Daun-daun kering tertiup angin lalu jatuh ke tanah dengan ayunan pelan. Aku menunggu di pusat keramaian dan belum juga melihatmu.
Setiap beberapa detik aku selalu melihat jam tangan yang terpasang manis di tangan kiriku, mencoba menghitung berapa lama kamu terlambat kali ini.
Lima atau enam menit itu tidak masalah, namun sampai sepuluh menit bahkan bayanganmu belum kutemui.
Ada rasa kesal yang datang di hatiku. Selalu seperti ini, setiap janjian untuk bertemu kamu selalu terlambat membuatku yang menantikan hari ini memiliki suasana hati yang redup.
Senyum di bibirku tak bisa lagi dibentuk, suara keramaian di sekitar menjadi hal yang sangat mengesalkan. Lalu kamu tiba, dengan senyum lebar penuh penyesalan.
Kata maaf terucap secepat mungkin dari bibirmu sebelum aku sempat mengeluh. Lalu berbagai alasan kamu lontarkan membuatku tak bisa berkata-kata.
Selalu saja seperti ini, memiliki banyak alasan untuk menyelamatkan diri. Kali ini alasanmu adalah ketiduran. Sangat jelas berbeda denganku, kamu tidak antusias dengan pertemuan ini.
Namun meski aku selalu berpikir kamu tidak antusias bertemu denganku, sikapmu selalu menentang pikiranku.
Kamu menarik tanganku, mengajakku untuk pergi ke taman. Berjalan bersama-sama dan berkumpul dengan keramaian melihat seseorang menyanyikan lagu cinta.
Kamu yang seperti itu sangat menjengkelkan, rasa kesal yang kukira akan bertahan lama tiba-tiba hilang. Senyum kembali tercetak di bibirku, lalu aku ikut bersenang-senang denganmu.