"Apa yang membuatmu bertahan?"
"Sebenarnya aku sendiri tidak tahu. Namun, hey, aku dengar bahwa cinta dapat membuat seseorang bertahan."
"Ha? Benar juga, sih. Cinta yang kuat dapat mengubah hidup."
"Bukankah itu menarik? Tapi apa itu cinta? Terlalu semu."
"Aku juga beranggapan sama ... kudengar rumah sakit di distrik A menyediakan donor cinta."
"Permisi, maaf mengganggu. Apa kalian dapat memberitahukan aku mengenai rumah sakit ini?"
Dua pasang lawan bicara cukup bising hingga menarik perhatian seorang pemuda. Tergopoh-gopoh mendekati mereka. Mengukir ekspresi penuh harap di sana.
"Kawan, kau nampak berantakan."
"Hey, lihat saja dada kirinya. Hatinya hampa."
"Lebih baik kamu beritahu dia soal rumah sakit ini, keadaannya ... membutuhkan donor."
Salah satu dari dua orang menjelaskan alamat rumah sakit. Tangan menunjuk ke sana kemari, memastikan sang pemuda paham jalan yang ia tunjukkan.
Setelah memberikan suatu tanda terima kasih, dia pergi meninggalkan mereka. Menerobos kerumunan manusia yang padat di suatu jalan sempit. Keberadaan pemuda ini mungkin sulit dikenali. Halnya, seluruh manusia berwarna putih. Warna polos yang tak ada titik noda rona melekat pada mereka pun kota tempat mereka berada.
Satu yang jelas, ada ruang di dada kiri sang pemuda. Kehampaan di sana. Berbeda dengan orang lain yang sudah memiliki isi. Merah, hitam, meleleh, luntur ... salah, ada juga pemiliki kekosongan.
Dan mereka tidak peduli.
Apa keputusan untuk mendapatkan donor adalah hal yang baik? Tak ada yang bisa memastikan. Ada pepatah: tak kenal maka tak sayang, tidak mencoba maka tidak tahu. Lagi pula apa salahnya mendapatkan cinta? Suatu hal rumit yang dapat mengubah hidup seseorang.
Sepertinya itu adalah hal baik 'kan?
Mungkin, nanti, dapat mengenang suatu warna. Dapat merasakan kebahagiaan. Bisa melihat keindahan--angannya.
Dari kejauhan pemuda ini dapat melihat tujuannya, rumah sakit penyedia donor cinta. Tanpa pikir panjang mengambil seribu langkah hingga napas terputus-putus bak mimpi di depan mata yang sedikit lagi ia raih. Langkah bergema. Mendatangi satu-satunya pintu. Sambutan hangat dari sang perawat.
Ini semua pasti akan berakhir baik--perkiraannya.
"Dokter, aku butuh bantuanmu!"
"Aku mengerti. Melihat kondisimu, pasti membutuhkan donor."
"Donor cinta ... benar tersedia?"
"Iya, kamu akan terlahir menjadi individu baru setelah ini."
Pintu ruang rawat tertutup dengan suatu bar menyala di atasnya. Pertanda bahwa operasi sedang dilakukan.
Semua berjalan lancar dan cepat, bahkan sang dokter rela mengantarkan pemuda meninggalkan rumah sakit. "Harimu berubah, mulai dari sekarang."
Benar apa yang ia katakan.
Detik selanjutnya dalam palingan muka, gempita suram kapas langit menghilang. Mentari bersinar lembut atas kirananya. Hijau mendominasi alas. Bunga kecil bermekaran, berwarna sama dalam pelangi membusur atas cakrawala. Air gemercik, mengkilap bak gemerlap terhampar luas.
Apa ini ... seketika warna menyebar dimulai dari dia. Dunia berubah. Meski tidak mengenali rona apa saja itu--karena belum pernah dia lihat sebelumnya--ia tahu dan mengerti betul keindahan mereka. Silir bayu menyapa, membelai lembut rambut putihnya, membawa aroma harum entah dari mana. Keelokan tiada tara.
Tubuhnya ambruk melihat ini semua pun air mata yang mengalir tanpa permisi. Pertama kali dapat merasakan benar-benar bernapas. Lega dan ringan. Taman bunga bersemi dalam relung dada.
Terlalu ... indah.
Beginikah rasanya memiliki cinta? Terasa dunia milik sendiri, kamu disadarkan oleh sesuatu yang telah lama terlupakan--dia mensyukuri mengambil keputusan itu.
Hari berlalu, esok demi esoknya.
Seperti biasa, sarapan di pagi hari. Satu yang berbeda, makanannya memiliki rasa. Manis menjamah lidah seperti suatu kelembutan meleleh dalam mulut.
Pemuda ini menikmati fajar, terlihat jelas dari wajah berseri persis mentari menghangatkan jemari.
Membuka jendela dan alam pun menyapa. Cicit burung menjamah merdu indra pendengaran. Desir angin mengundang gemeresik para daun juga embusan ringan helai-helai mahkota putih sang pemuda. Menghirup aroma lembap embun pagi. Menyegarkan.
Melangkah keluar, menyapa orang-orang. Entah kenapa ia baru sadar ... dunia sebegini menawan. Mungkin dirinya terlalu suram atau memang benar cinta telah mengubahnya. Sekuat inikah? Ketika nyaman, tenang, dan damai menjadi satu. Suatu harmoni kehidupan.
Indah ... indah sekali.
Begitu juga ketika malam. Seakan sang purnama melambaikan kirananya. Candra menguasai antariksa hingga cakrawala dipenuhi gelita. Ternyata langit malam begitu cantik. Bulan terlihat lebih dekat daripada biasanya, bulat dan ditemani para bintang gemilang.
Jika manusia saling mencintai ... betapa damainya kehidupan ini. Kenapa jua tak mengharapkan cinta? Itu adalah kerugian--pikirnya.
Kepermaian terus memenuhi tiap detik hingga tiba pada suatu pagi ... teh yang ia seduh tidak memiliki rasa.
Aneh, apa yang terjadi? Dengan panik pemuda ini memasukkan tiga bongkah gula.
Masih sama. Tidak ada rasa.
Memasukkan lagi lima bongkah gula.
Ke mana perginya pengecap manis?
Tubuhnya bergetar beriringan dengan gelas yang terjatuh. Suara bising redam dalam telinga karena dia sadar warna juga kehilangan binarnya. Ia mengerti jelas warna-warni itu menghilang karena hanya ada satu rona yang sangat ia kenali: abu-abu.
Jantung berdebar, makin kencang. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi, terukir jelas di wajahnya.
Tidak, pasti ini salah. Tanpa pikir panjang ia langsung pergi ke jendela, membuka tirai. Tak lama berselang, debum menyapa pendengaran. Pemuda itu ambruk laksana kaki tak kuat menyanggah. Mata terbuka lebar, menyaksikan langit yang telah kehilangan rajanya.
Hening mengudara. Matahari tidak memancarkan sinarnya, tertutup pusar awan kelam nan berlimpah di seluruh ufuk dirgantara. Udara dingin terasa menusuk di setiap detik. Raut makin gusar. Suara detak jam menjadi irama kekecutan di ruang serba putih ini.
Gelegar petir menyeruak memekakkan telinga, menyembur kilat putih penusuk mata pada tiap-tiap celah dan relung.
Rintik berubah menjadi hujan deras. Kering menghangatkan cuaca terasa basah pun beku pada akhirnya. Tirai bak barikade air memburamkan pandangan, menabrak-nabrak beling jendela hingga membuat anakan sungai. Begitu deras. Bahkan dalam waktu singkat, genangan tercipta di sana-sini. Liar angin menderu, menerpa kasar pucuk pepohan juga tumbuhan lain.
Genggaman tangan kuat bukan main pada puncak kepala sendiri, sukar dilepaskan pertanda lara luar biasa. Kepanikan tak terbendung hingga ia tidak menyadari ... dada kirinya mulai hampa. Merah hanya mengisi setengah ruang. Cintanya surut.
Terbangun dari mimpi penuh kegembiraan di dalam kepala. Suatu hal yang membingungkan disebut cinta mengambil alih, dan kemudian ... tak bisa menjaga ruang hati meredup.
Sejak awal memang tidak pernah memiliki kemampuan untuk mengendalikannya.
Dengan teori emosi yang kebanyakan naif di suatu tempat dalam semburan kata-kata. Berada di suatu tempat, entah bagaimana mencari sepasang mata untuk mencari tahu di mana itu kehidupan.
Sampai pada suatu hari, ia terlentang dalam ruang kosong. Tak ada perabotan di sana. Ke mana perginya, tidak peduli. Menangis dalam sunyi. Meletakkan lengan di atas wajah, mencoba menghalau air mata yang terus mengalir meski sia-sia. Cinta telah habis.
Lebih baik mengenal daripada tidak tahu apa rasanya cinta sama sekali, tetapi kenapa sepedih ini? Melebihi apa yang dulu dijalani. Tidak sanggup. Sakit bak jantung terkoyak pun dalam kepala hancur berkeping-keping--keluhnya di dalam diri, di samping diri, bagian dalam terbalik, ahhhh.
Dalam roda perputaran cinta, bernapas dalam diafragma. Melompat ke rasa yang kuat: sisi depan, sisi lain, sebesar hidup. Paksa mereka bersama, tempelkan ke retina. Berikan ....
Sudut bibir tertarik samar, membentuk lengkung sabit penuh pilu. Pandangan dipenuhi kabut kelabu yang begitu mengusik. Sesuatu bergolak dalam batin. Rasa kesal, kecewa bahkan putus asa berpadu di alam sadarnya.
Terbangun dari mimpi penuh kesengsaraan di dalam ruang kepala. Tidak ada pembatas, dan lain-lain; yang bisa mengendalikannya sejak awal. Sebagian besar malapetaka polos tak berdosa ditebar oleh ego yang bengkak. Memberitahu di mana keberadaan kata-kata yang dianggap sudah dipahami.
Memiringkan kepala dengan mata yang menghitam. Tak lagi bersinar, tak lagi cerah, tak lagi gemerlap, penuh kegundahan. Pandangannya mengukir sesuatu yang membuat denyut nyeri di balik tulang rusuk. Hanya melihat saja, mungkin dapat membuat leher sesak. Sengatan nyeri yang terlalu besar menyerang, seperti jantung diremas kuat hingga terasa tercekik. Senak, degup jantung tak lagi sama. Emosi meluap hingga wajah terasa panas.
Akhirnya, ia lupa bagaimana rasanya dicintai.
Sampai pada satu titik ... lari dari kehidupan. Suatu cara ekstrem untuk mengakhiri.
Seketika seluruh manusia berkumpul. Mengelilingi sang pemuda putih dengan merah yang membanjiri. Bukan, bukan untuk menolong. Bukan pula merah sang cinta. Berbondong-bondong mereka mengangkat handphone, mengabadikan kejadian di depan dengan alat komunikasi dalam genggaman mencuat setinggi langit.
Menyedihkan.
Penuh dengan mengapa mengambil keputusan ini, melakukan itu, tetapi pada akhirnya ... selamat tinggal.
Apakah tidak ada yang baik dari itu?--bertanya pada diri sendiri yang kebingungan--Apa benar masih tersisa cinta di bumi ini?
Benci secara membabi buta, buat rencana untuk pergi hari ini. Bersikeras. Berikan dirimu cinta! Tidak ada yang namanya cinta---tidak!
Sekali lagi.
Tolong sekali lagi.
"Halo?"
"Maaf ini mengenai pemuda yang mendapatkan donor Anda."
"Oh, Dok, ada apa?"
"Pemuda itu, dia ...."
"Begitu. Baiklah. Tidak apa-apa. Sangat disayangkan." Dan komunikasi terputus satu arah.
Tanpa sadar, tubuh perempuan itu bergetar dengan gagang telepon masih nenempel di telinga. Menggigit bibir bawah, berharap rasa amis dapat mengenyahkan pedih dalam dada. Kaki lemas, sudah tidak sanggup menopang tubuh penuh gejolak emosi. Isak-isak suara tangis samar menggema dalam ruang gelap. Sekelam perempuan ini. Hanya satu warna yang mencolok di kamar: merah dari cinta bertebaran.