"Usai sudah berpuasa sebulan lamanya. Akhirnya bisa sarapan dan makan siang lagi!" kata Ria dengan hati senang.
"Waktu sangat cepat berlalu ya. Sekarang sudah lebaran saja." ucap Adi sembari menonton televisi.
"Ya. Dan sekarang aku ingin makan banyak-banyak!" Ria bergegas mengambil piring.
"Sudah curi garis start duluan kamu ya."
"Hehe lagian aku memang sangat lapar saat ini. Kamu tidak mau makan?" tanya Ria padanya.
"Aku mau pergi keluar dulu sebentar. Kamu jaga rumah ini ya. Setelah itu aku akan makan usai kembali nanti."
"Baiklah. Hati-hati dijalan." Ria melambaikan tangan.
Adi pun pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai sepeda motor.
Kini Ria berada dirumah seorang diri, ia pun mulai mengambil makanan yang tersedia di atas meja.
"Lebaran memang momen sangat spesial! Haha aku suka ini."
Lalu Ria pun mulai menyantap hidangan yang ada di piringnya.
"Enaknya!" Ria sangat menikmati momen makannya tersebut.
Beberapa menit telah berlalu. Terdengar suara mesin motor di dekat rumah. Adi ternyata sudah kembali dengan membawa kue raya pesanannya.
Kemudian lelaki itu mulai melangkah memasuki rumah.
"Ria, aku kembali." kata Adi saat membuka melepas alas kakinya.
"Sudah pulang ya." tutur Ria dengan nada lemas.
Adi menoleh ke arah Ria yang ada di dekat meja makan. Dan saat dirinya mendekati perempuan itu, tiba-tiba...
"Ria! Kamu ini kenapa sih?!" tanya Adi dengan nada tinggi.
"Huh apa?"
"Lihat apa yang telah kamu perbuat."
"Aku hanya makan saja kok." balas Ria dengan santainya.
"Astaga! Ini kan untuk makan tamu kita juga, Ria."
Adi mengomel atas kelakuan adiknya itu.
"Maaf. Aku kebablasan." Ria meminta maaf.
Menepuk jidat dan pergi meninggalkan Ria di meja makan. Karena ulah adiknya itu, tidak ada hidangan spesial untuk para tetamu yang berdatangan nanti.
Beberapa masa kemudian, satu persatu tamu datang secara bergantian ke rumah mereka berdua. Adi dan Ria menemui dan bercengkrama dengan para tamu yang ada.
"Maaf ya, kali ini hanya ada kue raya saja yang dapat kami suguhkan dirumah ini." kata Adi kepada tamu yang hadir.
Setelah para tamu pergi, Adi menutup pintu depan rumahnya. Lalu mulai menelpon keluarganya yang berada di kampung halaman.
"Lapor, Ria sudah menghabiskan makanan raya tahun ini, bu." adu lelaki itu pada orang tuanya.
"Maaf! Aku kan kebablasan tadi." ucap Ria dengan rasa menyesal.
"Kamu ini bagaimana sih, Ria? Harusnya kamu itu makan secukupnya saja." sang ayah merespon atas ulah anak perempuannya itu.
"Maaf. Aku menyesal yah." Ria menunduk.
"Ria...Ria. Tidak ada thr untukmu kali ini ya." kata sang ibu pada perempuan itu.
"Hah? Tapi kan ibu sudah bilang bakal ngasih..."
"Tidak jadi. Karena ulahmu ini, abangmu jadi menanggung rasa malunya juga kan. Kamu ini ya.. Lain kali jangan diulangi lagi, mengerti?"
"Iya, aku mengerti."
"Ya sudah selamat hari raya buat kalian berdua."
"Selamat haru raya juga." ucap Adi dan Ria secara bersamaan.
Telpon pun di tutup. Adi melihat sang adik di sebelahnya. Tertunduk dengan rasa sesal yang ada di batinnya. Gelengan kepala dengan rasa kasihan padanya. Tetapi Adi juga tidak tega terus memarahi adiknya itu. Memegang sebelah pundak, lalu mengelusnya. Adi coba untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik.
"Sudah. Yang lalu biarlah berlalu. Jangan diulangi lagi ya." ujar Adi kepada Ria.
"Iya. Maafkan aku ya. Seharusnya aku tidak melakukan hal seperti itu."
"Iya aku maafkan. Apalagi ini momen bermaaf-maafan. Seharusnya kita semua berbahagia di hari ini." ucap Adi.
"Benar." balas Ria singkat.
Kemudia Adi tegak, dan mengulurkan tangan pada sang adik yang masih dalam posisi duduk tersebut.
"Thr dari keluarga besar tidak ada. Tetapi thr dariku tetap ada. Mari kita pergi keluar. Hari ini aku traktir." Adi mengajak dan membuat Ria kembali senang.
"Benarkah?"
"Iya. Ayo kita pergi."
"Ya. Terimakasih kakak!" Ria menyalaminya seraya berterimakasih.
"Sama-sama."
Setelah itu mereka pun pergi beraya / lebaran ke berbagai tempat yang ada.
-----SELESAI-----