Layar terbuka.
Permadani biru memaksa langkah mengarungi asa. Angin pengarak pagi turut memercikkan air dari bentang Samudra. Memecah kolong langit mengacau gulungan cerita. Bagaimana rasanya?
Entah.
Embun darat membayang senyum reka.
Menggenggam pundak, membisiki telinga. Melihat mata arah dari ribuan rasi dalam angkasa. Mulailah sebuah cerita, semua tetap sama.
Mereka tertawa.
Membual! Mengiring Cakap Angin!
Konotasi dusta.Tak ada rasi, maknanya bahkan tidak nyata. Angin malam justru menghantam layar membawa badai membentuk satu skema. Mengaburkan arah. Membuat nyali meronta.
Dimana letak sua-mu? ENYAH.
Mengikis harap tak lagi ku hindar. Biarlah karang menyelenyapkan layar. Biarlah tersapu ombak dan tenggelam bagai lapukkan jangkar.
Telah selesai, terutuplah layar.
***
Kaivan mengirup nafas dalam-dalam mengakhiri ucapannya. Sepasang bibir tipis terseyum kecil memandang bentuk wajah yang tak asing.
Kemala menoleh mengikuti tepukan tangan meriah dari penonton yang tak memerlukan tiket mendengar indahnya puisi penuh emosi yang tersampaikan.
Kaivan justru mengangkat tasnya setelah kedua matanya bertemu dengan senja yang terlukis dari bayang terbalik sepasang mata Kemala. Ia pun menarik kemala untuk ikut bersamanya.
Membiarkan penonton menyisihkan uang logam mereka untuk penyair jalanan yang tersenyum lebar diatas trotoar.
Kaivan tersenyum lebar.
"Kemala, Bolehkah aku jatuh cinta?, dan.. Bolehkah aku menitipkan puisi itu bersamamu juga?" singkat Kaivan dengan hangat.
Kemala mengerutkan dahinya.
"Jatuh cinta? Bertanya padaku? Aku tidak tau, tapi...Apakah arti menitipkan sama dengan memilikinya?" tanya Kemala mulai tersenyum rekah.
"Kemala, tidakkah kamu tau puisiku selalu tercipta untukmu? Aku juga ingin kamu selalu membawa ayam Jago ini besamamu" jawab Kaivan mulai berjalan mendekat.
"Ayam? Eh. Tunggu. Puisi lo kan...? Lo ngasih puisi putus asa sama ayam jago?!" singkat Kemala spontan seraya membuka matanya lebar-lebar.
Kokok ayam terdengar. Surya meninggi melenyapkan malam yang membingungkan bagi Kemala. Kemala justru mengerutkan dahinya. Entah Kaivan atau suara kokok ayam yang tiba-tiba terdengar pagi tadi, semua terasa sama saja. Mimpi apa dan ayam siapa sebenarnya?!
Ada apa ini?!
Kemala menepuk dahinya. Mengingat ayam jago potong yang baru ia beli kemarin sore, dan di saat itulah ia melihat Kaivan. Kemala bahkan tidak yakin Kaivan menyadari keberadaanya di tengah kerumunan penonton. Namun, Satu hal yang pasti sejak saat itu, Kemala justru lebih sering menoleh. Menatap mata sayu yang selalu sendiri. Murung, namun tak ada yang peduli.
'Benarkah Kaivan tertidur?'...
Kaivan terdiam cukup lama di depan kelas. Ia bahkan tak mengerti sama sekali dengan arti dari setiap simbol dalam papan putih besar itu.
"Ampuun kamu Kaivan. Kalau cara mengerjakannya saja tidak tau, di ujian nanti mau tebak kancing? Di sekolah tidur, buku PR sering hilang katanya.. Memang di rumahmu banyak maling? Atau kamu sering ngantuk sejak menjadi relawan ronda di pos kamling? Atau bagaimana?!" singkat pak guru berkumis seraya menopangkan kepalanya yang pening setelah melihat Kaivan.
Semua siswa tersenyum lebar, Kemala justru terdiam.
Perasaan yang aneh. Ini bahkan sudah ratusan hari ia bertemu Kaivan, puluhan kali melihat Kaivan tampil di depan kelas, bahkan sampai jutaan kali mendengar nama Kaivan selama menjadi teman sekelasnya. Ajaib baru kali ini, ia merasakan detak jantung dengan ritme yang berbeda saat ia melirik Kaivan.
"Dari pada saya bingung dengan sikap kamu dan kamu juga bingung mendengarkan penjelasan saya, Kamu kerjakan dulu semua soal yang ada di bab ini! Besok sudah ada di meja saya sebelum bel masuk, kalau besok tidak sampai di meja saya, kamu tidak saya naikkan ke kelas 12" ucap pak Guru berkumis dengan serius.
Teman satu meja Kemala menepuk, lalu mendekatkan kepalanya kearah Kemala yang sedang fokus memandang Kaivan berjalan keluar kelas.
"Percuma banget punya tampang oke tapi gak smart. Kayak gak guna aja gitu" celetuk teman semeja Kemala seraya berbisik lebih lirih.
Kemala menoleh.
"Ini efek keseringan gaul sama ibu-ibu kantin" singkat Kemala lirih.
"Hah? Si Kaivan?!" singkat teman semeja Kemala.
"Bukan. Besok gaul sama bapak-bapaknya. Biar lo ngerti" singkat Kemala lagi.
Tidak biasanya Kemala bersikap seperti ini. Secara tiba-tiba merasa kesal ketika orang lain membisikkan hal yang buruk tentang Kaivan. Kemala bahkan sudah sering mendengarnya dari teman-teman yang lain soal sikap buruk Kaivan. Namun ada apa dengan hari ini? Hari ini benar-benar aneh.
Kemala terdiam seraya menoleh berulang kali.
Kemala hanya bisa melirik Kaivan dari sudut meja perpustakaan saat istirahat. Kemala sengaja membiarkan waktu istirahatnya habis seraya memandangi Kaivan yang mengerutkan dahi menulis jawaban dari soal-soal yang tidak dia mengerti.
Kemala pun segera merobek sampul buku paket yang bertuliskan namanya. Rencananya bukunya itu akan ia letakkan dimeja Kaivan, lalu dengan mudahnya Kaivan menyalin jawaban dengan cepat dan tugas terselesaikan.
'Ternyata, kenyataannya memang sulit. Mustahil' sesal Kemala setelah berjalan berlainan arah menyadari nyali krupuk melempemnya.
Bel masuk pun cepat berbunyi.
Kemala menghela nafas lebih dalam. Kemala baru menyadari perasaan Remaja memang seperti ini. Mudah hanyut dalam skema kisah yang mudah berubah. Hanya tenggelam dalam persinggahan rasa yang tak benar-benar ada dalam garis takdir.
Benarkah seperti itu?
"Baik. Tutup buku paket, dan keluarkan kertas selembar" singkat pak guru energik saat masuk membuka jam pelajaran baru. Semua siswa melotot.
Ulangan harian biologi yang pamungkas pun dilaksanakan. Semua jawaban di tukar dan dikoreksi secara acak.
"Bagus. 10 siswa dengan nilai diatas 80, berhak mendapatkan 2 asisten untuk meneliti makalah biologi tercinta" singkat pak Guru seraya tersenyum lebar.
Semua siswa mengubah gurat wajahnya memelas meminta penundaan waktu pengumpulan tugas.
"Kemala, Kaivan dan Kinanti" singkat pak Guru beberapa saat kemudian seraya membaca daftar absensi. Kemala menoleh, Kaivan sudah melirik.
"Wah ujian berat banget tuh. Sama Si Kaivan lagi.. Si Kinanti kan sering bolos juga buat bikin konten yutup. " singkat temen semeja Kemala dengan spontan.
Detak jantung Kemala justru berdetak kencang. Inikah pertanda takdir dari senja itu? Kemala tidak tau.
"Akhir pekan ini ya? Hmm, gue usahain ya Mal? Oh atau nanti kita ngobrol di grup lagi aja ya Mal? Maaf banget gue balik duluan, udah ada janji soalnya" singkat Kinanti seraya melihat jam di tangannya, lalu beranjak dari tempatnya.
Kemala mengangguk, lalu menghela nafasnya.
Ternyata Kinanti memang terlihat sangat sibuk. Kemala pun menoleh kearah Kaivan. "Gua juga balik duluan" ucap Kaivan dengan singkat. Kemala menghela nafasnya dalam-dalam.
Malam pun jatuh.
Kemala berbaring seraya menatap langit-langit kamarnya. 'Receh banget perasaan lo Mal.. Mal... Masa iya tiba-tiba? Sama anak sekelas lagi'.
Kemala menutup wajahnya dengan bantal. Ponsel Kemala bergetar. Kinanti mengirimkan pesan di grup kelompok makalah.
"Kemala, Kaivan...Ternyata, akhir pekan ini gue sama temen-temen ada proyek bikin konten. Gimana nih? Gak jauh sih, cuma ke pantai.. Atau.. mau sekalian nyari inspirasi disana? Yuk? Mau gak?" singkat Kinanti seraya memberikan banyak emoticon.
Kemala menutup layar ponselnya, menyadari kerja kelompok perdananya yang GAGAL TOTAL. Mana mungkin Kaivan setuju?!
"Oke" Kaivan justru sudah lebih dulu menjawab pesan itu.
Kemala menggigit bibirnya sendiri. Menyimpan rasa yang tetap sama soal Kaivan. Waktu rasanya lambat berlalu menanti hari yang dinantikan.
Akhir pekan yang dinanti Kemala pun tiba. Kemala tersenyum lebar.
Kinanti sudah berdiri disisi mobil Vewe merah bersama lima temannya yang sedang bersiap-siap membawa segudang perlengkapan mereka. Semua teman Kinanti adalah anak kuliahan semester akhir. Artinya Kinantilah yang termuda, dan Kemala pun melotot saat mengetahui salah satu dari mereka juga kekasih Kinanti.
"Kemala, lo belum baca grup ya? Si Kaivan nyusul. Semoga aja beneran nyusul" singkat Kinanti spontan saat Kemala datang.
Pedal diinjak, dan gerak semu pepohonan seolah berjalan mundur mempersilahkan mereka menghampiri batas daratan yang indah. Perjalanan yang tak cukup jauh ternyata mampu menyisakan tanda tanya besar bagi Kemala, Benarkah Kaivan akan datang?
Laut. Ya, Kaivan pasti datang karena ia menyukai laut seperti puisinya di senja itu.
Debur ombak mulai terdengar dan pintu mobil pun terbuka. Kaivan keluar dari mobilnya. Tak lama setelah itu seorang wanita juga keluar dari mobil dan memeluk lagi Kaivam dengan erat. Kaivan tak memberikan senyum apapun dan hanya mengangguk saat seorang pria di sisi wanita itu menepuk pundak Kaivan lalu mengusap kepalanya.
"Kemala!" ucap Kaivan spontan seraya menoleh menyipitkan kedua matanya kearah celah pot bunga di halaman rumah singgah.
Kemala memang tak sengaja mengintip saat ia tau mobil itu membawa Kaivan datang, dan Kemala pun tersenyum saat ia menegakkan badannya.
"Itu orangnya. Sekarang Kaivan capek. Dijalan hati-hati" singkat Kaivan seraya berjalan masuk setelah menunjuk Kemala.
Kemala menoleh saat Kaivan melewatinya dan menanyakan dimana kamarnya. Kemala mengubah gurat wajahnya dengan spontan.
"Kaivan! Buka pintu kamar lo!!" singkat Kemala spontan, beberapa saat setelah wanita dan pria yang datang bersama Kaivan pulang.
"Nanti malem aja Mal!" singkat Kaivan.
"Sekarang!, atau gue mecat lo dari kelompok gue!" tukas Kemala serius.
Kaivan pun membuka pintunya.
"Nyokap lo nitipin lo ke gue! Maksudnya apa?" singkat Kemala spontan.
Kaivan mengerutkan dahinya.
"Lo kan ketua kelompok" singkat Kaivan seraya menyandarkan badannya ke dinding pintu.
Kemala justru melirik tajam. "Katanya kalo gue perlu dukungan emosional dan finansial, nyokap lo selalu ada buat gue" singkat Kemala.
Kaivan justru tersenyum lebar. "Ya, bagus!. Artinya semua juga tau, tugas penelitian sains untuk anak kelas 2 SMA itu gak masuk akal" jawab Kaivan.
"Terus katanya jangan sungkan buat manggil nyokap lo Mama. Itu kenapa?!" singkat Kemala lagi, Kaivan mengubah gurat wajahnya.
"Udah gak usah dipikirin! Lo mau ngerjain tugasnya kapan?!" singkat Kaivan.
"Gak bisa! Jawab dulu!" singkat Kinanti spontan.
"Kalo gua gak bilang macem-macem, gue gak bakal kesini.. Ah udah. Lo mau ngerjain tugasnya kapan?" ucap Kaivan serius.
"Tadinya mau nunggu Kinanti selesai projek. Tapi setelah lo bilang macem-macem ke nyokap lo, kita ngerjain sekarang aja" singkat Kemala lagi, lalu tersenyum lebar dan mencoba menahan tawanya.
"Gak usah ketawa, kalo lo udah ngerti!" singkat Kaivan dan mulai beranjak menutup pintu kamarnya dari luar.
"Serius, baru hari ini gue ngerti teori alam semesta tentang Lo Kaivan" singkat Kemala spontan.
Kaivan mengerutkan dahinya.
"Ternyata, rata-rata anak yang sering ngelucu di kelas itu ngerasa kesepian di hidupnya. Beda sama anak yang gak pernah mau punya temen kayak Kaivan" singkat Kemala spontan.
Kaivan hanya memandang sebentar, lalu berjalan dengan cepat keluar rumah singgah. Kaivan tetap diam tidak menggubris.
"Ngapain ngikutin gua?!" tanya Kaivan spontan.
"Gue kira lo mau ngerjain makalah kita di pantai" singkat Kemala, Kemala melirik kesal.
"Gua lagi gak mau ngobrol Mal. Sorry banget" singkat Kaivan spontan.
Kemala menghela nafasnya.
"Bener juga sih.. Untuk apa punya temen? Orang tua Kaivan di rumah pasti kelewat baik. Baik banget, dan super penuh menunjukkan rasa kasih sayang" ucap Kemala lagi.
Kaivan menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Tadi nyokap gua bilang apa lagi?" singkat Kaivan tiba-tiba..
Kemala melirik kekanan dan kekiri lalu menoleh mengarahkan pandangannya kearah lain, lalu tersenyum lebar.
"Gak ada ko! Eh, ada karang besar tuh kayak yang ada di Pu...i.. lo.. pulau bali" singkat Kemala salah tingkah dan kepalanya justru membesitkan Kaivan dan puisinya di senja Sore itu.
Kemala menggigit bibirnya sendiri.
"Setengah jam lagi gua balik ke rumah singgah. Di sini panas. Lo duluan aja" singkat Kaivan dan mulai terdiam sejenak memandangi Karang yang tetap kokoh berdiri saat terhantam gelombang pasang bertubi-tubi.
"Gak. Gue juga mau nyari inspirasi disini" singkat Kemala.
Tak ada kata dalam beberapa saat, Kemala beberapa kali melirik, lalu tak lama setelah itu Kaivan menoleh.
"Gimana kalo tentang jaringan tumbuhan? " celetuk Kaivan saat Kemala mulai mencari kerang-kerang ditumpukan pasir.
"Maksudnya?" tanya Kemala spontan.
"Tema Makalah" singkat Kaivan.
"Tentang jaringan tumbuhan? Tiba-tiba banget. Kenapa?" ucap Kemala spontan.
"Bokap gua punya beberapa pohon bonsai. Media tanamnya dari karang. Menurut gua itu menarik" singkat Kaivan serius.
Kemala spontan tersenyum lebar.
"Artinya judul makalah kita bisa.. jaringan tumbuhan pada tanaman bonsai karang!. Unik juga tuh. Ajaib banget ide lo selalu muncul kalo ada laut" singkat Kemala lagi seraya terkekeh, tersenyum lebar, lalu melotot.
"Ide gue selalu muncul kalo ada laut?" tanya Kaivan spontan seraya memandang Kemala lumat-lumat.
Kemala justru menoleh kearah lain.
"Waktu itu gue gak sengaja liat lo baca puisi di trotoar kota. Bagus banget. Serius" singkat Kemala.
Kaivan justru tersenyum memandang Kemala lumat - lumat, dan Kemala menunduk dengan spontan. Menghindari pandangan mata itu.
"Terus, tiba-tiba lo suka sama gua?" singkat
Kaivan spontan.
"Hah? E... E.. Engga, ya enggak lah!" ucap Kemala lebih salah tingkah.
"Kalo engga suka, kenapa tiba-tiba lo merhatiin diem-diem pas gua ngerjain tugas hukuman matematika?" singkat Kaivan lagi seraya merogoh sakunya mengambil dompet dan memberikan robekan kertas dari sampul buku matematika milik Kemala.
"Lo nemu di man....?" singkat gagap.
"Kertasnya jatuh di perpustakaan, di deket meja gue. Bekas robekannya juga keliatan kalo pake gunting. Artinya sengaja dirobek. Aneh juga kenapa akhirnya tiba-tiba kita satu kelompok dan terjebak disini?. Kemala. Apa lo sempet ngira ini seperti takdir semesta buat lo dan gua?" Ucap Kaivan lagi.
Kaivan justru mulai menahan tawa. Kemala spontan melotot melihat tawa yang membesitkan perasaan konyol Kaivan. tentang Kemala. Kemala pun mengambil paksa robekan kertas dari tangan Kaivan.
"Kenapa ketawa?! Lo pikir ini konyol?!!" singkat Kemala spontan.
"Ya iya lah Mal. Gak masuk akal" singkat Kaivan.
"Terus lo ngapain bilang ke nyokap lo gue cewek lo?!" singkat Kemala.
"Gua kan udah bilang, kalo gua gak bilang macem-macem, gua gak ada di sini. Tuh kan, ada lagi yang nyokap gue omongin ke lo" ucap Kaivan lebih serius.
"Barusan gue sempet gede rasa. Ngapain gue sampe berharap bisa temenan akrab sama lo? Harusnya gue gak ngeliat lo baca puisi! Harusnya kita terus-terusan kayak orang gak kenal!" singkat Kemala spontan seraya berjalan menjauh.
Kaivan mulai mengubah gurat wajahnya.
"Kemala, mana ada pertemanan akrab cewek sama cowok? Dan gua cuma nyampein cerita yang mustahil terjadi. Dongeng yang gampang ketebak. Sorry intinya gua gak mau kesandung kisah apapun sekarang" singkat Kaivan serius.
Kemala menoleh.
"Tapi cara lo ngungkapin semuanya tiba-tiba, sekarang, dan diawal. Itu keterlaluan banget Kai! Kelewatan!" ucap Kemala serius.
"Udah lah gak usah dibahas. Balik ke makalah kita, tenang aja. Gua gak akan nyusahin lo. Gua balik dulu ke rumah singgah" jawab Kaivan seraya beranjak dari tempatnya tanpa membahas apapun lagi.
Kemala justru berjalan lebih cepat menghampiri Kaivan, dan tak lama setelah itu Kaivan pun spontan menoleh saat Kemala terjatuh tiba-tiba tersandung batu kecil yang bersembunyi di antara pasir-pasir putih.
"Gak usah nolong!. Gue gapapa. Gue belum pernah seberani ini, tapi sekarang gue gak takut sama batas yang lo buat untuk gak deket sama siapapun!" singkat Kemala serius seraya berjalan dengan sulit dan memberikan kembali kertas dari sampul buku Kemala.
Kemala menghela nafas dalam-dalam.
"Lo simpen lagi aja di dompet lo. Mulai sekarang, lo gak akan lupa sama gue. Seumur hidup lo!" singkat Kemala serius, lalu beranjak dan menepuk dahinya berulang kali menyadari sikapnya yang terlalu percaya diri.
Kinanti melotot.
"Kemala. Kenapa kaki lo? Jidat lo juga merah!" tanya Kinanti spontan, saat mereka istirahat menjelang makan siang.
"Enggak papa, cuma kesandung, dan jidatnya emang berubah warna di sini" singkat Kemala seraya melamun, dan mengoleskan salep pereda rasa sakit di kakinya. Kinanti justru terkekeh.
"Kemala, jujur gue gak percaya kalo tema makalah kita dateng dari otaknya si Kaivan" singkat Kinanti spontan.
"Gue lebih gak percaya" singkat Kemala seraya memikirkan kejadian tak terduga tentang Kaivan dan dirinya.
"iya juga sih. Dulu, pas awal masuk kayaknya si Kaivan gak separah sekarang, jarang kena masalah sama guru, masih mau lah mau ngerjain PR. Tapi ya.. Sikapnya emang selalu minus sih. Makanya gak pernah punya temen" ucap Kinanti spontan.
Kemala terdiam sesaat dan tidak menggubris.
"Oh iya Mal.. kalo tema makalahnya udah dapet, artinya kita tinggal nunggu bonsainya si Kaivan kan? Udah free dong kita? Nah.. Nanti sore kita bakar ikan yuk? Biar cowok-cowok nyari kayu bakar" singkat Kinanti spontan seraya tersenyum lebar.
Kemala tersenyum lebar, lalu mengubah gurat wajahnya saat senja hampir tenggelam.
"Siapa yang nelpon?" tanya Kinanti spontan.
"Ceweknya si Abang. Katanya, cowok lo sama abang gue ngeroyok cowok gue di pinggir pantai. Gak tau kenapa. Si Kaivan ikut kena juga lagi...!" singkat teman Kinanti seraya menunjukkan ponsel ditangannya.
Kemala melotot mengikuti Kinanti dan temannya. Kayu-kayu berserakan dan wajah babak belur dari ke-empat lelaki menutup senja di sore itu.
Semua mata mendongak melihat klimaks konflik restu dan salah faham. Hanya ada alasan itu dalam sebuah hubungan yang berakhir di ruang tamu rumah singgah.
"Iya gue tau. Abis ini gue putus! Tapi gue mau ngobatin dia dulu! Please jangan ngelarang gue!" singkat teman Kinanti dengan kedua matanya yang sembab dan berjalan ke halaman rumah singgah.
Kemala berjalan kearah Kaivan dengan perlahan. Kaivan mulai melirik. Awalnya Kemala ingin melupakan penolakan konyol dari Kaivan tentang perasaannya, namun senja yang hilang justru berkata sebaliknya.
Kaivan justru beranjak dan bejalan menjauh ke halaman belakang. Kemala menyadari rekam penolakan Kaivan masih terpatri di otaknya, tapi melihat Kaivan babak belur, entahlah apa yang salah saat ini?
"Kenapa Kai? Syaraf motorik lo udah mulai refleks kalo ada gue? Mana bisa lo kabur dari intusi cewek?" singkat Kemala seraya duduk di dekat Kaivan.
"Gua lagi gak mau ngobrol" singkat Kaivan.
"Gua gak akan ngajak ngobrol, tapi nih, salep pereda rasa sakit" singkat Kemala.
"Gak usah" singkat Kaivan.
"Lo gak usah pura-pura resek. Gak ada orang, selain gue di sini. Nih!" singkat Kemala seraya memberikan salepnya lagi.
Kaivan mengoleskan salep milik kemala, dan mereka terdiam beberapa saat.
"Gua masuk dulu. Thanks Mal" singkat Kemala.
Kemala mendongak.
"Hmm, Kaivan.. Soal akhir cerita cinta, kalo udah ketebak dari awal. Apa akhir kisah barusan udah sempet ditebak? Gue jadi penasaran, emang lo tau sama apa yang terjadi setelah ini?" singkat Kaivan dengan spontan.
Kaivan terdiam.
"Gak usah dipikirin. Masa depan lo masih panjang" singkat Kaivan. Kemala justru terkekeh.
"Jawaban lo kayak orang tua. Orang tua juga gak ada yang tau soal masa depan" singkat Kemala.
Kaivan menoleh lalu memandang Kemala lumat-lumat seraya menyandarkan tubuhnya di dinding pintu.
"Lo udah pernah jadian Mal?" tanya Kaivan spontan.
Kemala menolehkan pandangannya kearah lain. Kaivan tersenyum lebar. "Artinya belum. Mau jadian sama gua? Nanti, akhirnya ceritanya bisa lebih jelas ketebak" singkat Kaivan lagi.
"Udah lah, gak usah dibahas. Ini emang konyol" ucap Kemala spontan seraya kembali menatap Kaivan dalam-dalam.
"Kita putus setelah lulus SMA. Gua berencana putus sekolah, dan perasaan lo pelan-pelan terkikis gitu aja. Gak ada harapan buat cowok seperti gua" ucap Kaivan lagi.
Kemala menggeleng.
"Lo salah. Kalo kita sampe jadian, lo bisa dihilangkan dan hubungan berakhir tragis" singkat Kemala.
"Maksudnya?" singkat Kaivan tak mengerti.
"Lo yang nebak sisanya!. Gue gak mungkin bisa jadian, dan sekarang gue justru nyesel kenapa cuma puisi putus asa lo yang muncul di kepala gue setiap hari akhir-akhir ini, tapi rasanya gue mau deket sama lo. Ngobrol kayak gini terus" jawab Kemala.
"Kemala, gua gak akan pernah temenan akrab sama cewek" ucap Kaivan spontan.
"Iya sih, nanti lo malah nebak akhir cerita FriendZone buat gue" singkat Kemala.
Kaivan mulai terkekeh. "Terus gimana?" tanya Kaivan lagi.
"Boleh gak lo ngasih tau arti dari puisi putus asa lo waktu itu?" singkat Kemala seraya tersenyum lebar.
"Oke,, dan.. Setelah lo tau?" singkat Kaivan lagi.
"Gue belum tau apa yang akan terjadi setelah itu. Mungkin lo bisa nyelesein ceritanya setelah itu" singkat Kemala.
Kaivan justru terdiam. Ia menyadari perasaan konyol yang menyeruak masuk menghilangkan kebekuan rasa. Kaivan mulai mendekatkan wajahnya kearah Kemala. Entahlah kenapa secara tiba-tiba Kemala terlihat cantik tersinari warna emas lampu halaman yang jatuh menyinari kedua matanya yang terbuka lebar. Kemala mengubah gurat senyumnya dan Kaivan menatap lebih dekat.
"Kemala! Lo udah di jemput bokap lo. Gak seru banget! Gue kira lo nginep" teriak Kinanti dari dapur dan berjalan menuju halaman belakang.
Kemala dan Kaivan salah tingkah menoleh kearah yang berbeda. "Hah?! Kok gue dijemput?! Tuh kan katanya boleh nginep..." singkat Kemala spontan.
"Ternyata bukan cuma orang tua gua ya Mal?" singkat Kaivan spontan.
Kemala justru melotot kearah Kaivan, dan Kaivan tersenyum lebar lalu terkekeh. Kaivan mulai bertanya-tanya sejak saat itu. Kemala. Mengapa ada harapan yang secara ajaib muncul memberikan semangat baru dari kehidupan yang terasa berantakan akhir-akhir ini?!.
Hari baru berganti, dan Kemala selalu tersenyum lebar membayangkan obrolan seru antara dirinya dengan Kaivan setelah ia bertemu Kaivan dan membahas obrolan mereka yang terpotong saat dipantai.
Namun, langkah kemala justru terhenti begitu saja.
"Hah? Kaivan gak masuk? Tanda tangan asli bokapnya bukan?!" teriak sekertaris kelas pada siswa yang menyampaikan pesan. "Mungkin dia masih cape karena kemarin baru pulang kerja kelompok" celetuk Kinanti dengan tenang.
Dua hari berlalu, Ternyata Kaivan belum juga masuk. "Kinanti, gimana kalo kita ngerjain lagi makalahnya sore ini? Lo tau rumahnya Kaivan?" singkat Kemala dengan serius.
Bel pulang sekolah berbunyi.
Kemala dan Kinanti saling menoleh.
"Bapak sama ibu bos sibuk nyari mas Kaivan mbak. Waktu itu sempet pamit mau hidup mandiri di pantai sama ceweknya, tapi pas di cek disana udah gak ada. Tapi senin pagi, kalau gak salah mas Kaivan sempet pulang pake baju sekolah dan berangkat bawa pohon bonsainya pak Bos" singkat petugas keamanan rumah Kaivan dengan serius.
Kemala menepuk dahinya.
"Yaampun pantesan nyokapnya nitipin Kaivan ke gue!" singkat Kemala spontan.
Kemala berlari mengarah ke senja sore itu lagi. Berharap besar Kaivan sedang membuat pertunjukkan syairnya lagi. Sayangnya tidak, penyair jalanan itu menggeleng.
"Oh, kemarin sama tadi pagi memang kesini dek. Beberapa hari ini juga bawa tanaman, mungkin sambil jualan..." singkat penyair jalanan itu.
"Baca puisi lagi pak? Tentang apa?!" tanya Kemala spontan.
"Akhir perjalanan panjang. Kalau gak salah" singkat penyair jalanan itu.
Kinanti melotot, lalu berkata "Jangan-jangan dia mau bunuh diri!".
"Ngaco! Kalo dia bawa bonsai, artinya dia mau ngerjain makalah. Kalo dia gak bawa apa-apa, termasuk laptop.. Itu artinya dia ada di warnet!" ucap Kemala dengan serius.
"Kita harus nyari warnet nih?!" singkat Kinanti seraya mengerutkan dahi..
Ponsel Kemala berdering, ia melotot. Kinanti menoleh dengan spontan.
"Barusan ada anak laki-laki yang bawa bonsai dateng ke rumah? Sekarang udah pergi? Belum? Masih sama papah? Ko bisa? Iya-iya Mala pulang" singkat Kemala dengan serius.
"Nah loh mungkin aja waktu itu dia sempet beneran mau balik ke rumah. Tapi ternyata di jalanan, dia terlanjur ngerusakin bonsai bokapnya. Hayo Mal, lo ketua kelompok..." singkat Kinanti seraya tersenyum lebar, Kemala justru terkekeh merasa lega bisa bertemu Kaivan lagi.
Kaivan pun menoleh seraya tersenyum dari pekaran rumah Kemala seraya melihat pohon bonsainya.
"Lo kemana aja?" tanya Kemala spontan.
"Disini" singkat Kaivan.
Kemala justru mengubah gurat wajahnya.
"Katanya lo kabur dari rumah. Udah dua hari gak pulang. Kenapa?" singkat Kemala spontan.
"Gak usah di bahas. Gua cuma males sekolah. Gua bakal sukses pake cara sendiri. Nanti lo orang pertama yang bakal gue temui" singkat Kaivan seraya tersenyum lebar.
"Terus orang tua lo gimana?" ucap Kemala lebih serius.
"Barusan gua bilang, gua bakal sukses pake cara sendiri. Oh iya, nih Mal.." jawab Kaivan seraya mengeluarkan makalah dari tasnya.
"Lo ngerjain sendirian?" tanya Kemala spontan.
Kaivan menggeleng.
"Gue udah bayar orang buat nyelesein makalah kita, jadi lo berdua gak perlu repot"
Kemala sontak mengubah raut wajahnya.
"Lo simpen aja makalahnya" singkat Kemala.
"Hah?" tanya Kaivan spontan.
"Nanti, setelah lo sukses, gak usah dateng lagi buat ketemu gue. Kisahnya selesai aja sebelum dimulai. Gue juga belum tentu suka beneran sama lo. Tadi lo udah ketemu sama bokap gue kan? Udah bisa nebak akhir ceritanya juga kan" singkat Kemala dengan kecewa, dan berjalan masuk.
"Kalo lo gak mau ketemu lagi karena bokap lo, Gua bakal usaha kok Mal.." singkat Kaivan serius.
"Gak usah repot-repot. Makasih. Gue masuk dulu" singkat Kemala tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Lo kenapa sih Mal? Ko tiba-tiba banget" ucap Kaivn spontan.
"Anak SMA emang sering plin-plan kan? Tiba-tiba gue yakin, perasaan gue ke orang kaya lo memang gak akan bertahan lama, bahkan setelah gue dewasa" singkat Kemala lebih serius.
"Orang kayak gue Mal?" ucap Kaivan mengulangi ucapan Kemala.
"Iya. Egosentris. Itu masalahnya lo gak pernah punya temen. Lo gak punya ruang untuk ngerti perasaan orang lain. Sekarang, lo ambil aja pohon bonsal lo. Gue sama Kinanti mau ngerjain makalah baru!" singkat Kemala seraya mengangkat pohon bonsal dan memberikannya kepada Kaivan.
"Oke" singkat Kaivan.
Kaivan terlalu kacau, lalu pergi. Kemala pun masuk, lalu membuka dompetnya mengeluarkan kartu nama yang sempat dia dapatkan dari wanita yang mengantar Kaivan.
Kaivan terdiam sesaat dan mengubah gurat wajahnya saat ia menyadari telah berjalan cukup jauh dari rumah Kemala dengan penuh amarah.
Dengan spontan, Kaivan melempar pohon bonsainya di kapling kosong yang belum terbangun rumah.
Entahlah mengapa dadanya sesak, Kaivan justru menangis setelah duduk terdiam di trotoar komplek yang sepi. Ternyata dalam sekejap mata, Kaivan kehilangan dua hal yang baru saja membuatnya merasa bahagia. Dua hal itu hanya harapan dan dirinya sendiri.
Kaivan terkejut, kepalanya di usap. Ia menoleh.
"Barusan Kemala nelpon mama. Katanya kalian ada masalah. Kemala pasti kecewa kalau Kaivan seperti ini" singkat wanita itu.
"Sekarang Kaivan pulang ya? Ternyata Mama dan papa juga sangat khawatir..." singkat wanita anggun yang berkata lirih.
Kaivan justru berdiri melepaskan usapan kehangatan itu.
"Kai sekarang boleh pindah sekolah, tapi kita pulang ya?" ucap wanita itu lagi.
"Gak usah" singkat Kaivan serius.
"Terus Kai mau kemana?" singkat wanita itu lagi.
"Gak tau. Mungkin nyusul orang tua Kai!" singkat Kaivan dengan serius, dan segera beranjak dari tempatnya.
"Mama tau, Kai tidak akan memaafkan mama dan papa, tapi mama mohon bantu mama menebus rasa bersalah mama dan papa ya? Mama mohon" singkat wanita itu lagi.
Kaivan menunduk, menangis, lalu memeluk wanita dihadapannya. Suara mesin mobi terdengar. Seorang pria membanting stir dan berlari keluar dari mobilnya dengan raut wajah yang sama cemasnya dengan wanita itu.
Satu pekan berlalu.
Kaivan belum juga masuk ke sekolah. Kemala lebih sering terdiam menutupi rasa bersalahnya pada Kaivan. Namun, apakah ia juga bersalah atas sikapnya ini?
Tepat di pagi saat bel masuk baru saja berbunyi, oang tua Kaivan datang ke sekolah. Gossip yang beredar orang tua Kaivan mengurus surat-surat pindah untuk Kaivan. Katanya ke luar negeri, ada juga yang mengatakan ke pedalaman. Entahlah, Kemala tidak pernah merasa sehancur ini.
Pelajaran pertama kosong. Seperti biasa Ketua kelas duduk di depan, dan meminta sekertaris menulis kebutuhan iuran uang kas.
"Rasanya lega juga gak ada si Kaivan. Jadi tenang kalo ada pembagian kelompok. Iya gak sih?!" celetuk ketua kelas yang baru mendengar berita itu.
Semua anak-anak tertawa dan mengiyakan. Kemala justru spontan berdiri. Semua pasang mata menoleh.
"Temen-temen maaf banget. Mungkin Kaivan memang gak penting menurut sebagian dari kalian. Tapi menurut gue anggapan ini salah. Ini kelewatan" singkat Kemala seraya menarik nafasnya dalam-dalam.
"Gue pernah denger kalo Kaivan gak separah ini pas kelas 10. Dulu dia tetep mau ngerjain tugas, mau sesedikit ngerjain bagian tugas kelompok, dan gak pernah bermasalah sama guru. Kalo ada yang bilang nama kelas kita yang rusak karena dia, tapi ada gak sih yang pernah ngerasa, kalau kita juga gak pernah respek dengan keberadaan dia di kelas ini?!" jawab Kemala dengan serius.
"Kemala, kita kan lagi ngebahas piket kelas dan uang iuran" singkat teman semeja Kemala dengan spontan.
"Iya. Kita bahas Kaivan setelah rapat ini selesai ya Mal?" sambung ketua kelas lagi.
Kinanti mulai berdiri dan memandang ketua kelas.
"Kita bahas Kaivan sekarang, karena tadi lo nyeletuk ngebahas Kaivan!" singkat Kinanti dengan serius kepada ketua Kelas.
"Iya tuh bener juga. Gapapa sesekali ngebahas Kaivan. Gue juga pengin kita semua gak kayak gini terus" ucap sekertaris kelas lebih serius, dan mempersilahkan Kinanti melanjutkan ucapannya.
Kinanti menghela nafasnya dalam-dalam.
"Nih, temen-temen...Kalian pasti gak percaya, tapi ini serius. Minggu lalu, Kaivan kabur dari rumahnya. Tapi, sebelum dia pergi, dia rela bayar orang buat ngerjain makalah biologi kelompok gue dan sebegitunya mau ngangkat-ngangkat pohon bonsai dari rumahnya ke rumah Kemala. Dia sadar kalo dia gak cukup pinter buat ngerjain tugas itu, ditambah kalian juga tau kalo gue juga sering bolos sekolah. Satu hal yang yang perlu gue sampein. Kemala pernah nunjukkin sikap respeknya dengan berniat ngebantu Kaivan ngerjain tugas hukuman super parah dari guru Matematika. Pertanyaannya, apa kita udah bersikap seperti Kemala sampe kita nuntut hak dari dia untuk respek ke kita??!" ucap Kinanti lebih serius.
Semua terdiam, dan saling memandang setelah mendengar ucapan Kemala dan Kinanti.
"Mungkin dia punya masalah di rumah, mungkin emosinya belum stabil dan mungkin kecerdasan sosialnya belum bisa sebaik kita. Tapi apa cara protes kita hanya dengan ngomongin dia di belakang?" ucap Kinanti lagi Lebih serius.
Kemala terdiam, ucapan Kinanti benar dan deskripsi tentang Kaivan juga benar. Kemala menoleh dan Kinanti menekan bel rumah Kaivan. Pak petugas keamanan menoleh saat sedang bermain catur.
"Kaivan ada pak?" ucap Ketua kelas dengan lantang.
"Pergi dari pagi sama pak Bos dan bu Bos, mba" singkat pak petugas keamanan.
Kemala terdiam, dan tak lama kemudian klakson mobil terdengar.
Gerbang dibuka, sepasang pria dan wanita keluar dari mobilnya.
"Kaivan? Kalian temannya? Bukankah ini masih jam sekolah?" singkat pria itu lagi.
Kemala, Kinanti dan Ketua kelas memang sudah meminta izin saat jam istirahat. Khawatir Kaivan benar-benar sudah pergi tanpa sedikitpun penjelasan atas sikap kekanak-kanakan masa SMA. Seorang wanita tersenyum, seraya membawa tiga sirup segar di tangannya.
"Kaivan masih di makam belakang komplek ini. Rencananya kami langsung berangkat setelah Kaivan pulang." singkat wanita itu lagi.
Kemala berjalan dengan ragu, Kaivan duduk, dan menunduk seraya memeluk tanah berselimut rumput jepang yang tebal menandakan perpisahan besar yang amat berat.
"Kaivan" singkat Kemala dengan spontan. Kaivan membuka kedua matanya, kedua badannya menegak, lalu menoleh.
Kaivan berdiri dengan spontan.
"Kemala? Lo ko bisa.." singkat Kaivan gagap.
"Tadi, gue, Kinanti sama ketua kelas dateng ke rumah lo Van. Ketemu sama orang tua lo. Terus katanya lo di sini. Kalo boleh tau, ini makam siapa Van?" singkat Kemala spontan.
Kaivan melirik kecil.
"Hmm,, Maafin gue ya mal? Soal bonsai dan apapun yang salah menurut lo tentang gue" singkat Kaivan spontan tanpa menanggapi pertanyaan Kemala.
"Enggak ko... Lo gak ada salah, pikiran gue aja yang gak nyampe ngartiin sikap baik lo" singkat Kemala.
Kaivan tersenyum.
"Apa,, lo masih mau tau arti puisi gue mal?" tanya Kaivan serius.
Kemala mengangguk.
"Diatas kapal besar tanpa layar, pertama kali mereka minta gua untuk menajadi bagian dari keluarga kecil mereka, Mal. Rasa bahagia yang sama karena sebelum itu juga gua udah punya banyak kenangan tentang laut. Bokap gua nakhoda pemberani, dan nyokap gua kayak lo. Baik ke semua orang" singkat Kaivan.
"Ya, pas pertama kali gue ketemu, mereka kayaknya orang yang seperti itu Kai" ucap Kemala spontan.
"Lo belum pernah ketemu karena mereka kecelakaan dan Ini makamnya, Mal. Dari SD gua tau orang tua kandung gua udah gak ada, tapi parahnya baru tahun lalu gua tau alasan kecelakaan itu. Ternyata selama ini gua diasuh sama orang yang jadi penyebab kecelakaan itu. Mereka ngebakar penginapan orang tua kandung gua untuk tender pelabuhan Mal. Sayangnya waktu itu kenapa cuma gua yang selamat, dan bodohnya gua gak pernah mikir semua ini omong kosong. kenapa diatas kapal tanpa layar itu gua justru bersyukur punya keluarga baru yang lengkap dengan kasih sayang yang banyak.
Akhirnya sekarang, sejak saat itu gua sering ngerasa marah sama semua hal yang keliatannya asli, tapi ternyata gak begitu" singkat Kaivan.
"Percaya sama gue, semua waktu yang mereka kasih ke lo adalah penyesalan terbesar yang gak bisa ditebus dengan apapun Kaii" singkat Kemala.
"Mereka jahat Mal. Gua sadar, sampai kapan pun tetap gak ada di dunia ini rasa sayang yang setulus keluarga, Mal. Darah emang lebih kental dari apapun itu." singkat Kaivan.
"Balas dendam apa yang lebih buruk dari ungkapan penyesalan yang udah lo denger dan lo liat Kai? Menurut gue gak akan pernah ada rasa sayang yang palsu di dunia ini" singkat Kemala.
Kaivan menghela nafasnya.
"Gua pengecut Mal, gua gak pernah sedikitpun berani ngebales apapun dari masa lalu itu" singkat Kaivan.
"Lo gak pengecut Van, lo cuma mirip sama nyokap lo. Lo orang yang baik. Lo juga pemberani bisa hidup dengan baik sampe sekarang. Jadi please jangan bikin jarak ke semua orang yang mau jadi bagian dari keluarga lo, karena masih ada ikatan lain yang kuat meski enggak sekental Darah" singkat Kemala.
"Termasuk Kita Mal?" tanya Kaivan spontan.
"Ko jadi ngebahas kita?" singkat Kemala.
"Gua benci drama kalo tetep ngebahas masa lalu gua, Mal, Sorry.. Mulai sekarang gua janji cuma akan mikirin masa depan, Mal" singkat Kaivan.
"Kalo lo pergi, emang kita punya masa depan Kai?" tanya Kemala spontan.
"6 atau 7 tahun lagi gua bakal balik, Mal" singkat Kaivan.
"Gue gak suka janji, Sorry Kai" singkat Kemala.
"Lo gak harus nungguin gua Mal, karena gua yakin gak ada yang cocok untuk kita berdua selain kita. Lo bilang masih ada ikatan lain, dan gua yakin kita yang terikat" singkat Kaivan.
Kemala tersenyum lebar.
"Gue males gombal tapi gak jadian" singkat Kemala.
Kaivan tersenyum lebar.
"Hmmm, bokap lo apa kabar Mal? Sejujurnya gua lebih takut salah satu dari kita hilang kalo maksain jadian" singkat Kaivan.
"Nyebelin! Masa lo nyerah sih?!" singkat Kemala.
"Gak nyerah. Cuma, gak pantes aja. Pacaran cuma kayak nyobain baju obral yang sebenernya gak mau gua beli" jawab Kaivan.
Kemala tersenyum.
"Terus, kenapa luar negeri Kai? Lo yakin sama adaptasi perbedaan budaya dan cara berpikir disana?" tanya Kemala serius.
"Disana gua akan tinggal diasrama sama sepupu-sepupu gua Mal. Mungkin gua bisa lebih mudah adaptasi kalo ada mereka" jawab Kaivan.
"Gak usah pindah Kai. Gua siap deh kalo lo perginya pas kita lulus" singkat Kemala.
"Gua sama orang tua baru gua sepakat sama hidup baru kami di sana Mal. Gua juga mau ngelanjutin sekolah gua biar jadi orang pinter Mal. Punya masa depan yang baik buat lo" singkat Kaivan.
"Gue males janji-janji doang" singkat Kemala.
"Yaudah, gak papa kalo gak mau, gua gak masalah kok" singkat Kaivan.
"Loh? Ya..Mau lah! Gue kan gak pernah bisa pacaran Kai, gue kan juga mau nikah" singkat Kemala.
"Kok lo malah obral murah Mal?" singkat Kaivan.
"Biarin! mumpung ada yang nawar" singkat Kemala.
"Seenggaknya gua udah tenang pernah bilang ke bokap lo dulu, gua naksir anaknya" ucap Kaivan.
Kemala melotot.
"Hah? Terus?" tanya kemala spontan.
"Katanya anaknya gak boleh jadian, atau bokapnya bakal turun tangan" singkat Kaivan.
Kemala terseyum lebar.
"Terus?" tanya Kemala spontan.
"Gua cuma bisa nitip sampe bisa nikahin anaknya" jawab Kaivan.
"Terus?" tanya Kemala lagi.
"Lo justru nolak gua kan waktu gua bawa bonsai?" tanya Kaivan.
Kemala terkekeh.
"Yaudah, Maaf ya?" singkat Kemala.
"Iya" singkat Kaivan.
"Kok gampang dapet maaf?" tanya Kemala.
"Biar kalo khilaf, lo gampang maafin gua juga" ucap Kaivan.
"Yaudah gapapa, gak tau nanti" ucap Kemala.
Kemala melambai. Kaivan tersenyum lebar saat Kemala berusaha menutupi rasa sedihnya. Entahlah mengapa ucapan Kaivan benar. Tidak ada siapapun kecuali Kaivan yang cocok sempurna mengisi relung hati yang kosong.
Waktu pun berlalu dan Kaivan kembali 7 tahun kemudian.
Apakah mereka akhirnya menikah?. Kaivan datang menemui ayah Kemala. Meminang Kemala tanpa sepengetahuan Kemala. Apakah Kaivan mendapat restu itu? Tentu.
Selesai.