Kehidupan tak luput dari yang namanya waktu. Dan kehidupan juga dipenuhi dengan berbagai aturan yang berlaku. Entah dari segi manapun itu pasti selalu ada. Berharap hidup sebebas-bebasnya, tetap tidak akan bisa terealisasikan dengan baik.
Angel berjalan pulang usai menyelesaikan kegiatan sekolahnya. Melanglah di trotoar lurus sembari berpikir akan kehidupannya.
"Apakah hidupku akan selurus jalan ini, bila diriku ingin merasakan kebebasan tanpa batas?"
Hari yang sudah sore itu menandakan latar waktu, dikala Angel juga merasa kesehariannya berjalan dengan begitu cepat.
"Waktu yang singkat serta hidup yang dipenuhi aturan. Apakah ini yang namanya kehidupan nyata?" pikir Angel.
Menenteng tas di pundak sembari menatap ke sebelah. Langkahnya terhenti sejenak, setelah melihat sebuah kedai minuman sedang buka di dekatnya.
"Bau alkohol. Ini tidak termasuk dalam aturan kan? Bisakah aku merasakan kebebasan di bagian ini?"
Angel awalnya berniat ingin masuk ke tempat itu, akan tetapi ia seketika sadar lantaran dirinya masih memakai seragam sekolah dan juga teringat bahwa dia masih dibawah umur soal konsumsi alkohol. Pada akhirnya Angel pun mengurungkan niatnya tersebut.
"Lagi-lagi masalah aturan. Hidup memang tidak bebas ya."
Perempuan itu berjalan terus menuju kediamannya. Dan sesampainya di depan pintu rumah, Angel melihat seorang tetangganya keluar dari sebuah rumah.
Seorang lelaki yang lebih tua darinya itu, tengah membawa sebuah kantong yang tampak sangat berat. Angel pun penasaran dengan barang bawaannya tersebut. Jadi ia coba untuk mengikuti orang tersebut.
"Orang itu jarang sekali kulihat keluar rumah. Dan benda apakah yang dibawanya itu? Tampak sangat banyak dan berat." gumam Angel.
Angel membuntuti tetangganya itu hingga sampai di sebuah tempat.
Belum sempat memasuki sebuah bangunan didepannya, Angel langsung ketahuan oleh tetangganya tersebut.
"Aku tahu kalau kamu mengikutiku dari tadi. Apa yang kamu inginkan?" tanya tetangganya itu pada Angel.
"Celaka! Aku ketahuan sama dia." bisik Angel.
Angel pun langsung di datangi oleh tetangganya tersebut. Kemudian mereka berpindah tempat di sebuah taman bernuansa sepi.
"Jadi kamu penasaran dengan apa yang aku bawa ya?"
"Benar. Memangnya apa yang kamu bawa itu? Sebab aku melihatmu membawanya dengan sedikit susah payah." cakap Angel.
Tetangganya yang diketahui bernama Mario itu langsung memperlihatkannya pada Angel mengenai barang bawaannya yang cukup berat tersebut. Perempuan itu melihatnya dan seketika terkejut dengan salah satu benda yang ada di dalam kantong.
"Kamu punya buku komik ini?"
"Iya. Ada apa?" tanya Mario.
"Ini kan komik yang banyak dibaca perempuan. Kenapa kamu malah membacanya juga? Bukankah kamu ini seorang laki-laki?" tanya Angel.
"Benar. Aku hanya ingin membacanya. Tidak ada larangan juga kan soal ini? Lagian ini tidak memberikan pengaruh buruk terhadapku. Dan juga kenapa perempuan membaca sebuah komik yang dominasi pembacanya adalah laki-laki?"
"Soal itu.. Kan tidak apa-apa. Anak perempuan juga suka tema aksi dan semacamnya." jawab Angel.
"Tidak ada salahnya kan? Ini hanya soal membaca. Tidak ada larangan mau genre apa yang kamu baca. Entah itu romansa atau pun aksi. Jangan terpaku pada dominasi gender pembaca saja." jelas Mario.
"Hmm... iya sih."
"Kamu mau membacanya? Aku pikir kamu membutuhkan benda ini." ucap Mario.
"Bolehkah?"
"Ya. Ini akan kuberikan padamu. Ambilah."
senyum Mario pada Angel yang ada di sebelahnya.
"Terima kasih banyak."
Angel merasa senang. Karena dirinya bisa melengkapi seri komik yang selama ini di kumpulkannya sejak lama.
"Akhirnya seri dari komik ini berhasil aku miliki semua."
"Kamu sebelumnya sempat kehabisan ya?" tanya Mario.
"Iya. Karena banyak sekali yang membelinya waktu itu." kata Angel diselingi helaan nafas.
Mario bangkit dari posisi duduknya. Dan Angel mengikuti geraknya.
"Saatnya aku pergi. Hanya itu saja kan yang kamu inginkan?"
"Hmm sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa?" tanya Mario.
"Kehidupan ini penuh dengan aturan. Lalu apakah kita bisa hidup bebas di dalamnya?"
"Tentu saja." balas Mario.
"Tetapi aku tidak merasa begitu. Aku ingin hidup sebebas-bebasnya tanpa aturan yang mengekang." kata Angel pada Mario.
Mendengar perkataan dari Angel barusan, membuat Mario melangkah sedikit lebih dekat ke arah perempuan berseragam sekolah itu.
"Hidup tanpa aturan maksudmu!" Tanya Mario.
"Benar."
"Kita bisa hidup bebas. Namun bukan berarti tanpa aturan juga."
"Bukankah berarti itu termasuk tidak bebas juga?" tanya Angel kebingungan.
"Kamu bisa hidup bebas saat ini sesuai dengan norma-norma kehidupan yang ada. Mau sebebas apapun bila tanpa aturan yang mengontrol kehidupan, aku tidak yakin bahwa hidup seseorang bisa berjalan dengan lancar kedepannya." ungkap lelaki tersebut.
"Kenapa begitu? Kan melakukannya sesuka hati sesuai dengan apa yang dia mau. Tidak salah kan?" balas Angel.
"Disitulah kesalahannya. Hidup sesuka hati tanpa memikirkan dampak apa yang akan didapatkan nanti, sama saja dengan membuat kacau kehidupan seseorang itu sendiri."
Angel terdiam dan memikirkan ucapan dari Mario tersebut.
"Kita ambil contoh seorang pejudi. Dia hidup sesuka hati dengan melakukan apa yang di inginkannya. Lalu suatu waktu dia mendapat rugi atas tindakan yang dilakukannya itu. Sehingga bisa jadi dia tidak hanya merugikan dirinya sendiri, melainkan keluarganya juga turut serta terkena efek tersebut. Sederhana bukan?"
"Iya. Sangat sederhana."
"Akan tetapi bila seperti membaca buku komik ini. Bukankah..."
Mario memotong ucapan Angel dalam sekejap.
"Sudah aku bilang dari awal. Jangan karena dominasi pembaca dan asalkan tidak memberi pengaruh buruk, tidak apa-apa. Mengerti?" tutur Mario
"Hmm.. Oke." balas Angel singkat.
Setelah berbicara cukup lama, Mario memutuskan untuk pergi dari taman itu sambil membawa kantong yang berisikan benda-benda yang akan di jualnya. Berpamitan lalu melangkah menjauhi Angel yang masih diam di tempat.
Tapi beberapa saat kemudian...
"Bagaimana pendapatmu mengenai aturan berpakaian seperti rok misalnya? Bukankah ini dirasa mengekang dimana laki-laki hanya bisa memakai celana yang merupakan satu tipe bawahan saja?" tanya Angel dengan cepat.
"Ya tuhan tolonglah hamba!" Mario menghela nafas dengan kuat sambil mengelus dada.
-----SELESAI-----