Aku ingin bercerita sebentar. Baru saja ku temui seorang wanita yang berjalan dengan anggun mengenakan sepasang high heels berwarna hitam dan atasan gaun berwarna hitam. Warna rambutnya hitam dengan sedikit blonde di ujung rambutnya. Wajahnya terlihat begitu murung dan tak terlihat sedikit pun rasa peduli dengan ramainya suara gemuruh hujan dan petir. Aku bertanya-tanya kenapa wanita secantik itu hanya diam sendirian disana. Baru saja terlintas di kepalaku untuk mendekatinya. Tapi, seseorang tiba-tiba saja merangkul ku dan mengajakku pergi dari ruangan itu. Orang itu adalah sahabatku, Rangga namanya. Dia tak sadar akan niatanku untuk menghampiri wanita itu. Dia terus merangkul ku sembari bernyanyi di sepanjang jalan. Suara nyanyiannya terdengar sayup bersamaan dengan suara hujan yang terus jatuh menetes dan di makan tanah.
Sambil beberapa kali ku tengok ke belakang. Gadis itu masih tetap diam dan tiba-tiba saja ia melirik ke arahku dengan pandangan yang misterius. Aku terheran-heran. Mengapa dia menatapku dengan setajam itu.
“Jangan lihat wanita itu lagi ! Dia wanita gila. Dia datang sendirian ke cafe dan hanya berdiam diri sampai semua orang pergi.“ ucap rangga sambil menepiskan wajahku.
Rintikan hujan mulai berkurang sedikit demi sedikit. Cahaya surya juga datang dengan mengintip perlahan menyinari dedaunan yang basah dan lembap. Suara kicauan burung terdengar mengisi kehampaan jalanan yang sunyi. Kini, hanya tinggal aku dan rangga yang berjalan menyusuri jalan ini. Tak selang beberapa menit, seorang nenek tiba-tiba saja datang menghampiri kami dari balik pohon beringin yang tangkai dan daunnya menjuntai sampai ke tanah. Dia mencoba menawarkan kami dengan dua buah anggur berwarna hitam pekat keunguan. Raka tanpa basa-basi langsung menerima anggur pemberian dari nenek yang tidak di ketahui siapa dan dari mana ia berasal. Sedangkan aku, aku hanya menatap nenek itu dengan tatapan penuh curiga. Nenek itu menyuruh ku untuk selalu membawa anggur itu kemanapun kami pergi. Ku sangka, itu hanyalah sebuah gurauan belaka. Akhirnya, aku dan rangga kembali melanjutkan perjalanan kami. Aku tidak mengerti. Sebenarnya kami akan pergi kemana dan untuk apa? Kami hanya berjalan dan terus berjalan melewati jalan yang sama terus-menerus.
“Rangga, rasanya kita sudah melewati jalan ini tadi. Kenapa kita justru kembali lagi kesini?” tanyaku sembari melihat ke arah sekeliling tempat kami berpijak.
Rangga hanya diam dan terlihat melamun. Sontak ku kagetkan saja dengan memukul punggungnya. Tapi, nampak tidak ada reaksi apapun yang di berikan oleh pria berotot kekar itu. Akupun mencoba menyadarkannya dengan berkali-kali menyebut namanya dengan suara yang lantang.
“Rangga! Rangga! Hei, sadar rangga! Ada apa dengan dirimu?!” teriakku sambil menggoyangkan bahunya.
Tapi, rangga hanya menatapku dengan tatapan kosong yang membuatku merinding tak karuan. Tak biasanya dia bersikap seperti itu,pikirku. Akupun menggandeng tangannya sambil terus berjalan lurus melewati jalan itu. Tapi, sialnya kami kembali ke tempat yang sama berulang-ulang kali. Aku begitu lelah. Hampir saja aku berpikir untuk meminum air kubangan yang berwarna putih jernih itu.
Aku bingung! Aku heran dengan semua yang terjadi. Ada apa sebenarnya ini? Pikirku dalam diam dan teringat akan buah anggur yang di berikan oleh nenek misterius itu kepada kami. Aku masih menyimpannya di dalam saku celana berwarna coklat muda milikku. Ku rogoh kantung itu dengan seksama dan menemukan sebiji anggur berwarna hitam keunguan. Ku makan anggur itu dengan lahap. Tiba-tiba saja kepalaku rasanya begitu sakit. Pandanganku mulai buyar dan tubuhku melemah hingga terjatuh ke lantai jalan.
Tak lama kemudian, pandangan hitam mulai memudar dan terbit sebuah cahaya kecil yang perlahan berjalan mendekat dan membesar memenuhi penglihatan. Ku lihat kedua orang-tuaku sedang duduk di sampingku dengan wajah yang begitu khawatir dan air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata mereka. Beberapa orang tampak duduk sejajar membentuk barisan sembari memegang sebuah buku berisi doa-doa. Mereka sontak kaget ketika melihat seorang pria yang terlihat berselimut kain putih itu tiba-tiba saja membuka matanya dan melirik ke arah sekeliling ruangan.
Aku menangis bercampur rasa malu ketika sadar bahwa tubuhku hanya terbaring dengan berlapiskan beberapa helai kain putih. Hidung dan mulutku sudah di tutupi oleh gumpalan kapas yang membuatku terbatuk-batuk. Ayah dan ibuku langsung beranjak dari tempat duduknya dan berusaha mengeluarkan semua kapas yang berada di wajahku. Mereka menangis dengan tersedu-sedu ketika melihat putra mereka yang hampir meninggalkan mereka tiba-tiba saja kembali untuk memulai kehidupannya yang baru.