Author : Nocita Maria
Length : 1 Shoot
Genre : Hurt
Characters :
Kim Namjoon as appa
Kim Mirae as eomma (oc)
Kim Hara as daughter (oc)
Diclaimer: I own this story. So please do not copy.
Jangan Lupa Vote dan Komennya, ya.😆😆
Happy Reading ....
Di rumah sakit malam ini, tampak sepasang suami istri tengah bercengkrama dengan akrab di kamar rawat sang istri.
"Mirae, tak terasa waktunya sudah semakin dekat, bukan? Hanya dalam beberapa hari ini, aku dan kau akan segera menjadi orang tua." Suara seorang namja tampan dengan tangan menggenggam kedua tangan istrinya dengan erat.
"Eum ... kau benar, Namjoonie. Dan kau tau, aku tengah penasaran saat ini, seperti apa rupanya gadis kecil kita nanti. Apakah dia akan lebih mirip dirimu, atau justru lebih mirip diriku," balas istrinya dengan balas mengeratkan tangannya pada si namja tadi.
"Kalau aku, entah kenapa sangat yakin dia nanti akan mirip denganmu, Sayang. Karena dengan begitu, pastilah Putri kita akan tumbuh menjadi gadis cantik seperti ibunya," respon si namja yang bernama Namjoon, lalu kali ini dengan tangan beralih mengusap-ngusap pipi istrinya, Mirae, dengan penuh kasih sayang.
"Tapi Namjoonie ... nanti saat proses persalinan, bisakah aku berharap kau dapat menemaniku?" pinta Mirae tiba-tiba, membuat Namjoon seketika merubah ekspresinya.
Hening sesaat, keduanya entah kenapa jadi saling berdiam diri.
"Namjoonie, kenapa tak menjawab?" kembali Mirae membuka suara.
"Atau begini saja, jika kau bisa ... bisakah kau ambil cuti setidaknya hingga anak kita lahir, Namjoonie? Bisakah kau melakukannya?" pinta Mirae kemudian dengan mata menatap Namjoon penuh harap.
"Mirae-ya ... mianhae," sahut Namjoon dengan ekspresi menyesal.
"Bukannya aku tak mau menemamimu, hanya saja ... hanya saja kau sudah tau sendiri ini kewajibanku, bukan? Aku tidak bisa mengambi cuti sekarang, Chagi. Mereka membutuhkanku," jelas Namjoon, dengan mata menatap istrinya penuh puja.
"Arraso," sahut Mirae yang terdengar sedih.
"Mian, maafkan sikapku Namjoonie. Tak apa, aku tau kewajibanmu tak mungkin kau tinggalkan," lanjut Mirae dengan bibir berusaha tersenyum agar menyakinkan suaminya.
Tersenyum sendu, Namjoon tak kuasa membalas senyuman dari Mirae.
"Jja, ini sudah larut malam. Kau tidur sekarang, ne?" pinta Namjoon kemudian.
"Eum. Tapi, kau temani aku. Boleh?' pinta Mirae pula.
"Tentu Chagi. Tidurlah," sahut Namjoon, lalu mulai mengusap-ngusap rambut istrinya yang membuat si empu mengantuk secara perlahan.
"Aku mencintaimu," bisik Namjoon pelan, setelah istrinya jatuh tertidur.
.
.
.
.
.
4 hari kemudian.
Oek ... oek ... oek!
Terdengar suara tangisan seorang bayi mungil perempuan memenuhi ruangan yang berwarna serba putih. Di lain sisi, sang ibu terlihat tengah berbaring dengan lemas di atas ranjangnya.
"Mirae-ssi, kau mau melihat putri kecilmu?" tanya seorang yeoja berjas putih yang tengah menggendong bayi mungil dalam dekapannya.
"Nde Uisa-nim," sahut Mirae antusias walau lelah, dengan mengulurkan tangannya guna menyambut kehadiran putri kecilnya tersebut.
"Jangan menangis ya, Cantik. Kau bersama Ibumu, Sayang!" bisik si dokter tadi sebelum akhirnya membiarkan Mirae menggendong sang anak sepenuhnya.
"Annyeong malaikat kecilku. Ini Eomma, Sayang!!" panggil Mirae pada putrinya yang tadi menangis seketika terdiam begitu mendengar suaranya.
"Hiks Namjonnie ... lihatlah, aku sedang menggendong putri kita. Aku telah melahirkannya," tangis Mirae begitu mengingat sosok suaminya.
"Kapan kau akan kembali, eoh? Kau harus melihat anakmu Joonie," isak Mirae lagi, lantas kemudian mengecup pipi berisi putri mereka yang kini tampak tengah mencari kehangatan pada Ibunya.
♡
♡
♡
♡
♡
"Hara ... Hara-ya! Kim Hara neo eodiga?" teriak seorang wanita sembari matanya terlihat awas mengitari arena taman permainan yang cukup luas siang ini.
"Hara-ya, sudah waktunya makan siang, Sayang!!" lanjutnya.
Sementara itu tak jauh dari sana, tampak segerombolan anak tengah mengerubungi seseorang.
"Sudah kubilang aku punya ayah. Kalian bisa tidak sih berhenti menggangguku?" teriak seorang gadis kecil, tampak geram dengan tangan menggenggam sepotong ranting di tangannya.
"Oh ya, kalau begitu di mana abeoji-mu? Kami bahkan tidak pernah melihatnya sama sekali," ejek salah satu anak laki-laki yang mengerumuni si gadis kecil.
"Neo ..!!" kesal gadis kecil tak terima, lalu dengan refleks lantas memukul anak tersebut dengan ranting yang ia pegang.
Waaaaa ..!!
Terdengar teriakan setelahnya, di susul dengan kehadiran seorang wanita dewasa di antara kerumunan tersebut.
"Omo ..!! Kau apakan anakku, gadis nakal?" teriak si wanita, lalu segera menghampiri anaknya yang terisak begitu melihatnya.
"Wah wah wah, dia berani sekali memukul Hyekyung. Dasar gadis kasar, pantas saja kau tidak punya abeoji," ejek anak lainnya yang masih menonton di sana.
"Hara-ya ..!!" seru si wanita yang sibuk mencari tadi, dan segera berlari menghampiri kerumunan di mana putrinya berada.
"Eomma ..!!" balas putrinya yang seketika lega dan langsung menghambur ke dalam pelukan ibunya.
"Hei Kim Mirae-ssi, kurasa kau harus segera membawa anakmu ke psikiater!!! Lihatlah, ini sudah ke-4 kalinya dia menyakiti teman-temannya seperti ini," teriak ibu dari anak yang menangis tadi, dan tampak sangat kesal.
"Mereka yang memulai duluan, Eomma. Aku hanya membela diri," sahut si gadis kecil merasa tak terima.
"Hara-ya, sudah Sayang!" bujuk Mirae, lalu memegangi anaknya.
"Jangan-jangan gossip yang beredar itu benar Mirae-ssi, bahwa suamimu telah pergi meninggalkanmu dengan gadis lain karena kelakuanmu. Lihatlah, bahkan mengurus satu anak saja kau tidak bisa," hardik ibu dari anak itu lagi.
"Hei Ahjumma, jangan berani-beraninya kau mengata-ngatai eomma-ku, ya!? Eomma-ku itu .... "
Plaakk!
Terdengar suara tamparan yang begitu tiba-tiba, menyebabkan si gadis kecil tak melanjutkan bicaranya.
"Astaga ... apa kau baru saja menamparku?" teriak seseorang, korban dari aksi penamparan tadi yang tak lain adalah si wanita pemaki
sembari mengusap-ngusap pipinya yang terasa panas dengan mata memicing tajam pada sang pelaku.
"Anda keterlaluan, Nyonya Choi. Maaf jika saya terpaksa melakukannya," sahut Mirae kesal, dengan mata menatap korbannya tersebut tak kalah tajam.
"Kau ..!!" ujar sang korban terbata, lalu kemudian memilih diam lantaran tak berani terus-terusan ditatap sedemikian rupa oleh Mirae.
"Kajja Hara-ya! Ayo kita tinggalkan tempat ini," ajak Mirae setelahnya, dengan tangan menarik lengan sang anak agar mengikutinya.
♡
♡
♡
♡
♡
"Eomma mianhae. Sebenarnya Hara tadi tidak bermaksud untuk memukul Hyekyung, Eomma!" sesal Hara, si gadis cilik yang saat ini tengah didiamkan oleh eomma-nya.
"Eomma ... Hara hanya ingin membela diri. Eomma kan tau, mereka itu terus-terusan saja mengganggu Hara," adu gadis kecil itu lagi, lalu mulai mendekati ibunya yang seketika membalikkan tubuhnya ke arah lain.
"Eomma, Eomma bisa memukul Hara jika Eomma mau! Hara janji, Hara tidak akan melakukannya lagi Eomma," rengek si gadis kecil, pantang menyerah dan mulai menarik-narik tangan ibunya yang tak bersuara sama sekali.
Hingga tiba-tiba, sang eomma pun berbalik dan seketika merengkuh tubuh mungilnya dalam dekapan yang terasa begitu hangat.
"Hara-ya, maafkan Eomma yang tidak bisa membelamu, eum?" lirih Mirae berbisik di telinga putrinya dengan air mata yang sudah banjir selagi menyembunyikan wajahnya pada pundak kecil Hara.
"Kenapa menangis, Eomma? Mereka bahkan tidak pantas untuk ditangisi," kata Hara yang kesal, dengan tangan mengusap-ngusap punggung ibunya penuh kasih.
"Hara-ya, janji satu hal pada eomma mau?" pinta Mirae setelahnya, lalu menatap lekat putrinya begitu ia melepaskan pelukan mereka.
"Apa Eomma?" tanya Hara yang menunggu.
"Hara-ya, apapun yang orang lain katakan tentang appa-mu, ingatlah seperti yang selalu Eomma katakan bahwa Mirae appa itu .... "
"Appa adalah orang yang hebat dan ia tidak pernah meninggalkan kita melainkan karena itu sudah kewajibannya untuk pergi berperang. Begitu kan, eomma?" potong Hara cepat, membuat Mirae tertegun karenanya.
"Gwenchana Eomma ... Hara percaya kok jika Mirae appa adalah orang yang baik. Hanya teman-teman dan ahjumma itu saja yang tidak mengenal appa," lanjutnya, dengan tangan kini beralih menghapus buliran air mata di pipi sang eomma dengan jari-jarinya yang mungil.
"Gomawo Hara-ya. Gomawo," tangis Mirae, lantas mengusap lembut surai hitam putrinya penuh haru.
"Andai saja mereka tau kalau appa pergi karena ikut berperang, mereka pasti akan iri pada Hara karena Hara punya appa yang pemberani dan hebat. Hara benar kan, Eomma?" ujarnya lagi pada sang eomma, dan hanya mendapat anggukan sebagai balasan.
"Ne, tapi Eomma, kapan appa akan pulang ke rumah kita? Bukankah Eomma bilang sebentar lagi appa akan kembali. Eonje?" tanya Hara setelahnya, dan seketika membuat Mirae kaget.
"Eum itu ..!!" ujar Mirae terbata dengan mata melirik ke arah lain untuk mulai mencari-cari alasan yang tepat.
"Ne Hara-ya ... nanti Hara appa pasti akan pulang, Sayang. Dia akan pulang setelah tiba waktunya," sahut Mirae kemudian, setelah hening beberapa saat.
"Karena itu, Hara harus rajin berdoa okay? Supaya nanti, Tuhan kabulkan doa Hara dan akhirnya appa pulang ke rumah kita. Bisa kau lakukan itu Sayang?" pinta Mirae melanjutkan.
Menganggukkan kepalanya, Hara terlihat sangat antusias.
"Hmm, tentu saja Eomma. Hara janji, Hara akan rajin-rajin berdoa agar Hara appa bisa cepat pulang," suara Hara setelahnya.
"Cha, untuk sekarang jika Hara masih merindukan appa, Hara masih menyimpan foto appa yang eomma pernah berikan, bukan?"
"Mm. Hara masih menyimpannya, Eomma. Itu adalah milik Hara yang paling berharga," sahut Hara dengan bibir tersenyum lebar.
"Oh ya Eomma, nanti saat appa pulang, Hara boleh kan ajak appa pergi ke taman bermain?" pinta Hara kemudian.
"Tentu sayang, appa pasti akan dengan senang hati mengikutimu," sahut Mirae menanggapi.
"Yee ... kalau begitu, Hara nanti mau ajak appa juga untuk mengunjungi tempat wisata lainnya seperti yang teman-teman Hara lakukan dengan appa mereka, Eomma," cerita Hara yang tampak bersemangat.
"Apa Eomma tak akan diajak?" tanya Mirae yang pura-pura cemburu.
"Anieyo ... Eomma tentu saja pasti akan ikut dengan kita nanti. Kita bertiga akan pergi bersama-sama, Eomma. Appa pasti mau kan nanti?" ujar Hara, dengan mata menatap sang eomma dengan netranya yang tempak berbinar.
"Ne Hara-ya. Tentu. Tentu saja Hara appa pasti akan mau," sahut Mirae, lalu kembali mendekap putrinya dengan erat.
"Hehe, asyik ... aku jadi tak sabar untuk segera bertemu appa, Eomma!!" seru Hara dengan riang.
Namjoonie ... kau mendengarnya, bukan? Ini sudah hampir 5 tahun kau tidak pernah memberikan kabarmu pada kami. Jangan kecewakan putrimu Namjoonie. Aku mohon!? pinta Mirae dalam hati.
♡
♡
♡
♡
♡
"Eomma ... aku pulang!" teriak seorang gadis muda dengan tangan meletakkan tasnya di atas sofa dan segera mencari sosok yang disayanginya itu.
"Eomma, apa eomma di kamar?" panggilnya lagi, lalu mulai memutar knop pintu kamar sang ibu namun ternyata kosong.
"Hmm, kira-kira eomma di mana ya?" monolognya sendiri, setelah cukup lama berputar tapi masih belum menemukan sosok sang ibu.
"Oh iya, ada satu tempat yang belum kuperiksa!" gumamnya lagi, lantas segera berlari ke ruangan yang di maksud dengan begitu ceria.
Benar seperti dugaannya, di sana Hara pun melihat sosok Mirae yang tengah menangis dengan tangan sibuk membolak-balikkan album photo-photo lama mereka di atas pangkuannya.
"Apa eomma sedang menangisi appa lagi?" tanya seseorang tiba-tiba, yang tak lain adalah Hara dan membuat Mirae kaget karenanya.
"Hara-ya, kau sudah pulang Chagi? Mian, Eomma tidak mendengarkan," ujar Mirae, dan buru-buru menghapus air matanya.
"Sampai kapan Eomma akan menangisi appa, Eomma? Bahkan secara hukum appa sudah dinyatakan meninggal beberapa tahun yang lalu. Tidakkah Eomma mau merelakannya?" tanya Hara dengan melangkahkan kaki mendekati ibunya.
"Hara ... kau tau, appa-mu adalah seseorang yang selalu menepati janjinya, Chagi. Jadi jika ia bilang akan kembali, ia pasti kembali Chagi," sahut Mirae, dengan bibir berusaha untuk tersenyum.
"Tapi sampai kapan, Eomma? Aku bahkan sekarang sudah menginjak usia 17 tahun. Tapi lihat, appa bahkan tak pernah muncul hingga saat ini. Aku menyayangimu, Eomma. Jadi kumohon lupakanlah appa!" pinta Hara serak, dan tau-tau sudah meneteskan air matanya tanpa sadar.
"Uljima, jangan menangis Sayang!" Panik Mirae yang segera mendekati putrinya.
"Maafkan Eomma. Eomma janji, ini akan menjadi yang terakhir kalinya Eomma menangisi appa-mu. Berhenti menangis, eum?" bujuk Mirae lagi, dengan tangan mulai mengusap air mata sang putri dengan sayang.
Menganggukkan kepala, perlahan Hara ikuti kemauan ibunya.
"Eumm, oke. Tapi janji ya?" tagih Hara setelahnya.
"Ye. Yaksok," sahut Mirae yang kembali berjanji.
"Eomma, maafkan Hara karena telah bersikap egois pada Eomma, ne? Mian, tapi Hara terpaksa melakukannya karena Hara tidak ingin terus-terusan melihat Eomma bersedih seperti ini. Kalaupun appa di sini sekarang, ia pun pasti akan setuju dengan pendapat Hara ini, Eomma. Hara yakin itu. Karena itu, Eomma jangan bersedih lagi, eum?" lanjut Hara setelahnya.
"Arraso arraso, Eomma akan melakukannya Sayang."
"Lagipula kau benar, jika appa-mu di sini, ia pasti tak akan suka jika melihat Eomma menangis. Eomma akan menjadi jelek katanya saat Eomma berurai air mata begini. Kajja, kita pergi dari sini dan berhenti bertangis-tangisan, okay?" pinta Mirae.
"Hiks ... Eomma mian!!" tangis Hara yang masih terisak.
"Sudah Sayang. kajja!" ajak Mirae, lantas segera menarik tangan Hara agar ikut dengannya.
Namjoonie maafkan aku, tapi mulai sekarang, aku akan mencoba untuk menjalani hidupku tanpamu. Putrimu, Hara sudah tumbuh dewasa, Namjoonie. Dia telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, sama seperti yang kau bilang sewaktu dia masih dalam kandunganku.
Dan kau tau Namjoonie, dia juga bahkan punya lesung pipi seperti halnya dirimu. Mian jika aku akan bersikap egois kali ini dan mungkin menyakitimu. Tapi putrimu sendiri, Hara yang memintaku untuk merelakanmu, Namjoonie. Karena itu, maafkan aku, ne? Dan di manapun kau berada sekarang, tolong selalu awasi kami berdua, eum? Aku mencintaimu, bisik hati Mirae.
THE END