Author: Nocita Maria
Length: 1shoot
Main character
- Jung Hoseok as Hoseok
- Go Eunb as Eunbi
- Kim Ye Rim as Yeri
Genre: Romance
Dont forget to leave your comment and press the like star okay😊😊
Happy reading.😙😚
-
-
-
-
-
"Eunbi-ya??" panggil seorang wanita paruh baya saat kepalanya baru saja muncul di ruang rawat yang cukup besar tersebut.
Sementara di sudut lain, seorang gadis muda tengah termenung berbaring di atas ranjangnya dengan pandangan mata yang tak terlepas dari sisi jendela kamar tersebut.
"Eunbi Sayang?" panggil wanita itu lagi sambil perlahan mendekat.
"Oh ... Eomma!!" kata gadis itu kaget dan segera menghapus air mata yang tengah mengalir di pipinya.
"Sayang, kau menangis lagi?" tanya ibunya cemas, lalu segera mengusap pipi anaknya yang masih basah.
"Tidak Eomma, hanya saja bunga sakura di luar sana terlalu indah!! Lalu, akupun tanpa sadar sudah meneteskan air mataku sendiri," jawab Eunbi sambil berusaha tersenyum.
Mendengarnya, seringai kepedihan terpancar dari wajah sang eomma yang tak sanggup melihat senyum putrinya yang penuh dengan derita.
-
-
-
-
-
"Kau mau kemana Hoseok?!" tanya seorang wanita panik saat ia melihat prianya tengah berjalan dengan tertatih seraya membawa tiang infuse di koridor rumah sakit.
"Yeri ... izinkan aku pergi sebentar? Sebentar saja. Aku janji tak akan lama!!" mohon Hoseok yang terlihat sangat cemas.
"Apa aku perlu ikut denganmu?!" tanya Yeri dengan langkah mendekati Hoseok.
"Tak perlu, ini tak akan lama!!" jawab Hoseok yang segera berlalu.
Di depan rumah sakit, seorang gadis muda dengan kursi roda dan wanita paruh baya di sisinya tengah berpamitan dengan dokter Park yang telah merawat gadis itu selama ini.
"Terimakasih atas segala yang telah kau lakukan selama ini, Uisa-nim, sungguh kau baik sekali!!" kata gadis yang tak lain Eunbi dengan bibir tersenyum lebar.
"Tapi kuharap dirimu ... ani kuharap agashii akan senang dengan keputusan agashii ini. Mian, aku bukan seorang Uisa yang becus untuk anda!!" kata pria paruh baya itu yang tampak sedih, sementara Eunbi terlihat hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Kau sudah merawatku dengan sangat baik, Uisanim. Aku akan sedih jika kau beranggapan begitu," balas Eunbi, dan membuat dokter Park tersenyum karenanya.
"Nah Uisanim, kurasa sudah saatnya kami harus pergi. Jeongmal kamsahamnida Uisanim. Jeongmal kamsahamnida," bungkuk Eunbi eomma dan perlahan mulai mendorong kursi roda putrinya menuju ke sebuah mobil yang telah menantikan mereka.
Di sudut lain, seorang pria muda dengan tiang infuse di sisinya tampak menghela nafas dengan berat.
Aku tidak akan bisa melihatnya lagi!! batin namja itu sedih, dan segera berlalu dari tempatnya berdiri tadi.
-
-
-
-
-
"Apa kabarmu Hoseokkie? Sekarang sedang musim semi. Apa kau bisa melihatnya?" tanya seorang gadis berkursi roda, pada lukisan yang baru saja ia selesaikan di bawah deretan pohon bunga sakura pagi ini.
Tak ada jawaban, pria dalam lukisan itu hanya tersenyum dalam hampa.
(Flashback)
Pelan, gadis itu mengusapkan jari-jarinya ke wajah tampan seorang pria yang tengah berdiri di hadapannya saat ini. Sementara itu, buliran air mata mengalir dengan deras pada keduabpipinya yang halus.
"Mian Eunbi-ya, jika kepergianku ini begitu tiba-tiba. Tapi umm ... kau taukan kalau aku akan kembali?" kata namja yang tak lain adalah Hoseok dengan tangannya sudah meraih tangan Eunbi lantas menggenggamnya dengan erat.
"Mmm ... aku tau akan hal itu, Hoseokkie. Jangan mencemaskan aku, oke? Kau harus focus dengan kuliah S2-mu di sana. Tapi, jangan lupa hubungi aku." Ujar Eunbi, dan menatap mata pria yang ada di hadapannya ini dengan sendu.
"Mmm, tentu saja aku akan melakukannya. Tunggu aku, oke?" pinta Hoseok lagi, dan kali ini mulai menarik kopernya melangkah ke tempat petugas bandara yang telah menunggu.
(Flashback end)
"Tapi sayangnya sejak saat itu semua keadaan telah berubah. Aku telah jadi begini, dan aku sama sekali tidak bisa memberitahukannya padamu. Maafkan aku Hoseokkie, tapi aku merindukanmu!!" gumam Eunbi serak, dan mengusap lukisan tadi yang telah kering dengan sedih.
-
-
-
-
-
Jam di bandara masih menunjukkan pukul 10.30 pagi. Sementara pesawat dengan tujuan Amerika masih akan berangkat sekitar 30 menit lagi. Di lain tempat, seorang pria terlihat gelisah dalam duduknya.
"Yeri-ya, aku harus pergi!!" katanya tiba-tiba, sementara istrinya yang berada di sisinya tentu saja sangat kaget.
"Pergi ke mana, chagi?! Kita kan akan segera kembali ke rumah kita!!" tanya wanita cantik itu dengan ekspresi heran.
"Yeri jebalyo, ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Hanya kali ini saja. Ya?" mohon Hoseok dengan wajah yang memelas.
"Apa karena wanita yang saat itu kau lihat kepergiannya di rumah sakit?" tebak Yeri tiba-tiba, dan membuat Hoseok kaget.
"Ye-Yeri, a-aku bukan ... bukan maksudku untuk melakukan sesuatu seperti itu padamu!!" gagap Hoseok yang panik.
"Dia adalah cinta pertamamu yang sering kau ceritakan dulu itu kan, Chagi? Apa aku benar?" tanya Yeri memastikan, namun tak mendapat jawaban dari suaminya.
"Pergilah. Aku akan menunggumu," putus Yeri tiba-tiba, dan membuat Hoseok menatpnya tak percaya.
"Gomawo. Gomawo Chagi. Aku janji, aku akan kembali," ujar Hoseok, dan memeluk istrinya erat. Setelahnya, ia pun segera pergi meninggalkan sang istri sendiri.
"Cinta pertama yang belum selesai, eh!!" gumam Yeri pelan.
-
-
-
-
-
Wuushh ....
Angin berhembus dengan kencang hari ini, meniupkan bunga-bunga sakura yang telah berguguran menjadi terhempas terbawa jauh oleh angin. Sementara itu, mentaripun mulai condong kebarat. Cahayanya yang hangat itu perlahan mulai meredup.
Seorang gadis yang sudah menghabiskan waktunya cukup lama di bawah deretan pohon bunga sakura hari ini, tampak masih enggan meninggalkan tempatnya. Sesekali ia masih menyapukan kuasnya pada karyanya yang indah.
"Ini akan segera berakhir ..!!" gumamnya dengan sesekali terbatuk dan menepuk-nepuk dadanya untuk meredakan rasa nyeri yang tiba-tiba melanda.
"Eunbi-ya ..?!" panggil seseorang pelan, yang membuat gadis itu menoleh dan tanpa sadar menjatuhkan kuas dari tangannya.
-
-
-
-
-
Satu dua kelopak sakura kembali berguguran, sementara seorang gadis masih terdiam di tempatnya begitu pula dengan si pria. Suasana tampak hening, hanya semilir angin sore yang terlihat asyik mempermainkan kelopak bunga sakura yang berada di dahannya. Sesekali, mata gadis tadi melirik pada cincin perak yang telah melingkar pada jari manis yang tengah dikenakan oleh pria di sampingnya.
"Di mana istrimu, Hoseokkie? Dia tak bersamamu ke sini?" tanya gadis itu yang tak lain Eunbi pada Hoseok di sebelahnya.
"Aku tidak mengajaknya, Eunbi-ya. Kupikir kita perlu bicara berdua, makanya aku ... aku rasa ..!!" jawab Hoseok terbata, lantaran gugup sambil sesekali mengepalkan tangannya sendiri.
"Mmm ... begitu ya!! Hehh, padahal aku ingin sekali bertemu dengannya. Dia itu pasti sangat cantik sekali kan, Hoseokkie?!" tanya Eunbi menginterupsi, dan hanya diangguki oleh Hoseok sebagai jawaban.
"Begitu ya ..!!" tanggap si gadis yang langsung terlihat sedih.
Di sisi lain, Hoseok saat ini tengah memperhatikan hal-hal yang telah berubah pada gadis cinta pertamanya itu.
"Eunbi-ya, sejak kapan kau begini? Apa sejak kita kehilangan kontak saat itu?" tanya Hoseok penasaran. Namun dengan posisi ia tak berani memandangi si gadis secara langsung seperti halnya dirinya dulu.
"Banyak yang berubah, bukan!! Dan kurasa kau juga pasti kaget dengan kondisiku ini," sahut Eunbi dengan bibir tersenyum getir.
"Tapi syukurlah, karena akhirnya kita bisa bertemu lagi seperti ini. Kau tau, selama beberapa tahun ini aku merasa sangat bersalah terhadapmu. Tapi karena sepertinya Tuhan sangat baik padaku, jadi setidaknya kita bisa menyelesaikan hal ini sekarang. Selamat Hoseokkie, aku turut berbahagia untukmu," ujar Eunbi dengan tulus, namun tetap saja air matanya jatuh tanpa bisa ia control. Sedihnya, Hoseok tak bisa menghapuskan air mata itu untuknya. Tentu saja, karena mereka tak punya hubungan lagi saat ini.
-
-
-
-
-
"Sekarang kau terlihat sedikit ceria, Eunbi-ssi. Kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk melanjutkan kemoterapi-mu lagi, eum?! Apa ada sesuatu yang bagus yang telah mengubahmu?" tanya dokter Park, pada pasiennya yang tengah menjalani kemoterapi saat ini.
"Hmm, nde uisanim. Karena kurasa sekarang semuanya telah usai ..!!" jawab Eunbi dengan sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Apanya yang telah usai, Eunbi-ssi? Kau benar-benar membuatku penasaran," kekeh dokter Park.
"Kau tidak perlu tau, Uisa-nim Tapi yang jelas, aku ingin segera sembuh sekarang. Ada banyak hal yang harus kulakukan," ujar Eunbi yang tampak bersemangat. Lain halnya dokter Park yang masih sangat penasaran dibuatnya.
Di tempat lain.
"Aku hamil, Chagi. Aku hamil!!" pekik seorang wanita yang terlihat begitu bahagia. Sementara itu pria yang ada di hadapannya terlihat membulatkan bibirnya seakan tak percaya.
"Ya Tuhan, kalau begitu aku akan segera menjadi seorang appa. Wah ... akhirnya momen ini terjadi juga. Gomawo Yeri-ya!!" kata pria tadi yang tak lain Hoseok dengan tangan sudah memeluk istrinya dengan erat.
-
-
-
-
-
"Hubungan kita telah berakhir, Hoseokkie!! Itu yang ingin aku tegaskan di sini. Kau ... kau pasti juga taukan?" ujar Eunbi dengan kepala menoleh pada pria yang ada di sampingnya.
"Eum. Aku tau hal itu. Tapi, aku tidak tau apa yang harus aku katakan saat ini," balas Hoseok yang terlihat bingung.
"Hehh, kenapa jadi kau yang tidak tau harus mengatakan apa sekarang!! Oh ayolah Hoseokkie, kau sudah punya istri sekarang. Kau jangan curang, ya?" geram Eunbi, dan mendelik tajam pada Hoseok di sebelahnya.
"Ye ye ye ... ternyata kau masih saja cerewet," gerutu Hoseok yang sebal.
"Aku tak mau tau, pokoknya kau harus membantuku untuk mendapatkan calon pendamping. Rasanya setelah sekian lama tersiksa karena dirimu, sekarang waktunya diriku untuk bebas. Jadi ayo cepat bertanggung jawab, dan temukan namja yang baik untukku," tuntuk Eunbi tiba-tiba, lalu terkekeh sendiri setelahnya.
"Arraso arraso. Tenang saja, aku punya banyak teman namja, kok. Dan kupastikan, kau pasti akan jatuh cinta dengan salah satu dari mereka. Mereka luar biasa, Eunbi-ya!!" pamer Hoseok dan berhasil membuat Eunbi menatapnya penuh minat.
Sementara itu, perlahan bunga sakura pun kembali berguguran. Bersamaan dengan hal tersebut, musim semipun telah berakhir dengan indah.
End
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, ya. 😉😉