Di daerah perbukitan yang dingin, Viera berjalan bersama seorang lelaki bernama Chandra. Mereka berdua berjalan menaiki bukit yang cukup tinggi tersebut. Dengan hawa sejuk yang memadai, keduanya bertahan di dalam balutan jaket tebal. Kabut yang menyelimuti kawasan membuat pandangan mereka terbatas dan harus bergerak dengan hati-hati.
"Hati-hati Viera. Sebab jalan ini sedikit licin dan juga penuh kabut."
"Ya. Aku mengerti."
Mereka berdua saling berpegang tangan agar tidak terpisah dalam perjalanan itu. Dan langkah kaki pun berhenti ketika sampai di atas puncak.
"Hawa yang sangat sejuk pagi ini." kata Viera sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Benar. bahkan hembusan nafasmu bisa menghasilkan sebuah kepulan asap." balas Chandra.
Viera coba hembuskan nafasnya beberapa kali untuk melihat efek yang menghasilkan asap tersebut. Perempuan itu merasa kegirangan dan terus melakukannya berulang-ulang. Chandra hanya memperhatikan tingkah dari perempuan yang ada di sebelahnya itu.
Kemudian setelah beberapa saat berada di atas bukit, cahaya dari sinar matahari pun mulai muncul dari permukaan antara celah bukit-bukit yang membentang luas. Viera dan Chandra memandang terbitnya matahari dari jauh sana. Sinar dari matahari itu menyilaukan pandangan dan menerangi dunia yang sebelumnya di dominasi kegelapan.
Viera menutup mata dan beralih pandang karena silauan dari sinar matahari tersebut. Terlihat olehnya sebuah ayunan di dekat pohon besar yang tak jauh dari tempat dirinya berada. Viera berjalan dan menduduki ayunan tersebut. Setelah itu ia memanggil Chandra.
"Chandra. Kesinilah."
"Ayunan? Kamu mau main ayunan?" tanya Chandra.
"Iya. Tolong dorongkan ayunan ini." minta Viera pada Chandra.
Ayunan didorong oleh Chandra dengan lumayan kuat. Sehingga membuat Viera senang dalam menikmati gerakan ayunan tersebut. Bermain ayunan sambil memandang matahari yang sedang terbit dari arah timur, hati Viera merasa bahagia sekaligus tenang akan suasananya. Suara burung diatas langit terdengar dengan merdu yang juga menambah kesan indah pemandangan kala itu. Chandra sesekali mendorong ayunan yang dinaiki Viera itu. Kemudian mereka berdua pun mulai berbicara tentang suatu hal.
"Matahari itu indah ya. Apakah masa depan kita bisa seindah itu?" tanya Viera.
"Bisa. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang itu?" Chandra bertanya balik.
"Seketika aku terpikir akan masa depan. Jadi aku ingin membahasnya saja kali ini."
"Begitu ya." ucap Chandra menanggapi.
"Lalu apakah kamu sudah ada gambaran mengenai masa depanmu itu?" Viera bertanya.
"Saat ini aku hanya menggambarkannya dari segi cita-cita. Jadi itu tidak pasti kenyataannya. Lihat saja nanti bagaimana kedepannya." jawab Chandra.
"Aku bahkan tidak bisa membayangkannya. Aku takut bila masa depanku gelap, bukanlah terang layaknya sinar mentari ini." menunduk kepala sambil mengayunkan kedua kaki.
"Jangan berkata seperti itu. Berjuanglah demi masa depan. Maka masa depan akan terbentuk oleh buah perjuanganmu tersebut." ujar lelaki itu dengan senyum.
"Ya. Seharusnya aku lebih bersemangat lagi dalam menjalani hidup dan bisa menentukan masa depanku sendiri." kata Viera.
"Tenang saja. Bila kamu mengalami masalah, maka aku akan siap untuk membantumu. Mari kita berjuang bersama-sama demi masa depan yang cerah." Chandra seketika menghentikan laju ayunan Viera tersebut.
"Uhm.. Baiklah. Jangan saling lepas tangan ya dalam perjuangan ini."
"Tidak akan. Kita akan bergenggaman dengan erat dan melangkah seirama ke arah depan."
Chandra membantu Viera turun dari ayunan, lalu menggenggam tangan dengan erat sembari memandangnya. Begitu pula dengan Viera yang di selipi senyuman manis di wajahnya setelah mendengar kata-kata semangat dari Chandra barusan.
-----SELESAI-----