Artemis menembakkan panahnya melewati kepala seorang pria yang berdiri mematung di hadapannya.
"Apa urusanmu melewati perbatasan hutan ini?" ujar Artemis bersiap menarik kembali busurnya.
"Aku Perseus putra Zeus dan Danae. Aku ke sini memohon pertolongan padamu" Ujar Perseus setengah membungkuk pada Artemis.
"Apa Zeus mengutusmu ke sini?" Artemis mengurungkan niatnya untuk kembali melesatkan panah.
"Tidak. Aku tidak pernah bertemu Zeus sejak lahir"
"Katakan tujuanmu"
"Maukah kau mempersilahkan aku masuk?"
"Aku tidak menerima pria di kediamanku".
"Baiklah. Aku ingin menolong seorang gadis bernama Andromeda, yang sedang dirantai di pesisir pantai kerajaan Kefeus. Bisakah kau pinjamkan aku panah dan busur saktimu?"
Artemis memandang Perseus sambil berdecih.
"Casiopea, ibu gadis itu terlalu sombong. Dia bukan hanya menyingung para Nimfa dengan mengatakan mereka tidak lebih cantik dari putrinya, tetapi juga menyinggungku dengan mengatakan aku perawan tua yang tinggal di gunung".
"Sekarang terimalah akibatnya".
"Andromeda tidak ada hubungannya dengan ini. Dia hanya korban dari kata-kata ibunya"
"Aku tidak ingin menolongmu. Pergilah sudah waktunya aku memberi makan rusa-rusa ku"
Artemis pergi meninggalkan Perseus. Perseus memutuskan untuk tidak beranjak dari tempat itu, sampai Artemis menolongnya.
Zeus yang melihat putranya dari Olympus turut prihatin. Zeus boleh saja menjadi kepala para dewa dan memerintah mereka, namun Artemis ada di luar kendalinya.
Artemis memutuskan meningalkan pegunungan Olympus sejak para dewa mulai bermain-main dengan wanita. Sudah cukup baginya melihat bumi jadi medan pertempuran akibat kesalahpahaman Minerva dan Dementer. Semua karena Zeus.
Perseus semakin terpuruk, waktu Andromeda tidak banyak, sedangkan Posseidon mengancam apabila Zeus ikut campur dia akan menggenangi seluruh Olympus dengan air.
Zeus turun ke Underworld, tempat di mana Hades berada.
"Guk, guk, guk, grrr" anjing kepala tiga Hades mengeram pada Zeus.
"Mengapa hewan ini begitu berisik" Zeus memandangi anjing tersebut.
"Tenanglah Zeus, ini kerajaanku tidak ada satu dewa pun yang dapat menggunakan kekuatannya di sini" ujar Hades sambil menawarkan minuman, yang langsung di tolak Zeus.
"Aku datang bukan untuk mabuk, aku ke sini untuk bertemu Persephone"
"Untuk apa kau menolong perempuan bermulut kasar seperti Casiopea. Dia tidak lebih cantik dari Medusa sebelum dikutukan Minerva"
"Well, kau tahu lebih cepat dari dugaanku"
Zeus memandangi ruang tamu Hades. Dia duduk dekat perapian sambil mendorong sepotong kayu.
"Semenjak Perseus lahir, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menemui Danae. Bukan berarti aku melupakan peranku sebagai seorang ayah. Namun bersama Danae di bumi membuatku melupakan tugas utamaku di Olympus. Semua dewa bertempur memperebutkan kekuasaan, sedangkan aku sibuk bersenandung menidurkan Danae."
"Kali ini biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang ayah" Zeus memandang kobaran api dengan mata berkaca-kaca.
"Minggu depan aku akan menemui ibuku di bumi. Aku bisa berangkat lebih awal untuk menemui Artemis kalau kau mengizinkan" ujar Persephone sambil mengelus pundak Zeus.
"Aku tidak mungkin menolak perkataan istriku. Aku harap enam bulan berlalu dengan cepat, agar aku tidak kesepian" ujar Hades.
Zeus menganggukan kepalanya tanda setuju dengan usulan Persephone.
Keesokan harinya Hades mengantar Persephone ke perbatasan dunia dan underworld menunggu hingga bayangan istrinya hilang dari hadapannya, kemudian meninggalkan tempat itu.
"Persephone!" ujar Artemis antusias saat mencium bau musim semi.
"Apa kau baik-baik saja?" Persephone bertanya sambil tersenyum.
"Ya, aku menghabiskan waktuku dengan mengurus rusa dan berpatroli di seluruh hutan. Baru-baru ini barrier yang ku pasang rusak karena perkelahian Troll dan Centaurus. Butuh banyak waktu untuk memperbaikinya" Artemis bersemangat menceritakan kegiatannya kepada Persephone, sahabat karibnya.
"Aku melihat adikku duduk di perbatasan hutan ini" ujar Persephone
"Adik?" Artemis bertanya heran.
"Perseus adik tiriku dari ibu yang berbeda"
Artemis menghela napas. Aku sudah mengusirnya tapi dia tetap ada di sana.
"Perseus menemuimu atas saran para dewa. Monster yang dikirim Posseidon bukan monster biasa. Pedang dan perisai Ares tidak mampu menembus kulit monster itu" Persephone berkata lembut.
"Tolong adikku, dia bisa mati jika tidak menolong wanita itu. Sejak pertama melihat Andromeda, Eros telah menembakan panahnya." Persephone berkata sambil memegang tangan Artemis dan menatap matanya dalam.
Artemis berlari meninggalkan Persephone di tengah hutan. Persephone tertunduk lesu, mungkin usahanya tidak membuahkan hasil.
"Di mana pria menyedihkan itu" ujar Artemis mengenggam busur dan sekantong panah.
"Ada di perbatasan, ayo!" Persephone menarik tangan Artemis sambil berlari menemui Perseus.
Artemis menyerahkan busur dan panah saktinya kepada Perseus.
"Panah ini hanya bisa ditembakan ke arah kerongkongan dan jantung. Gunakan ini baik-baik, jangan sampai hilang"
Perseus menerima benda sakti itu dan segera pergi dengan sandal terbang milik Hermes.
Perseus akhirnya memenangi pertempuran sengit itu berkat panah sakti milik Artemis. Sesudah pertempuran itu, Perseus mengajak Andromeda menemui Artemis.
"Kami berterima kasih. Berkat panah ini Andromeda bisa selamat" ujar Perseus.
"Tidak perlu sungkan, ambil saja panah itu sebagai hadiah pernikahan kalian"
"Panah itu hanya mempan untuk monster. Tidak akan berfungsi jika kau gunakan untuk berburu. Ingat! aku akan tahu kalau kau menggunakan panah itu untuk berburu"
Mereka bertiga tertawa.
"Aku akan mendirikan kuil di kerajaan kami untuk menghormati Artemis Dewi perburuan" ujar Andromeda.
"Aku melakukan ini bukan untuk di hormati. Secara teknis aku dan Perseus adalah saudara satu ayah. Lagi pula satu kuil dan sedikit pengikut saja sudah cukup"
Mereka berbincang sebentar kemudian Perseus dan Andromeda pamit.
"Kau melakukan hal terpuji putriku" Ujar Leto yang sejak tadi memperhatikan interaksi putrinya.
"Aku hanya melakukan tugasku" Artemis berkilah.
"Persis seperti ayahmu, Zeus"
"Aku tidak ingin mendengar namanya. Semua kesalahan di dunia ini akibat dari perbuatan tidak terpujinya!" Artemis mengeram marah.
"Jika Zeus tidak melakukan perbuatan tidak terpujinya, kau dan Apollo hanyalah seonggok daging di perutku" ujar Leto tenang.
"Ibu aku tidak ingin mendengar kata-kata itu"
Artemis berjalan menuju kemahnya. Dia melepaskan alas kaki dan baju zirahnya kemudian terlelap.
"Artemis bangun, ini ayah"
Artemis membuka matanya dan mendapati dirinya berada ditengah hamparan padang, yang ditumbuhi tanaman liar. Tanaman tersebut tampak sedang berbunga.
"Maaf, ayah baru bisa menemuimu. Kau suka tempat ini?"
Artemis sibuk mengamati pemandangan indah di hadapannya.
"Aku lebih suka hutan tempat tinggalku"
"Apa Minerva tahu kau kemari?"
"Minerva mengizinkan aku menemui anak-anakku"
"Kau tidak perlu menemui kami. Aku, Ibuku, dan Apollo baik-baik saja.
Zeus menatap putrinya sejenak. Ada perasaan bersalah dalam hatinya.
"Kau memanfaatkan Persephone untuk membujukku"
"Aku tidak punya pilihan. Aku juga ingin melakukan hal yang sama untukmu dan Apollo".
"Kau benar. Semua masalah di dunia ini muncul karena keegoisanku"
Suara Zeus bergetar. Sisi melankolisanya selalu nampak saat dia bertemu anak-anaknya.
"Terima kasih. Berkat perhatianmu pada ibuku, aku dan Apollo bisa lahir. Bolehkah aku memelukmu?"
Ada jeda yang panjang sebelum Zeus mendengar Artemis menyebutnya ayah.
Air mata Zeus tumpah. Dia memeluk putrinya erat. Rasa bersalah dan rasa rindu di relung hatinya, tercurah begitu saja.
Kokok ayam membangunkan Artemis dari tidur panjangnya. Artemis menemukan dirinya tidur dengan baju zirah dan memegang busur baru.
"Ayah" Artemis bergumam lirih.
Zeus tersenyum melihat putrinya mengelilingi hutan dengan baju dan busur yang dia berikan sebagai hadiah telah menolong Perseus.
"Ini Nektar terbaik yang aku janjikan" ujar Zeus pada Morfeus, Dewa mimpi yang telah membantunya memasuki mimpi Artemis.
"Aku akan bertemu Persephone. Terima kasih untuk mimpi indahnya"
Zeus menghilang dari pandangan Morfeus yang masih menikmati Nektarnya.
"Ayah" Persephone memeluk Zeus saat Zeus muncul di hadapannya.
"Terima kasih untuk padang rumputnya".
"Ibuku yang mengusulkan padang rumput itu. Tapi Artemis tidak menyukainya"
"Dia menyadari itu kerja Morfeus"
Benar. Artemis bisa saja mengendalikan Morfeus yang masuk ke mimpinya. Namun dia membiarkan Morfeus mempertemukan dia dengan Zeus.
"Aku ayah yang beruntung. Putra putriku tumbuh dengan baik"
"Kau menganugerahi putra putrimu dengan kekuatan yang besar. Kami beruntung"
Zeus memandang Persephone.
"Ayah harus pergi. Kau tau, Minerva akan marah jika aku berlama-lama di tempat Dementer"
Persephone melepas kepergian ayahnya. Dementer memandang Zeus dari kejauhan, sambil mengusap air matanya haru.
‐--------‐-----------------------------