Aku Ressa ku harap kamu mendengar ceritaku dengan baik.
Hari itu kampus kami mengadakan kegiatan malam keakraban (makrab) penyambutan mahasiswa baru Jurusan Teknik Kimia. Aku dan temanku Nanda bertanggungjawab sebagai seksi konsumsi. Lokasi kegiatan kami di sebuah wisma yang cukup jauh dari perkampuangan setempat.
"Ress, lima belas menit lagi makan malam. Yuk cek konsumsi di basement" ujar Nanda kala itu sambil menggandeng tanganku.
Aku dan Nanda berjalan menuju basement, tempat di mana konsumsi di letakan. Konsumsi sengaja kami letakan di basement karena semua meja telah dipenuhi properti makrab, lagi pula letak basement tidak terlalu jauh dari tempat kegiatan dan tempatnya cukup luas.
Aku dan Nanda menghitung konsumsi sambil meminta bantuan seksi perlengkapan untuk membagikan konsumsi ke panitia dan peserta makrab. Setelah selesai aku dan Nanda bermaksud kembali ke tempat acara.
"Brakkk!" terdengar bunyi dari dalam basement.
Aku memberanikan diri masuk untuk mengecek, meninggalkan Nanda yang masih berdiri di pintu basement.
"Argghhhh" teriakanku mengema sepanjang basement. Seketika duniaku seolah terbalik, lima meter di hadapanku aku melihat sesosok mahluk aneh menyeringai ke arahku dan aku pun pingsan.
"Apa yang kamu lihat?"
"Entahlah, aku tidak ingin melanjutkan cerita ini. Sosok itu, huuuuhhuu huuuuhuuu" Resa mulai menanggis sambil membayangkan sosok yang merasukinya.
"Beri aku air, tenggorokanku terasa kering" ujar Ressa sambil menahan tanggis.
Aku terbangun dan menemukan diriku dikelilingi banyak mahluk aneh. Aku melihat banyak hantu dan siluman berkepala hewan. Yang paling mengganggu ku adalah wujud manusia berkepala kambing yang menari-nari di hadapanku.
"Kau tidak bisa pulang" ujar sosok yang ku lihat seperti kuntilanak. Wujudnya berubah-ubah, sedang memainkan ujung rambutnya.
Tubuhku kaku aku berusaha berteriak namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokanku. Kuntilanak itu membawaku ketempat yang berbeda hingga sampai di tempat terakhir.
Aku diikat diujung dahan kayu yang mengarah ke jurang bersama tiga orang lainnya. Aku mengarahkan pandangan ku sekeliling jurang.
Ada keluarga dan teman-temanku yang sedang berbicara denganku namun yang menjawab pertanyaan mereka adalah sosok itu, kuntilanak yang merasuki tubuhku.
Aku menyaksikan sosok kuntilanak itu tertawa mendengar doa yang dilantunkan teman dan kekuargaku.
Kuntilanak itu terus mengancam akan membunuhku jika mereka terus menerus menganggu kuntilanak itu.
Aku memandangi tubuhku yang tidak berdaya. Bentuk wajahku berubah lebih tirus dari biasanya, kulit sawo matangku sedikit demi sedikit mengarah ke arah kuning langsat.
Siapa pun tolong aku!
Jiwaku terkurung diantara mahluk - mahluk jahanam ini.
Mereka terus menertawaiku dan mencemoohku.
"Silahkan minta tolong, dan nyawa orangtuamu akan jadi taruhannya" ujar mahluk pertama yang kutemui di basement.
Kini aku bisa melihat sosok itu. Ukuran lebih besar berkali-kali lipat dari manusia biasa. Saat tertawa mulutnya menganga sambil memperlihatkan giginya yang runcing.
Aku merasa seluruh tubuhku semakin berat seperti ditindih ribuan ton karung beras. Pundak dan persendianku lemas.
Seseorang mungkin telah berusaha memindahkan ragaku kembali menyatu dengan tubuhku, namun aku kalah. Ragaku tidak kuat.
Sedetik kemudian aku merasakan sakit luar biasa di seluruh tubuhku. Kepalaku rasanya ingin pecah. Tulang belakangku rasanya seperti akan tercabut dari tempatnya. Kosong aku merasakan kekosongan yang sangat dalam.
Suasana sekitar tempatku di gantung menjadi gelap. Aku menyadari aku tidak lagi berada di tepi jurang, melainkan berada di ruangan yang gelap.
Aku mendengar banyak suara. Ada yang berdoa, ada yang memanggil namaku, ada yang menertawakanku semua suara itu membuatku bingung dan bimbang.
Aku mengikuti suara sekumpulan orang bedoa terdengar. Di tengah jalan suara itu berubah menjadi ejekan dan cemoohan.
Aku beralih ke suara yang lain. Sama. Mereka menipuku. Di mana sebenarnya aku berada.
Hari itu, hari terburuk dalam hidupku.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Kita bisa lanjutkan ceritamu besok"
Ressa mendekat kearahku sambil berbisik
"Besok giliranmu"
Aku mendangnya heran.
"Cerita itu mengundang mereka datang. Mereka sedang menunggumu" Bisik Ressa lagi
Aku mendongakan kepalaku.
Dia di sana,
Tepat di belakang Ressa.
"Arghhhhh"