kami adalah prajurit yang ikut bertempur dalam Medan perang , aku dan adikku sama sama adalah panglima perang adikku diberi gelar jenius karna di umurnya yang masih muda dirinya telah menyandang gelar panglima, hari itu pertempuran sangat sengit tapi kami berhasil selamat dan kembali ke kerajaan dengan selamat, di pertempuran yang selanjutnya salah satu dari kami mati.
"Onniiicaaa" teriak adikku dengan suara lembut tapi dengan nada yang melengking aku hanya tersenyum kepadanya dia memanggil ku sambil melambaikan tangan di atas kuda perangnya. aku bersyukur kita berdua sama sama masih hidup dalam perang tersebut, kami pun kembali ke istana untuk melapor kan kemenangan kami, adikku berkuda tepat di sampingku adik kecilku yang dulu ku gendong dan ku ajari berjalan kini tlah menjadi panglima terhormat walau sifat nya kadang kekana kanakan tapi aku memaklumi nya karena dirinya memang masih sangat muda.
beberapa hari selang kami kembali kerajaan tiba tiba diserang pasukan musuh kami bergegas ke istana dan kali ini kami bersama memimpin pasukan, "Onica bagaimana kalau kita pergi lindungi raja dan beberapa pasukan lainnya pergi lindungi nyawa para rakyat tak berdosa" saran adikku dengan nada tegas, aku setuju dengan saran adikku kami bergegas ketempat raja untuk melindunginya suara pedang terdapat di mana mana "sringgg" "sring" aku bertugas membuka jalan sedangkan adikku melindungi dari belakang.
singkat cerita kami berdua telah sampai di hadapan raja dan musuh ada di depan mata kami berperang mati Matian walau tak terluka parah tapi musuh terlalu kuat, tapi kami berdua bersama pasukan yang tersisa dari kota berhasil membunuh semua musuh tapi siapa sangka panah tiba tiba melesat dari belakang kediaman panah yang diarahkan untuk membunuhku, tapi adikku menghalangi panah itu dengan tubuh mungilnya, panah itu melesat dan menancap di perutnya dia tidak berteriak kesakitan karena telah biasa dengan luka saat perang, aku yang melihat adikku terpanah langsung di depan mataku hanya bisa menangis kami membalas sang pemanah dengan panah yang melesat langsung menusuk dadanya.
aku hanya bisa menangis melihat adikku dalam kondisi kritis "adikku adalah seorang gadis yang tangguh dan kuat kau pasti bisa bertahan bertahanlah" kataku dengan nada bergetar adikku tersenyum dengan melas dan membalas perkataan ku "Onica, kali ini aku akan pergi meninggalkan mu tolong jaga dirimu dengan baik carilah kak ipar yang bisa menjaga dirimu dan carilah teman di Medan perang yang bisa merawatmu, aku,,, sayang,,, kakak Sayo nara Onica" kata kata terakhir nya, tangannya yang tadinya memegang wajahku kini terjatuh ke lantai aku hanya bisa menangis sekencang kencangnya.
sang raja yang melihat panglima terbaiknya yang telah dia anggap sebagai putrinya pun ikut menangis, dalam tangisku sang raja menepuk undak ku dan berkata "panglima jun bersabarlah aku ikut berduka atas gugurnya panglima Xia", aku pun bertambah menangis dengan keras dan memanggil nama adikku "Xxxxiiiiaaaaaa".
jangan lupa like dan komen ya#