ra.ha.sia
n. sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain
***
Menurutku, Altares Baskara merupakan orang paling bahagia yang ada di dunia. Dia seakan tidak pernah mengalami yang orang lain bilang sedih, memiliki beban berat dan tertekan. Tak ada sehari pun Altares lalui tanpa senyuman. Lengkungan ke atas itu selalu saja terukir indah di wajahnya, memunculkan sepasang lesung pipit manis yang selalu sukses membuat orang terpikat.
Kala itu, diumumkan nilai ulangan matematika yang menurutku sangat susah. Hasilnya, dari genap tiga puluh siswa, hanya lima orang yang nilainya di atas rata-rata.
Disaat itu, aku sendiri mendapat nilai lima puluh, nilai yang sangat jelek menurutku. Aku menyapukan pandangan ke seluruh isi kelas. Semua teman-temanku berekspresi sama sepertiku, kesal, kecuali satu orang.
Ya, dia Altares. Padahal dia menjadi satu dari lima yang terburuk, tapi dia tetap tertawa bahagia, seakan dia sama sekali tidak masalah sekalipun nilainya seperti telur, alias nol.
“Kenapa kamu bahagia terus sih Res?” tanyaku padanya saat istirahat tiba.
Dia menjawab dengan begitu santai, “Kalau bisa bahagia kenapa harus sedih?” Tidak masuk akal, yang namanya manusia itu pasti pernah sedih, tidak tertawa saja seperti hantu.
“Dasar hantu.” Aku berkata dengan nada mengejek.
Altares tergelak. “Hihihi, kalau aku jadi hantu, kamu yang akan kugangguin!” candanya.
Aku mendengus. “Serius dong!” seruku.
Altares tersenyum tipis sebelum mengubah raut mukanya menjadi kembali ceria. Untuk pertama kalinya, dia hanya tersenyum kecil. Sayangnya, aku tidak melihat itu. Aku hanya berfokus pada gerutuanku mengenai nilai ulangan yang tadi.
Tiba-tiba Altares bangkit dari tempat duduknya. Dia sepertinya tidak tahan dengan suasana suram yang terjadi di kelasku. Hal memalukan apa lagi yang akan dilakukan Altares?
Ya, Altares merupakan laki-laki berwajah seperti bayi tapi kelakuannya seperti orang gila. Dia begitu terkenal dengan julukan Clown atau badut karena aksinya yang sering mempermalukan diri dan mengundang gelak tawa sekitar.
Contohnya seperti saat ini. Karena ingin mengembalikan tawa teman-temannya, dia rela menaiki meja, berjoget sembari menyanyikan lagu dangdut. Mau tak mau, sebuah senyum terukir di wajah setiap orang di kelas ini. Secara serempak mereka berdiri dan ikut bergoyang bersama. Menggunakan sapu sebagai pengganti mic dan berakting seolah penyanyi profesional.
Menyanyikan setiap lagu yang baru-baru ini viral seperti,
“TARIKK SISS, SEMONGKOO!”
Hingga jam istirahat pun usai diakhiri dengan senyum terpampang di wajah setiap orang.
Aku melihat wajah Altares yang berseri-seri. “Kamu enggak malu ngelakuin seperti itu?” aku bertanya padanya. Jika itu aku, aku pasti sudah sangat malu. Walaupun memang berhasil membuat semua orang bahagia tapi dia seolah-olah tidak mempedulikan harga dirinya sama sekali.
Altares mengendikkan bahunya. “Enggak tuh, yang penting pada seneng aja, lagipula aku dapet uang nih hahahah,” jawabnya memamerkan uang lima ribuan berjumlah lima lalu kembali bersenandung pelan penuh kebahagiaan.
Altares memang seringkali mendapat pemasukan karena tingkahnya, tapi ketika kutanya apakah dia sengaja mempermalukan diri demi uang, dia menyangkalnya. Katanya, bahkan sekalipun tanpa uang, dirinya mau-mau saja menampilkan hiburan.
“Eh, aku cuci muka dulu ya,” kata Altares sedikit terputus-putus lalu berlari kecil. Namun waktu itu, aku tidak terlalu mempedulikan karena sibuk dengan gawai di tanganku sehingga hanya mengangguk tanpa menoleh.
Lima menit kemudian, Altares kembali memasuki ruang kelas masih dengan senyuman.
“Tumben cuci muka,” komentarku pada Altares sesaat setelah dia duduk.
“Ngantuk,” jawab Altares sambil nyengir.
Aku memutar bola mataku malas lalu kembali fokus pada gawaiku. Aku sedikit meliriknya yang ternyata sudah tertidur. Anehnya, nafasnya tampak tidak teratur. Seperti sedang menahan sesuatu yang menyakitkan.
“Res,” panggilku seraya mengguncang pelan bahunya. Altares tidak membuka matanya, dia hanya bergumam untuk jangan mengganggunya. Mendengar hal itu, kurasa dia baik-baik saja jadi kubiarkan.
Satu jam kemudian, bel pulang berdering nyaring membuat semua siswa segera beranjak keluar dari ruang kelas. Aku segera membangunkan Altares untuk pulang dan melanjutkan tidurnya nanti dirumah tetapi dia hanya berkata nanti sehingga aku meninggalkannya sendirian.
Saat aku sampai gerbang, aku ingat aku meninggalkan bukuku sehingga dengan malas aku kembali ke ruang kelas.
Tapi, saat aku sudah berada dekat dengan kelas, aku mendengar suara isakan kecil. Siapa yang menangis sendirian? Aku sedikit mengintip melalui jendela.
“Altares?” gumamku pelan. Kenapa dia menangis, bukankah dia selalu bahagia? Aku berlalu, tidak jadi mengambil bukuku karena memikirkan alasan Altares menangis. Aku tau dia pasti punya alasan menangis diam-diam, jadi aku tidak menghampirinya. Aku memilih bertanya padanya besok.
***
Sejak pulang sekolah hingga malam tiba, aku masih memikirkan Altares. Belum selesai aku memikirkannya, gawaiku berdering, menunjukkan panggilan telepon dari ketua kelasku, Adney.
“Halo,” sapaku.
“Ra, Altares...” suara Adney terdengar berat untuk mengatakannya. Mendengar nama Altares seketika aku menjadi cemas.
“Altares kenapa?” tanyaku sembari menggigit bibir bawahku. Aku benar-benar gelisah sekarang.
“Dia meninggal,” Adney berkata dengan begitu lirih.
Apa?!
Altares meninggal?
“Kenapa?” aku bertanya dengan lirih seperti berbisik. Suaraku bergetar menahan tangis. Pikiranku melayang pada kejadian tadi siang. Saat aku merasa nafas Altares yang tidak stabil dan saat dirinya menangis sendirian.
Tidak ada jawaban.
“Bunuh diri.”
Setelah lama diam, Adney akhirnya membuka suara. Jawabannya begitu mengejutkanku.
Air mataku mengalir. Kenapa? Apa yang terjadi hingga membuat Altares bunuh diri?
“Besok kita menghadiri pemakamannya, melihatnya untuk yang terakhir kalinya,” katanya lalu memutus sambungan telepon.
Sepanjang malam aku memikirkannya hingga aku mendapat jawabannya dari surat yang ditulis oleh Altares sebelum memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Rahasia kelam yang dipendamnya dalam-dalam.
Rupanya, selama ini, dia begitu menderita. Dia berkata bahwa dia sakit. Selama ini dia tidak pernah bahagia sedikitpun. Karena dia tidak bahagia, dia ingin kita yang bahagia. Dia tidak ingin kita merasakan kesedihan. Dia berkata dia menyayangi kita hingga mau melakukan apapun untuk membuat kita tersenyum. Senyumnya hanyalah sebuah kedok. Topeng untuk menutupi keretakannya. Menutupi kesedihannya. Menutup rahasianya serapat mungkin.
Dia bilang dia sudah tidak kuat dan dia memutuskan pergi. Dia ingin kita tidak menangisi kepergiannya.
Tapi tidak bisa. Altares begitu berharga. Dia adalah pelangi, dia cahaya kami. Semua pasti tidak lagi sama setelah ini.
Tapi aku merelakannya pergi. Aku tahu bebannya pasti sangat berat.
Dibalik senyumnya, terdapat sebuah luka menganga.