Cinta Dalam Doa
Nama tokoh :
-Bisma Chrisy -Vivi Gabriella
-Sisil Margareta -Aulia Agustina
“Udah Vi, udah jangan sedih lagi” Sisil, sahabat Vivi mencoba menenangkan.
“Ini udah yang keberapa kali sih Sil? Berkali-kali dia udah nyakitin aku” Ucap Vivi seraya menghapus mutiara cairnya yang mengalir deras.
“Aku bilang juga apa, dia itu nggak pantas buat kamu”
“Aku nggak kuat lagi Sil”
Sisil merengkuh tubuh Vivi ke dalam pelukannya. “Sabar ya Vi”
“Bisma itu brengsek dia belum juga sadar kalau disini aku berjuang mempertahanin hubungan kamu”
“Vi, aku bukannya lancang ya. Aku cuma mengajukan pernyataan kalau Bisma itu hanya mau nyakitin kamu. Aku nyaranin kalau kamu mutusin dia terus move on”
Tangis Vivi makin deras kala mendengar ucapan dari Sisil. “Tapi aku sayang sama dia”
“Sayang dengan orang yang cuma mempermainkan kamu? Ayolah Vi, Bisma itu laki-laki yang tak pernah menghargai perasaan wanita.”
“Tapi--”
Ucapan Vivi terpotong saat ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan melihat nama kontak si penelepon.
Bisma.
“Halo”
“Kamu dimana?”
“Rumah”
“Malam ini kita batalin dulu ya dinnernya. Aku ada urusan kampus ini, penting”
“Lebih penting dari aku?”
“Kamu kenapa sih Vi? Jangan egois kayak gini. Aku ada tugas penting yang harus dikerjain”
“Tapi Bisma, aku juga mau ketemu sama kamu”
“Aku sibuk. Udah dulu”
Sambungan diputuskan secara sepihak. Vivi memeluk erat tubuh Sisil dengan raungan tangisnya.
“Sabar ya Vi” Ucap Sisil sambil mengelus punggung Vivi lembut.
Malam....
Sisil mengajak Vivi untuk shopping ke mall untuk sekedar melepas beban. Sisil ingin membantu sahabatnya agar tidak terkurung di jurang patah hati karena melihat Bisma jalan dengan perempuan selain Vivi.
“Udah dong Vi, kita harus have fun malam ini”
Vivi memaksakan diri untuk tersenyum pada Sisil. Ia bersyukur bisa bersahabat dengan Sisil yang selalu mengerti akan setiap keadaannya.
Namun senyum itu pudar kala melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang hahahihi dan bergandeng tangan mesra. “Sil”
“Hm?”
“Itu Bisma kan?” Ucap Vivi sambil menunjuk pada dua orang yang tertangkap oleh indera penglihatannya.
“Mana?”
“Itu lho, yang masuk ke toko baju”
“Oh iya-iya, ayo Vi kita harus kesana” Ucap Sisil dengan kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubun. Ia menarik tangan Vivi menuju tempat yang dimasuki oleh Bisma.
“Ng-nggak usah Sil. Kita pulang aja” Cegah Vivi.
“Nggak bisa gitu dong Vi, dia itu pacar kamu. Kamu harus perjuangin dia” Ucap Sisil jengkel dengan sikap Vivi yang selalu seperti itu. Membiarkan Bisma berpegangan tangan dengalan perempuan lain.
“Aku nggak mau ganggu dia”
“Terus kamu lebih rela Bisma jalan sama cewek lain. Di saat kamu nahan semua sakit dan pedih, gitu?”
“Kalau dia bahagia, aku nggak masalah kok”
“Dengan dia menyakiti kamu, gitu?”
“Ini urusanku Sil, kamu nggak usah ikut campur”
“Kamu itu sahabat aku Vi, aku nggak bisa diam kalau ngeliat dia sama cewek fakultas hukum itu”
Vivi diam sejenak, lalu ia tersenyum kecil. “Mungkin dia cuma berteman sama Aulia”
“Teman yang bentar lagi jadi pacar”
“Udahlah Sil, kamu terlalu jauh ikut campur dengan masalahku. Kita pulang sekarang” Ucap Vivi tegas.
“Kamu kenal aku kan Vi? Aku, Sisil Margareta. Perempuan yang egois” Ucap Sisil, lalu ia menarik tangan Vivi untuk menemui Bisma dan Aulia.
Di dalam toko baju....
“Gimana Bisma? Bajunya bagus kan?” Ucap Aulia genit pada Bisma—sambil menunjukkan dress biru muda.
Bisma tersenyum manis, “Pakai apa aja juga kamu cantik”
“Gombalin aja terus” Ucap Aulia tersipu malu.
“Jadi ini kesibukan seorang Bisma Chrisy? Katanya tugas, ngebelanjain selingkuhan itu masuk juga ya” Sisil yang baru datang langsung menyemprot Bisma yang tersenyum pada Aulia.
“Sil, udah” Ucap Vivi.
“Kalian ngapain disini? Mata-matain aku?” Ucap Bisma sambil menatap tajam pada Vivi dan Sisil.
“Nggak sengaja aja ketemu sama cowok brengsek yang lagi jalan sama cewek yang katanya bakal jadi pengacara” Ucap Sisil penuh penekanan.
“Sil udah, kita balik aja” Vivi masih berusaha menghentikan sikap Sisil.
“Vivi, mending kamu sekarang pulang terus kerjain tugas kuliah kamu” Ucap Bisma ketus pada Vivi yang sedang takut.
“Nggak usah ngomong sama sahabat aku. Bisma, kamu itu nggak cocok sama Vivi. Kamu, nggak lebih dari seorang cowok brengsek”
“JAGA UCAPANMU KALAU SAMA AKU!” Bentak Bisma pada Sisil yang menyinggungnya.
“Bisma udah!!” Vivi angkat suara. “Aku udah cape ngeladenin sikap kasar kamu sama cewek. Bisa gak sih kamu ngehargain aku yang statusnya masih jadi pacarmu?”
Bisma diam dengan rahang yang mengeras. Menahan marah.
“Aku capek selalu diduain kayak gini, aku sakit hati ngeliat kamu dengan cewek lain. pernah gak sih kamu ngehargain aku?”
“Vivi diam!” Bentak Bisma.
“Stop ngebentak aku, aku udah capek ngeladenin kamu”
“Terus apa? Kamu mau mutusin aku? Nggak kan?”
“Simpan kata ‘nggak’ di mimpimu, karena aku mau minta putus dari kamu.”
Bisma diam tak berkutik mendengar kalimat yang Vivi ucapkan padanya.
“Aku iklas mencintai kamu, aku iklas kehilangan kamu, semoga kamu bahagia sama dia” Vivi menunjuk pada Aulian yang hanya diam tak bersuara.
“Asal kamu tahu, aku udah nahan ini dari dulu, rasa sakit ini. Awalnya aku nggak mau biang ini ke kamu sekarang. Tapi sikap kamu benar-benar udah melebihi batas, aku nggak tahan lagi”
“Vi, jangan kayak gini. aku cuma bercanda” Bisma mulai dengan sifat serigala berbulu dombanya.
PLAK.
Aulia yang mendengar hal itu langsung menampar pipi Bisma, “Jadi kamu cuma mempermainkan aku? Dasar bajingan”
Bisma membiarkan Aulia pergi, ia tetap menatap pada Vivi. Tangannya mulai memegang telapak tangan Vivi. Namun hal itu ditepis langsung oleh Sisil.
“Jauhkan tangan kotormu dari Vivi” Ucap Sisil tegas.
“Udah Bisma, aku udah ikhlasin kamu dengan yang lain. Kamu adalah masa lalu ku sekarang” Ucap Vivi halus.
“Vi, maafin aku”
“Aku udah maafin kamu dari dulu. Tapi kalau untuk mengulang lagi hubungan kita, maaf aku nggak bisa” Vivi memegang telapak tangan Sisil lalu keluar dari toko baju itu. meninggalkan Bisma yang diam tak berkutik.
Luar mall....
“Vi...”
Tangis Vivi langsung pecah di area parkir mall itu, ia tak peduli dengan tatapan orang banyak yang mengarah padanya. “Hiks..hiks..hiks”
“Vivi” Sisil merengkuh Vivi ke dalam pelukannya.
Tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh Vivi, hanya isak tangis. Hanya itu.
“Kamu pasti dapat yang lebih baik dari Bisma Vi.”
Vivi mengangguk di dalam pelukan sahabatnya.
“Relain Bisma dengan perempuan lain, kamu bisa mencintainya. Tapi hanya sebatas doa, hanya dalam doa”
Isak tangis Vivi mulai berkurang.
“Mencintai seseorang tidak harus memiliki, mendoakan itu juga salah satu wujud cinta.” Ucap Sisil sambil mengelus lembut punggung Vivi.
“Makasih Sil, kamu selalu ada untuk aku” Ucap Vivi mengangkat wajahnya dan berdiri tegak, ia menghapus airmata yang daritadi membasahi pipinya.
“Itulah gunanya sahabat. Kita pulang sekarang ya” Ajak Sisil.
Vivi mengangguk.
Hari-hari berikutnya, Vivi mulai menjalani kehiduapan kuliahnya seperti biasa. Dan lebih bebas lagi.
Ia sudah merelakan Bisma, memang belum seratus persen tapi akan.
Vivi membenarkan ucapan Sisil. Mencintai dalam doa lebih baik dari pada mencintai dengan memiliki yang berujung sakit hati. Semua orang tahu jika jatuh cinta itu sepaket dengan sakit hati.
Cinta Dalam Doa