Sembilan malam di persimpangan jalan gunung dekat kota, aku masih di sini.
Cukup gila, apa lagi dengan hawa yang sebegini dingin. Kabut-kabut menyelimuti membuat remang, ditambah beberapa pohon. Itu kenapa aku berdiri di bawah lampu trotoar. Jalan juga lebih sunyi. Berkendara dikeadaan ini pasti akan sangat berbahaya, jadi aku berjalan kaki.
Untung saja memakai jaket bulu yang tebal sehingga hawa dingin tidak begitu menusuk. Tapi, ya ... menunggu kedatangan sahabat. Beruntung aku seorang laki-laki dan tinggal sendiri--menyewa kamar--jadi tak masalah keluar malam meski dalam keadaan seperti ini.
Kawan baikku. Kami telah bersama semenjak masih duduk di sekolah menengah ke atas. Jika dipikir-pikir sampai sekarang, aku masih tak menyangka dia bisa menjadi sahabatku.
Orang populer dan memiliki banyak teman ... dengan aku manusia yang sebegini suram. Ahahaha, iya-iya, kita tidak boleh merendahkan diri sendiri. Itu buruk, sungguh. Namun masih tidak habis pikir. Sahabat, bukan hanya sekedar teman. Lebih mengejutkannya lagi, dia yang pertama memilihku sebagai karibnya.
Jika boleh jujur, aku ini pendiam. Maksudku, canggung untuk mendekati orang lain. Hmmm, bukan makhluk sosialis, mungkin itu panggilannya. Lebih tepat disebut introvert. Ini bukan berarti aku benci untuk mencari teman atau sekadar mengobrol dengan orang lain. Tidak. Hanya saja, sulit bisa dekat dengan orang yang belum dikenal.
Menyeramkan. Lebih senang sendiri. Memilih sibuk dengan beda di sekitar, entah handphone atau buku. Setiap bertemu orang aku menghindar. Lagi pula, siapa juga mau dekat dengan orang aneh sepertiku?
Aku sadar, memiliki sifat ini sejak sekolah dasar. Ada masalah keluarga. Orangtua bercerai. Aku hidup hanya dengan Ibu. Walau begitu aku baik-baik saja, meski keributan itu masih terngiang di kepala. Ketika Ayah berteriak, Ibu menangis. Ibu memelototi Ayah, Ayah berwajah murung.
Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang terjadi di umur sebegitu belia, tetapi melihat saja ... teringat hingga sekarang, sehingga aku mengerti. Paham. Sakit. Lebih buruk lagi, Ibu kembali menikah.
Jika dilihat-lihat, lelaki itu benar-benar memperlakukan Ibu dengan baik. Maksudnya, merayu atau memijiti punggung ketika pulang kantor. Iya, Ibu bekerja. Sudah lama semenjak bercerai. Demi memenuhi kebutuhan hidup, tentunya. Namun, Ayah tiriku tidak. Ketika kami berdua di rumah ....
"Apa yang aku pikirkan?"
Cepat aku menggeleng. Bisa-bisanya mengingat kejadian ketika aku dianaktirikan. Jam setengah sepuluh malam. Cukup lama juga menunggu sampai teringat hal tersebut.
Sinetron di TV yang bisa dibilang terlalu melebih-lebihkan, terutama konteks keluarga ketika orang ditidas dan perlakuan pada anak tiri, ada benarnya. Itu masih menyimpan bekas luka: di punggung, kulit, hati. Tak bisa membenci orangtua. Tidak boleh. Jadi kenapa? Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Ditindas, bahkan perkataan ....
Itu sebabnya aku lebih senang diam. Sudah menyerap menjadi kepribadian. Menghindari manusia, memilih sendiri. Ah, orang terbentuk karena kehidupannya. Kamu memiliki sifat seperti ini berdasarkan masa lalumu. Didikan yang terjadi. Maka dari itu sifat kadang susah diubah, tapi tak ada kata tidak mungkin bukan? Oh, sejak kapan aku sebegini optimis? Ahahaha, iya, pasti karena sahabatku.
Pertama aku mengenalnya karena satu club ekskul. Dia cukup periang dan blak-blakan. Bisa disebut menyebalkan. Sungguh, dengan sifat yang terbuka seperti itu, dia mudah mendekati orang lain. Laki-laki, perempuan. Rasanya ingin menjadi seperti dia. Pasti menyenangkan bisa mudah berbaur.
"Aku ingin memakan pankreasmu."
"Ha?! Kamu tahu cerita itu?!"
Aku hanya berbicara pelan, lebih cocok dibilang suatu bisikan tapi spontan dia mendekat. Mencondongkan badan ke arahku. Tentu aku terkejut. Dia sangat dekat, mata cokelat memandang lurus.
H-hei, bukannya akan ada rumor aneh jika sesama jenis berdekatan seperti ini, ma-maksudku ....
Menelan ludah, badanku kaku. Jantung berdebar. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Ya Tuhan, kenapa mendadak seperti ini? Padahal aku duduk di pojokan--walau dia tidak begitu jauh--sampai mendekat seheboh itu. Sudah kukatakan bukan, aku mudah sekali merasa canggung. Apa yang harus aku lakukan? Baru pertama ada orang mendekatiku tiba-tiba.
Tak lama, ekspresi dia berubah melas.
Untung saja ada temannya yang meminta untuk pergi, menepuk pelan pudak dari belakang. Mungkin ... ke kantin? Tapi dia masih dengan wajah sedih. Bahkan sempat melihat ke arahku sebelum benar-benar berpaling. Apa ada yang aneh? Mungkin kata-kata aku menarik perhatiannya.
Besoknya, melakukan hal sama seperti kemarin-kemarin, datang sangat mendekati waktu masuk--padahal aku bisa lebih awal jika mau. Yang berbeda adalah ... dia bersandar pada tembok sebelah pintu.
Dari mana dia tahu kelasku? Ah, tidak perlu diperhatikan. Mungkin menunggu teman. Cepat-cepat aku masuk kelas.
"Tunggu."
Dia mencengkeram tanganku. Langsung aku menoleh. Kali ini tatapan mata cokelat tegas sekali, berbeda dari waktu itu. Ada apa?
"Apa kamu---" Terputus karena suara bell. Ini kenapa aku memilih datang sangat mepet, menghindari masalah.
Aku menarik tangan dari genggamnya. Dia tidak melawan seperti mencoba menghentikanku. Jelas, sudah waktunya masuk. Lagi-lagi dia memasang wajah sedih sebelum berpaling.
Dua hari berlalu, kami jarang bertemu. Mungkin, karena aku terlalu sibuk menghabiskan waktu di perpustakaan? Seperti sekarang. Duduk di bangku belakang, dua blok pada jejeran rak sejarah. Aku suka bau buku, terutama kumpulan buku tua ini.
Aneh, sekarang aku penasaran terhadap dia. Maksudku, kenapa? Kenapa sedih? Padahal hanya berkata---
"Aku ingin memakan pankreasmu, kamu tahu apa artinya?"
Sontak aku menoleh ke asal suara. Dia di sini?! Sejak kapan? Tak lama laki-laki itu menarik bangku kayu yang tidak jauh dari tempat aku duduk.
"Haah, aku suka movie-nya, walau banyak yang bilang kurang menyentuh. Setidaknya ada moral bisa diambil."
Menutup buku, sebenarnya ini tidak dibaca. Hanya sebuah topeng menyamari aku yang terlalu sibuk dengan pikiran sendiri. Mulai memandang dia yang tak henti tersenyum. Begini mungkin cara bisa dekat dengan orang lain. Ramah, maksudku.
"Dalam ceritanya, jika kita memakan bagian tubuh orang yang sakit atau mati, maka orang itu akan bersemayam dalam kita. Ahahaha, aneh, ya? Jadi kanibal. Hih! Tapi, itu hanya istilah. Makna asli ... kita ingin menjadi orang itu, yang dimakan. Kenapa kamu ingin memakanku?"
Sontak dingin merambat. Pertanyaan sangat menuju inti. A-apa yang harus aku katakan? Kenapa dia bisa dengar bisikku waktu itu?
"Kenapa kamu bisa tahu? A-aku duduk jauh dan pelan ...."
"Hey-hey, manusia punya insting yang tajam jika sedang dibicarakan. Satu kosong. Aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang kamu jawab pertanyaanku."
Astaga, bisa-bisanya dia berkata seperti itu dengan wajah lugu! Bergegas aku berdiri. Keluarkan aku dari sini---ugh! Lagi-lagi tanganku digenggam. Erat sekali. Pergerakannya cukup gesit. Bagaimana sekarang?
"Jadi begini, lari dari masalah."
"Ah."
"Aku tahu, ada hal yang susah untuk kita jalani. Aku harap, kamu tidak menilaiku dari luar." Nada suaranya terdengar berbeda. Pelan aku menoleh.
Tatapan itu ....
Jangan menilai buku dari sampulnya. Benar kata-kata itu, tak peduli dalam konteks apa. Kau tahu? Seseorang beranjak dewasa, tegar, dan kuat karena cobaan yang menimpa. Setidaknya itu yang aku pelajari dari sahabatku ini.
Saat pertama kita bertemu memang canggung. Aneh malah. Setelah itu, kami makin dekat. Dia seperti---ah, bagaimana aku menjelaskannya? Seperti ingin menolongku keluar dari sisi gelap?
Kami menjadi sering bersama. Ya, padahal dia punya kelompok teman. Aku sendiri tidak tahu kenapa dia lebih memilih menghabiskan waktu denganku. Padahal, diriku jika dengannya selalu diam. Tidak tahu harus berbicara apa, mengajak apa, tapi ... dia yang selalu memulai aktifitas kami. Maksudnya, menyeretku untuk pergi atau mengajak berbicara suatu topik. Kebetulan juga hobi kita sama. Jarang sekali aku temui seseorang yang memiliki kesukaan persis sepertiku.
Kami menjadi lebih akrab. Aku merasa nyaman berbicara dengannya. Lucu, ya?
Dia memiliki kehidupan yang berat juga. Aku tidak menyangka bahwa dia sempat mengidap suicidal behavior. Dari wajah sebegitu ceria ....
Jangan pernah kamu berkata ingin mati, terus hidup dan jangan menyerah! Betapa bodohnya perkataan itu sungguh tepat.
Nyatanya, aku tidak peduli jika aku sendiri mati. Namun, akan sangat menyedihkan jika orang di sekitarku tutup usia. Kupikir, itu termasuk egois karena aku tidak menyukainya.
Jauh di sana, seseorang mati.
Kita, dibenci oleh kehidupan itu sendiri. Aku juga sempat berpikir, tanpa mengetahui apa makna sebenarnya dari kehidupan ... bahwa sungguh sia-sia untuk terus bernapas. Dengan keadaan seperti ini, apa benar tidak apa-apa jika berkata aku baik-baik saja?
Sendirian di atas kasur. Aku yang sekarang masih muda, akan tumbuh dewasa. Lalu bertambah tua dan perlahan mengering seperti daun berguguran tanpa seorang pun di dunia tahu akan keberadaanku. Mendapatkan tubuh abadi dan hidup sepenuhnya tanpa mati ... aku hanya membayangkan fenomena itu.
Tak mengindahkan jika aku tutup usia, tapi ingin rasanya hidup dengan orang-orang di sekitarku. Terima kasih karena sahabatku ini.
Kupikir, hidup hanya dengan satu orang yang bisa kita jadikan sandaran untuk selalu bersama, maka itu cukup.
Jika kita berakhir sedih, tidak apa-apa. Hanya perlu tertawa bersama. Kehidupan terasa buruk karena sendirian. Tak peduli berapa banyak orang ada di sisi, jika mereka tidak memahamimu, itu sama saja dengan sendiri. Kau mengerti apa maksudku?
Tanpa mengambil suatu makna kebahagiaan, kita terus membenci kehidupan. Mengutuk masa lalu. Kita menyukai ideal suatu kata selamat tinggal terlalu banyak tanpa mengetahui apa makna selamat tinggal yang sesungguhnya, merasa tersakiti karena itu dan menganggap bahwa kehidupan ini sungguh membenci kita.
Kebahagiaan, suatu selamat tinggal, cinta, dan persahabatan; itu semua adalah hal yang bisa dibeli oleh uang ... dengan suatu lelucon yang dibuat oleh mimpi komersil--hal yang asli atau sesungguhnya, tidak ternilai dan terbeli.
"Aku bisa saja mati besok, kau tahu?" Kata-katanya seperti candaan. Sahabatku ....
Namun jika dipikir kembali, itu ada benarnya. Semua bisa saja berakhir tak terkira. Pagi dan malam. Hujan dan panas. Tak tergantikan, seseorang pasti mati. Aku tak butuh mimpi atau bahkan hari esok, tapi jika kamu terus hidup maka itu yang aku perlukan.
Aku tidak sanggup sendiri seperti dulu.
Hal tersebut membuatku teringat akan tawanya saat kita bersama. Persahabatan kami sudah berlangsung delapan tahun.
Ini semua aku pelajari dari dirinya. Dia sudah banyak mengubah hidupku. Aku berpikir, mungkin ini takdir bahwa manusia yang sendiri akan menemukan setitik cahaya dari orang lain. Semua orang muram dan akan ada yang menemani pada akhirnya. Namun, dia menolak pernyataan itu.
"Ini bukan takdir," katanya, "kita sendiri memilih jalan ini."
Aku tidak menyangka dia akan berujar seperti itu. Jika aku pikir ... ada benarnya. Benar, aku yang memilih. Memilih untuk tidak apa-apa bersama dia. Dia juga yang memilih. Memilih untuk dekat denganku. Mungkin itu yang disebut kehidupan, hanya kita sendiri yang bisa mengubahnya.
Ingin bersamaku karena dia sendiri mengalami kehidupan berat. Namun, berhasil melewatinya. Cobaan dan rintangan membuat kita dewasa. Kau sendiri bisa lihat, orang yang sering terjatuh maka lebih kuat daripada yang terus berjalan lurus.
Sahabatku tidak menyesali penderitaan hidupnya. Dia mensyukuri, karena dengan hal tersebut bisa menjadi lebih tegar; bisa menolong orang lain. Itu sebabnya dia ingin menolong diriku.
Aku ... sama seperti dia ketika dulu--katanya. Dia sangat, sangaaaat senang bisa berguna untuk orang lain. Itu membuat eksistensinya lebih jelas dan bermakna. Menjadi tahu, hidup untuk apa.
Akulah yang menyadarkan dia akan hal ini. Maksudnya, sudah kukatakan bukan aku tidak ingin sendiri? Di balik wajah cerianya, dia memiliki pemikiran mengerikan untuk menghilang.
Selalu mencari teman untuk bersama, supaya dia benar-benar mengetahui apa mereka sungguh mengerti dia, benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar kata teman? Topeng yang menyeramkan bukan?
Aku beryukur mengenalnya. Bisa mempelajari banyak hal. Dia sendiri juga dapat merasa dibutuhkan, dan ada. Kadang dia kesepian, menganggap terbuang dari masyarakat.
Aku baik-baik saja jika merasa seperti itu. Aku sendiri yang membuang diriku. Namun jika dipikir ... menyakitkan juga kalau orang memandang kita tak ada, maka dengan hidup; ada atau tidak; sama saja bukan?
Pada akhirnya, kita akan mati.
Kamu akan. Aku akan. Kita akan. Semua manusia akan membusuk seperti dedaunan yang kering. Bagaimanapun juga, kita hidup sekarang. Kita mendapatkan kesempatan untuk bahagia. Mendapatkan kesempatan untuk merasakan senang, teman, menjalin hubungan.
Hiduplah dan hidup. Bukan mengakhirinya. Jika tidak, kita melewatkan tiket satu kali jalan. Maka dari itu dengan waktu ini, setidaknya ingin aku habiskan dengan orang terkasih ... sahabatku.
Jam setengah sebelas. Sudah cukup lama menunggu sampai kakiku kebas, jadinya aku duduk di atas besi pembatas jalan. Jika tidak hati-hati, bisa saja tergelincir ke lembah gunung dan mati konyol. Hahahaha.
Pasti dia sedikit kesulitan untuk mendapatkan izin keluar rumah. Apa aku sudah menyebutkan kalau dia berfisik lemah? Kita sudah lama bersama jadi aku hafal apa yang terjadi dengannya.
Kebersamaan diawali masa SMA. Saat kelulusan rasanya sedikit sedih, tetapi kami tidak berpisah setelah itu. Masih suka menghubungi satu sama lain melalui telepon. Bahkan aku tahu alamat email dan password miliknya. Dia yang berikan, bukan aku diam-diam menguntut.
Mungkin kita terlalu dekat.
Rasanya, hubungan kita terlalu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Adik-kakak? Sahabat? Aku lebih memilih sahabat.
Bahkan hingga kuliah dan pindah ke luar kota, aku masih bersama dia. Terus hingga bekerja sekarang, hubungan kami tidak terputus. Beginilah sahabat seharusnya. Benar-benar bersama tidak peduli waktu dan jarak. Hanya ada satu orang yang seperti ini di sisimu, itu cukup.
Sekarang aku pulang ke tempat pertama kita bertemu. Kota di masa sekolah bersama. Apa aneh jika aku katakan, aku rindu bertemu dirinya?
Jarang-jarang memiliki waktu libur selama satu minggu. Aku langsung menyewa kamar dan menghubungi dia. Ekspresi sesuai dengan apa yang aku bayangkan, senang bukan main.
Dia juga mengatakan, bahwa di kota ini ada pembukaan pasar swalayan baru, jadi saat malam akan ada pesta perayaan. Itu mengapa dia mengajak kita untuk pergi ke atas gunung--lebih tepatnya bukit--agar bisa melihat kembang api lebih jelas.
Hey, sudah lama kita terpisah. Sejak aku kuliah hingga bekerja!
Aku penasaran seperti apa dia sekarang. Masih suka mengenakan baju kaos itu? Mata cokelat yang penuh ekspresi ... makin tegas? Dan rambut yang senada sudah setebal apa? Berapa tingginya?
Banyak hal yang ingin aku ceritakan, terutama tentang kantor. Kuharap dia menjadi seorang wirausaha daripada pekerja buruh. Itu sungguh menyiksa! Aku juga sudah paham beberapa hal tentang kewirausahaan. Akan kuajarkan dia cara berbisnis.
Apa itu dia? Apa benar itu dia? Dari kejauhan aku melihat orang lari tergesah-gesah. Ah, jalan yang remang sungguh mengganggu. Ternyata benar itu dia, akhirnya! Tapi ... kenapa menangis? Terlalu senangkah?
"Maaf."
Eh? Kenapa? Ada apa?
"Aku tahu aku salah, harusnya tidak memintamu datang sendirian! Aku minta ma-maaf. Maaf. Padahal jarang mendapat libur, tapi ...."
Astaga, ucapnya sedikit berantakan karena terlalu dibanjiri air mata hingga terisak-isak. Menyakitkan melihat dia seperti ini.
"Apa maksudmu? Tidak masalah, aku tidak lama menung---"
"Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu meninggalkanku?!"
Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Mungkin salah aku datang terlebih dulu karena terlalu bersemangat, tapi aku tidak meninggalkannya. Aku di sini! Di depannya! Bergegas aku mencoba menghibur. Menyentuh ... tunggu, i-ini tidak benar 'kan? Aku---
"Di waktu yang sama, tempat yang sama ... kita akan selalu bersama, iyakan?"
Kepalaku sakit, mual, ingin muntah, berkeringat dingin.
Wajah ... terlalu berlinang air mata.
Ekspresi ... seperti hati terkoyak.
Aku, aku---pikirku kosong sekarang.
Tidak mungkin bukan?
Perhatianku terenggut dengan suara rem mobil yang melengking, sorot lampu buss kian mendek---