Hai Semua selamat membaca cerita ini ya😊
Ini cerita keduaku dan cerita cerpen pertamaku. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian disini. Terimakasih 😊🙏
:
:
:
:
:
Bismillahirrahmanirrahim
Happy Reading 📖😊
🤍🤍🤍
~"Bila memang namamu lah yang tertulis di dalam lauhul Mahfudz, pastinya rasa cinta itu akan Allah tanamkan untuk diri kita. Dan yang pasti, untuk saat ini tugasku bukan sibuk untuk mencari dimana keberadaan dirimu. Melainkan tugasku adalah menjaga diriku, memperbaiki agamaku dan memperindahkan akhlakku"~ ( By- Muhammad Arsalan Putra Syahreza)
~"Caraku mencintaimu bukan dengan mengatakan I❤️You. Apalagi datang untuk memberitahu dan mengatakan I Miss You. Namun, caraku mencintaimu adalah bagaimana aku bisa menjaga diriku dan dirimu. Terutama menjaga cintaku kepada Rabb- ku Dan ada lagi yang harus kamu tahu. Seseorang yang tulus mencintaimu, tidak akan mengatakan cinta sebelum ada sebuah ikatan & Dia akan berusaha memendam dan memantaskan hingga kelak saatnya tiba"~ ( By- Andalugia Annisa Adjaya)
😊😊😊
Namaku Andalugia Annisa Adjaya. Putri dari pasangan Azka Putra Adjaya dan Annisa Ramadhani. Aku adalah seorang gadis remaja, setelah lulus dari sekolah SMK, aku tidak lagi melanjutkan kejenjang perkuliahan karena aku lebih memilih langsung bekerja saja. Aku bekerja disebuah ruko tempat fotokopian. Aku membuka tempat fotokopian itu hasil dari uang tabunganku sendiri ditambah dengan uang pemberian ayah. Awalnya aku tidak ingin menerima uang pemberian ayah namun ayah memaksaku.
kata ayah" Nak, sudahlah pakai saja uang ini untuk membeli barang- barang yang kau perlukan namun jika kamu merasa sudah cukup dan uangmu tidak kurang maka simpanlah saja, tabung uang ini untuk kebutuhan yang lain disaat kamu membutuhkan".
Pagi ini awal yang cerah untuk melakukan kegiatan, seperti biasanya aku akan membantu ibuku untuk menyiapkan sarapan terlebih dahulu.
"Ibu, Gea bantu menyiapkan masakan ya"- kataku menghampiri ibu didapur.
"Sudah matang kok masakannya. Kamu bantu membuatkan kopi untuk ayahmu saja"- aku mengangguk paham.
Setelah menyiapkan kopi dan menata rapi meja makan. Aku segera memanggil ayah dan adikku. Ku hampiri satu persatu setiap ruang kamar dalam rumah, pertama kamar ayah. Disana aku melihat ayah sedang bersiap-siap dengan pakaian Kerjanya. Ayah adalah pegawai kantor biasa gaji yang ayah terima disana pun Alhamdulillah masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan aku bangga pada ayah karena ayah adalah sosok pemimpin keluarga yang bertanggung jawab dan imam yang baik untuk keluarganya.
"Ayah"- panggilku.
"Gea sejak kapan kamu disitu"- tanya ayah yang sedang membenarkan dasinya. lalu ku hampiri dan membantu memasangkan dasi itu.
"Baru saja. Gea mau memanggil ayah dan adik untuk sarapan karena makanannya sudah siap"
"Selesai"- pekikku ketika dasi itu telah rapi bertengger dileher jenjang ayah.
" Terimakasih. kamu memang anak ayah yang baik dan cantik"- ujar ayah lalu mengecup keningku.
Aku dan ayah menuju ke ruang makan bersama, sesampainya disana meja makan itu kini telah penuh dengan suara dentingan sendok yang beradu. Aku dan ayah duduk dikursi kami masing-masing. Ternyata ibu dan adik-adikku sudah menunggu kami sejak tadi.
"Kak Gea duduklah diantara aku dan Ody"- ucap adikku.
"Iya kak sepelti biacanya kakak selalu duduk bersama kami"- kata adikku yang satu lagi.
Aku memiliki dua adik perempuan kembar yang bernama Amel Azkhia Syaputri dan Melody Azkhia Syaputri. Selisih umur kami memang jauh namun tidak bisa membuat rasa sayang kami menjadi perselisihan juga bukan. heheh...
"Baiklah jika kalian menginginkan maka Kakak akan duduk ditengah- tengah kalian berdua"
"Asikkk"- pekik keduanya.
"Ayo makan dulu"- ucap ibu menyela.
"Gea nanti setelah kamu pulang dari tempat kerja jangan langsung pulang ke rumah ya. Kita akan berkumpul bersama keluarga besar ayah dirumah nenek"
Aku mengangguk"Baiklah ibu"
"Pakailah pakaian yang rapi dan cantik"- ucap ibu. Mengapa perasaanku tidak enak ya ketika ibu menyuruhku memakai pakaian rapi dan cantik. Tak seperti biasanya, Apakah selama ini aku tidak cantik?? oh ayolah mengapa jadi insecure begini sih. Aku tepiskan saja pertanyaan itu.
Acara makan bersama telah selesai ayah sudah lebih dahulu berangkat ke kantor sedangkan aku menunggu kedua adikku yang tengah bersiap dengan seragam mereka. Tempat fotokopian ku buka pukul 08.00 pagi sampai pukul 20.30 malam.
"Kakak ayo"- ujar kedua adikku yang sudah cantik dengan hijab putihnya dan seragam SD. Satu kalimat untuk keduanya' Perfect'
"Kami berangkat Bu. Assalamualaikum"- kataku lalu menyalami tangan ibu bergantian dengan kedua adikku.
"Waalaikumsalam. Hati-hati jangan ngebut- ngebut naik motornya. Dan jangan lupa untuk nanti malam datang lah lebih awal jangan terlambat ya sayang"- kata ibu.
"Tapi Bu tempat fotokopian ku tutupnya sampai setengah sembilan"
"Tutup saja lebih awal. Ayo cepat nanti telat"- tegas ibu.
"Baiklah. Ayo"- ajakku pada kedua adikku.
"Motor Go"- pekik keduanya saat menaiki motor.
"Bismillahirrahmanirrahim"-lalu ku nyalakan motor dan melajukannya dengan pelan.
Brummmm,brummm,brummz.
Setelah mengantar adik-adikku, kini saatnya aku harus membuka tempat fotokopian. "Assalamualaikum"- salamku ketika masuk kedalam toko.
"Waalaikumsalam Gea"- ucap kedua Sahabatku bersamaan.
"Maaf ya aku telat"
"Kamu ini kenapa minta maaf. kamu gak telat kami juga baru saja membuka tempat fotokopian ini"- Ujar Shifa Sahabatku yang lemah lembut.
"Terimakasih kalian sudah membantuku dalam melakukan pekerjaan ini"
"Kamilah yang seharusnya berterimakasih kepadamu karena kamu kami jadi bisa mendapatkan uang sendiri untuk membiayai uang kuliah"- sahut Najwa ia juga sahabat ku yang cantik dan lucu.
"Kita harus berterimakasih dan mengucapkan syukur Alhamdulillah karena semua rezeki ini kita dapatkan dari Allah. Tempat fotokopian ini adalah perantara rezeki yang Allah berikan untuk kita"- jawabku.
"Dimana Nissa?? Aku tidak melihatnya sejak dua hari ini??"- tanyaku.
"Entahlah tak ada kabar darinya. Mungkin ada urusan penting jadi dia tidak bisa masuk kerja"- ujar Najwa mengendikkan bahu. aku mengangguk paham.
"Cepat kita harus membersihkan tempat ini sebelum pelanggan datang"- sela Shifa. Kami bertiga membersihkan segera tempat fotokopian ini bersama- sama, biasanya kami berempat namun sahabatku Nissa tak bisa datang selama dua hari ini. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tidak bisa datang bekerja namun aku berdoa semoga dia baik-baik saja.
Pembersihan alat printer dan fotokopi sudah dibersihkan, semua buku-buku dan rak sudah rapi tersusun sesuai urutannya. Setelah beberapa lama datanglah seorang pelanggan pria dengan pakaian yang sangat rapi dengan jas hitam yang ia gantungkan ditangannya. Shifa dan Najwa yang sedang menata buku menghampiri ku.
"Gea ada pelanggan cobalah kau menoleh"- bisik Najwa.
"Mengapa kalian tidak melayaninya?"- lirihku.
"Sudahlah kau saja. Kau tahukan jika aku bertemu pria maka aku bisa-bisa salting didepannya. Sudahlah kamu saja"- suruh Najwa menyenggol lenganku.
"Baiklah"- aku berdiri dari dudukku dan menghampiri pelangganku dengan senyuman.
"Assalamualaikum. Ada yang bisa saya bantu"- ucapku tersenyum kecil lalu ku tundukkan pandanganku sedikit.
"Tolong print file ini segera. Jangan lama!!"- ucap pria itu menyerahkan file itu padaku. Aku mengangguk lalu meraihnya dan segeraku print dengan cepat.
Setelah selesai mengeprint ku tata berkas file itu dengan rapi dan memberikannya pada pria itu. "Maaf kak ini berkas file sudah selesai diprint"- kataku.
"Hmm.. baiklah letakkan saja disitu"- ucapnya dingin.
Aku hampiri Shifa dan Najwa yang berdiri dibelakangku, aku tahu sedari tadi mereka memperhatikan pria dingin itu, karena pertama kalinya kami memiliki pelanggan yang dingin dan kaku seperti pria itu.
"Dingin sekali dia. aku tidak ingin memiliki suami kaku dan dingin seperti itu"- gumam Najwa.
"Hush... mulutnya kalau ngomong!! orang itu memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda- beda Najwa. Dan biasanya sifat seperti itulah bisa luluh hanya dengan sebuah doa. Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia dan gak selamanya sifatnya akan seperti itu terus"- tutur Shifa.
"Sepertinya dia pengusaha karena dilihat dari pakaiannya yang rapi sekali"- tebak Shifa.
"Bisa jadi"- kataku.
"Kamu kemarilah"- tiba-tiba pria itu memanggilku. Aku takut dan canggung sekali dengan tatapannya yang memperlihatkan gerak-gerikku berjalan. izhhhh risihnya bukan main ingin ku colok matanya saat ini juga agar ia tidak seperti itu lagi.
"Iya kak ada yang bisa saya bantu"- tanyaku menunduk. bukan malu tapi aku hanya ingin menjaga pandanganku dari yang bukan mahramku agar terhindar dari yang namanya zina mata.
"Apakah namamu Andalugia Annisa Adjaya??"- tanyanya. aku terkejut bukan main begitu juga dengan shifa dan Najwa yang sama halnya denganku. Bagaimana pria yang tidakku kenal siapa namanya?? dan dari mana ia berasal?? asal-usul tentang keluarganya?? Bagaimana bisa dia tau namaku?? Apakah dia seorang mata-mata seperti yang difilm- film itu??.
"Aku butuh Jawaban bukan diammu. Cepat jawablah aku tak butuh waktu banyak hanya untuk mendengarkan jawabanmu itu!!"- tegasnya berbicara dengan ekspresi wajah serius.
"I-iya saya sendiri. Kalau boleh tahu darimana anda mengetahui nama saya??"- tanyaku penasaran.
"Tak perlu kamu tahu nanti keluargamu sendirilah yang akan memberitahukan mu. Baiklah ini uangnya. terimakasih, permisi"- aku melongo mencoba untuk mencerna perkataannya. Apa maksudnya tentang" Nanti keluargamu sendirilah yang akan memberitahukan mu??" why?? maksudnya apa??
Pria itu pergi membawa berkas file yang baru saja aku print, ia membuka mobilnya dan melajukan mobilnya itu. Sebenarnya siapa pria itu? Dan apa hubungannya dengan keluargaku??
Shifa datang bersama Najwa menghampiriku setelah pria itu pergi meninggalkan sejuta pertanyaan dipikiranku. "Gea are you okey??"- terkejut aku ketika Shifa memegang bahuku.
"Hah.. eh iya aku baik-baik saja"- jawabku.
"Siapa dia Zahra?? kenapa dia bisa mengetahui nama lengkapmu??"- Tanya Najwa.
"Najwa aku juga gak tau dia siapa dan apa hubungannya dengan keluargaku."
"Mungkin dia kerabat lamamu yang tidak pernah bertemu dengan dirimu namun dia tahu segalanya tentangmu"- tebak Shifa.
"Ah iya mungkin begitu tapi... yasudahlah. Owh iya nanti kita akan tutup lebih awal ya. Maafkan aku tapi ini perintah ibu. Ibu memintaku untuk datang ke rumah nenek malam ini"
"Tak apa tenanglah kami tidak keberatan. Jika itu perintah ibumu maka lakukanlah jangan menentangnya"- ujar Shifa menepuk pundakku. Aku tersenyum bersyukur sekali diriku bisa mendapatkan sahabat seperti mereka yang selalu menemani segala susah, sedihnya dan segala kekuranganku. Terimakasih ya Allah semoga persahabatan kami ini dilandaskan atas keinginan kami untuk bertakwa kepadamu dan semoga Engkau mempertemukan kami kembali dalam surga- mu ya Allah. Aamiin
Waktu terus berjalan dengan cepat tak terasa kini hari sudah mulai petang kini aku bersama Shifa dan Najwa bersiap-siap untuk pulang tapi sebelum itu seperti biasanya lagi kami akan membersihkan toko sebelum tutup.
"Alhamdulillah sudah bersih. Baiklah aku pulang duluan ya"- Ujar Najwa.
"Pulanglah bersamaku karena kita searah kebetulan aku ingin singgah di toko obat dekat rumahmu. Aku ingin mengambil obat pesanannya nenek"- ajak Shifa pada Najwa.
"Baiklah kalau begitu terimakasih Shifa cantik"- jawab najwa cengengesan.
"Aku juga mau langsung pulang ya. Assalamualaikum"- ucapku ketika selesai mengunci pintu toko.
"Waalaikumsalam"- kini kami berpisah kembali, dipisahkan waktu dan dipertemukan kembali dengan waktu. Sesingkat itu tidak terasa ternyata waktu berputar semakin cepat. Kini aku mengendarai motorku dengan kecepatan normal karena jarak antara rumah nenek dan tempat kerjaku Alhamdulillah dekat.
Sesampainya disana aku melihat begitu banyak sekali kerabatku, saudara dan anak dari keluarga ayahku dan keluarga besar dari ibuku telah berkumpul dirumah nenek. Awalnya aku heran dan bertanya pada diriku sendiri mengapa tiba-tiba ibu menyuruhku memakai pakaian yang sangat rapi dan ketika melihat semua kerabatku memakai pakaian yang sangat rapi juga aku mulai berfikir positif saja mungkin ada acara pesta kecil-kecilan dirumah nenek. Aku datang memakai gamis abu-abu warna kesukaanku dengan hijab senada yang selama ini setia menutupi rambut hingga menutupi dadaku. Biarkanlah orang lain mengatakan yang tidak-tidak karena aku yang menjalaninya dan Alhamdulillah aku nyaman dengan pilihanku. Ketimbang pakaian terbuka dan tak menutup secara penuh aurat kita justru itu juga yang membuat bahaya datang mengincar kita sedangkan memakai pakaian tertutup itu bisa melindungi kita dari pandangan mata yang buruk.
Aku memarkirkan motorku disamping rumah. Setelah itu aku masuk,ketika ingin masuk aku disambut dengan senyuman yang merekah diwajah orang-orang ini. Senyum yang jarang tak pernah ku lihat saat ini aku dapat melihatnya kembali. Bukan tak senang aku justru sangat senang namun dibalik itu ada yang mengganjal dihatiku tak tenang. Segera aku tepiskan bayangan jelek itu.
"Assalamualaikum"- salamku ketika memasuki rumah.
"Waalaikumsalam"- aku menyalami mereka satu-satu mulai dari nenek, kakek, Oom, Tante ,pde ,bude dan kerabatku yang lain. Setelah bersalaman nenek memanggilku untuk menemuinya di kamar.
"Nenek ada apa memanggil gea untuk masuk ke dalam kamarnya nenek"- tanyaku.
"Gea cucuku kemarilah duduk disamping nenek"- ujarnya menepuk kasur tanda menyuruh ku duduk disitu. Wanita berambut putih itu membelai kepalaku dengan lembut. Dapatku lihat diwajah keriputnya menandakan usianya sudah sangat tua, namun wajah boleh tua tetapi semangat beliau masih seperti anak muda. Senyum yang selalu terulas diwajahnya membuatku tenang, rasa kasih sayang yang beliau berikan kepada semua cucunya, entah kapan akan direnggut oleh waktu, tak ada yang tahu kapan ajal akan datang menjemput hanya Allah yang tahu. namun aku selalu berdoa semoga beliau selalu diberikan kesehatan.
"Kamu cucu kesayangan nenek Gea. nenek sangat menyayangimu dan semua saudaramu. Kamu gadis yang cantik diusia muda yang saat ini kamu sudah sangat matang untuk membina hubungan kejenjang pernikahan apakah kamu tidak menginginkannya??"- tanya nenek. sudah sering sekali nenek bertanya padaku kapan aku menikah dan kali ini beliau kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Nek zahra ingin sekali menikah seperti teman-teman gea namun Gea ingin bekerja dan membahagiakan orang tua Gea terlebih dahulu baru Gea akan menikah"- jawabku tenang.
"Gea jika kamu sudah memiliki dambatan hati maka segeralah kamu menikah. Nak menikah bukan hanya sekedar menikah tetapi menikah itu juga adalah ibadah yang wajib kita laksanakan juga."
"Gea tahu itu tetapi Gea belum menemukan yang cocok sesuai dengan kriteria calon imam yang Gea inginkan nek"
"Jika sudah ada apakah kamu akan menolaknya??"
"Insyaallah Gea akan menerimanya jika memang pilihan Allah sudah datang menemui Gea. meskipun hari ini pilihan Allah datang saat ini juga maka Gea akan menerimanya. Gea akan mencintainya karena Allah nek"
"Alhamdulillah. nenek senang mendengar jawabanmu. Baiklah bersiap-siaplah cucuku sebentar lagi ada tamu besar datang kemari. Kamu harus terlihat cantik dan menarik"
"Gea hanya akan memperlihatkan kecantikan dan kemenarikan Gea kepada dia yang sudah sah menjadi mahram gea nek. bukan kepada mereka yang bukan mahram Gea"
Nenek tersenyum" Nenek Bangga padamu. yasudah temui saudaramu yang lain sana ayo cepat"- suruh nenek padaku dan aku hanya mengangguk.
Semua kerabat besarku tengah duduk sambil berbincang-bincang diruang keluarga. Suara tawa dan keributan mereka menggema ditelingaku. Aku mengambil posisi duduk disamping saudara sepupuku yang bernama Maura.
"Ehh kak Gea. apakabarnya??"- tanyanya tersenyum.
"Alhamdulillah dek baik"
"Cieee yang bentar lagi jadi istri orang"- cibir azrel pria manis yang masih duduk dibangku 3 SMK jurusan perkantoran.
Aku mengerutkan kening tak paham maksudnya. Ada apa ini mengapa hari ini aku dibuat bingung dengan ini semua. "Maksudnya kamu??"- tanyaku serius.
"Sudahlah kak nanti kamu juga akan tahu"- sahut Maura.
"Tamunya sudah datang!! tamunya sudah datang!!"- teriak Oomku memasuki rumah dengan gembira.
"Tamu siapa sih?"- tanyaku dalam hati.
"Gea bersiaplah nak, ayo Maura ajak kakakmu untuk bersiap nanti ketika kakakmu dipanggil ajaklah ia untuk keluar menemui semua orang disini"- ujar ibu. Aku hanya diam melongo seperti orang cengo. terlihat bodoh mungkin tapi jujur aku benar-benar pusing dan tidak paham acara apa ini sebenarnya dan arghh sudahlah ikuti saja alur cerita ini.
Aku memasuki kamar tamu bersama Maura. wajahku terlihat seperti orang kebingungan yang sedang mencari kebenaran dibalik kejadian hari ini. Ditambah kini Wajahku terkena sedikit polesan make up yang terlalu membahenol. Izhh menyedihkan seperti bukan diriku saja. Aku menghapus semua make up ini menggunakan tisu basah.
Maura yang melihatku hendak menghilangkan make up, ia mencoba menahan tanganku" Ada apa ini kak Gea!? mengapa kamu menghapus make up mu??"- tanyanya
"Maura aku tidak suka makeup ini terlalu tebal dan mencolok sekali aku tidak suka. lebih baik begini saja terlihat natural dengan polesan bedak dan lipstik yang tipis ini jauh lebih baik"- jawabku.
sementara Maura ia menggeleng tak percaya ketika melihatku menghapus semua make up ini. "Aneh banget kamu kak!!"
"Tapi cantik begini terlihat cantik alami natural dari dalam dari pada dengan makeup yang menor bahenol itu malah seperti badut"- sahut azrel masuk ke kamar bersama nenek.
"Maura ayo keluar bunda kamu manggil tuh. kamu disuruh bantuin yang lain didapur" kata azrel.
"Baiklah"- kini Maura dan azrel telah keluar dari kamar dan tinggallah aku bersama nenek dikamar hanya berdua saja.
"Ada apa ini nek? sebenarnya apa yang sedang terjadi??"- tanyaku pada nenek karena salah satu orang yang dapat menjawab pertanyaan ku dengan jujur hanyalah nenek.
"Maafkan kami nak, kami berencana untuk menjodohkanmu dengan cucu sahabat nenek. Tenanglah percaya pada nenek dia itu pria yang baik walaupun dia lebih suka diam daripada berbicara tetapi pemikirannya sangatlah baik dan dewasa. Insyaallah dia adalah calon imam yang sesuai dengan kriteria mu Gea."
"T-tapi nek kenapa harus sekarang?? kenapa begitu cepat sekali"
"Gea jodoh dan maut tidak ada yang tahu kapan akan datang. Didunia ini banyak sekali orang lebih setia menantikan kehadiran jodoh mereka ketimbang ajal mereka. Mereka semua berlomba-lomba untuk mengejar dan mencari dimana jodoh mereka berada dan melupakan bahwa yang sebenarnya dekat dengan mereka adalah ajal mereka sendiri. Nenek tahu kamu lebih setia memilih untuk sendiri dan lebih mendekatkan dirimu pada Allah dan mencintai Allah sebelum kamu mencintai ciptaannya. Tetapi Gea jika jodoh calon imam dan istri pilihan Allah sudah datang menemui kita apakah kita akan menolak?? tidak bukan. Maka terimalah dia sebagai calon imammu dan cintailah ia Karena Allah begitu juga sebaliknya."- jelas nenek padaku. Namun aku masih tidak percaya dengan ini semua, bisa-bisanya mereka merencanakan ini semua begitu rapi sedang aku tidak mengetahuinya.
"Ibu ajaklah Gea untuk segera keluar kamar"- Ucap tanteku.
"Ayo tersenyumlah"- kata nenek. aku pun tersenyum paksa.
Diruang tamu aku melihat semua orang tengah duduk diam dengan wajah yang tegang. Aku mengedarkan pandanganku ke setiap penjuru ruangan mencari keberadaan seseorang yang akan menjadi calon imamku. Aku tidak menemukan keberadaannya namun aku menemukan sosok seorang pria asing yang datang ke tempat fotokopianku pagi tadi. Aku mengerutkan kening bagaimana bisa pria itu ada disini, ia duduk diantara dua orang tua entah siapa semua orang asing ini, aku benar-benar heran untuk sekian kalinya lagi dan lagi.
"Kemarilah nak, duduk disamping ayah"- panggil ayah padaku. aku menghampirinya, ku tundukkan wajaku Karena pria itu duduk tepat didepanku. Aku melihat disekelilingnya begitu banyak bingkisan dan hadiah yang dibawa.
"Gea perkenalkan pria yang didepanmu itu adalah calon imammu. Namanya adalah Muhammad Arsalan Putra Syahreza. panggilannya Arlan"- Aku terkejut bukan main bagaimana bisa pria yang baru saja ku temui sebagai pelanggan ku kini ia akan menjadi calon imamku. Ya Allah sungguh rencanamu sangatlah indah dan tak terduga dan ternyata benar sehebat apapun rencanamu, takdir Tuhan tidak akan terkalahkan.
Sosok pria yang tak pernah ku inginkan namun hanya keimanannya saja yang selalu aku pinta padamu kini engkau menghadirkannya dalam kehidupanku bukan hanya sekali namun selamanya hingga Jannah.
"Yang disampingnya itu ada kedua orang tuanya, calon mertuamu. nama mereka adalah bapak Abbas Syahreza dan ibu Anggun Putri Antika. ayo bersalamanlah dengan mereka"- Aku menyalami tangan kedua calon mertuaku secara bergantian.
"Baiklah mari pak kita langsung saja memulai acara proses lamaran ini"- Terasa tercekat sekali tenggorokan ini. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, aku melirik ke arah ayah. Ayah yang tahu bahwa diriku sangatlah tegang. Ayah menepuk pundakku pelan.
Aku membuang nafasku pelan. Sedangkan pria dingin itu dia terlihat santai sekali, apakah benar dia sangat menginginkan pernikahan ini?? Ya Allah semoga ini benar-benar kenyataan bukanlah mimpi. Pria itu meraih tanganku tiba-tiba, sontak aku kaget dan langsung menepisnya. Ia mengerutkan keningnya, aku tertunduk ketika ia menatapku" M-maaf saya hanya terkejut saja"- ucapku gugup.
Dia mengulurkan tangannya didepanku, Apa yang harus aku lakukan, aku tak bisa menyentuh tangan itu walau sebentar lagi ia akan menjadi suamiku namun untuk saat ini kami masih bukan mahram. Ingin aku teriak namun tak bisa lidah terasa kelu yang mampu aku lakukan hanya melirik ayah saja.
"Tak apa tenanglah nak sebentar lagi kalian juga akan sah. Ayo terima uluran tangannya"- bisik ayah
"Ayolah kak Gea cepat terima ulurannya. Apakah harus aku yang meletakkan tanganmu agar menyatu dengannya"- seru azrel.
"Kamu ini diamlah dasar berisik"- omel Maura.
"Ayolah Gea terima tangan itu"- ucap semua orang mendesakku untuk menerima tangan itu menyentuh tanganku untuk pertama kalinya.
Dengan ragu dan sangat pelan aku serahkan tanganku padanya, aku beristighfar dan bersholawat berulang kali ketika ia menyentuh tanganku. Ya Allah maafkan hamba ini karena telah mengizinkan pria calon suami hamba menyentuh tanganku walaupun hanya untuk sebentar tetapi hamba mohon maafkan hambamu ini ya Allah.
Ya Allah apakah benar ini rasanya cinta?? mengapa rasa ngilu sekali dihati, seperti tersengat listrik. Apakah pria itu merasakan yang aku rasakan untuk pertama kalinya dalam hidupku??
Akhirnya cincin terpasang sudah dijari manisku. Sedikit aku ukir senyum diwajahku begitu juga dengan semua orang yang datang menyaksikan acara pertunangan ini. Walaupun mendadak tapi syukur Alhamdulillah acara ini berjalan dengan lancar.
Hari semakin larut malam. Semua orang sudah pulang kerumah masing-masing begitu pun dengan kerabatku yang lain kecuali Maura dan Azrel, mereka berencana untuk menginap dirumah nenek.
"Pak Azka kami pamit pulang. Terimakasih anda sudah menerima putra kami sebagai menantu anda"- ujar pak Abbas ayah calon mertuaku.
" Kamilah yang seharusnya berterimakasih. Nak Arlan jika nanti putri saya telah sah menjadi istrimu, Terimalah putriku dengan segenap hati dan cintailah dia karena Allah. Saya percaya anda bisa menjadi pemimpin dan imam yang baik untuk putri saya"- ujar ayah pada pria dingin itu.
"Insyaallah pak"- jawabnya singkat.
"Kami pulang dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"- jawab keluargaku kompak.
🚗🚗🚗
POV ARLAN
Sesampainya aku di rumahku setelah acara pertunangan itu, Arghh lelah sekali diriku ini bahkan disana aku tak bisa diberi kesempatan saja hanya untuk beristirahat. Aku memasukkan mobilku ke dalam garasi lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sesampainya aku dikamar, ku rebahkan sejenak tubuhku diatas kasur. Aku pandangi langit kamar, sedikit terulang kembali kejadian tadi, bayangan wajah gadis itu selalu membayangi pikiranku. Owh ayolah mengapa ini terjadi??
Gadis cantik, baik dan Sholehah. Pantas saja Oma dan ayah, bunda menyetujui perjodohan ini. Apakah dijaman modern ini masih membahas tentang perjodohan?? dasar kuno sekali!!
"Sudahlah lebih baik aku mandi untuk merilekskan pikiran, lalu istirahat."- monologku ketika melihat langit kamar.
5 menit kemudian
Kini badanku jauh lebih segar dari sebelumnya. Aku meraih bajuku dalam lemari, Aku mengenakan kaos oblong hitam dan sarung. Sudah terbiasa aku mengenakan sarung Karena lebih nyaman ketimbang celana jeans itu.
Ku bentangkan sajadahku untuk melaksanakan sholat malam. Seusai sholat aku kembali terhanyut dalam setiap doaku. Percakapan rahasia diantara aku dan maha pencipta Alam semesta ini, Tak ada yang tahu percakapanku terkecuali Allah yang maha mendengar dan maha melihat. Aku percaya doa yang dipanjatkan ke langit takkan kembali dalam keadaan kosong, Doa kita akan segera terjawab apabila kita selalu berusaha mendekatkan diri kepada- Nya dan selalu berikhtiar. Dan sudah ku buktikan pada hari ini, Allah mengirimkan dia sebagai bidadari surgaku.
Entah ini untuk pertama kalinya aku menyentuh tangan seorang wanita yang bukan mahramku, terasa seperti hati bergetar ketika tangan lembut itu ku sentuh. Apakah ini yang namanya ketika cinta bertasbih??
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ya Allah ini aku hambamu, datang ke hadapanmu memohon ampun atas semua dosa dan perbuatanku baik dimasa lalu maupun masa depan dan masa yang akan datang. Ya Allah sesungguhnya hanya engkaulah tempat satu-satunya hamba untuk memohon pengampunan, Maka ampunilah dosaku ya Allah.
Ya Allah ya Tuhanku. Terimakasih Engkau telah mempertemukanku dengannya, jodohku yang memiliki nama yang engkau sandingkan dan engkau takdirkan ia bersamaku. Ya Allah restuilah jalan yang hamba pilih ini, semua hamba lakukan semata hanya untuk mengharapkan keridhaan- mu ya Allah. Jika benar dia wanita yang engkau pilihkan untukku dan aku pria yang engkau pilihkan untuknya maka lancarkanlah segala tujuan baik ini. Jadikanlah hamba sebagai suami yang baik dan menjadi pemimpin baginya dunia-akhirat dan jadikanlah pula ia sebagai istri dan bidadari surgaku yang baik dan satukanlah kami kembali ke dalam surga- mu bersama selamanya hingga Jannah. Aamiin Ya Rabbal Alamin"- setelah berdoa ku sapu wajahku dengan lembut.
Aku lipat kembali sajadahku dan ku letakkan pada lemari kecil yang bersanding dikasurku. Aku pejamkan mataku lalu tertidurlah aku masuk kedalam dunia mimpi