Cinta beda agama
Aku sedang berdiri di depan mobilku dan menunggu kedatangan Anisa, pacarku. Sudah sepuluh menit aku menunggunya namun ia belum juga datang, saat aku mulai jenuh menunggunya akhirnya Anisa datang juga.
Ia tampak memakai hijab berwarna hitam dengan dipadukan baju muslim yang berwarna merah muda. Aku melihatnya dengan seksama ia terlihat anggun di mataku.
Sekedar memberitahu saja kami adalah pasangan yang berbeda agama, aku adalah penganut agama kristen dengan kepercayaan kepada Tuhan. Sedangkan Anisa beragama islam dengan kepercayaaan kepada Allah, kami sadar jika kami berbeda namun itu tak menggoyahkan cinta kami berdua.
“Jonathan!” panggilnya padaku. “Lama ya nunggu?” tanyanya sambil memasang wajah menyesal.
“Nggak kok, yaudah yuk di bioskop ada film rame lho” kataku sambil membukakan pintu mobil pada Anisa. Ia terlihat tersenyum lalu mesuk ke dalam mobilku.
Aku pun menutup pintu mobil sebelah Anisa dan masuk ke dalam mobil bagian setir. Aku segera tancap gas dan mengendarai menuju bioskop. Suasana begitu sepi Anisa terus saja diam tanpa berbicara sepatah kata pun. Ada apa dengannya? Tidak biasanya ia terus diam, pikirku.
Aku sangat mengenal sifat Anisa yang kalau sedang kumpul denganku atau temannya ia akan terus membicarakan sesuatu yang asik. Aku tak ingin mempermasalahkannya mungkin saja dia sedang memiliki masalah yang tak ingin ia bagi denganku.
Kami sampai di parkir bioskop dan langsung menuju tempat antrian tiket. “Jona, aku beli minuman sama popcron dulu kamu beli tiket ya” katanya padaku dengan ramah lalu ia beranjak pergi menuju tempat penjualan dan aku juga langsung masuk ke antrian tiket. Sepuluh menit berlalu kami pun masuk ke dalam ruangan yang gelap itu.
Sambil fokus menonton film yang ditayangkan aku sesekali menoleh ke arah perempuan di sampingku itu ia terlihat fokus menghadap layar dengan matanya yang berwarna coklat jernih. Namun yang membuatku heran dan khawatir adalah ia menatap dengan tatapan kosong.
Dua jam berlalu film yang ditayangkan selesai begitu saja dimataku. Aku tak bisa tenang menonton jika Anisa terus diam tanpa memberikan respon sedikit pun.
Aku pun mengajaknya untuk ke taman yang tak jauh dari bioskop dan disitu lumayan teduh dari terik matahari.
Dan aku tak bisa terus diam melihat kelakuannya yang dari tadi hanya diam, diam, dan diam. “Kamu kenapa sih Sa?” Tanyaku akhirnya.
“Hhm, nggak apa-apa kok”
“Ada apa?”
“Nggak apa-apa Jona, kamu yang kenapa?”
“Hehh, daritadi aku liat kamu diam mulu nggak kayak hari-hari biasanya”
“Nggak apa-apa kok”
“Cerita!”
“Apaan sih?”
“Kamu nggak lupakan kalau aku bisa baca pikiran orang lain?” kataku akhirnya karena tak tahan lagi melihat kebohogan perempuan ini, aku mengatakan kemampuanku ini.
“Damn”
“Wah, bisa ya kamu bilang itu ke aku” Aku pun pura-pura marah.
“Eh iya-iya kamu cepat banget sih marah kayak cewek” Anisa berkata sambil memegang pundakku, mungkin ia mencoba merendam ambekkan yang tadi kutunjukkan.
“Kalau aku cewek artinya kita lesbi dong” kataku sambil tersenyum berseri padanya.
“Apaan sih? Nggak lucu”
“Yaudah cerita”
“Gini aku rasa kita itu berbeda jadi aku mau kita pisah”
Aku terkejut, Anisa memang seperti ini ia tak mau basa-basi untuk membuka pembicaraan ia langsung to the point. Tapi pisah, are you kidding me?
“Lho kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba?”
Anisa hanya diam saja.
Aku menatap matanya dan melihat isi dari semua pikirannya, walaupun aku tahu ia tak menyukai caraku ini. “Orang tuamu menentang hubungan kita ya?”
“Jona! Jangan baca pikiranku sembarangan!” ia tampak kesal padaku.
Ya aku tahu kalau aku salah.
Ia kembali terdiam lalu melanjutkan perkataannya lagi, “Aku nggak bisa tenang menjalani hubungan kita tanpa adanya restu orang tua kamu tahu kan akhirnya gimana aku aku terus menentang mereka”
Aku terdiam.
“Walaupun aku memaksakan untuk terus menjalani hubungan ini sampai jenjang yang lebih serius itu pun nggak bakal lama, semua akan berakhir dengan perpisahan” katanya lagi, mukanya terlihat memerah mungkin sebentar lagi ia akan menangis.
“Sa, aku boleh minta tolong gak ke kamu” kataku setengah berbisik padanya.
“Apa?” Tanyanya sambil menatap wajahku.
“Jangan nangis disini, nanti orang ngira aku mau apa-apain kamu”
Anisa membuang mukanya dari hadapanku. Oh come on, i hate this situation. “Jadi kamu mau pisah sama aku karena orang tuamu atau memang keputusanmu sendiri”
Ia terlihat diam saja ketika aku membuat kalimat yang berusan kuucapkan.
“Bukannya apa ya Sa tapi kalau aku bilang iya. Mungkin kita berdua akan sama-sama patah hati.” Aku menghela nafas panjang sebelum melanjutkan omonganku lagi.
“Aku tahu kok kamu berat untuk bilang pisah, tapi plis apakah kamu hanya ingin mengakhiri hubungan ini karena larangan dari orang tuamu dan omongan dari banyak orang?” Sambil menunggunya untuk berbicara aku terus menatap pekat wajahnya.
Ia lagi-lagi tak bersuara, aku serasa ngomong sama patung.
“Kamu tahu kenapa Aku lebih memilih kamu daripada cewek lain yang seagama denganku?” Kataku dengan lembut.
Akhirnya ia menatapku.
“Karena kamu spesial, karena aku ngerasa kamu anugrah dari Tuhan”
Anisa tampak mengembangkan senyumnya padaku, senyum yang membuat aku semakin mencintainya. “Oke, karena Anisa sudah tenang aku mau mengajaknya makan es krim” Ujarku dengan senyum manis.
“Wah kamu peka banget kalau aku lagi mau es krim” Anisa tampak langsung bersemangat ua lalu bangikit berdiri dan menuju parkiran mendahului aku.
Nih cewek dari tadi murung gara-gara masalah atau pengen makan es krim sih? Batinku.
Aku pun bangkit berdiri dan mengikuti Anisa melangkah, hingga sampai di mobil ia tampak memaksaku agar cepat pergi ke toko es krim. Aku hanya bisa menurutinya, aku pun mengendara mobilku dan melaju ke toko es krim.
Sambl duduk di kursi yang juga dilengkapi meja kami duduk berhadapan, di samping kami seorang pelayan sedang mengambil pesanan kami.
“Dua mangkuk besar es krim” pesan Anisa pada pelayan di toko es krim yang lumayan terkenal.
“Sa, kamu pesan kok banyak banget. Buat siapa sih?” kataku sambil menggaruk tengkukku yang tak gatal.
“Semangkuk buat kamu dan semangkuk buat aku” katanya dengan senyum bahagia.
Aku langsung kaget mendengar perkataan Anisa, kayaknya dia sengaja karena dia tahu aku nggak suka makan es krim terlalu banyak.
“Mba, semangkuk aja es krimnya, saya jus jeruk” kataku mencegat sang pelayan sebelum ia pergi meninggalkan kami.
Lalu pelayan itu meninggalkan kami berdua.
“Kenapa sih?” tanya Anisa padaku sambil tersenyum meremehkan.
“Nggak apa-apa” kataku sambil menggeleng kecil.
“Tadi kamu yang ngajak beli es krim, kok kamu malah nggak mau makan es krim sih” tanyanya lagi padaku sambil tersenyum lebar. Dasar Anisa jahil banget.
“Makannya berbagi aja sama kamu” kataku sambil tersenyum.
“Enak aja, aku nggak mau berbagi sama kamu”
“Terus aku ngapain” tanyaku sambil mengerutkan keningku.
“Kamu liatin aku makan sambil habisin jus jerukmu”
“Yaudah deh nggak apa-apa kamu kan manis” Kataku dengan maksud merayu.
“Semanis apa?”
“Semanis gula”
“Nggak mau aku mau semanis es krim” katanya padaku sambil menampakkan senyum manisnya yang mungkin akan membuatku semakin dimabuk cinta.
“Tapi lebih manis es krim daripada kamu” kataku lagi sambil tertawa jenaka.
“Iiish”
Gelak tawaku semakin keras melihat mimik wajahnya yang bisa dibilang lucu.
“Anisa, apa kamu masih berhubungan dengan orang ini?” Sebuah suara mengagetkanku dan juga Anisa, suara wanita yang terdengar marah. Aku maupun Anisa menoleh bersamaan mencoba mengengetahui siapa pemilik suara tersebut.
Tante Meli, Mama Anisa. Dari awal Anisa memperkenalkanku pada Tante Meli, aku menangkap seburat tak suka dari mata maupun pikiran Tante Meli dikarenakan perbedaan agama antara kami berdua.
“Mama kok ada disini?” Tanya Anisa sambil berdiri di samping Tante Meli yang berdiri dan memandangku dengan tatapan mata mematikan.
“Tante nggak bakal ngesertuin hubungan kalian” Ucap Tante Meli tanpa basa-basi dan langsung membuat hatiku sakit.
“Mama!” Aini tampak tak mempercayai apa yang dikatakan Tante Meli padaku.
“Tan, aku yakin kami bisa menjalani hubungan ini tanpa adanya kendala apapun” Ujarku untuk meyakinkan bahwa aku akan menjaga Anisa bukan merusak Anisa.
Tante Meli tampak menghela nafas panjang setelah mendengar perkataanku tadi. “Oke tante akan merestui hubungan kalian”
Aku dan Anisa saling tatap senang mendengar keputusan yang Tante Meli katakan.
“Asal kamu mau meninggalkan agamamu dan menganut agama kami”
Sontak aku kaget mendengar perkataan tadi kebahagian yang kurasa kurang dari satu menit tadi kini telah hancur berkeping-keping, “Maaf Tante aku memang mencintai anak tante tapi untuk meninggalkan agama yang sudah 19 tahun ku peluk. Maaf aku nggak bisa.”
Lalu aku menatap mata Anisa tak apa aku ngerti kok, pikiran Anisa berkata padaku ia tampak melemparkan senyumnya padaku mungkin itu adalah senyum terakhir dari yang akan kulihat.
“Baiklah kalau kamu nggak bisa berarti kamu harus meninggalkan hubungan kamu dengan anak Tante”
Ya aku tahu ini pilihan terakhirku aku tak mungkin meninggalkan Tuhan yang sudah melindungiku selama ini yang sudah memberikan umur panjang ini. Maaf Anisa aku tak bisa mempertahankan hubungan ini.
“Ayo Anisa” Tante Meli menarik lengan Anisa dan terlihat mereka memasuki mobil dan melaju meninggalkan ku yang sedang patah hati disini. Anisa tampak menatapku dari balik kaca transparan yang ada di mobil tersebut.
Aku melemparkan senyum manisku padanya sambil melambaikan tanganku tanda perpisahan.
Di rumah, kamar...
Aku sedang mencoret-coret kertas tulisku dengan sebuah pulpen dengan tinta biru. Aku baru mendapat pesan dari Anisa bahwa ia akan pergi ke Pontianak untuk melanjutkan kuliahnya.
Aku ingin mengantarnya hingga di bandara walaupun harus memandang kepergiannya dari jauh. Beberapa tetes air mata mulai mengalir dikedua pipiku. Mungkin saat ini aku adalah laki-laki cengeng but its okay ini adalah terakhir kalinya untuk aku menemui Anisa.
For you, my darling. Its a little letter for you.
If you leave this city, i know what you feel right now, at the moment. The sad moment for me, you leave me when i still loving you. You leave me when i to begin to tie together the happiness with you. But its okay, i’m understand what happen right now. I’m understand.
Sebenarnya aku bisa meluluhkan hati ibumu, sebenarnya aku berani menentang keputusan yang ditujukan ibumu padaku. Tapi semua itu kutahan karena aku mengerti di antara kita terdapat perbedaan yang sangat besar.
Kita berbeda keyakinan, namun itu bisa kita lewati karena saling mempercayai diri masing-masing. Kita berbeda pendapat namun itu bisa kita lewati dengan adil, satu hal yang tak bisa kita lewati adalah pendapat dan restu dari masing-masing orang tua yang lebih memilih untuk mencarikan seseorang yang seiman. Dan tanpa mereka ketahui telah merusak kebahagiaan anak mereka saat itu.
Aku tak mungkin menghianati Tuhanku, karena jika aku melakukan hal kepada Yang Maha Kuasa apalagi kamu yang hanya manusia biasa. Lebih baik kamu mencari seseorang yang lebih pantas bersanding denganmu daripada aku yang bukan siapa-siapa bagi keluargamu.
Aku akan selalu merindukanmu disini, aku mendoakan yang terbaik untukmu, tataplah langit yang tak pernah pergi seperti cinta yang telah meninggalkan kita berdua.
I LOVE YOU ANISA.
. . .
Anisa tampak waswas ketika menghampiriku ia menatapku dengan matanya yang jernih. Pakaian oranyenya serta hijab senada menambah keanggunan perempuan itu.
Matanya menatapku air matanya mulai menetes ia memelukku dengan erat, “Maaf aku nggak bisa sama-sama kamu terus”
Aku membalas pelukannya ikut menyesali akan kisah cinta kami yang tak semanis sinetron. Aku berusaha untuk melepasnya dengan senyuman bukan dengan airmata, “Tidak apa-apa aku ngerti. Lagi pula masih banyak laki-laki yang lebih baik dariku lupakan masa lalu lanjutkan masa depanmu ingat jangan pernah menoleh ke belakang” Aku melepas pelukanku dan menghapus air matanya.
“Tapi ingatlah, aku akan terus mendoakan kebahagiaanmu dari jauh” Aku memberikan sebuah amplop yang berisi surat yang kutulis. “Pergilah, jaga dirimu baik-baik” Kataku sambil tersenyum padanya.
Anisa menurutiku ia melangkahkan kakinya menjauhiku dan memasuki pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.
Aku menatap pesawat tersebut dengan berat hati. Mungkin dia bukan jodohku untuk saat ini, dan masih banyak laki-laki lain yang lebih baik daripada diriku untuk wanita sebaik Anisa.
Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, pujaan hatiku yang takkan pernah kumiliki.
THE END