Karya : Fiona Eksel
Riot Grrrl
Hinaan, pengkhiatan, depresi, pergi
Aku adalah anak perempuan yang selalu merasa jika hidup ini tak adil. Setiap hal yang kukerjakan tak pernah ada yang menganggapnya bagus. Aku selalu dihina dan dicela.
Bagaimana dengan keluargaku? Apakah mereka peduli dengan kehidupanku? Tentu saja tidak, semua keluargaku menjauhiku. Bahkan ibu yang seharusnya mampu menenangkanku dari setiap keadaan yang buruk pada kenyataannya tidak. Ia hanya sibuk mengurusi pacar barunya.
Dimana ayahku? Dia adalah laki-laki yang selalu kubenci sepanjang hidup ini walaupun tak pernah kulihat wajahnya. Jika kalian bertanya kenapa? Karena ia meninggalkanku saat aku masih ada di dalam kandungan ibuku. Aku adalah anak yang lahir secara diam-diam, tanpa ada yang mengetahuinya.
Ketika aku sudah berada di dunia ini, aku langsung jadi bahan cacian dan hinaan, setiap anak-anak yang berpapasan denganku mereka selalu berkata, “Hei itu Tasya si anak haram pergi yuk nanti kita kena sial”
“Anak haram mana ayahmu?”
“Cantik-cantik kok jadi anak haram?”
Aku membenci saat mereka berkata aku adalah ‘anak haram’. Tak ada yang mencoba menenangkanku dan memberikan motivasi kepadaku. Aku hanya ingin kenyamanan ketika menjalani hidup ini.
Tahun-tahun pun berlalu dan aku semakin tenggelam dengan hidupku yang penuh amarah.
“Tasya kamu kenapa?” Suara cempreng Vero terdengar melengking di telingaku dan menyadarkan lamunanku. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang ingin berteman denganku. Ia langsung duduk di sampingku di atas kasur yang empuk. Entah dari kapan ia ada di kamar ini.
“Nggak apa-apa”
“Hari ini kita bakal keluar markas sebentar, kamu mau ikut gak?”
“Emangnya mau kemana sih?”
“Ke minimarket, buat beli minuman dan cemilan”
“Hhh, ternyata Riot Grrrl bisa juga ke minimarket ya?” Kataku sambil mendesah kecil.
“Nggak apa-apa kali, nggak ada tulisannya juga kalau anak punk dilarang masuk”
“Yaudah deh aku ikut”
“Oke siap-siap ya” Vero lalu meninggalkanku sendiri di kamar ini lagi.
Aku lalu bangkit berdiri dan menuju lemari bajuku dan mengenakan baju putihku yang kelihatannya sedikit lusuh dan juga celana jeans ketatku yang apabila dipakai terlihat jelas bentuk tubuhku dari pinggang, paha hingga ujung kaki. Tak lupa juga jaket kulitku. Lalu sepatu yang lebih terlihat seperti boots.
Sambil berdiri di depan cermin aku memperhatikan penampilanku. Dari rambut yang dicat merah terang lalu dandanan yang tipis di wajah namun menor di bagian bibirku. Tapi dengan penampilan seperti inilah aku merasa nyaman.
“Jadilah dirimu sendiri” Kataku sambil menunjuk cermin yang memantulkan gambar dan rupaku. Aku langsung melangkahkan kakiku menuju lantai bawah dan menemui genk-ku.
“Udah?” Tanya Tera si pemimpin genk Riot Grrrl.
“Hm”
Kami berjalan kaki menuju minimarket yang berjarak 2 KM dari rumahku namun dekat dengan markas kami. Kami sudah biasa berjalan kaki dalam jarak yang jauh ingin jalan 10 KM pun kami sanggup.
Riot Grrrl berisi 12 cewek-cewek yang kebanyakkan broken home dan berpenampilan semau mereka. Bahkan Tera si pemimpin hanya memakai rok mini dan kemeja hijau tua, mungkin ia terlalu sombong akan bentuk tubuhnya yang modis.
“Oke kita bagi tugas, ada yang membeli minuman ada yang membeli cemilan.” Kata Tera memerintah pada anak buahnya termasuk aku dan Vero.
Tanpa banyak tanya kami langsung memasuki mini market tersebut dan langsung membeli segala yang kami perlukan. Setelah kami selesai berbelanja dan langsung membayarnya. Kami pun menuju markas kami. Namun apa yang terjadi...
“Kenapa ini?” Kata Vero terkejut ketika melihat keadaaan markas kami yang berantakan.
“Ulah siapa ini?” Kataku yang sama terkejutnya dengan Vero. Kami langsung membereskan setiap benda yang berjatuhan. Begitu pula dengan yang lainnya mereka dengan segera membereskan.
“Aku tahu ini perbuatan siapa!” Perkataan Lisa membuat kami menoleh dengan cepat kearahnya. Tampak di tangannya tampak secarik kertas putih yang dicoreti kalimat. Kami langsung menghampiri Lisa untuk melihat isi dari kertas itu.
-Krust punk-
Ketika melihat kertas itu tampak beberapa wajah terlihat begitu geram. Entah mereka geram kepada Yudha si pemimpin Crust Punk atau kepadaku. Tera yang merupakan pemimpin Riot Grrrl mengambil kertas itu lalu merobekkannya hingga membuatnya tak bisa dibaca lagi.
“Dia pikir dia bisa ngancam aku?” Katanya dengan penuh amarah. Lalu matanya beralih kepadaku. “Kamu tenang aja Sya kamu nggak bakal masuk ke genk Yudha”
“Tapi Ra kalau aku nggak kesitu mungkin genk ini bakal nggak tenang” Aku berkata sambil memasang mimik khawatir.
“Prinsip Riot Grrrl” Katanya setengah berseru.
“Membela anggotanya” Kata anggota yang lain dengan serempak.
Aku hanya tersenyum kecil kepada mereka yang sudah mau membelaku. Mereka adalah orang-orang pertama yang ingin menerimaku dan membelaku selama aku ada di dunia ini, aku bersyukur mempunyai teman seperti mereka.
. . .
Waktu sudah menunjukkan pukul 22. 30 dan aku baru sampai di rumah. Aku tenang-tenang saja ketika memasuki rumahku. Tidak akan ada juga yang mencariku. Ketika aku memasuki ruang keluarga tampak ada peristiwa yang sangat tak ingin kulihat. Mamaku sedang berduaan dengan pacar barunya yang tak lain adalah seniorku waktu aku kuliah dulu sebelum aku memutuskan untuk menyudahi masa pendidikkanku secara paksa.
Dasar berondong, batinku.
Aku berjalan dengan cuek ketika mereka ngobrol dengan mesranya. Mengganggap kejadian ini hanyalah angin lalu yang tak wajib untuk dibicarakan.
“Sya” Suara mama terdengar merdu di telingaku. Aku menoleh padanya dengan ekspresi datar.
“Sini ngobrol sama kami” Kata Mama sambil menepuk bagian sofa di sampingnya. Aku hanya menatap sekilas lalu kembali melanjutkan langkahku menuju kamar. Aku mendengar dengan samar-samar ketika Mama ceramah tentang sikap burukku.
Aku menutup pintu kamarku dengan keras lalu membaringkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Lalu entah kenapa tiba-tiba air mataku menetes dari pelupuk mataku. Aku langsung membalikkan tubuhku dan langsung menangis tersedu-sedu meratapi nasibku.
“Kenapa harus aku yang menanggung semua beban ini? Kenapa? Ini cobaan yang terlalu berat untuk aku alami? Tuhan jika aku memang dipakai untuk menjadi tangan kanan mu lalu apa yang kau ingin aku lakukan.” Aku mulai meratapi nasibku yang menurutku begitu malang ini.
Semakin banyak air mata yang mengalir semakin waktu menguras tenangaku. Mungkin waktu yang kuhabiskan untuk menangis terlalu banyak. Di samping ketika aku masih meratapi nasib malangku ini. Pintu kamarku dibuka oleh seseorang. “Tasya kamu itu nggak seharusnya bersikap kayak gitu ke Leno, karena bentar lagi dia bakal jadi Ay--”
“Ma cukup. Aku nggak mau dengar ceramah Mama kali ini aku capek” Aku berkata dengan suara yang meninggi.
“Tasya kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, aku ini masih ibu kamu”
“Mama bisa gak sehari aja kasih aku hidup yang lebih tenang. Aku capek selalu di hina Ma aku capek. Mama nggak pernah kasih aku hidup yang lebih nyaman, Mama selalu sibuk ngurusin Leno sampai-sampai Mama nggak ingat sama aku” Aku berbalik menatap Mama dengan mataku yang terus mengeluarkan air mata.
Mama menatapku dengan ekspresinya yang kesal. Tak ada sedikit pun pikiran atau rasa bersalah karena telah mengabaikanku. Semua hati, pikiran, hingga prilakunya telah dibutakan.
“Kamu kenapa sekarang bisa ngomong itu ke Mama? Oh Mama tahu ini pasti gara-gara teman kamu itu kan? Vero sama Tera iya ‘kan?”
“MA! Berhenti melibatkan teman-teman aku yang nggak salah apa-apa” Tanpa sadar aku telah membentak Mamaku, aku tahu kalau ini adalah perbuatan yang salah.
Mama terlihat kesal lalu ia meninggalkanku yang masih menangis sendiri di dalam kamar. Hidup ini nggak adil.
. . .
Matahari sudah menampakkan dirinya di ufuk timur dan aku sudah bangun mendahului matahari terbit. Lebih tepatnya aku tidak tidur, aku tidak bisa tidur jika suasana hatiku sedang tidak baik. Aku ingin segera pergi ke markas Riot Grrrl untuk menenangkan diriku.
Dengan memakai kemeja kotak-kotak yang pada bagian bawahnya ku ikat hingga sedikit bagian perutku terlihat dan rok pendek selutut menjadi bawahannya. Aku mengikat rambutku layaknya ekor kuda yang tersisir rapi.
Lalu aku memakai dandanan tipis yang membuatku lebih natural. Aku segera menyambar tasku yang berisi handphone dan barang-barang lainnya. Lalu segera turun dari kamarku yang berada di lantai dua menuju pintu keluar dan berjalan kaki dengan irama lebih cepat.
Markas Riot Grrrl...
Aku duduk di atas kursi yang kami buat sendiri dari papan sambil, memainkan handphoneku aku menunggu yang lain datang. Cukup bosan juga menunggu mereka yang tak kunjung datang. Aku lalu beranjak dari tempat duduk untuk mengambil dua bungkus coklat dari dalam stoples.
Ketika sedang asyik memakan coklat aku mendengar suara derap langkah menuju ke maskas kami. Sempat berpikir jika itu adalah teman-teman genkku aku pun melangkahkan kaki menuju pintu masuk. Namun hal itu ku urungkan ketika mendengar suara laki-laki yang sepertinya akrab di telingaku. Aku bersembunyi diantara lemari dan dinding yang hampir merapat. Untungnya aku langsing jadi bisa masuk di sela-sela itu.
“Hei-hei-hei apakah kalian siap bersenang-senang” Kata laki-laki yang suaranya begitu akrab di telingaku, Yudha.
Ngapain Yudha kesini? Batinku. Yudha adalah ketua genk Crust Punk. Kumpulan orang-orang yang suka memberontak dan tak segan-segan berkelahi di tempat umum. Dan jika aku sampai ketahuan...matilah riwayatku.
Pintu markas kami dibuka dengan cara kasar, aku yang masih khawatir sedikit terkejut akibat suaranya yang menyentak. “Kerja semuanya kita buat mereka kapok kalau nggak mau ngasih Tasya ke kita!” Kata Yudha dengan tawa liciknya.
Astaga kalau sampai aku nggak maksain diri buat ikut sama mereka mungkin suatu hari teman-temanku yang menjadi sasaran, kataku dalam hati.
Yudha memang dikenal terlalu memaksa kehendaknya bahkan ia mampu membuat orang celaka demi keinginannya itu tercapai. Aku harus berpikir, pilihan ada di tanganku saat ini aku harus memilih antara keselamatanku atau teman-temanku. Jika aku memilih keselamatanku--
“Hei kalian ngapain disini!” Suara yang menyentak membuatku kaget itu adalah suara Vero.
Yudha dan yang lain tampak terkejut mendapat kedatangan Vero yang tiba-tiba. Tapi aku tak mendengar suara yang lainnya. Apakah.....Vero datang sendiri? Astaga jangan sampai dia celaka. Aku sedikit mengintip melihat kelanjutan yang terjadi.
Aku dapat melihat Yudha menghampiri Vero dengan langkah santai dan dapat kudengar suara teriakan Vero yang dari keras menjadi melemah lalu tak ada suara yang terdengar lagi.
Jangan-jangan.. Vero diculik astaga sepertinya benar, buktinya anak buah Yudha bubar dari dalam markas Riot Grrrl. Aku segera keluar dari tempat persembunyian, lalu mengintip kepergian mereka dari balik jendela yang transparan. Tampak mereka berjalan beriringan dan Yudha tampak sedang menggendong seseorang..Vero
Aku langsung panas dingin tak tahu aku harus kuperbuat. Namun terlintas di pikiranku, Tera. Dengan segera aku menelepon perempuan itu. Satu kali nggak diangkat, dua kali nggak diangkat juga. “Aduh kamu kemana sih?” Kataku jengkel karena Tera tak menjawab teleponku.
Aku terus menelepon Tera, sedangkan aku juga tak berdiam diri aku terus mengikuti langkah genk Crust Punk hingga sampai di markas mereka yang lumayan besar nggak seperti markas kami yang hanya seperti rumah kontrakkan.
Kenapa jadi bandingin antara markas Crust Punk dengan Riot Grrrl sih? Sekarang fokus pada keselamatannya Vero.
Aku mengendap-endap masuk ruang tersebut, namun aku terkejut ketika melihat isi dari bangunan itu. Sangat besar menyerupai rumahku yang mewah. Cukup mustahil untuk mencari Vero ke setiap ruang tersebut.
Aku mencoba menelepon Tera lagi, sedang di panggilan lain kalimat itu tertera di layar handphoneku, sial. Dia sedang teleponan sama siapa coba? Aku berusaha mendengar percakapan anak buahnya Yudha mungkin saja aku mendapat petunjuk tentang keberadaan Vero.
“Hahaha, genk Riot Grrrl itu lucu. Orang yang nggak disukai kok diterima dengan alasan ingin membuat ia celaka” Suara berat laki-laki tampak sedang tertawa jenaka.
Glek, anggota Riot Grrrl ada yang tak menyukaiku? Siapa? Cukup kaget juga ketika mendengar nama genkku disebutkan.
“Tapi kenapa Yudha sangat menginginkan cewek itu masuk ke genk kita?”
“Siapa bilang Yudha mau nerima cewek itu. Secara gitu lho dia kan anak haram”
Aku memegang dadaku, sakit rasanya ketika aku disebut sebagai anak haram. Aku hanya titipan dari Tuhan untuk datang ke dunia ini untuk melaksanakan rencana yang masih tak kuketahui.
“Terus?”
“Yudha cuma mau ngejadiin dia pelampiasan setiap kejadian yang pernah ia alami dulu” laki-laki itu mulai bercerita tentang masa lalu Yudha “Yudha itu awalnya adalah orang yang selalu dibully ia selalu dikatain cowok nggak benar”
“Kenapa?”
“Karena dia juga lahir tanpa seorang ayah” Kata laki-laki itu setengah berbisik.
Aku cukup terkejut mendengar pernyataan tersebut. Yudha? Sama seperti aku?
“Jadi dia juga selalu dikatain seperti Tasya?”
“Lebih parah dari Tasya, kamu tahu dia dulu itu nggak sekeren sekarang, dulu dia itu culun dan kerennya di bawah standar? Tasya itu cuma diledekin anak haram dan untungnya dia cantik jadi nggak terlalu kena bully”
“Oh ya?”
“Iya terus suatu hari Yudha nggak masuk sekolah selama dua bulan. Ada yang bilang dia malu sama fisiknya dan ada yang bilang ia pindah sekolah. Namun ternyata ia merubah penampilannya, ya sekarang ini keren” Kata laki-laki itu sambil mengacungkan jempolnya.
Aku tak percaya dengan yang kudengar ini? Aku langsung beranjak pergi untuk keluar dari bangunan itu namun. Tssssh...Prakk aku menjatuhkan buku yang lumayan tebal.
“Hei siapa itu?”
Gawat aku ketahuan, aku langsung lari keluar dan berusaha tak terlihat dari pandangan dua laki-laki itu.
Vero....
“Hei kalian ngapain disini?” Aku yang baru melihat beberapa orang merusak beberapa perabotan markas kami tak bisa diam saja. Aku langsung menuju markas Riot Grrrl dan membentak Yudha dan teman-temannya.
Yudha tampak terkejut melihat kedatanganku yang tak mereka duga. Namun ia tak terlihat gugup apa semacamnya ia menghampiriku dan mengeluarkan saputangannya yang berwarna biru. Kayaknya aku bakal diculik, dan untungnya Tuhan memberiku akal yang panjang.
Ketika Yudha menutup mulutku dengan saputangannya aku sengaja berteriak untuk mendalami actingku dan aku pura-pura pingsan. Aku membuat saraf-saraf tubuhku tak bekerja, dan berangsur-angsur menumpuk bobotku pada lengan Yudha yang memegang pundakku.
Lalu aku merasa jika tubuhku diangkat, apa aku digendong sama psikopat gila? Ini orang benar-benar percaya kalau aku pingsan? Dasar bodoh.
“Kalau anggota genknya sadar kalau ini cewek nggak ada aku pastiin mereka bakal cari ke markas kita” Yudha berkata sambil tertawa licik. “Terus mereka sudah pasti nyuruh Tasya bikin keputusan”
Tasya? Oh iya bukankah Tasya yang mereka incar tapi kenapa? Batinku dalam hati. Lalu setelah lamanya perjalanan dan sakitnya tubuhku karena terus diangkat. Aku merasa jika tubuhku mulai diturunkan ke atas kursi yang sama sekali gak empuk.
Lalu aku merasa kakiku dililit sesuatu lalu langanku disatukan ke arah belakang dan juga dililit. Wah wah wah emang genk Crust Punk orangnya nekad-nekad. Lalu langkah kaki Yudha terdengar menjauh dariku namun aku masih tak berani membuka mataku. Dapat terdengar jika Yudha sedang bertelponan dengan seseorang tapi entah dengan siapa.
Lalu ia kembali lagi ke dalam ruangan tempat aku berada dan ia mendekatiku.
“Eh cewek” katanya memanggilku.
Eh cowok aku ada nama kali.
“Dengar ya aku nggak suka kalau ada orang yang ikut campur urusan genk Crust punk ingat itu”
Iya aku bakal ingat...kalau otakku masih bagus sih.
“Dan kamu tahu kenapa aku mengincar Tasya?”
Nggak.
“Karena aku mau jadiin dia pelampiasan”
Hmph, rasanya sangat susah untuk menghirup nafas. Tasya malangnya nasibmu.
“Kamu tahu apa yang aku rasain selama ini lebih dari pada yang Tasya rasain?” Yudha berkata sambil memegang pundak kiriku.
“Kamu lihat luka di kepala ini?”
Yah mas, gimana bisa lihat kalau aku pura-pura pingsan?
“Aku akan membuat Tasya mengalaminya juga” Katanya menyentakku.
“Kamu tahu gimana aku tahu kalau Tasya itu anak haram? Salah satu anggota Riot Grrrl yang memberitahuku, ia juga membenci Tasya ternyata hahaha” Katanya dengan tawanya yang begitu keras sampai-sampai beberapa tetes air liurnya muncrat di pipiku. Menjijikan.
Tapi kumohon beritahu nama yang membenci Tasya di genk Riot Grrrl. Pintaku dalam hati. Dan aku tahu ia tak bisa mendengarnya.
Tssssh...Prakk suara sesuatu jatuh dan terdengar begitu keras.
“Hei siapa itu?” Suara keras laki-laki dari luar sana juga terdengar jelas.
“Sial kayaknya ada penyusup” Lalu Yudha meninggalkanku sendiri di ruangan itu. Pintu langsung tertutup ketika laki-laki itu pergi.
Lalu aku mencoba mengintip kalau-kalau masih ada yang lain di ruangan ini. Kiri aman...kanan aman....aku sendirian di ruangan ini.
Aku lalu membuka mataku melihat keadaan di sekeliling “astaga ini....kamar” kataku terkejut ketika melihat perabotan-perabotan yang ada disekelilingku. Spriingbed yang dilengkapi bantal, guling, selimut lalu lampu tidur kemudian lemari pakaian. Secara garis besar ini adalah kamar tidur.
Aku mati..aku mati...aku mati. Aku langsung berusaha melepaskan diriku dari ikatan yang dibuat Yudha pada kaki dan tanganku. “Astaga si Yudha ini pakai simpul apa sih susah banget ngelepasinnya, pernah ikut pramuka gak sih?” Gerutuku ketika tak bisa melepaskan ikatan itu dari tangan dan kakiku.
Namun belum sempat secenti pun ikatan itu terlepas suara langkah kaki dan gerutuan Yudha terdengar di telingaku. Aku pun kembali melakukan actingku dengan berpura-pura pingsan. “Maaf ya cewek aku tadi keluar bentar ”
Katanya sambil memegang pelan pipiku, jujur aku ngerasa geli jika kulitku dielus-elus. “Ngomong-ngomong kamu imut juga ya”
Oh makasih.
“Sayang kalau-”
Tunggu-tunggu jangan berpikir yang kotor ya.
“Kamu dipermainkan”
Uh leganya aku...
“Kenapa dari tadi kamu nggak bangun-bangun?”
Oke lima menit lagi aku bangun. Aku pun menghitung angka hingga 300. Sedangkan Yudha terus berceloteh di dekatku dan celotehnya tak kuhiraukan.
Tasya ....
Aku terus menangis di sepanjang jalan meratapi nasib Vero yang malang, karena aku yang tak menyerahkan diriku pada genk Crust Punk, namun satu hal yang harus kuselesaikan. Siapa dalang dari selama ini? Siapa pelakunya dari genk Riot Grrrl? Pasti orang yang selalu membenciku. Dengan tangan ini kuhapus air mata yang mengalir dari mataku. Aku berlari menuju markas Riot Grrrl untuk merundingkan kejadian ini.
Dari kejauhan 200 meter tampak anggota genk Riot Grrrl sedang berkumpul dan bercanda ria. Mungkin mereka tak mengetahui mengenai kejadian yang dialami oleh Vero. Aku langsung menuju tempat itu dan langsung membuat perhatian mereka tertuju kepadaku karena mereka melihat mataku berkaca-kaca.
Aku melihat disekelilingku sepuluh orang termasuk diriku, Vero sedang disekap jadi yang tak ada saat ini adalah..... “Dimana Tera?”
“Tahu, tadi katanya lagi di jalan” Chrisy berkata sambil mengurus kukunya.
“Kenapa sih Sya?” Tanya Lisa padaku nadanya terdengar begitu sinis padaku.
Aku hanya melirik ke arah Lisa yang memang selalu sinis padaku. Lalu tak lama kemudian langkah sepatu terdengar mendekat ke arah kami. Tera, perempuan itu baru saja sampai entah dari mana.
“Kenapa kamu nggak angkat teleponku tadi?” Kataku langsung menyambut Tera dengan pertanyaanku.
“Emangnya kamu ada nelpon?” Tanyanya heran.
Dengan langkah kesal aku menghampiri Tera dan mengambil handphone yang sedang ia pegang.
“Apaan sih Sya?” Lisa merebut kembali handphone Tera dari tanganku dan mengembalikannya pada Tera.
“Kamu yang apaan? Dia udah belasan kali ku telepon tapi nggak diangkat” Aku berkata dengan kesalnya.
Beberapa pasang mata tertuju kearahku dan juga Lisa yang sedang berdebat.
“Kamu tahu kalau Vero disekap sama genk Crust Punk?” Tanyaku dengan nada suara masih marah.
“Apa? Tasya kamu serius?” Suara itu bukanlah milik Lisa yang berada di hadapanku namun itu adalah suara dari banyaknya orang di ruangan itu.
Perempuan di hadapanku ini hanya memasang wajah biasa saja.
“Tera kamu nggak khawatir gitu sama Vero? Dimana prinsip genk yang kamu bentuk, membela anggotanya? Semua hanyalah omong kosong jika pemimpinnya tak bisa bertindak untuk satu anggotanya yang celaka” Aku begitu murka ketika aku melihat wajah Lisa yang biasa saja dan entah kenapa aku lebih terdengar mengadu pada pemimpin genk, Tera.
“Oke lupakan masalah itu sekarang kita harus cepat pergi nolongin Vero” Tera ambil suara ketika perdebatan kami semakin sengit. Kami pun dengan segera meninggalkan tempat kami dan menuju markas Crust Punk untuk menyelamatkan Vero.
Vero.....
297..298..299..300 akhirnya lima menit sudah berlalu aku membuka mataku secara perlahan seakan baru bangun dari pingsanku. Tampak Yudha sedang berada di hadapanku menatapku dengan senyumannya. Dan seakan tak tahu apa-apa aku bertanya dan mulai memberontak, “Yudha lepasin aku atau nggak aku bakal teriak nih”
“Silakan”
“TOLONG..TOLONG..TOLONG” Yudha tampak menutup telinganya karena suaraku yang keras. Uhuk..uhuk aku merasa tenggorokanku sakit dan aku butuh air minum. Dan Yudha tampak tersenyum meremehkan kepadaku, rasanya mukanya ingin segera kutinju.
“Jefri..Jefri” Yudha memanggil seseorang dan orang yang bernama Jefri datang dengan tergopoh-gopoh. Lalu Yudha membisikkan sesuatu pada laki-laki itu dan dengan segera Jefri berlari keluar dari ruang tersebut.
“Mau kamu apa sih?” tanyaku setengah kesal.
“Sederhana aja, aku mau kamu bujuk Tasya buat masuk ke genk Crust Punk”
“Nggak akan pernah”
“Kenapa?”
“Aku nggak suka kalau kamu buat Tasya jadi tempat pelampiasanmu” Astaga aku kecoplosan, kenapa aku kasih tahu alasan yang sebenarnya ke Yudha?
Ia tampak menaikkan salah satu alisnya.
Aku tetap diam. Dan tiba-tiba aku merasakan sakit pada bagian pahaku, Yudha menekan dengan keras pada bagian itu. Aku meringis kesakitan tapi tak setetespun air mata yang keluar.
“Kalau kamu nggak mau ngelakuin itu ku pastiin kamu bakal celaka” Ancamnya padaku. Lalu senyum meremehkannya mengembang di kedua sudut bibirnya.
Aku menarik nafas panjang lalu pikiranku tertuju kepada laki-laki yang bernama Jefri jangan-jangan ia disuruh membawa senjata tajam. Tapi demi Tasya temanku aku rela menerima segala cobaan.
Di tengah kemuakanku ketika melihat senyumnya yang menjengkelkan. Tiba-tiba aku mendengar suara berisik dari luar sana dan sepertinya Yudha juga mendengarnya karena ia langsung beranjak pergi keluar ruangan itu. Namun sebelumnya ia sempat-sempatnya mengecup keningku.
Menjijikkan.
Ketika ia sudah hilang dari pandanganku aku dengan segera mencoba melepaskan ikatan itu dari tangan dan kakiku, sangat susah. Dasar Crust Punk psikopat gila, umpatku dalam hati.
Tasya....
Ketika kami sudah sampai di depan markas Crust Punk kami langsung bersiap-siap untuk membela diri dengan segala kemampuan kami. Bahkan ketika kami baru saja menginjakkan kaki di ruang pertama, anak buah Yudha langsung menyerang kami. “Mereka tak pandang bulu ya” Kata Chrisy sambil mengambil tasnya lalu memutar-mutarnya seakan ia sedang melakukan pertunjukkan.
“Ya kamu benar” Bruk...aku memukul pipi orang yang ada di hadapanku, tunggu aku belum pernah memukul seseorang. Aku merapikan rambutku yang sempat berantakan lalu berjalan maju, setiap orang yang berani menyerangku langsung terkena pukulan mematikan.
“Lumayan banyak juga anggota genk Crust Punk” Kataku yang merasa kewalahan melawan anggota-anggota Crust Punk.
“Berhenti semuanya!” Seruan seseorang menghentikan perkelahian kami yang sengit. Suara langkah kaki terdengar dari banyaknya anak tangga. Dan orang itu adalah Yudha. Wajahnya tampak menunjukkan senyum licik, aku benci melihat wajah seseorang yang seperti itu.
“Tasya, apa maksud kedatanganmu ke markas kami?”
“Kembalikan Vero!”
“Apakah itu berarti kamu mau gabung dengan genkku?”
Aku terdiam sesaat mencoba memikirkan hal yang tepat dan jangan sampai aku mengambil keputusan yang salah. Jika aku memilih Vero maka aku akan bergabung dalam tim ini dan mendapatkan tempat sebagai mainan mereka, jika aku memilih untuk mengabaikan Vero maka ia yang akan menjadi mainan mereka.
“Oke waktumu untuk berpikir sudah habis” Yudha mengagetkanku dengan suaranya yang menggelegar. Aku menatapnya dengan tatapan sengit. “Bagaimana Tasya?” Tanyanya lagi padaku.
Dan aku belum menjawab.
“Begini saja, aku beri waktu untukmu berpikir” Katanya sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Tapi jangan lama-lama atau temanmu akan celaka”
Wajahku menegang. Apa yang akan terjadi pada Vero?
. . .
Praak... “Aku nggak bakal ngebiarin kamu untuk gabung ke genk Yudha” Tera berkata sambil memukul permukaan meja dengan kasar.
“Tapi kalau nggak seperti itu Vero nggak akan selamat” Kataku dengan menatap dalam wajah Tera.
“Iya Ra, kamu juga harus mikirin Vero juga” Kata Chrisy ekspresi seriusnya.
“Berarti Tasya harus gabung sama genk Crust Punk, rapat selesai” Lisa berkata dengan santainya seakan itu tak masalah.
“Eh Lisa, kamu diam ya” Bentak Tera pada Lisa.
“Kenapa kalian malah berdebat di saat genting ini?” Hentakkan dari Chrisy membuat kami semua terdiam. “Sekarang kita harus memilih kalian ingin menyelamatkan Vero dengan cara kekerasan atau Tasya gabung di genk Yudha dan Vero dilepaskan”
Semua terdiam ketika Chrisy berbicara.
Namun pikiranku mengarah pada Lisa ia tampak menatapku dengan tatapan sinis. Apakah Lisa membenciku dan bersekutu dengan Yudha? Sepertinya iya, dari tadi Lisa terus berkata jika aku harus pergi menyerahkan diri pada Crust Punk.
Kenapa Lisa membenciku?
Belum sempat aku berpikir lebih jauh Tera sudah menyuruh kami bergerak untuk menuju markas Crust Punk lagi. Dan yang kudengar adalah melawan Crust Punk untuk menyelamatkan Vero.
Vero....
“Yudha...Yudha kamu ini gimana sih? Kamu bilang aku imut masa tega-teganya ngikat aku” Aku yang masih berusaha untuk melepaskan ikatan itu menggerutu pada Yudha dan ikatan itu.
Lalu suara langkah kaki dan gerutuan Yudha terdengar mendekat. Aku lagi-lagi bersikap tenang. “Apa-apaan cewek itu? Berani menyerang pada kubu yang ia minta tolong”
Cewek? Jangan-jangan dari genk Riot Grrrl pikirku.
Lalu wajah Yudha terlihat ketika ia memasuki ruang ini, ia terlihat kesal dan geram akibat penyerangan tadi. Matanya lalu mengarah padaku tatapan itu adalah tatapan tajam setajam elang. “Oh ya kamu tahu siapa yang datang tadi?” Tanyanya padaku dengan tatapan yang masih tajam.
Aku hanya diam dengan memasang tatapan yang tak kalah tajam dengan milik Yudha.
“Genkmu datang dan melakukan penyerangan pada kami, dan orang yang bersekutu kami juga ikut melakukan penyerangan”
“Maksudmu?”
“Emangnya kamu nggak tahu kalau salah satu orang di genkmu bersekutu dengan kami”
Aku hanya menggeleng kecil.
Lalu Yudha mendekatiku dan membisikan nama itu di telingaku. Mataku langsung membesar aku terkejut mendengar nama itu. Tidak mungkin dia adalah orang baik di Riot Grrrl, batinku.
“Kamu adalah satu-satunya orang yang kuberitahu mengenai hal ini” Yudha berkata sambil menjauhkan wajahnya dan beranjak ke hadapanku. “Kamu tahu kenapa aku membertahukannya padamu?”
Aku hanya diam karena masih terkejut.
“Karena sebentar lagi aku juga akan membongkar segalanya di saat mereka datang”
“Kenapa kamu bisa yakin kalau mereka akan datang?”
“Karena Tasya, aku tahu dia nggak akan tega membiarkan temannya menderita karena dia”
Aku hanya menundukkan kepala terlalu banyak beban pikiran yang ada di otakku.
Tasya.....
Kami kembali ke markas Crust Punk kami sudah siap membela teman kami dengan kekerasaan. Kini jiwa punk kami sudah matang, prilaku yang selama ini kami tunjukan sekarang telah ditepis.
Anggota Crust Punk langsung menyambut kami dan perlawanan pun terlihat sangat sengit.
Ketika yang lain sedang melawan para anggota Crust Punk aku menaiki tangga yang kulihat Yudha menuruninya lalu menemukan satu-satunya ruangan yang ada di situ. Kubuka perlahan kuintip dan kutemukan Yudha sedang berbicara dengan Vero yang terlihat enggan menatap wajahnya.
“Bagaimana keputusanmu Sya?” kata Yudha tiba-tiba, “Aku tahu kamu ada di balik pintu”
Darimana Yudha tahu? Lalu tatapan mataku lurus ke depan dan tampak di belakang Vero terdapat cermin yang lumayan besar dan memantulkan gambar kami bertiga. Sial. Aku melangkah masuk dan berdiri di belakang Yudha.
“Sebelum itu aku ingin mengetahui siapa orang dari Riot Grrrl yang bersekutu dengan kalian?” Kataku sambil menatap punggung Yudha.
“Kenapa aku harus memberitahukanmu?”
“Jawab saja?”
“Apakah itu berarti kamu mau gabung dengan genk ku”
Aku terdiam.
“Kamu mau tahu siapa cewek itu?”
Aku menatap wajahnya pekat. Lalu dia mendekatiku dan secara tiba-tiba meninju perutku. Sakit.
“Dia adalah Tera”
Aku terkejut, sakit di perutku tak sesakit yang kudengar. Tidak mungkin, Tera adalah temanku yang selalu menerimaku dan membelaku.
“Kamu tahu kenapa Tera melakukannya?” Yudha berkata lagi dan ia mengangkat kepalaku dengan tangannya.
“Dia membencimu karena secara tiba-tiba perhatian seluruh anggota tertuju padamu”
“Hanya karena itu ia membenciku?”
“Tidak hanya itu dia tak terlalu menyukaimu yang berlagak seperti pemimpin”
Tak ingin mendengar ucapannya lagi, aku langsung berlari untuk meminta penjelasan dari Tera. Tanpa sadar aku meninggalkan Vero yang masih disekap di ruang itu. “Tera, apa yang dikatakan Yudha itu benar?”
“Kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti”
“Justru aku yang nggak ngerti, kamu bersekutu dengan Yudha demi menghancurkanku? Kalau memang kamu nggak suka kenapa kamu terima aku di genkmu?”
“Ternyata Yudha memberitahukanmu yang sebenarnya.” Tera mulai menolak menghadapku “Kamu tahu kenapa aku lakuin itu? Aku dulu menerimamu karena ku pikir kamu sama kayak yang lain tunduk padaku”
“Aku menghormatimu, dan aku berbicara pada saat genting ketika aku merasa berhak untuk berbicara!”
“Itu yang aku nggak suka kamu berbicara layaknya pemimpin dan mengabaikan aku”
“Aku nggak pernah mengabaikan kamu, aku hanya merasa jika saat itu aku harus berbicara”
“Kamu diam, sekarang kamu keluar dari genk kami!”
“Aku nggak terima kalau Tasya harus keluar!” Suara Lisa mengagetkan kami berdua. “Selama ada Tasya aku rasa jiwa punk kami terlatih karena banyak kejadian yang dihadapi”
“Lisa, kenapa kamu jadi membela Tasya?”
“Ra kamu sadar gak sih, selama gak ada Tasya genk kita itu diam mulu nggak ada kerjaan?” Tera terdiam sesaat, aku melihat kesekeliling yang juga terdiam bahkan anggota Crust Punk tak ada yang berkutik ketika mendengar perdebatan kami.
“Kenapa kamu terlalu terbawa perasaan saat perhatian tertuju pada Tasya?” Lisa bertanya sambil mengerinyitkan dahinya.
“Lisa! Aku menolak perkataa---”
“Sudahlah! Aku tak ingin mendengar perkataanmu lagi, kalau kamu mau Tasya keluar, aku keluar!”
Kenapa Lisa memilih ikut keluar? Kenapa dia membelaku? Bukankah dia membenciku? Aku tak habis pikir ketika mendengar perkataan Lisa barusan.
“Jadi kamu memilih anak haram ini?”
“Berhenti membuatku marah, kamu tahu kalau bukan karena aku kamu nggak mungkin bisa hidup enak”
Tera terdiam sesaat ia tak berani menatap wajah Lisa yang mulai geram.
“Sadar dong kamu itu siapa dulunya, kamu cuma anak dari seorang pelacur, kalau aja orang tuaku nggak berbelas kasihan ke kamu, nggak bakal kamu ada disini” Katanya sambil mendorong pundak Tera dengan telunjuknya.
PROK..PROK..PROK suara tepukkan tangan terdengar dari jejeran anak tangga, Yudha “Jadi semuanya sudah terbongkar, jadi bagaimana keputusannya?”
Kami terdiam memandang Yudha.
“Begini saja kita buat kesepakatan, kamu lepaskan Vero dan aku yang akan bergabung denganmu” Lisa angkat suara ia menatap pekat wajah Yudha.
“Nggak bisa, aku menginginkan Tasya bukan kamu”
“Biarkan saja Lisa, aku nggak apa-apa”
“Aku nggak bisa membiarkan kamu sama bajingan ini Sya”
“Aku punya satu solusi” Yudha berkata sambil berjalan mendekati kami. “Bubarkan genk Riot Grrrl dan aku akan mrmbebaskan kalian semua.”
Semua mata tertuju pada Tera sang pemimpin, saat ini keputusan ada di tangannya. Tera tampak bimbang untuk menimang-nimang apa yang harus dia ambil. Aku tak tahan melihat apa yang ada di hadapanku ini.
Vero....
“Akhirnya” Aku sudah terlepas dari ikatan yang dibuat oleh Yudha aku langsung melarikan diri. Aku langsung melarikan diri dan keluar dari ruang tersebut.
Ketika sampai di bawah kulihat mereka sedang berdebat tentang suatu hal. “Tasya!” Aku langsung berlari menghampiri genkku. Dan tak ada yang mencoba mencegatku.
“Oke kulepaskan, sesuai dengan yang sudah diputuskan Tera, GENK KALIAN BUBAR” Lalu Yudha memberi isyarat pada anggotanya untuk bubar.
“Baiklah sekarang kita pulang” Lisa mengajak kami untuk bubar juga. Sedangkan entah kenapa Tera tampak terdiam beberapa saat, ada apa dengannya? Lalu kenapa Riot Grrrl dibubarkan?
. . .
Aku mengantar Tasya ke rumahnya ketika malam tiba, ia tampak pucat sepanjang jalan aku takut jika beban pikirannya semakin menumpuk. “Kamu nggak apa-apa Sya?” Tanyaku ketika kami sudah sampai di depan rumahnya.
“Iya nggak apa-apa” Lalu ia meninggalkanku dan pergi masuk ke dalam rumahnya.
“Ku harap dia memang tidak apa-apa”
Keesokkan paginya.....
Rumah Tasya tampak di penuhi orang banyak. Kami yang penasaran ikut masuk ke dalam rumah itu.
Betapa kagetnya aku ketika melihat tubuh Tasya kaku dan tak bergerak secentipun. Wajahnya tampak pucat pasi dan tak bernafas, tampak di pergelangan tangannya terdapat goresan yang dalam karena tersayat silet. Tasya meninggal karena depresi akibat kejadian semalam. Mama Tasya tampak menyesali kepergian putri satu-satunya yang sudah ia abaikan.
Kami mantan anggota Riot Grrrl menangisi kepergian salah satu anggota yang sangat berharga di mata kami. Semoga perjalananmu tenang wahai sobat. Doa kami selalu menyertaimu, kami yakin ketika kamu menjadi bintang kamu akan memancarkan sinar yang paling terang.
Tamat