Mengenakan pakaian berlapis kala hari masih berada di suhu yang sedang dingin. Meskipun matahari bersinar terang dan hari juga cerah, hawa dingin masih terasa oleh para penduduk kota setelah musim dingin bersalju itu selesai. Rafenstein berjalan menuju sebuah stasiun kereta untuk pergi ke wilayah distrik lain dalam rangka bertemu dengan seseorang disana. Kereta tiba dan langsung dimasuki oleh para orang yang sudah menunggu sedari tadi. Dari kalangan remaja hingga orang tua mulai berdesakan masuk ke dalam gerbong kereta tersebut. Kemudian kereta pun berjalan setelahnya.
Rafenstein mengecek ponselnya ditengah ramainya orang-orang berdiri di sekitarnya dengan pegangan yang ada di bagian atas kereta. Suasana sedikit sesak dengan jarak yang begitu dempet. Rafenstein melihat isi pesan sebelumnya dari Talia. Dan tak lama, kereta pun berhenti di sebuah stasiun. Distrik yang dituju telah sampai. Rafenstein bergegas keluar dari kereta dengan sedikit kesusahan karena ramainya para penumpang yang ada di dalamnya.
Rafenstein menoleh ke arah kanan dan kiri, lalu lanjut berjalan keluar stasiun tersebut.
Jalanan dipenuhi lalu lalang kendaraan, begitu juga trotoar yang ramai dengan pejalan kaki. Musim liburan sedang berlangsung saat ini. Sehingga membludaknya keramaian yang ada di setiap penjuru kota.
Berjalan menuju lokasi pertemuan, Rafenstein melihat ponsel sekaligus memperhatikan kawasan sekitar. Sebuah restoran yang berada di sudut jalan terlihat oleh dirinya. Lalu ia pun masuk dan bertemu dengan wanita bernama Talia.
Sambutan selamat datang diterima oleh Rafenstein. Mereka berdua duduk di satu meja yang sama dengan dua gelas minuman yang sudah ada di hadapan.
"Hari ini sangat ramai. Apa kamu kesulitan saat keluar dari kereta tadi?" tanya Talia.
"Iya. Apalagi saat ini sedang masa libur. Jadi banyak orang yang datang dan beraktivitas di luar ruangan untuk rekreasi atau semacamnya." jawab Rafenstein.
"Benar. Lalu bagaimana harimu?" Tanya Talia lagi.
"Cukup baik." balas Rafenstein.
"Sudah lama tidak bertemu sejak kejadian itu ya."
Lelaki itu diam dan hanya mengangguk.
Talia memperhatikan Rafenstein yang ada di depannya. Lelaki yang sudah lama tidak ditemuinya itu, kini sudah berubah. Begitu juga menurut Rafenstein mengenai Talia. Wanita itu sekarang sudah berubah juga. Dari paras rupa yang dahulunya sangat jauh ketika masa remaja dahulu.
Kemudian mereka mulai mengobrol mengenai masa lalu antar keduanya. Dan juga membahas sisi pribadi masing-masing.
Pertemuan yang membahas segala hal di masa lampau itu dibicarakan empat mata dengan suasana restoran yang hanya berisikan satu dua pengunjung selain mereka berdua. Rafenstein dan Talia membicarakan soal hubungan lama mereka terdahulu. Ketika usia remaja menjadi titik mula mengenal romantisme kehidupan. Terjalinnya kasih yang begitu rentan dan penuh resiko akan keretakan. Hal itu terjadi setelah berhubungan dalam jangka waktu beberapa bulan saja. Rafenstein tidak banyak bicara seperti Talia. Wanita itu mempunyai ingatan luas mengenai hubungan mereka di masa lampau. Tetapi diamnya Rafenstein bukan berarti menandakan bahwa ia tidak mengingat apa-apa. Justru Rafensteinlah yang memiliki ingatan lebih luas dari pada seorang Talia. Tetapi lelaki itu memilih untuk sedikit bicara, lantaran ia memikirkan perasaan dari Talia yang takut akan menyakitinya untuk kedua kali.
Senyum dan ekspresi lainnya terpapar di wajah keduanya dalam mengenang memori yang ada. Meski hubungan spesial itu sudah berakhir lama, tetapi Rafenstein dan Talia tetap menjalin hubungan dalam status berteman. Sedikit canggung bagi Rafenstein, tetapi lama kelamaan ia mulai santai dan membiasakan diri layaknya dahulu kala ketika remaja.
"Sekarang kita hanya bisa sebagai teman. Lalu apakah kamu sudah memiliki kekasih baru saat ini?" tanya Talia.
"Belum. Aku masih sendiri."
"Carilah pacar segera. Apalagi kamu ini kan ahlinya dalam rayuan. Seharusnya mudah bagimu untuk mendapatkannya." kata Talia pada Rafenstein.
Lelaki itu diam tak membalas.
Setelah itu, sang wanita bernama Talia itu mulai mengambil tas di dekatnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam benda tersebut.
"Ini... Aku harap kamu bisa hadir nanti." tutur Talia memberikan sesuatu pada Rafenstein.
Diam dan terkejut di dalam batinnya. Wanita yang merupakan mantan kekasih darinya itu, kini sudah menemukan pasangan baru. Dan hubungan Talia dengan sang jodoh itu sudah memasuki jenjang pernikahan. Rafenstein melihat isi dari undangan yang diberikan tersebut.
"Kamu akan menikah?"
"Iya. Aku sudah menjalin hubungan dengannya sudah lama. Lalu dia melamarku setelahnya. Jadi aku akan menikah sebentar lagi." ucap Talia.
Rafenstein mengangguk dan menyimpan undangan itu.
"Selamat ya. Semoga hubungan kalian bisa kekal."
Rafenstein memberi ucapan selamat pada Talia.
Tersenyum dan menganggukkan kepala. Talia mengucapkan terimakasih atas kalimat selamat dari Rafenstein.
Usai dari pertemuan itu, Talia pergi meninggalkan Rafenstein di restoran tersebut. Wanita itu berjalan dengan langkah kaki yang sama, yaitu langkah kaki masa remaja yang sangat cepat. Rafenstein mengingat masa lalu itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi mengekspresikannya.
Di satu sisi ia senang melihat Talia bahagia dengan hubungan barunya. Dan di satu sisi lainnya sedih lantaran cinta yang diharapkan bisa bersemi kembali, tidak bisa diwujudkan lagi.
Rafenstein memandang sejenak sampai wanita itu menghilang dari pandangan matanya. Lalu pergi setelahnya dengan gaya berjalan yang teramat pelan.
-----SELESAI-----