Matahari terbit dari ufuk timur, cahayanya perlahan mulai menghilangkan gelapnya dunia. Malam yang dingin akhirnya berakhir, waktu tidur pun telah usai.
*Kringgg…
Alarm dari jam Beker berbunyi, suara itu membangunkanku dari tidurku yang lelap.
Mengusir rasa kantuk, aku mencoba melawan keinginan untuk kembali tidur. Mataku masih ingin lebih lama tertutup. Namun, hal itu tak bisa aku laku. Karena ke sekolah adalah kewajibanku.
Aku mencoba untuk meraih jam beker yang ada di meja didekatku. Karena kantukku, tanganku meleset meraih itu. Aku terus mencobanya, akhirnya berhasil aku lakukan hal itu.
Kamarku kembali senyap tanpa suara. Aku tergoda untuk kembali terlelap.
*Kriet…
Pintu kamarku terbuka. Aku tidak tahu siapa yang datang, sebab mataku tertutup kantuk.
"Mau sampai kapan kamu tidur!"
Suara yang memanggilku itu membuatku terkejut. Aku segera duduk di atas kasurku. Keterkejutan itu, membuat aku membuka mata. Ibuku yang membuka pintu, dapat aku lihat dengan jelas.
"Iya, Bu. Sekarang aku sudah bangun."
Aku berusaha menjawab dengan semangat. Namun, apa daya karena kantuk yang berat.
"Kalau tidak bangun nanti terlambat, Cepat kamu bersihkan kamar dan mandi. Sekarang sudah lumayan siang."
Ibuku pergi, membiarkan pintu kamarku terbuka. Dia menyerahkan keputusan untuk tepat waktu atau terlambat padaku, tidak memaksaku bangun. Inilah caranya untuk mendidikku.
Mendengar ucapan ibuku, aku segera bangun dan merapikan tempat tidurku. Selimut ku lipat, bantal ku tumpuk. Dengan ini, kamar tampak rapi.
Aku berjalan menuju kamar mandi. Sinar matahari melalui jendela, menyorot wajahku yang tampak lesu.
Aku lihat rumahku sudah bersih, anggota keluargaku yang lain membersihkannya. Aku lewati tugasku membersihkan rumah, karena matahari telah tinggi dilangit.
Akhirnya aku sampai di kamar mandi, secepat mungkin aku mandi. Air yang membuat tubuhku gemetar kedinginan, aku abaikan untuk secepat mungkin bersiap.
Mengeringkan tubuhku yang basah dengan handuk, aku pun memakai seragam rapi setelahnya. Seragam yang telah lama menemaniku ke sekolah.
Aku segera memakan sarapan dengan terburu-buru. Beberapa kali aku tersedak, cepat-cepat aku atasi dengan minum air dalam gelas disampingku.
Aku tahu makan dengan cepat itu tak baik. Namun, tetap aku lakukan, demi tepat waktu kesekolah.
"Pelan-pelan, jika terburu-buru malah akan menyebabkan masalah."
Ucapan saran ayahku aku hiraukan, aku tetap bergerak secepat mungkin aku bisa.
Aku menuju ke halaman rumah, mengambil sepedah disana. Sepedaku yang tampak berdebu karena telah lama tak aku bersihkan. Ia terparkir di tengah halaman dengan sinar mentari mencerahkannya.
Aku meraih sepedah itu, mengayuhnya sekuat tenaga dan meluncur di jalanan.
Jalanan pagi tampak sudah ramai. Aku hindari orang didepan jalanku dengan sangat lihai.
"Selamat pagi, kamu terburu-buru sekali?"
Temanku yang berada di dekat rumahku menyapaku dengan ramah. Dia masih sedang memanasi motornya. Walaupun kaki teman, dia telah berada di tingkat SMA dan aku masih SD.
Melewati jalanan ke sekolah saat pagi hari, aku sampai pada jalanan yang dipenuhi lubang dan tidak rata pada jalur itu. Aku yang sangat terburu-buru ke sekolah tidak mempedulikan getaran dari jalanan itu.
Terlihat di depanku sepi ketika aku melalui jalan berlubang itu. Tak banyak orang mau melewati jalan itu.
Aku mempercepat kakiku untuk mengayuh sepeda, terasa berat pada kakiku saat awal aku mempercepat sepedah. Namun, ketika sepedaku telah bergerak cepat, kakiku yang mengayuh tidak merasa berat lagi.
Melakukan hal itu, bukan berarti tanpa resiko. Hal ini tentunya berbahaya jika ada sebuah batu di jalur sepedaku. Aku bisa saja terjatuh dan terluka jika itu terjadi.
Memahami resiko, namun mengabaikannya. Satu-satunya dipikiranku, adalah sampai tepat waktu. Walaupun jalanan berlubang aku tetap lanjut.
Hingga, sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi.
Cepatnya aku mengayuh sepeda membuat rantai pada sepedaku terputus. Rantai itu memang sudah tua, karat memenuhinya. Setiap hari aku mengabaikannya. Menutup mata terhadapnya.
Putusnya rantai itu, membuat aku kehilangan keseimbanganku dan tak bisa mengendalikan sepedaku.
*Brukk...
Aku terjatuh dan terlempar beberapa langkah dari sepeda setelah menabrak pohon. Setidaknya tubuhku tak terluka.
Aku segera bangkit dari tempatku terjatuh. Memegangi bagian sakit tubuhku. Menyapu bajuku yang kotor tertutup debu dengan tanganku.
Aku segera berjalan ke arah sepedaku terkapar. Aku membuat berdiri sepedaku menggunakan pohon yang aku tabrak tadi sebagai tumpuannya.
Memperhatikan sepedaku dengan seksama, Aku lihat rantai sepedaku benar-benar terputus. Tidak mungkin aku membetulkan itu.
Aku mengambil sebuah kantong plastik dan memasukkan rantaiku disana. Mungkin, rantai yang terputus itu, masih dapat memberikan kegunaan.
Setelah itu, aku kembali menaiki sepedaku. Tanpa rantai pada sepeda, aku menggerakkan sepeda dengan menghentakkan kaki ke jalanan.
Aku tidak merasa khawatir lagi. Aku ingat kata-kata guruku. Dia bilang, "Terkadang dalam sebuah musibah, terdapat hikmah yang dapat kita ambil."
Sama seperti saat ini, rusaknya sepedaku membuatku mendapat musibah berupa aku terlempar dari sepeda. Namun, sebagai gantinya, aku bisa membuat alasan.
Dengan rantai yang aku bawa sebagai bukti. Ini pasti lebih dari cukup untuk membuat alasan kepada guruku.
Memikirkan tentang alasan terlambat, kita perlu membuat alasan yang rasional. Kita harus pastikan alasan yang dibuat sangat rasional.
Jika aku mengatakan, "Rantai sepeda milikku putus." Semoga saja guruku tidak bilang, "Mengapa tidak berangkat lebih pagi."
Sekalipun dia membalas alasanku dengan jawaban itu, aku akan bilang, "Bagaimana aku tahu sesuatu yang akan terjadi. Jika aku tahu rantai sepedaku akan putus, tentunya aku berangkat lebih pagi."
Walaupun aku merasa tenang karena punya alasan untuk guruku, aku masih merasa tidak nyaman jika harus melewatkan pelajaran di pagi hari.
Tujuanku ke sekolah bukan hanya untuk bermain, aku disana juga benar-benar belajar. Terpaksa kutinggalkan jam pelajaran itu, walau hati terasa terpaksa.
Dengan susah payah aku menjalankan sepedaku. Seharusnya aku menuntun sepedaku saja daripada melakukan ini.
Entah kenapa walau aku tahu hal itu. Aku tetap menjalankan sepedaku dengan menghentakkan kaki ke tanah sehingga tercipta gaya tolakan yang mampu menggerakkan sepedaku.
Aku terus bersusah payah melakukan hal itu, sampai akhirnya suara sepeda motor mendekatiku.
Aku terbuat penasaran karenanya, aku pun menengok ke arah sepeda motor yang mendekatiku.
Terlihat disana adalah temanku yang tadi pagi menyapaku saat aku terburu-buru berangkat sekolah. Tadi pagi aku tidak membalas sapaannya karena terburu-buru.
Temanku itu menghentikan motornya didekatku. Aku berhenti, mengikuti apa yang dia lakukan.
"Kelihatanya kamu sedang kesusahan? Apa kamu mau numpang di motorku?"
Dia menawarkan kepada aku tumpangan. Suaranya yang ramah membuatku tenang. Aku pikir jika menumpang dengannya, aku bisa sampai ke sekolah tepat waktu.
"Baiklah, tidak terlihat akan punya pilihan lain untuk sampai tepat waktu."
Aku menyetujui ajakan dari temanku itu. Dengan sepeda motor, pastilah aku lebih cepat. Sekalipun terlambat, setidaknya aku tidak perlu susah payah menuntun sepeda.
Aku menaiki motornya dengan memegang sepedah disampingku.
Motor Pun berjalan, aku memegangi stir sepedaku untuk membawa sepeda rusak itu.
Kami berdua berhenti pada sebuah bengkel terlebih dahulu. Kerusakan pada sepedaku hanya ada pada rantai itu. Masih sangat mungkin untuk memperbaiki sepedaku kembali.
Di bengkel, kami hanya menitipkan sepeda itu pada pemilik bengkel. Pemilik bengkel itu membiarkan kami menitipkan sepeda. Bukan hanya itu, dia juga mencoba memperbaiki sepeda, dia juga berkata jika aku bisa membayarnya lain kali saat aku mengambil kembali sepedaku yang rusak. Aku memberikan rantai sepedaku yang telah putus padanya. Siapa tahu rantai itu akan berguna.
Kami tidak menunggu sepeda milikku selesai diperbaiki olehnya. Kami berangkat setelah selesai menaruh sepeda itu disana. Waktu bel masuk sekolah tidak mengizinkan kami menunggu sepedaku.
*Brmmm….
Suara motor terdengar di telingaku. Hembusan angin menerpa dan mengibaskan rambutku yang tampak lebat.
Aku memang sudah lama tidak mencukur rambutku. Aku membiarkannya tumbuh hingga panjang di kepalaku. Aku terlalu malas pergi ke tukang pangkas rambut.
Tidak memerlukan waktu lama, aku akhirnya sampai di depan sekolahku. Untunglah disana terlihat masih terlihat banyak murid-murid bermain di halaman sekolah. Dari sini aku menjadi lega karena belum terlambat.
Aku segera turun dari motor. Aku melihat temanku itu sedang kembali menjalankan motornya pergi ke sekolahnya sendiri. Aku mendoakannya agar tidak terlambat karena telah menolongku.
Setelah melihatnya pergi, aku berbalik memandangi sekolahku yang tampak sederhananya. Itu bukanlah sekolah yang mewah, sekolah itu cukup sederhana dan memenuhi standar. Di sekolah itu sudah terdapat listrik.
Dengan pelan aku berjalan memasuki gerbang sekolah. Rasa resah di hatiku menghilang setelah tahu aku tepat waktu.
*Tet… tet… tet…
Ketika aku melewati gerbang, suara bel sekolah be bunyi.
Aku segera berlari sekuat tenaga menuju ke kelasku dan menaruh tas disana. Aku masih merasa lelah karena mengayuh sepeda tadi, namun akan sangat disayangkan jika terlambat saat sudah sampai.
Memikirkan hal itu membuatku merasa sedikit lucu, aku tidak pernah mendengar ada yang terlambat saat sudah sampai di sekolah.
Aku merasa pagi ini tidak membiarkan aku beristirahat walaupun hanya sebentar. Setidaknya biarkan aku sedikit santai.
Namun, setelah aku pikir, aku memiliki waktu santai yang sangat singkat. Yaitu saat aku turun dari sepeda motor dan berjalan ke gerbang sekolah.
Aku segera menaruh tas di dalam kelas dan kembali lagi ke halaman, tak lupa aku mengambil topi yang ada di dalam tas. Hari ini adalah Hari Senin, sekolahku mengadakan upacara di halaman sekolah.
Melakukannya membuatku berpikir, mengapa aku tidak menaruh tasku di dekat pagar sekolah dan melakukan upacara. Lalu, setelah itu aku akan menaruh tasku di kelas saat upacara selesai. Sekarang aku jadi bolak-balik dari halaman ke kelas dan dari kelas ke halaman.