"Benar-benar menyebalkan!” umpatku dalam hati. Dengan perasaan kesal aku mengerjakan tugas piketku sendirian. Harus membersihkan kelas, membuang sampah dan menyerahkan buku tugas di ruang guru. Tugas itu semua aku yang mengerjakan, sedangkan temanku yang hari ini piket bersamaku sudah pulang terlebih dahulu. Bagaimana bisa jadi menyebalkan seperti ini? Dengan cepat aku menyelesaikan semuanya agar tidak pulang terlalu gelap.
“Akhirnya...selesai juga,” kataku sembari meyeka keringat di dahiku yang hampir bercucuran. Dengan segera aku meraih tas ranselku yang ada di meja dan melangkahkan kakiku untuk pergi meninggalkan kelas dengan perasaan agak tenang. Hari mulai gelap, di koridor kelas yang saat ini aku lewati tampak sunyi dan sepi, banyak murid yang sudah pulang, tapi masih ada juga murid-murid yang saat ini sedang melakukan kegiatan ekstra kurikuler.
“Eh?” Ketika aku melewati ruang musik, tiba-tiba saja terdengar suara dentingan piano dari dalam ruang musik. Aku pun langsung menghentikan langkahku, karena penasaran siapa orang yang memainkan piano itu, aku pun berjalan mendekati pintu ruang musik itu. Pintu itu terbuka sedikit sehingga dapat membantuku untuk mengintip siapa orang yang bermain piano itu. Tapi, tiba-tiba...
“Kreeek...”
“Eh?” Tanpa sengaja aku menyenggol pintu itu dan akhirnya pintu itu terbuka dengan lebar. Orang yang bermain piano itu langsung menghentikan permainannya dan menoleh ke arahku.
“Ma...Maaf, a...aku tak sengaja,” kataku dengan gugupnya.
Aku tak menyangka, ternyata orang bermain piano tadi adalah seorang cowok. Aku belum pernah melihatnya di sekolah. Rambutnya yang lurus dan berwana hitam legam itu sangat cocok dengan kulit wajahnya, tapi wajahnya tampak putih pucat dan tatapan matanya terlihat kosong. Entah kenapa saat menatap wajah lelaki itu, bulu kudukku berdiri dengan sendirinya.
“Tak apa,” katanya sembari tersenyum singkat. Rasanya ketika melihat senyumannya membuatku agak takut.
“Boleh aku masuk?” tanyaku meminta ijin padanya. Dia hanya menjawabnya dengan anggukan pelan. Tanpa pikir panjang aku pun langsung masuk ke ruang musik yang suasananya agak mengganjal dan tampak suram. Padahal biasanya tak seperti ini, apa mungkin karena langit sudah mulai gelap?
“Oh iya, perkenalkan, namaku Hana. Aku kelas XI-B,” ujarku ketika aku sudah ada di hadapannya sembari mengulurkan tanganku untuk mengajaknya berkenalan. Dia pun menjabat tanganku. Eh? Telapak tangannya terasa dingin sekali seperti es.
“Arka,” katanya dengan singkat dan kembali tersenyum kepadaku.
Aku juga membalasnya dengan senyuman. Aku pun melepaskan jabatan tangannya, karena telapak tanganku terasa kedinginan. Bola matanya yang berwarna kecoklatan itu terlihat sayu ketika memandangku. Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah buku not yang terpajang di atas blok-blok piano.
“Arka juga anggota klub musik?” tanyaku lagi. Dia hanya mengangguk pelan tanpa melihat ke arahku.
“Tapi, aku kok pertama kali melihatmu? Kau murid di sekolah ini kan?” tanyaku untuk memastikannya. Pertanyaan dariku membuatnya langsung menoleh ke arahku.
“Iya,” jawabnya dengan singkat. Setelah itu dia fokus kembali pada buku-buku not itu.
“Hmm...dia tipe cowok yang cuek,” kataku dalam hati memberi kesan atas sikapnya padaku.
Aneh! Serasa ada magnet yang menarikku untuk terus memandanginya. Dengan perasaan tenang dia memainkan blok-blok piano itu. Dia memainkan piano itu dengan nada klasik. Dentingan-dentingan suara yang dihasilkan dari piano itu sangat indah, dia memainkannya penuh dengan perasaan sehingga membuatku begitu terkesima dengan permainannya.
“Waaah...Arka hebat!” kataku dengan spontan dan penuh dengan semangat ketika dia sudah berhenti memainkan piano itu.
“Thanks,” jawabnya sambil menoleh ke arahku.
“Musik klasik yang Arka mainkan tadi judulnya apa?” tanyaku dengan sedikit penasaran.
Melalui tatapannya seakan-akan aku terikat oleh tatapan matanya yang terlihat kosong itu. Kemudian dia tersenyum, dan senyumannya benra-benar membuatku merinding dan agak takut. Ini aneh!
“Itu ciptaanku,” jawabnya.
Eh? Aku sangat terkejut mendengarnya, dia bisa menciptakan musik seindah itu? Benar-benar orang yang hebat.
“Waaah...Arka memang hebat! Ng...tapi sudah ada judulnya, kan?”
“For You.”
Aku hanya bisa diam dan aku merasa judul itu sangat cocok untuk musik seindah itu. Yang pasti mengandung arti yang begitu dalam bagi Arka.
“Hei, kau sudah dengar cerita itu belum?”
Eh? Tiba-tiba di luar terdengar suara orang berbincang-bincang. Aku pun membalikkan tubuhku ke arah pintu ruang musik yang terbuka sedikit dan menampilkan dua siswi yang sedang berdiri di depan pintu ruang musik. Mereka tidak bisa melihatku maupun Arka.
“Cerita apa sih?”
“Itu...cerita tentang Arka yang dari klub musik."
Gosip tentang Arka? Entah kenapa itu membuatku jadi penasaran, mereka tidak tahu bahwa di sini ada Arka.
“Memangnya dia kenapa?”
“Kau benar-benar tidak tahu? Beberapa bulan yang lalu dia menciptakan nada klasik untuk orang yang disukainya sih.” Oh, ternyata hanya itu gosipnya.
‘Tapi kenapa aku juga tidak tahu tentang soal itu, ya?’ tanyaku dalam hati.
“Kau tahu? Tiga hari yang lalu dia kecelakaan dan akhirnya meninggal di tempat.”
A...apa? Aku sangat terkejut mendengarnya. Berarti...Arka yang ada di belakangku saat ini sudah meninggal? Jantungku yang berdebar kencang, keringat dingin mulai membasahi dahiku dan juga bulu kudukku mulai berdiri lagi. Aku tak bisa bergerak dan tubuhku terasa kaku.
“Katanya, setiap pulang sekolah banyak siswa yang mendengar suara piano dari klub musik, dan ketika dilihat tak ada siapapun bahkan ruangannya pun gelap. Nada yang mereka dengar sama persis dengan yang diciptakan Arka. Sangat mengerikan, bukan?”
“Hei, jangan membuatku takut! Ayo, kita cepat pergi dari sini!” kata salah dari mereka dan setelah itu mereka berlari meninggalkan kami. Suasana menjadi hening dan mencekam. Ya Tuhaaan...aku takut sekali.
Dengan segenap keberanianku, aku membalikkan badanku ke arah Arka, dia masih menatapku dengan pandangan kosong hingga aku tak mampu berkata-kata. Dia tersenyum padaku dan sedetik aku mengedipkan kelopak mataku tiba-tiba dia sudah tidak ada di hadapanku. Aku langsung tersadar bahwa dia sudah meninggalkanku sendirian. Tak ada siapapun kecuali diriku di dalam ruang musik. Aku sama sekali tak menyangka bisa mengalami kejadian yang begitu aneh ini.
“Srrr...” suara hembusan angin dari jendela tiba-tiba menerpa tubuhku dan berhembus ke ruang musik ini sehingga membuat suasananya menjadi menyeramkan apalagi langit sudah mulai gelap. Dengan perasaan takut, aku langsung berlari meninggalkan ruang musik itu.
***