Laki-laki berparas kelam tersebut membuat suasana terasa dingin. Dia memandang seorang perempuan yang bercanda dengan sekelompok temannya. Perempuan yang hangat, lembut dan ramah. Laki-laki itu mengepalkan telapak tangannya, setiap memandangnya.
Perempuan dengan rambut hitam legam, kulit yang cerah dan matanya yang cantik namun tajam. Dia selalu memakai pakaian yang dipenuhi dengan cat setiap kumpul satu angkatan. Namanya Likha. Student Exchange dari Indonesia. Jurusan Seni rupa 3 Dimensi.
"Dia memandangimu terus." Gumam teman dari negaranya yang sama. Vany.
"Kelihatannya galak,ya." Komentar temannya yang lain.
Perempuan itu tersenyum. "Tenang saja, aku mengenalnya."
"Kami bertemu saat student exchange musim panas di kampus Indonesia. Dia masuk kelas batik saat itu. Dan kami saling kenal." Kata Likha sambil tersenyum pucat.
Dibalas tatapan khawatir dari temannya.
Laki-laki itu bernama Ryo. Dia sedikit posesif. Teman-temannya tahu bahwa dia pencemburu bahkan apabila Likha bersama teman perempuannya sekali pun. Hal terpenting, Ryo selalu dianggap sadis oleh teman-temannya.
Ceramic Toxic Relationship. Istilah yang cocok diantara mereka. Ryo dan Likha seperti ditakdirkan walaupun sekuat tenaga Likha berusaha kabur dari genggaman Ryo.
Ryo pergi keluar dari ruangan perkumpulan mahasiswa. Dan mencoba memegang rokok elektrik-nya setelah ia mengolesi liquid perasa pada rokoknya.
"Dia seperti kupu-kupu." Ryo menghisap rokoknya dan membuang asap putih di sekitar. " Sayangnya, kupu-kupu hanya bertahan hidup 1-2 minggu."
***
Selesai kelas origami, Likha mengambil jam kosong untuk pergi ke lantai dua melihat tempat ternak kambing dan memberi makan kambing-kambing tersebut.
Benar, di Universitas ini melihara kambing di dalam ruangan sebagai tempat relaksasi. Anehnya bau kambing tidak pernah tercium di dalam ruangan.
Likha bertemu dengan Raka, mahasiswa Indonesia jurusan seni rupa bagian intermedia.
"Rindu halaman rumah?" tanyanya.
"Woi Raka." sapa Likha. "Maunya sih pulang." Jawabnya.
Raka dan Likha saling bercerita mengenai ilmu yang mereka dapat selama student exchange di sini. Mereka juga heboh karena kerennya universitas ini dibanding universitasnya. Bukan keren, melainkan tidak masuk akal.
Universitas di Indonesia sangat luas dan besar. Di sini tidak seluas di Indonesia tetapi tinggi dan setiap ruangan dimanfaatkan dengan maksimal.
"Apa kata anak interior kalau lihat ini,ya." Raka membayangkan wajah anak interior apabila melihat setiap ruangan di universitas ini.
"Benar!!!" Likha menyetujui pandangannya dan tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Ryo sudah ada di belakang Likha dengan wajah yang gelap. Dia menarik lengan Likha dengan paksa hingga wortel yang baru dimakan sang kambing jatuh. Tingkah Ryo sangat dingin, membuat Likha, Raka dan sang kambing melongo kaget.
"Aku perlu bicara denganmu!" Suaranya rendah tapi kesannya berhasil membuat hati sakit.
"Hei, jangan kasar begitu sama temanku." Kata Raka yang mencoba melepaskan tangan Ryo dari lengan Likha.
"Urusi, urusanmu sendiri." Perintah Ryo terdengar kasar. Dan memaksa Likha berjalan bersama dengannya ke luar gedung Universitas.
***
Mereka berdua makan di cafe dekat gedung universitas. Ryo tidak mau masalah pribadinya didengar pada gedung sekolah. Walaupun, semua orang sudah tahu tanpa harus mendengar.
Likha makan tak berselera. Namun, tangannya bergetar luar biasa.
"Sudah kubilang jangan tertawa di depan laki-laki lain." Ryo membuka pembicaraan dengannya yang ketus. Likha mendengarnya merasa frustrasi.
Mereka kembali terdiam dan fokus memakan makanannya.
Likha membalas dengan tertawa lembut. "Tugasmu nanti akan membuat apa, Ryo-san?."
Ryo tidak membalas, ia hanya menatap Likha dengan tajam dan dingin.
"Akhir semester musim dingin ini." Lanjut Likha. "Aku akan membuat patung yang berhubungan dengan intermedia. Kira-kira bagusnya bagaimana,ya."
"Begitu." Gumam Ryo. "Kamu berbicara dengan laki-laki itu."
"Namanya Raka." Balas Likha dengan senyuman tipis.
"Tetap saja, bagaimana pun aku nggak mengizinkannya. Kalau mau cari jurusan intermedia. Cari saja yang sudah profesional." Ucap Ryo yang ketus namun membawa saran.
Likha menghelakan napasnya. "Kenapa kamu akhir-akhir begini?"
Ryo tidak menjawab. Dan memilih meminum jus lemon.
"Padahal dulu, saat kita belum pacaran kamu imut dan baik-baik saja."
Ryo menghelakan napas kesal. Matanya menatap tajam perempuan di hadapannya. Dan rasa ingin menghancurkannya.
"Kamu tidak tahu salahmu?!" kata Ryo. "Mengejutkan."
Likha tegang dengan keringat dingin. Suaranya kasar dan nadanya dingin kepadanya. Likha ingin menangis. Kenapa ia harus bertemu dengannya.
"A-apa kamu ingin bersamaku terus?" Tanya Likha yang mengartikan maksud kemarahan Ryo.
"Kamu milikku. Jadi kita harus bersama selamanya." Ucapannya terdengar seperti perwakilan dinginnya tumpukkan salju.
***
Likha menangis di asrama mahasiswa. Dia terus menangis hingga matanya membengkak. Kebebasannya terenggut. Dia depresi, bagaimana pun caranya ia kabur selalu tertangkap dengan mudah. Takdir yang kejam.
Pada kelas studio dalam membuat tugas akhir untuk pameran. Raka mendapati raut wajah Likha yang kusam. Matanya membengkak walaupun sudah dioleh make-up.
Raka menarik tangan Likha dan pergi ke lorong koridor luar kelas.
"Kamu kenapa?" khawatirnya. Sambil menundukkan kepala."Kalau kamu begini terus lebih baik kembali ke Indonesia."
Likha tetap menunduk. Raka menarik wajah Likha untuk melihat tatapannya.
"Likha, ayo kembali ke Indonesia." Gumam Raka. Tapi, respons Likha aneh.
Dia melotot seperti wajah yang ketakutan. Raka mencari sesuatu di sekelilingnya.
"Pasti dia lagi." kesal Raka. "Keluar kamu Ryo!"
Dia muncul dan menatap Raka lebih tajam. Menarik tangan Likha dan menjauhkannya dengan Raka.
"Kamu sudah keterlaluan tahu."
"Sudah berapa kali kukatakan. Urusi dirimu!" Kesal Ryo sambil meremas kuat rahang Raka.
"Sayang, aku tidak pulang kok. Aku selalu di sisimu." usap lembut pipi Ryo dengan tangan yang gemetar. Matanya kaget baru pertama kali ia merasakan Likha bertingkah seperti itu. Sehingga, ia melepaskan tangannya dari rahang Raka.
"Raka, aku miliknya. Jadi kita harus selalu bersama." Jelas Likha sambil tersenyum gemetar menahan tangis. Pandangannya kosong. Raka berdecih mendengarnya.
"Akhirnya kamu sadar dirimu." Puji Ryo dengan senyumannya yang meremehkan.
***
Hubungan dekat Ryo dan Likha menjadi heboh sekampus. Perempuan populer memiliki hubungan dengan Ryo, laki-laki dingin dan tidak terkenal.
Likha seperti kupu-kupu yang menarik perhatian banyak orang. Cantik dan populer sejak ia masuk ke universitas ini. Tapi tubuhnya selalu gemetar seperti kedinginan. Orang-orang menganggapnya karena salah cuaca yang berada minus berbahaya. Tapi, sebenarnya bukan karena itu.
Setiap kumpul bersama mahasiswa yang diadakan satu minggu sekali. Likha selalu duduk di samping Ryo dan terlihat menyayangi Ryo. Hal yang janggal di mata teman sekelasnya. Tapi rasa bangga untuk Ryo.
Hubungan manis tersebut menghilang selama seminggu kemudian. Ryo membuat jarak dengan Likha tanpa sebab. Likha lebih bersemangat karena ia tidak menemui Ryo.
"Likha, Dimana pacarmu?" Kata dosen dari Indonesia. " Kenapa pacarmu tidak asistensi kepada ibu? Sudah 1 minggu ini. Sedangkan karya akan dipamerkan 1 bulan lagi."
Likha hanya terdiam. Dosennya meminta Likha untuk mengunjungi kediaman Ryo. Tapi, Vany meminta maaf karena Likha teman satu grupnya yang akan membuat karya bersama di waktu yang mepet ini.
Likha tersenyum kepada Vany. "Makasih Vani."
" Aku sudah dengar cowok sadis itu selalu memaksamu. Jangan khawatir, lebih baik kamu nyaman begini kan?" bisik Vany. " Mungkin dia sedang dapat karma."
Likha tertawa bersamaan dengan Vany.
***
Likha melihat ponsel Ryo. Sebuah pesan heboh pada channel youtubenya dan discordnya. Beberapa pesan meminta Ryo untuk melakukan streaming lagi.
Selepas itu, Likha melemparkan ponsel tersebut. Dan menghampiri ruangan studio pribadinya.
"Lebih baik memikirkan hasil nilai nanti." dia bersiap menggunakan celemek ungunya.
Sebuah liontin emas putih berbentuk kupu-kupu, membuat Likha merindukan Ryo. Sekilas ia mengingat, ucapan Ryo yang manis walaupun raut wajah dan suaranya terkesan marah.
"Katanya, aku kupu-kupu yang cantik. Katanya, aku populer. Tapi sebenarnya siapa sesungguhnya yang paling populer." Tatapan Likha mendingin.
"Setiap bertemu dengannya aku selalu ketakutan. Padahal aku bingung untuk menentukan keputusanku."
"Dia marah. Dia tidak tahu, cintaku lebih besar darinya."
"Sayang... Berbahagialah." Gumam Likha sambil memeluk tubuhnya tanpa kepala. "Sesuai keinginanmu. Kini kamu akan terus berada di pameran studioku. Terlihat gagah dan cantik."
Perempuan itu, menyimpan tubuh seorang laki-laki sambil menambahkan beberapa hiasan kertas bunga biru-hitam di atas lehernya. Pengganti kepala yang hilang.
Malam yang dingin pada musim dingin bersama laki-laki yang selalu dingin padanya.
Sorotan cahaya televisi mengabarkan orang hilang.
[Seorang pemuda mahasiswa universitas XXXX menghilang tanpa saksi. Ryo Fujiwara.]
FIN.