Setelah urusan bisnis mereka selesai, semua akan kembali kepadaku. Kuanggap hubungan asmara mereka hanyalah bisnis belaka. Semata agar akau bisa menekan rasa cemburuku. Agar dia tetap bisa nyaman denganku.
🖤
Pukul tiga lewat lima belas menit sore di sebuah tempat makan cepat saji, aku menunggu seseorang
Kali ini, dia datang tidak lagi telat. Tidak seperti kebiasaannya yang sudah-sudah. Dia bahkan tiba lima menit setelah aku sampai di tempat itu. Padahal aku sengaja mengulur waktu berangkat tadi karena mengira dia akan telat lama lagi. Untunglah dia tidak datang lebih awal. Kalau tidak, dia yang terpaksa menunggu aku. Biasanya, aku selalu datang pukul tiga sore tepat. Namun, hari ini aku bermalas-malasan,ada buku baru juga yang sedang kubaca.
"Kenapa datang cepat sekali?" Tanyaku meluapkan keheranan saat dia duduk.
"Tidak apa-apa. Pekerjaanku tidak terlalu banyak hari ini,"Wajahnya tampak berseri.
"Baguslah." Aku tersenyum. Aku senang dia datang lebih cepat. Setidaknya, aku tidak perlu menunggu berjam-jam lagi. Dan, setidaknya, dia tidak membuka pembicaraan dengan minta maaf lagi.
Dia segera berdiri
"Kali ini, biar aku yang memesankan makanan untukmu." Dia langsung beranjak seolah sudah tahu aku ingin memesan apa. Lagi pula, sejujurnya, aku akan memakan apa saja yang dia pesankan di restoran cepat saji ini
"Gimana kuliahmu?" Tanyanya Kepadaku. Makanan telah tersaji di hadapan kami.
"Bulan depan aku sudah diwisuda," jawabku dengan antusias.
"Baguslah. Berarti setelah itu kita bisa menikah," Ucapnya enteng
Aku tersedak. Dia segera mengambilkan Air putih
"Kamu baik-baik saja?" Dia tampak cemas.
"Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya kaget." Aku menenangkan perasaan
Dia tersenyum
Aku menatapnya dengan sebuah pertanyaan. Dan, dia sepertinya paham apa yang ada di kepalaku perihal Moli
"Aku sudah menyelesaikan hubunganku dengan Moli."
"Kamu serius." Tanyaku. Ini adalah hal yang aku tunggu. Namun, benarkah ini sungguh terjadi? Entah kenapa, aku bingung dengan perasaanku. Di satu sisi, aku senang dia menjadi milikku. Di sisi lain, aku memikirkan bagaimana rasanya menjadi Moli saat ini.
Sungguh, ditinggalkan orang yang kita sayangi, demi orang yang dia sayangi itu bukanlah hal yang menyenangkan. Itu adalah hal yang buruk bagi perasaan. Apakah Moli bisa menghadapinya?
"Bulan depan, aku mau ke rumah orang tuamu. Kupikir, hubungan kita memang sudah saatnya diresmikan. Aku akan menikahimu," ucapnya dengan wajah senang
"Iya....terima kasih, ya," ucapku bingung. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sudah tidak terlalu memikirkan Moli. Ada sesuatu hal lain yang sejak tadi sudah menyesak dadaku. Sesuatu yang terasa membuatku begitu jahat. Namun, aku berusaha segera menepisnya.
"Tidak usah berterima kasih. Harusnya, aku yang berterima kasih kepadamu. Kamu membuatku merasakan menemukan orang yang benar-benar mampu memahami diriku.
Orang yang bisa menerimaku apa adanya. Orang yang bisa mengerti duniaku. Makasih ya sayang" Ucapnya.
Tatapannya membuatku merasa semakin bersalah. Selain dia, ada seseorang yang lebih dulu mencintaiku. Lelaki kutu buku itu. Lelaki yang kutahu juga sedang memperjuangkanku. Aku tidak bisa membayangkan harus memutuskan hal apa nanti. Haruskah aku menyakiti orang yang bersamaku lebih dulu sebelum ada dia? Atau memilih meninggalkan dia yang sudah meninggalkan seseorang yang mencintainya demi aku?
Cinta seperti ini rumit sekali ternyata
🖤