Malam yang diiringi dengan guyuran hujan beserta petir yang menyusul, menjadi latar belakang suasana di waktu itu. Suara dentuman yang begitu keras terdengar dari atas langit sana. Natasya diam dalam sebuah rumah yang ditinggalinya seorang diri. Ia hanya duduk di bak mandi yang berisakan setengah air di dalamnya.
Hujan sudah lama turun dengan petir yang menyambar. Kilatan tak luput dari pandangan seorang Natasya. Tetapi wanita itu tetap tenang, meski beberapa kali cahaya yang muncul dalam sekejap itu tiba menembus kaca jendela.
"Hujan turun dengan lebatnya. Petir menyambar dengan kuatnya. Dan kilatan muncul dengan cepatnya." kata Natasya dengan nada rendah.
Jam dinding menunjukkan pukul tengah malam. Suasana rumah yang sangat sepi. Hingga penerangan seadanya. Keadaan rumah yang begitu menyeramkan bila ditinggali sendirian.
Natasya menunduk tanpa mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya. Di dalam bak mandi sedari tadi, ia merenung di sepanjang waktu yang ada.
Rambut panjang yang terlihat acak-acakan dengan bekas luka di beberapa bagian, membuat Natasya tampak seperti tak terurus dengan baik.
Sudah dua jam lamanya ia berada di kamar mandi. Tubuhnya mulai merasakan dingin dengan tanda awal gigi yang sudah gemetaran. Wanita itu akhirnya menyudahi renungan di dalam bak mandi tersebut. Ia berjalan keluar kamar mandi dengan mengenakan handuk putih. Ruangan rumah di dominasi oleh kegelapan. Hanya beberapa titik saja yang di sinari cahaya lampu.
Natasya melangkah dengan santainya menuju sebuah ruangan. Berpakaian lalu lanjut berjalan.
Rak buku besar dan juga meja ada di hadapannya. Ia pun duduk sambil mengambil sebuah buku usang.
"Sudah ku kerjakan semua. Jadi saat ini aku bisa bersantai untuk beberapa masa." ucap Natasya seraya membuka buku.
Mengambil sebuah alat tulis di dalam laci meja. Terdengar suara gesekan besi di dalam laci yang baru saja dibukanya itu. Kemudian Natasya mulai menggerakkan alat tulis tersebut diatas lembaran buku usang tersebut. Setelah itu, ia menutup buku dan menaruh kembali kedua benda itu ke masing-masing tempat.
"Saatnya beristirahat." tutur Natasya.
Menutup laci dengan kuat, membuat salah satu benda yang ada di dalam laci pun keluar dan jatuh ke lantai. Natasya membiarkannya dan pergi menuju kamar.
Saat berjalan menuju kamar, ia melewati sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Membuka pintu dan melihat isi dari ruangan tersebut.
"Selamat tidur semua." ucap Natasya dengan senyum tipis.
Tampak beberapa tangan dan helaian rambut berada di ruangan yang hampir sepenuhnya gelap itu. Natasya kembali menutup pintu dan pergi menuju kamar.
"Selamat malam, duniaku."
Seisi rumah seketika langsung gelap sepenuhnya. Termasuk ruang menulis tadi yang menyisakan tancapan pisau di dasar lantai.
-----SELESAI-----