Terraemotus mengguncang tanah.
Fluctus menelan segalanya.
Di saat itu, air matamu mengalir dalam suara isak-isak samar rintih penuh peluh.
"Apakah Tuhan telah marah?! Apakah iblis membuat neraka ini?!" Kau berteriak, tetapi hanya tersisa kesedihan.
Hutan memiliki peranan penting bagi keberlangsungan mahkluk hidup dalam jangka panjang. Jadi, mengapa engkau rusak? Selain menjadi paru-paru dunia, hutan juga memiliki fungsi dalam menjaga kestabilan alam semesta.
Alih-alih menjaga dan merawatnya sepenuh hati, luas hutan justru kian menyusut dan berubah fungsi menjadi lahan produksi. Apa yang kalian lakukan? Belum lagi engkau menghadapi banyak fenomena-fenomena alam yang terkait dengan kerusakan hutan … seperti sekarang.
Inilah ketika lingkungan telah kau rusak. Tak tahukah engkau bahwa keberadaanmu begitu kecil dalam bumantara alam? Tidak, tak bisa mengelak. Memang manusia yang telah merusak bumi ini. Menghancurkan yang seharusnya dilestarikan.
Ketahuilah bahwa engkau juga manusia! Kau salah satu yang ikut merusak lingkungan. Dalam hati engkau mengelak. Memberontak.
Menebang pohon? Tidak!
Namun, apa engkau ikut melestarikan alam?
Memburu satwa? Tidak!
Namun, apakah engkau masih menikmati hewan-hewan langka dalam kerangkeng wisata?
Merusak alam? Tidak!
Namun, apa engkau peduli dengan kerusakan lingkungan di sekitarmu?
Begitulah ketika semesta menegur. Engkau, manusia, lemah. Ingatkah akan hal tersebut?
Menyadari itu, engkau kembali meraung, "Jangan hibur aku! Tidak ada lagi ... yang tersisa."
Pada tahap ini, mungkin hanya ada kepedihan dan kesengsaraan di luar sana. Emosi dan sentimenmu tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Namun, fakta terpenting adalah engkau masih hidup di dunia ini. Jadi tolong, terus miliki iman dalam ketabahan hati.
Kau mendongak, bola mata hitammu meniti canvas alam. Matahari mungkin terbenam dan menghilang ke dalam malam, tetapi akan bangkit kembali. Periode ini seperti kekelaman yang merengkuh; meskipun sang surya tak terlihat saat ini, ia akan muncul lagi nanti.
Selama itu terjadi, masih ada beberapa hal yang bisa engkau lakukan. Apapun itu, jangan lupa senyummu, karena kau tak pernah ... tidak akan sendirian.
Akhirnya kau bangkit; mengamati pepohonan yang tumbang, rubuhan rumah, dan hancurnya jalan. Tak lupa mayat bergelimpangan. Namun, benar adanya masih ada manusia bertahan, tapi jelas kesengsaraan terukir dalam wajah mereka. Seperti kau sebelum ini.
Apa pun yang terjadi, jangan kehilangan harapan dan mimpimu. Bersama, hati kita akan berdetak menjadi satu. Engkau tidak akan memikul kenangan menyakitkan itu sendirian, karena masing-masing kita akan berbagi rasa pedih bersama.
Menarik napas panjang, kau pun bergumam, "Memang tidak ada kebohongan di sini. Bencana ini nyata, tetapi dalam kegelapan ... aku bisa melihat cahaya baru."
Gaung gemeresik pepohonan menggiring pendar Sang Surya. Suluk-suluk kicau malu burung Sang Pembawa. Engkau berbalik dan kembali mendekat. Dalam hati terlumat kembali bermekaran. Keberanian dan semangatmu datang.
Kita akan bangkit kembali dengan bersama-sama, jadi mari kita kumpulkan dan berbagi kenangan menyakitkan ini.
Engkau berteriak dengan keteguhan menyelimuti, "Jika kita tidak menjumpai matahari, maka mari buat cahaya itu sendiri! Kalau kita tak menyerah, kita bisa bergerak maju!"
Tolong percayai keberanian kami.
Tolong percayai hati kami.
Dan, tolong percayai kekuatan dirimu.
24 Desember 2004, kekelaman yang begitu dalam dan besar--tsunami--menyerang Aceh.
Engkau salah satu yang selamat.
Maka mulailah mencintai bumi ini ... dan dirimu sendiri.