Seperti sebelumnya, tak pernah ada yang spesial di setiap winter yang ku lalui.
Aku benci dingin, karena itu aku juga membenci winter.
Tapi ada yang berbeda untuk winter kali ini. Kali ini terasa lebih spesial, meskipun aku masih membenci dingin.
Sepupuku datang berlibur kerumahku untuk waktu yang cukup lama.
Dia tahu betapa aku tak menyukai winter dan sangat malas untuk keluar rumah ketika sedang musim salju.
Singkat cerita hari itu, sepupuku memaksaku keluar rumah dan menikmati salju yang jatuh perlahan-lahan.
Saat itu salju tak begitu lebat... sehingga aku bisa menikmatinya.
Untuk pertama kalinya aku menyentuh salju, dan dalam hatiku salju tak seburuk yang aku pikirkan. Cuaca tak sedingin yang aku bayangkan.
Kami berkeliling hingga ke kota, tiba-tiba langkahku terhenti karena sepupuku tak lagi disampingku.
Ku lihat, dia tengah berdiri mematung di depan gedung. Ku panggil berulang kali tapi dia tak juga mendekat.
Dengan sedikit malas, aku berjalan kembali menghampirinya.
Tiba2.... sepupuku namanya So Hyun
So Hyun : "wooaaahhhh, daebakkk... unnie lihatlah, ini benar2 surga... unnie ayo kita masuk" katanya sambil merengek.
Ku lihat apa yang membuatnya begitu terdiam dan berbinar. Kudapati dibelakangku berdiri sebuah cafe klasik dengan nuansa natal yang luar biasa bak di negeri dongeng.
Cafe itu benar2 begitu indah...Kulihat tak begitu banyak pengunjung yang datang, akhirnya kuputuskan untuk masuk (karena aku tak suka nongkrong ditempat yang banyak orang,pikirku tak apalah mampir sebentar untuk menghangatkan tubuhku yg rasanya hampir membeku)
"okey ayo masuk...disini dingin" Ajakku.
Tanpa banyak kata So Hyun langsung bergegas membuka pintunya.
Terdengar suara lonceng yang entah kenapa suara itu terasa tak begitu asing ditelingaku.
Aku berusaha mengingat tapi tak bisa kutemukan suara apa itu, ah... tak ambil pusing aku bergegas mengikuti So Hyun.
Kami memilih untuk naik kelantai dua, tempatnya lebih tenang, dan pemandangannya lebih indah.
Seperti biasa setiap kali ke cafe aku lebih memilih untuk duduk di sudut dekat jendela.... kebetulan tempat itu kosong dan So Hyun sudah duduk disana.
Aku berjalan menghampirinya dan duduk didepannya.
Meja-meja tertata rapi sepasang-sepasang, seolah-olah tempat itu memang sengaja disiapkan untuk pasangan yang sedang menikmati liburan mereka.
Ya, nuansanya terasa sangat romantis. Tata letak, cahaya, hiasan... semuanya terlalu romantis untuk ku nikmati bersama sepupuku. Tapi tak apalah, tak akan ada yang bertanya pula, lagipula sepupuku juga jauh lebih muda dariku. Tak mungkin orang akan mengira kami pasangan.
Setelah duduk, aku masih termangu melihat keluar jendela, betapa cantiknya salju putih yang turun. Betapa indahnya ketika mereka jatuh ke atap mobil ataupun di aspal.
Sejenak ku berpikir, salju yang selama ini ku benci, ternyata begitu cantik.
Winter yang kulihat kali ini begitu berbeda dari yang ku lihat sebelumnya. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sedikit menyesali winter yang telah berlalu dan tak bisa ku nikmati.
Sesaat kemudian kumendengar lagu yang tak asing, lagu yang rasanya telah lama tak ku dengarkan.
Alunan nada itu tiba2 membangunkan lamunanku,
(Backsound MID by EXO)
"Lagu ini" gumamku...
"Kenapa unnie?" tanya So Hyun karena dia tidak mendengar dengan jelas apa yang ku ucapkan...
"ah, bukan apa2. Pesen gih, kamu mau minum apa?"
"Tenang unnie, aku sudah pesan tadi. Dan aku juga pesan kan latte kesukaan unnie."
Aku sedikit terkejut, sudah pesan? kapan? apa mungkin selama aku melamun tadi ada pegawai yang menghampiri?
aah, mungkin aku begitu terbenam dengan salju hingga aku tak menyadari kedatangannya.
So Hyun melihatku nampak kebingungan dia segera menjelaskan, bahwa di meja tempat dia duduk ada monitor yang bisa digunakan untuk memesan langsung tanpa harus memanggil pegawai, dan nanti kalo pesanannya sudah siap akan ada notifikasi kita tinggal turun untuk mengambilnya.
Waahhh, aku semakin menganga dengan cafe ini. Cafe yang jauh dari bayanganku.
Benar-benar luar biasa.
Tak lama kemudian pesanan kami sudah siap, karena aku malas beranjak, akhirnya So Hyun yang mengambilnya.
Sembari menunggu, aku mencoba bernyanyi dengan pelan, sedikit lupa karena lagu itu sudah sangat lama, dan juga mungkin anak seusia So Hyun tidak akan tahu lagu itu.(ps: So Hyun 17 tahun aku sekitar 30 tahun dan lagu MID rilis 2013 jadi sekitar 8 tahun berlalu, dan tiba2 pas lagi di cafe kalian bisa mendengarkan lagi lagu MID yang kita tahu lagu itu sudah usang).
Serasa seperti mengenang lagi kisah lalu, aku sangat menikmati setiap alunan musik yang terdengar merdu, membuatku tiba2 merasa rindu.
Masih sambil menatap salju, ya mungkin ini miracles in my december. Keajaiban yang datang untuk ku, karena perlahan2 aku merasa mulai menyukai salju lagi.
"Taaaraaa... unnie lihatlah, latte ini begitu unik, dan lucu... unnie,bukankah ini unnie?"
pertanyaan itu tiba-tiba membuatku menoleh dan penasaran apa yang dimaksud oleh So Hyun?
"Unnie, ku pikir ini mirip sekali denganmu" seloroh So Hyun sambil menyodorkan segelas latte hangat untukku.
Aku begitu terkejut mendengarnya, aku terdiam terus mengamati lukisan indah diatas latte hangatku...
Ya, gambar itu mirip denganku, amat sangat mirip denganku. Diriku 7 tahun yang lalu.
Ahh... tidak mungkin. Ini pasti hanya sebuah art biasa. Tidak mungkin ini aku, bagaimana mungkin diriku 7 tahun yang lalu bisa ada diatas latte, sedangkan aku sebelumnya tak pernah ke cafe ini sama sekali.
Aku berusaha mengingat kembali dan meyakinkan diriku... ini bukan aku.
Sambil ku usap tangkai cangkirnya, ku perhatikan lekat-lekat lukisan itu.
"Unnie?..unnie?" suara So Hyun mengagetkanku...
"Unnie kenapa? apakah unnie tidak menyukainya?"
aku hanya memberi isyarat kalo aku menyukainya.
"Lalu, knapa unnie hanya menatapnya? minumlah unnie, mumpung masih hangat. Rasanya nikmat, unnie pasti suka"
Aku masih begitu penasaran, akan lukisan itu. Aku masih mencoba untuk mengingat, mungkin selama ini ada yang aku lupakan. Tapi tetap saja tak ada satupun yang bisa ku ingat dan meredakan rasa penasaranku.
(kalo kamu jadi aku, kamu akan gimana? Lari turun kebawah nyari baristanya, atau bodo amat cuek nikmatin aja latte kesukaan kamu mumpung masih hangat?)
Mungkin kalian berharap aku turun dan mencari baristanya... but it's not me.
Aahh.... tak mau pikir panjang lagi. Aku berhenti menatap art itu, menepis segala penasaran yang bisa saja menggerogotiku. Aku tak mau ambil resiko itu. Segera ku seruput latte hangat yang sedari tadi menggodaku, membuatku menelan ludah berkali2 karena mencium aromanya saja sudah terasa nikmat.
Baru seteguk aku meminumnya, lagi2 ada sesuatu hal yang mengusikku.
Aku semakin bertanya2 ada apa denganku hari ini?
Rasa latte itu tak seperti latte pada umumnya yang ku jumpai di cafe2 lain.
Rasanya berbeda, seolah aku menemukan kembali kenangan lama yang entah menghilang kemana. Kenangan yang memang ku lupakan dengan sengaja, atau memang kenangan yang melebur seiring waktu berlalu.
Seolah-olah aku pernah mencicipi rasa latte itu sebelumnya. Tiba2, rasa itu begitu akrab dengan lidahku.
Latte yang sepertinya sejak dulu sangat ku sukai dan sering ku nikmati, rasa yang dulu menghilang, dan tak pernah ku temukan lagi di latte2 lainnya. Dan tiba2 di cafe ini latte itu kembali.
"Unnie, enak kan??"
So Hyun bertanya tiba2 membuat ku hampir tersedak. Ku taruh kembali cangkir itu ke meja. Dengan sedikit rasa penasaran aku mulai memberanikan diri untuk bertanya pada So Hyun, seolah aku sedang menginvestigasinya.
"Hyun-ah, waktu kamu mengambil latte ini siapa yang memberikannya kepadamu?"
"Pegawainya..."seloroh So Hyun polos sambil menikmati minumannya..
"Iya, unnie tahu, Laki2 atau perempuan?" saat menanyakan ini entah kenapa tiba2 ada perasaan kuat yang menginginkan jawaban laki2 untuk ku dengar.
"Perempuan." Jawaban singkat So Hyun seolah meruntuhkan harapanku, aku merasa kecewa, tapi aku juga heran, jelas2 tadi ketika masuk yang kulihat juga pegawai perempuan semua, tapi kenapa tiba2 aku merasa sedih dan kecewa mendengar jawaban itu. Padahal tanpa bertanya aku sudah pasti tahu jawabnya perempuan.
Aku mulai bingung dengan rasa yang bergejolak dalam hatiku,, pikiran ku mulai tak fokus... tiba2 ada banyak hal yang ingin ku ingat... dan terasa mengusik ku.
Ada apa ini, perasaan apa ini yang begitu menggangguku? kenapa aku merasa kecewa? untuk hal apa?
Pertanyaan2 itu terus menghantui pikiranku...
Aku kembali terdiam.. berusaha membuka kembali memori2 ku. Menenangkan hatiku untuk mengurangi rasa gundahku...
Tapi bukannya berkurang atau menghilang... rasa penasaran itu semakin berkembang seiring terdengarnya alunan nada indah dari lagu "My turn To cry" (by EXO)
Sekali lagi, tiba2 aku merasa kosong, seolah2 aku tertarik kembali ke masa lalu yang belum bisa ku pahami.
Seolah-olah hari itu semua terasa sudah dipersiapkan untukku.
Tapi kenapa aku tak juga mengerti? Tapi kenapa aku tak bisa mengingat kenangan itu?
Apakah kenangan itu benar2 ada? apakah kenangan itu milikku?
Aku semakin merasa penasaran... rasa itu dengan kuat mengusikku.
Aku bergelut dengan pikiran dan perasaanku sendiri.
Tak ku pedulikan So Hyun yang nampak begitu heran menatapku.
Ingin rasanya aku turun dan mencari tahu sendiri siapa pembuat latte ini, dan kenapa bisa dia melukiskan diriku 7 tahun yang lalu. Akankah dia seseorang yang ku kenal?
Jika iya, kenapa aku tak bisa menebak? kenapa aku tak bisa mengingatnya? siapakah dia?
Cerita apa yang selama ini ku lupakan? Bukan, bukan... mungkin bukan ku lupakan, bisa saja kenangan itu selama ini ku abaikan.
Aku tak tahan lagi dengan rasa penasaran ini. Tiba2 aku berdiri mencoba memberanikan diri untuk melangkah turun. Tapi seakan akan ada sesuatu yang menahanku. Aku merasa lemas dan duduk kembali.
So Hyun nampak begitu bingung dengan tingkahku.
"Unnie? Apa yang kau lakukan? apa ada yang mengganggumu?"
Aku tetap diam tak menghiraukannya... Aku semakin panik sendiri dengan perasaanku. Aku merasa cemas, berdebar, gemetar. Dan tiba2 aku mulai berharap. Entah apa yang aku harapkan. Ada perasaan rindu yang hadir begitu saja tanpa permisi. Ada rasa ingin sekali aku kembali menemukan seseorang yang belum ku tahu dengan pasti itu siapa.
"Unnie apa kau sakit perut?"
"Tidak. Hyun-ah.... lihat unnie? apakah kau merasa ada yang aneh?"
"Iya, sejak latte itu datang unnie bertingkah aneh."
"Hyun-ah, sekali lagi, kamu ingat2... tak adakah pegawai laki2 disana?"
So Hyun menggeleng dengan yakin.
"Apakah kamu tak salah melihat? Apakah kau melihat baristanya? Apakah dia benar2 perempuan? Bisa saja dia memakai wigs?" Tanyaku beruntun setengah gugup.
"Unnie, Kau ini kenapa? Unnie tadi liat sendirikan ketika kita masuk... semuanya perempuan."
Jawab So Hyun tak juga mengurangi penasaranku.
Rasanya aku menyerah, dan ingin mengabaikan perasaan itu. Ku sandarkan punggung ku.. mencoba menenangkan diriku.
Ku pejamkan mata, mencoba mengingat apa yang membuatku begitu terusik, Ku hela napas berkali-kali.
Ya... aku mengingatnya... ada yang ku ingat...
Suara lonceng pintu itu. Aku pernah mendengarnya sebelumnya. Suara lonceng itu sama persis seperti suara bel sebuah sepeda.
Ku buka lagi mataku...
"Lonceng?? sepeda??" Gumamku...
So Hyun hanya geleng2 melihatku.. karena dia tak tahu apa yang kurasakan dan dia juga tak akan mengerti.
"Lonceng?? sepeda??" pikirku lagi dengan keras.
Kenangan apakah yang akan kembali ini???
"Hyun-ah, apa kau benar2 melihat baristanya perempuan?" Desakku lagi.
"Iya Unnie aku melihatnya, dan tadi aku sempat bertanya cafe begitu unik ini apakah pemiliknya laki2. tapi pegawai itu bilang bukan. Dan aku bertanya juga apakah semua pegawainya perempuan. Rasanya akan tambah manis jika ada laki2. Pegawai itu bilang, Cafe ini hanya menerima pegawai perempuan, Bahkan dia menawariku untuk bekerja paruh waktu disini." jelas So Hyun panjang lebar tapi tak ada satupun kata darinya yang bisa menenangkanku.
"Tidak Mungkin!!" Kataku tegas.
"Hyun-ah, kau lihat kan art di latte unnie. Itu aku 7 tahun yang lalu, bahkan aku belum pernah ke cafe ini sebelumnya, aku juga tidak tahu kapan cafe ini berdiri. Aku juga tidak mengenal barista itu. Tapi bagaimana mungkin dia bisa menggambar diriku 7 tahun yang lalu?" protesku sedikit merasa kesal juga.
So Hyun nampak mulai berpikir seolah2 dia membenarkan ucapkan dan juga ikut merasakan keanehan yg ku rasakan.
Tapi dia tak juga memberikan tanggapan.
"Hyun-ah, ini aneh... kenapa kamu tiba2 berhenti dan ingin mampir kesini?"
"Ya karena aku tadi melihat cafe ini unik dan aku ingin mencoba minumannya.. karena ada promo latte spesial, jika aku pesan itu aku bisa mendapatkan gratis minuman apapun yang aku mau. Karena aku tak suka latte dan ku tahu unnie suka latte, pikirku tak masalah kalo kita mampir. Lagi pula lumayan kan beli satu gratis satu?" jawab So Hyun cengengesan.
Sial.... ternyata itu alasan bocah ini... wahh, dia bener2 pandai membodohiku sejak dulu.
"Hyun-ah, tapi ini benar2 aneh. Suara lonceng pintu itu. Aku mendengarnya. 7 tahun yang lalu. Suara itu sama persis dengan suara bel sepeda yang dimainkan untukku."
"Benarkah... lalu apa unnie tahu pemilik sepeda itu? apa dia pacar unnie? mungkin saja dia anak dari pemilik cafe ini."
Tanya So Hyun antusias. Dia mulai tertarik dengan kisahku. Dia mencoba membantuku untuk mengingat kembali.
"Apakah aku mengenalnya? Apakah aku tahu pemilik sepeda yang selalu memainkan belnya untukku? Apakah dia kekasihku?" Aku mulai bertanya2 pada diriku.
Siapakah dia. Kalau dia kekasihku, apakah kita putus? kenapa aku tak mengingatnya? kenapa aku tak merasa pernah memiliki seorang kekasih?
Lalu... Siapa?? Siapa dia?
Kurasa bukan. Aku tak mungkin lupa jika aku pernah memiliki seorang kekasih. Yachhh aku belum begitu tua untuk melupakan hal seindah itu. Meskipun diusia yang kepala 3 ini aku masih betah sendiri.
"Hyun-ah... kamu tau kan unnie tidak pernah memiliki seorang kekasih? apa kau sedang mengejek ku?" gerutuku kesal.
"Bukan begitu unnie,siapa tahu saja kan. Unnie, makanya... sudah saat nya unnie untuk memiliki seorang kekasih. Sudah saat nya unnie menikah dan memiliki anak2. Aku juga ingin memiliki keponakan. Unnie tahu sendirikan aku hanya bisa mendapatkan seorang keponakan dari unnie!" Sindir So Hyun
Ya begitulah memang. Dia memang satu2nya sepupuku. Karena Kita sama2 anak tunggal. Dan orang tuaku hanya memiliki 1 sodara saja. Bagaimana tidak. Ayahku juga anak tunggal sedangkan ibuku hanya memiliki satu adik.. yaitu ayahnya So Hyun. Sedangkan Ibu So Hyun juga anak tunggal. ya beginilah sepinya hidupku. Sejak So Hyun kecil aku bersamanya. Tapi ketika aku mulai kuliah dan bekerja kita jadi berpisah dan jarang bertemu.
Makanya kami begitu dekat, dia bukan hanya sepupu, tapi juga adik, anak dan teman bagiku.
"Ya tunggu saja, nanti kalo sudah saat nya unnie akan memberimu bayi yang lucu. Biar kamu gede dulu jadi bisa mengasuhnya." Elakku... padahal aku begitu malas kalo ditanya soal asmara.
Ahhh... sudahlah... mungkin ini hanya kebetulan saja. Mungkin baristanya tadi sempat melihatku, jadi dia mengira2 aku ketika muda dulu. Pikirku menenangkan diri sendiri.
Rasanya sudah terlalu lama aku di cafe. Hari juga mulai gelap. Aku mengajak So Hyun untuk pulang.
Aku turun duluan untuk membayar dikasir.
Sekali lagi, aku tak mau rasa penasaran menggerogotiku, Ku beranikan diri untuk bertanya kepada kasirnya.
Tapi dia bilang tidak tahu karena dia hanya bertugas menerima uang tidak mengirim pesanan ataupun menyiapkannya.
Yach, Jawaban itu tak cukup melegakan. Setelah selesai membayar.. aku segera naik lagi ke lantai dua untuk mngambil tas dan mengajak So Hyun pulang...
Baru beberapa langkah aku naik.. kaki ku tiba2 terhenti.
Ya, Dentingan piano menghentikan langkahku...
Nada2 yang keluar dari setiap tuts nya.. membuatku mematung.
Nada ini... aku mengingatnya.
Ya... aku mengingatnya...
Seketika tubuhku membeku...
Seakan aku kembali ke masa itu. 7 tahun yang lalu. Ingatan yang dari tadi samar...
Kini jelas teringat olehku.
Suara piano itu... Nada yang dimainkan. Aku yakin dengan pasti... ini lagu "For Life" Lagu khusus yang seseorang ciptakan untukku.
Aku tak berani menoleh... Bukan... Aku tak sanggup menoleh....
Sembari tetap mendengarkan lantunan nada itu... aku mengenang lagi semua cerita itu...
Suara bel sepeda yang selalu dimainkan untuk ku.. setiap hari sepanjang tahun semasa kuliahku...
Ya aku begitu hafal dengan suara itu... karena dia selalu memainkannya untuk menggodaku...
Tapi dia tak pernah berhenti untuk menyapaku... dan saat itu aku tak pernah berani untuk menoleh melihat siapakah laki2 itu.
Aku hanya akan berjalan menunduk, dan membiarkan dia melewatiku... setelah itu aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh dari pandanganku...
Hampir setiap hari... begitulah masa kuliah ku lalui.
Siapakah dia... bagaimana mungkin aku bisa menahannya selama ini??
Pikiranku masih dimasa itu...
Aku semakin bergetar mendengar setiap nada yang dimainkan...
Aku merasa lemas... tiba2 sesak menyusup kedalam dadaku...
aku merasa tercekik... seolah tak ada udara disekitarku... semua terasa hening hanya ada aku,kenangan dan suara piano itu....
Aku kembali mengingat... untuk pertama kali nya bagaimana aku bisa mendengar lagu itu...
Saat itu, ada acara bazar universitas, dan diadakan semacam konser musik...
Kebetulan saat itu aku menontonnya...
Sebelumnya aku tak tahu siapa yang sedang tampil... karena aku tak suka keramaian aku bermaksud untuk meninggalkan acara itu... tapi seperti saat ini... tiba2 tubuhku mematung ketika mendengar sentuhan tiap tuts yang mengalunkan nada begitu indah...
"This life has twist and turns
but it is the sweetest mystery when you're with me"
Suara itu membuatku menoleh... untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya... entah bagaimana aku melukiskan betapa bahagianya aku saat itu..
Dia seseorang yang selama ini hanya bisa ku lihat punggungnya. Dia yang selama ini tak pernah ku dengar suaranya. Tapi saat ini aku melihatnya, aku menatapnya aku mendengar suaranya...
Bibir bergetar menahan tangis... namun aku tak kuasa... air mata tetap jatuh membasahi pipiku...
Saat itu dia menatapku...
Aku semakin berdebar... aku merasa mendengar suara lonceng...
Dia tampak begitu mempesona... sesekali dia memejamkan mata menghayati lagunya... sesekali dia menatapku dan tersenyum....
Aku merasa sekitarku hampa... hanya ada aku dan dia... aku tak mampu lagi mengungkapkan bagaimana bahagiaku...
aku hanya bisa mematung sambil terus menangis...
ya aku menangis...
Aku menangis untuk dua hal...
Aku menangis karena dia yang selama ini hanya bisa kupandangi diam2... akhirnya aku bisa menatapnya untuk pertama kalinya...
Aku menangis karena itu juga kesempatan terakhir untukku melihatnya...
Kenapa baru sekarang aku melihatnya, kenapa baru sekarang aku harus mendengar suaranya...
Kenapa baru sekarang aku berani mengakuinya...
kenapa baru sekarang disaat aku harus pergi....
Mengingat itu, air mataku semakin deras mengalir... bahkan aku tak kuasa untuk menyekanya... aku hanya bisa membiarkannya... membuat penglihatanku sedikit kabur...
Tak apa... biarkanlah seperti ini...
Aku tak mau mengingatnya... aku tak mau mengenalnya...
Aku tak mau... disaat ku tahu pasti itu tak mungkin... disaat ku tahu pasti aku harus pergi...
Begitulah yang aku pikirkan saat itu...
Ya aku tak mau mengenangnya... aku tak mau... karena hari itu juga aku harus pindah untuk mengikuti orang tuaku... karena ayahku mendapatkan tugas diluar kota... dikota ku saat ini aku tinggal.
Aku tak mau dia menahan ku...
Bukan... bukan karena dia... tapi karenaku... aku tak ingin pergi dengan penyesalan..
Aku tak ingin pergi dengan beban... aku tak ingin pergi dengan mengingatnya...
Biarlah tetap seperti ini...
Ini jauh akan lebih mudah untuk diriku sendiri untuk hatiku sendiri...
Bahkan aku tak tahu namanya... aku tak ingin berharap dan tak ingin memikirkannya.
Kurasa begitulah alasan kenapa selama 7 tahun ini aku bertahan sendiri... bahkan tak mengingat kenangan itu...
karena aku sengaja melupakannya... karena aku terlalu takut untuk memulainya...
Tapi hari ini... dari secangkir kopi... kenangan yang selama 7 tahun tersimpan rapi... tiba2 datang kembali...
sama seperti 7 tahun yang lalu... masih sama saat itu juga ketika winter aku harus pergi dan tak pernah memulai... Hari ini harus kah aku mengulang kembali cerita yang sama 7 tahun silam?..
Haruskah aku mengumpulkan tenagaku dan terus melangkah tanpa menoleh?? haruskah aku pergi lagi?
Haruskah aku lari lagi?
Haruskah aku menghindarinya untuk kedua kali?
Aku masih takut... aku masih ragu... Aku belum tahu pasti apakah yang saat ini adalah orang yang sama dari 7 tahun lalu?
Jika iya bagaimana mungkin?
Ditengah keraguan dan kebimbangan ku, tiba2 aku mulai mendengar suaranya...
Ya... suara itu sama persis... tak berubah sedikitpun... suara itu sama persis seperti kenangan yang baru saja kembali...
Suaru itu membuatku terkejut... secara tak sengaja aku menjatuhkan dompetku... dan disaat itu ada koin yang jatuh... aku meliriknya, aku tak mampu menoleh... aku tak mampu... aku benar2 tak sanggup untuk menoleh...
aku melirik koin itu berhenti tepat dibawahnya...
Dia melihatnya... dia melihatku... apakah dia mengingatku?
Aku semakin gugup...Aku ingin berlari... tapi kakiku tak mau bergeser sedikitpun...
rasanya begitu berat... seolah sudah membeku dan menyatu dengan tempatku berdiri...
Apalah dayaku, aku hanya bisa berdiam dan terus berdiam....
Aku mendengarnya lagi... setelah 7 tahun berlalu aku mendengarnya lagi... aku berusaha menguatkan hatiku...
Aku berusaha sekuat tenaga untuk mendengarnya hingga akhir...
aku ingin itu cepat berlalu agar aku bisa lekas pergi...
tapi seolah waktu ikut berhenti...
Lagu itu terasa lebih lama dari 7 tahun yang lalu.
Ahhh... Tolong... berhentilah... teriakku dalam hati...
ku mohon hentikan...
Tapi kenapa aku harus memohon??
entahlah mungkin aku masih takut untuk memulai.
Akhirnya kudengar suara tepuk tangan pertanda lagu itu sudah selesai... aku berharap aku masih punya tenaga untuk segera berlari pergi... tapi kenapa aku masih tak mampu bergerak...
tiba2.......
Seseorang memanggilku... bukan hanya sekali...
3 kali dia menyebut namaku... aku tak yakin jika yang dimaksud itu aku...
Aku juga masih belum berani menoleh... pikirku meski suaranya sama bisa saja dia orang lain...
Tak mau terlihat bodoh lagi... sekuat tenaga aku mengangkat kakiku...
ya aku berhasil bergerak... aku berhasil naik satu tangga tapi aku terhenti lagi...
Dia menyebut namaku lagi...
"Akankah kamu lari lagi? Akankah kamu pergi lagi? sama seperti 7 tahun yang lalu? Kamu berlari menjauh dariku... tanpa menoleh lagi??
Itukah yang ingin kamu lakukan sekarang??
Kenapa? Begitu sulitkah menatapku?" kata-katanya jelas tertuju untukku...
Aku yakin itu dia... iya 100% itu dia...
Dia yang sekarang sama seperti dia 7 tahun lalu...
Lalu apa yang harus ku lakukan?
Air mata yang sedari tadi ku tahan tak lagi dapat terbendung...
Dia menetes dengan sendirinya... Aku bahkan kaget bagaimana bisa dia tahu namaku??
Bagaimana bisa?disaat aku tak pernah tahu namanya... darimana dia bisa tahu namaku??
"Cukup sekali aku membiarkanmu pergi...
Cukup sekali kebodohan yang ku lakukan 7 tahun lalu.
Sekarang, saat ini aku tak akan membiarkannya lagi. berbaliklah... lihatlah aku...." suaranya begitu lembut...
Dia menyebut namaku lagi...
Entah apa yang mendorongku...
entah kekuatan darimana yang merasukiku...
Tiba2 tanpa pikir panjang lagi...
Aku berbalik... aku berlari mengahampirinya...
Rasa yang selama ini kutahan... rindu yang selama ini kupendam memberiku keberanian...
disaat bersamaan dia berdiri... seolah dia siap menyambutku...
Tanpa kata2 aku terus berlari kearahnya...
Aku tak peduli dengan orang2 disekitarku... aku tak peduli mereka melihatku...
Setelah sampai didepannya.. tanpa permisi... aku tak butuh ijin darinya...
aku memeluknya...
aku tak bisa berpikir lagi apa yang ku lakukan...
Dia masih membeku... mungkin dia tak menyangka dengan reaksiku... dia belum membalas pelukanku...
aku merasa sedikit canggung dan juga malu... tapi entah kenapa bukan melepaskan pelukanku aku malah semakin mempereratnya...
aku memeluknya semakin erat...
Dan... dia membalasku...
Dia memelukku lebih erat lagi...
air mataku semakin deras... kubenamkan wajahku kedadanya...
Ahhh... betapa bahagianya...
Ya aku tak akan lari lagi... aku tak akan bodoh lagi...
Aku tak akan membiarkan diriku terluka sendirian...
Sekarang dia depanku... Aku tak akan melepaskan nya lagi tak akan pernah...
Begitulah yang aku pikirkan...
Masih tak ada kata yang terucap dariku...
Tapi dia...
diam membisikan sesuatu...
"Terimakasih"
kata yang begitu sederhana...
tapi aku tahu artinya... aku tahu maksudnya...
aku hanya bisa mengangguk pelan...
Dia melepaskan pelukan nya...
Dia mengangkat wajah ku... dia menatap ku...
wajah itu... aku bisa melihatnya begitu dekat... aku melihatnya dengan jelas...
ku tatap matanya... ada diriku... hanya ada bayanganku dimatanya....
Dia menatapku lekat2... bisa dengan jelas kulihat betapa besar rindu yang dia rasakan... sama sepertiku rindu yang selalu ku simpan dan tak pernah ku akui...
seolah aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya...
Aku hanya membiarkan diriku tenggelam, tenggelam dan semakin tenggelam dalam kehangatannya..
Ya, secangkir kopi latte di winter ini mengingatkanku, membawa kembali bukan hanya kenangan yang selama ini ku lupakan... tapi juga membawa kembali dirinya... yang selama ini ku cintai dalam diam.
The END.