Pangeran Hanum Kencono sampai di mulut Hutan Alas Wangi bersama rombongannya. Karena hari ini keraton tengah merayakan sebuah hari besar, maka tidak lengkap bagi seorang pangeran jika tidak merayakannya dengan berburu celeng hutan.
Pangeran muda ini memang terkenal di segala penjuru sebagai pemburu yang handal. Namun, biasanya dia cukup berburu seorang diri atau setidaknya ditemani oleh dua orang kawannya, dan baru kali ini dia berburu bersama banyak orang seperti ini. Tidak hanya orang-orang keraton yang ikut melainkan beberapa penduduk juga ikut serta yang keseluruhannya adalah laki-laki.
Hutan Alas Wangi adalah tempat pilihan mereka, karena menurut pembacaan Pangeran Hanum hutan ini masih sangat perawan. Belum pernah dijamah oleh tangan manusia, pastinya menyimpan banyak sekali celeng-celeng gemuk.
Maka tanpa tunggu lama lagi, mereka masuk ke dalam hutan ini. Benar saja, saking perawannya hutan ini banyak sekali binatang yang meninggalinya. Di beberapa dahan pohon tampak sekelompok monyet bergelantungan dan melompat dari satu pohon ke pohon lain. Tak lama berselang terdengarlah suara celeng yang saling sahut menyahut menandakan bahwa mereka berada dalam jumlah banyak.
“Hari ini hari keberuntungan kita !,” Pangeran Hanum kegirangan.
Mereka pun berjalan mengikuti arah suara itu yaitu ke jurusan barat hutan. Menyibak semak belukar dan berfokus pada jalan tanah berbatu yang mereka pijak rupanya telah membawa mereka jauh masuk ke dalam hutan. Keadaan terasa asing, sunyi laksana di perkuburan. Kegelapan tempat itu semakin menambah kepanikan beberapa anggota kelompok itu.
Perdebatan tidak bisa di hindari, namun Pangeran Hanum membentak tegas dan mengajak untuk meneruskan perjalanan. Mau tidak mau mereka harus tetap berjalan atas perintah Pangeran Hanum.
Semakin lama mereka berjalan, semakin terkuras habis tenaga mereka. Namun Pangeran Hanum masih memaksakan kehendaknya hingga perjalanan ini berubah menjadi sebuah mimpi buruk bagi orang-orang itu.
Di ujung jalan sampailah mereka di sebuah turunan curam, dan dari bawah sana suara celeng itu berasal dari cekungan dalam yang mengarahkan Pangeran Hanum dan rombongan ke sebuah jalan tanah becek. Namun, hampir mereka menyampai pusat suara itu tiba-tiba terdengar suara aneh, suara kecapi ! Setan mana yang mulai mempermainkan mereka dengan bunyi kecapi itu ? Dan tak lama berselang menyusul suara perempuan sedang bersenandung dengan nada sumbang.
“Astaga, apakah setan hutan marah kita memasuki daerahnya ?,” bertanya salah satu abdi keraton.
“Ah, mana itu setan, biar aku lumatkan mukanya dengan sekali pukul !,” menyahut Pangeran Hanum kesal.
Diikuti dengan yang lain, Pangeran Hanum berjalan penuh keangkuhan hingga dia menyibak sebuah semak belukar yang kasar itu. Kini di hadapannya terbentang sebuah pemandangan penuh kengerian ! Di beberapa cabang pohon terlihat sekitar sepuluh mayat yang digantung, bau bangkai mulai menusuk hidung dan kengerian tersampai ketika melihat keadaan mayat itu yang hancur dan di penuhi belatung.
Bukan hanya di cabang-cabang pohon, di tanah tampak tergeletak sekitar dua puluh mayat manusia yang sebagian sudah tinggal kerangkanya saja, sedang sisanya sudah membusuk. Pangeran Hanum tidak kuat menahan bau busuk ini dan akhirnya muntah !.
Dunia seribu arah
Angin menderu ke selatan
Datang menghantarkan nyawa
Pulang menuju gerbang neraka
Nyanyian aneh muncul menggidikkan kuduk setiap orang yang mendengar, nadanya begitu lirih dan sumbang seperti benar-benar malaikat maut sedang menyanyi hendak mencabut nyawa. Tiba-tiba dari jurusan sebelah kanan, tampak berjalan keluar seseorang dari balik kerapatan pohon penuh mayat itu. Dia berjalan dengan gemulai menandakan bahwa yang datang ini adalah seorang perempuan. Benar saja, orang ini tak lain adalah seorang perempuan berwajah bulat putih, matanya hitam berbinar dengan bibir merah merekah laksana delima. Rambutnya terurai panjang dengan hiasan pita yang mengikat beberapa helai rambutnya. Dia memakai baju berwarna kelabu gelap dengan celana pendek berjumbai berwarna hitam pekat. Di belakang perempuan ini mengiring sekitar tiga puluh ekor celeng bertubuh gemuk dan sehat. Pangeran Hanum bukan lagi memperhatikan betapa banyaknya celeng itu, karena pandangannya sudah teralihkan pada si perempuan jelita ini.
“Pangeran aku merasa perempuan ini bukan manusia biasa, dari tatapannya seperti mengandung sebuah kekuatan aneh,” berbisik abdi keraton yang memiliki sedikit kepandaian.
Memang benar, di balik kecantikan perempuan ini terlihat binar kejanggalan dari tatapannya yang dingin. Perempuan ini berhenti sekitar sepuluh langkah di hadapan rombongan itu dan menjentikkan jarinya, sontak para celeng itu seperti tersadar dari sebuah pengaruh dan langsung berhamburan pergi ketika melihat Pangeran Hanum.
“Maaf saudari, bolehkah saya tahu siapa namamu ? Parasmu begitu cantik, saya ingin sekali mempersunting dirimu,” berkata Pangeran Hanum yang tergoda akan kecantikan perempuan ini.
Yang di tanya tersenyum kecut, dan menjawab.
“Aku Luh Rimbawati, katakan apa tujuanmu masuk ke hutan ini ?,” suaranya begitu halus namun nadanya tampak seperti seorang penjahat.
“Ah, namamu indah seindah orangnya. Kedatangan kami kesini adalah untuk berburu,” jawab Pangeran Hanum.
“Berburu, senangkah kalian melihat kematian makhluk tidak berdosa ?,” Luh Rimbawati yang kini bertanya.
“Begitulah, kau tahulah seorang putra keraton bisa melakukan apapun demi kesenangannya,” Pangeran Hanum tampak meninggikan diri.
Luh Rimbawati tertawa pendek,
“Ah, dirimu tidak ada bedanya dengan manusia-manusia yang sekarang sudah menjadi bangkai ini. Tapi karena kau masih muda, lebih baik segera angkat kaki dari tempat ini, barangkali nasibmu masih baik,” Luh Rimbawati memerintah.
Pangeran Hanum sedikit tersinggung akan perintah itu,
“Kalau bukan karena paras cantikmu, mungkin aku akan langsung menjebloskanmu ke penjara saudari ataupun langsung membunuhmu sekarang juga. Sekarang kau sudah memancing kemurkaanku, sebaiknya segera minta maaf dan terima tawaranku tadi,” perintah Pangeran Hanum.
“Ha...ha...ha... Sudah dikasih kesempatan tapi di sia-siakan. Tidak akan ada kesempatan kedua pangeran bodoh,” kata Luh Rimbawati.
Perutnya tampak mengempis dan setelahnya terdengarlah pekikannya merobek suasana. Seisi hutan itu tiba-tiba bergetar hebat, dan mulai menyibak bau bangkai yang sangat busuk, mayat-mayat yang menggantung di cabang pohon itu terlihat bergerak dan tiba-tiba mengeluarkan pekikkan keras, astaga mereka hidup lagi ! Sepertinya Luh Rimbawatilah yang membangkitkan mayat-mayat ini.
Pekikan mayat-mayat itu bukan main hebatnya, Pangeran Hanum merasakan kesakitan yang teramat di sekujur tubuhnya, begitu juga dengan pengawal dan rombongannya. Darah mulai keluar dari sela-sela telinga dan mengucur dari kedua kelopak matanya dengan deras. Tak tunggu waktu lama, pekikan itu merobohkan tubuh mereka.
***
Keraton Pusaka Bumi di buat risau akan keberadaan salah satu putra keraton yang tidak kunjung pulang seminggu belakangan ini. Ya, dia adalah Pangeran Hanum yang tewas di Hutan Alas Wangi pekan kemarin. Sri Raja tampak risau akan keberadaan pewaris keraton itu, apalagi usianya yang sudah semakin senja maka kacaulah pikirannya. Padahal sudah di rencanakan bahwa pewarisan tahta akan dilakukan satu bulan di muka.
Siang itu orang-orang keraton sedang melakukan pertemuan untuk merencanakan pencarian besar-besaran. Di sana terlihat hadir seorang abdi keraton berkepandaian tinggi yaitu Kebo Ireng atau julukannya Pedang Halilintar, dan sisa di antaranya hadir orang-orang kepercayaan Sri Raja.
“Sudah memasuki hari ke tujuh anakku Hanum Kencono tak kunjung pulang. Maka di hari ke sepuluh aku memerintahkan untuk melakukan pencarian besar-besaran ke semua daerah. Cari sampai ke lubang semut sekalipun,” Sri Raja membuka mulut.
“Mohon maaf Sri Raja, sebelumnya apakah Pangeran Hanum mengatakan dia mau pergi ke mana ?,” bertanya seorang panglima keraton yaitu Panglima Jaya Rana.
Sri Raja menggeleng,
“Kalau boleh menyampaikan usul Sri Raja, adakah baiknya kita mencari tahu ke mana pangeran pergi terlebih dulu,” mengusul seorang abdi keraton.
Sri Raja mengangguk, namun dia bingung apa yang harus dia lakukan untuk mencari tahu keberadaan anaknya itu.
Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil di luar, dan masuklah seorang pelayan ke dalam ruangan.
“Mohon ampun atas kelancangan ini Sri Raja, namun di luar ada salah satu abdi kerajaan yang berlumuran darah,” berkata pelayan itu.
Sri Raja menyuruh Panglima Jaya Rana untuk memeriksa keadaan. Maka Panglima Jaya Rana segera meninggalkan ruangan dan menemui orang yang di maksud. Nyatanya orang ini adalah salah satu dari anggota kelompok Pangeran Hanum kemarin yang agaknya selamat dari kejadian mengerikan di Alas Wangi. Sekujur tubuhnya sudah dipenuhi oleh darah yang mengering, sedang tampak beberapa luka lebam di bagian telinga dan matanya. Ketika di tanya, orang ini tidak bisa berbicara akibat sebuah lubang menganga di tenggorokannya, di detik terakhirnya tampak jarinya bergerak menuliskan sesuatu di lantai. Susah payah Panglima Jaya Rana membaca tulisan tanpa wujud itu.
“Alas... Alas Wangi,”
“Apa yang terjadi ?,” belum sempat pertanyaan itu di jawab, si abdi keraton sudah putus nyawanya.
Sri Raja datang dengan beberapa orang termasuk Si Pedang Halilintar, pimpinan keraton ini kaget menyaksikan mayat bersimbah darah di hadapannya. Belum sempat pertanyaan keluar, Panglima Jaya Rana sudah berbicara.
“Dia menuliskan nama Alas Wangi, rasanya ini semua ada hubungannya dengan Pangeran Hanum,”
“Alas Wangi, maksudnya hutan angker itu,” Pedang Halilintar berseru kaget.
“Hutan Angker ? Apa maksudmu ? Belum pernah ku dengar nama itu ?,” bertanya Sri Raja.
“Kebanyakan orang mengenalnya sebagai Hutan Mayat. Memang letaknya tersembunyi, aku kurang mengetahui secara pasti tempat itu. Namun ada seorang pengembara yang pernah masuk dan berhasil keluar dari tempat itu. Tidak salah namanya Surya Pati,” jawab Pedang Halilintar.
“Kita harus menemukan orang itu, apapun yang terjadi jiwaku tidak akan tenang kalau belum aku ketahui nasib putraku itu,” ujar Sri Raja.
Dia pun mengutus Pedang Halilintar dan beberapa orang lainnya untuk menemaninya mencari manusia bernama Surya Pati itu. Mereka berangkat saat itu juga ke arah Kotaraja.
Atas arahan Pedang Halilintar mereka segera menuju ke pinggiran pasar karena setahunya manusia bernama Surya Pati itu sering mengemis di sana. Hingga ketemulah orang yang di cari, dia sedang bersama anak-anak kecil agaknya sedang mendongeng , segera Pedang Halilintar mendekati orang tua itu.
“Assalmualaikum,” Pedang Halilintar memberi salam.
“Alaikumsalam,” menjawab orang tua itu yang tak lain adalah Surya Pati.
“Anak-anak kita lanjut ceritanya besok, sepertinya tuan ini ada urusan penting terhadap kakek,” kata Surya Pati.
Maka anak-anak itu mengangguk dan berlalu pergi.
“Melihat dari pakaian tuan, agaknya tuan ini adalah orang keraton. Ada apakah tuan menemui saya yang buruk rupa ini ?,” bertanya Surya Pati.
Pedang Halilintar duduk di depan Surya Pati dan menjelaskan bahwa Sri Raja hendak bertemu dengannya.
Mereka pun bertemu di sebuah warung, di sana Sri Raja sudah menunggu di sebuah meja di sudut warung yang agak sepi. Sengaja mereka duduk agak menjauh dengan pengunjung lain, karena takut masalah keraton akan bocor. Setelah beberapa makanan di sajikan, Sri Raja langsung bertanya.
“Sebelumnya maaf kalau mengganggu waktumu kek, tapi mungkin hanya kau yang bisa memberikan penuturan dan menolong keraton sekarang ini,”
“Ah, apakah sesuatu buruk terjadi menimpa keraton ? Dan apakah yang bisa hamba bantu ?,” Surya Pati bertanya.
“Benar sekali saudara, putraku Pangeran Hanum Kencono sudah sekitar satu minggu ini pergi dan tidak kembali, kabar yang berhembus dia beserta beberapa orang pergi ke sebuah tempat bernama Alas Wangi...,”
Surya Pati tersentak kaget mendengar nama yang dia dengar. Tampak cangkir itu jatuh dari genggamannya dan pecah berantakan di lantai. Bagaimana tidak, tempat itu adalah tempat yang hampir saja menewaskannya dalam peristiwa tiga puluh lima tahun silam.
“Apa yang mereka lakukan di tempat itu, siapa pun yang berani masuk tidak bisa keluar, sekalipun bisa mereka akan keluar tanpa nyawa atau keluar hidup namun akan tewas di saat kemudian,” bertutur Surya Pati.
“Tempat apakah itu ? Agaknya tempat itu sangat angker hingga kau sangat takut ketika berbicara ?,” bertanya Panglima Jaya Rana bertanya.
“Hutan itu adalah perbatasan dari alam manusia menuju alam lelembut. Sebagian yang mengetahui tempat itu lebih sering orang menyebutnya sebagai Hutan Mayat atau Gerbang Siluman. Semua yang berada di sana adalah sosok lelembut haus darah yang tidak segan membunuh orang yang berani masuk ke wilayahnya. Aku maaf mengatakan ini Sri Raja, tapi mungkin tidak akan ada kesempatan bagi Pangeran Hanum hidup. Karna...,”
“Brakkk...,” Sri Raja memukul meja.
“Jangan bicara sembarangan, tidak mungkin anakku mati dalam tempat itu. Selagi pun tampaknya ceritamu hanya bualan ! Kau sedari tadi ketakutan seperti orang gila !,” menghardik Sri Raja.
Kakek tua bernama Surya Pati itu tidak terima akan hardikkan itu. Tanpa banyak bicara dia segera tinggalkan warung itu dengan satu tatapan Sri Raja. Sebenarnya Pedang Halilintar juga merasa Sri Raja terlalu gegabah dalam bersikap, hingga satu-satunya kunci untuk membuka tabir ini hilang.
“Dengarkan Tuan Raja ! Kau harus belajar menghargai perasaan orang lain. Jangan sekiranya kau orang berpangkat aku bisa tunduk atas segala kata-kata jahatmu. Kalau kau mau mencari anakmu, carilah di Hutan Alas Wangi. Letaknya di seberang Gunung Gede di antara lembah curam sebelah utara. Namun jangan harap kalau sesuatu buruk terjadi aku akan membuka hati untuk menolong !,” usai berkata itu Surya Pati segera berkelabat pergi
Semuanya terdiam, hingga Sri Raja berkata kasar tentang Surya Pati,
“Tua bangka tidak tahu diri ! Kalau sekali lagi aku bertemu dengannya dia harus menerima hukuman cambuk seratus kali,” katanya sambil menoleh ke pengawalnya.
***
Atas petunjuk yang di dapat, maka di utuslah Panglima Jaya Rana untuk mencari Pangeran Hanum di tempat bernama Hutan Alas Wangi itu. Dia tidak sendiri, ikut serta pula sekitar lima puluh orang pengawal keraton dan nampak di barisan empat orang laki-laki bertubuh tinggi bertampang sangar dengan guratan luka memenuhi wajahnya. Mereka membawa sebuah kantong yang ketika di lihat ada sebuah benda berbentuk segitiga runcing dan berwarna merah kehitaman menandakan benda itu mengandung racun. Tidak salah ini adalah kelompok bandit yang berkuasa di sekitaran daerah hutan utara berjuluk Empat Maha Racun. Sepertinya Sri Raja sengaja bekerja sama dengan keempat perampok ini untuk menyelamatkan anaknya, karena keempat orang ini memang sangat bengis dalam bertindak hingga itu Sri Raja mempercayakan tugas ini kepada mereka. Sebenarnya keempatnya tidak tahu dengan siapa mereka akan berhadapan hingga mereka tampak angkuh dalam mengambil langkah.
Matahari sudah condong di barat, perjalanan sudah selesai ketika Panglima Jaya Rana melihat sebuah hutan di dasar lembah curam itu. Ketika di dekati tiba-tiba satu hawa aneh mulai menyerbak, seketika bulu kuduk mereka berdiri layaknya mereka sedang di datangi oleh setan.
“Racun Satu aku merasakan firasat buruk,” bisik Racun Empat.
Sebenarnya Racun Satu yang merupakan ketua dari keempat orang in sudah merasakan hawa aneh ini bahkan dari lembah itu tadi. Namun dia sebisa mungkin terlihat biasa-biasa saja dan menjawab bisikan Racun Empat dengan bentakan untuk tidak menghiraukan firasatnya.
Panglima Jaya Rana memberi arahan untuk masuk. Mereka meniti sebuah jalan tanah yang membawa mereka ke dalam hutan yang gulita ketika malam mulai menyibak dunia. Keadaan yang sunyi membuat mereka laksana sedang berjalan di perkuburan. Sura binatang pun tidak terdengar meskipun jangkrik yang biasanya selalu berbunyi di malam hari, sungguh aneh tempat ini.
Mereka berjalan terus dan sampai di sebuah aliran sungai keci yang surut, air sungai ini sejuk sekali ketika kaki terbenam ke dalamnya. Namun, Racun Dua melihat sesuatu berkilau di tengah aliran sungai ini. Ketika dia mendekat terlihat sebongkah batu permata berwarna merah terang menyala-nyala. Entah darimana datangnya terdengar satu bisikan di telinga Racun Dua yang menyuruhnya untuk mencabut batu itu dari dua buah akar dalam sebuah gundukan tanah yang tertutup oleh beberapa kerikil hitam. Karena naluri rakusnya sudah menguasai diri Racun Dua maka diapun kalap dan mengeluarkan batu permata yang menancap itu.
Tiba-tiba secara aneh sebuah gempa dahsyat terjadi ! Tempat itu seperti di guncang oleh sesuatu yang bergetar dari dalam tanah. Beberapa batang pohon tumbang dan saat itulah menyibak sebuah bau busuk sekali, bau bangkai ! Dari sebuah jalan gelap di jurusan kiri sungai itu tampak melayang beberapa puluh benda dan ketika mendekat tersentaklah semua orang benda itu adalah tubuh manusia yang telah membusuk dan rusak tubuhnya. Tepat di depan Panglima Jaya Rana tersungkur sesosok mayat mengenakan baju bagus dan sebuah cincin emas bertabur permata kecil.
“Pangeran Hanum !,” teriaknya.
Bau busuk bangkai semakin kuat dan kini terdengar pula lolongan anjing di kejauhan, dan di susul dengan suara ratap sedih seorang perempuan lalu di tutup oleh suara teriakan-teriakan mengerikan. Kecutlah nyali semua orang itu, ucapan Surya Pati kemarin bukan bualan belaka. Benar adanya tempat ini adalah dunia lelembut !
Mencobalah Panglima Jaya Rana mengambil langkah seribu, namun betapa kagetnya dia ketika menyaksikan puluhan bahkan ratusan sosok tubuh sudah mengepung tempat itu. Ada yang tegak di atas tanah dengan muka serigala tapi berbadan manusia, juga ada yang duduk di atas dahan pohon dengan muka rata dan bada hitam legam. Menggema kemudian bunyi sebuah kecapi dari kejauhan dan kemudian mendekat, kini datang dari dalam jalan gelap itu empat sosok tubuh tinggi berbulu lebat dan bertaring merah mengangkat sebuah tandu di atas bahu mereka. Di atas tandu itu duduk sesosok tubuh perempuan berpakaian bagus, dengan rambut panjang dan parasnya cantik sekali. Namun Empat Maha Racun tidak merasakan hawa perempuan baik-baik dari orang ini, malahan hawa jahat yang terasa apalagi ketika dia melemparkan tatapan tajam dan dingin. Perempuan di atas tandu ini tak lain adalah Luh Rimbawati dan di lihat dari pakaiannya jelas bahwa dia adalah penguasa seantero hutan angker ini.
Rombongan pengangkat tandu berhenti sekitar sepuluh langkah di muka. Luh Rimbawati bangkit dari duduknya dan melayang turun. Langkahnya penuh wibawa dengan tatapan yang semakin dingin.
“Perempuan berbaju bagus, apakah kau yang menjadi penyebab kematian Pangeran Hanum Kencono ?,” tanya Panglima Jaya Rana menahan rasa takutnya.
Luh Rimbawati masih dalam diamnya, dan dia menoleh kepada Racun Dua yang masih memegang batu permata itu.
“Racun Dua, mendekatlah,” perintah Luh Rimbawati.
Seperti ada sesuatu menarik tangannya, Racun Dua berjalan mendekat.
“Kemarikan batu itu, dan segeralah kau pergi dari sini,” perintah Luh Rimbawati.
“Apa maksudmu ! Hendak merebut permata ini ? Ah, paras saja yang cantik ternyata juga doyan nyolong...,” makian itu tertahan ketika leher Racun Dua serasa dicekik.
Tangan kiri Luh Rimbawati di naikkan ke muka dan tampak selarik sinar merah menyambar tangan Racun Dua membuat batu yang berada di genggamannya kini berganti tempat ke tangan perempuan itu.
Di saat itulah rasa tercekik itu serta merta hilang.
Dengan tatapan penuh kemarahan penguasa Hutan Alas Wangi ini meremas batu kecil itu hingga hancur berkeping-keping.
“Manusia dogol ! Sudah di beri kesempatan hidup malah minta mampus, nyawamu tidak akan beda dari mayat-mayat di hutan ini,” membentak Luh Rimbawati.
Seketika pemandangan di beberapa dahan pohon menjadi terang dan di saat inilah menampak pemandangan penuh kengerian. Ternyata sumber bau busuk yang sedari tadi menguasai tempat berasal dari puluhan mayat manusia yang telah membusuk dan di jadikan pajangan hutan angker ini.
Ada yang di gantung kepala di bawah kaki di atas, ada yang tubuhnya di tancapkan ke pohon berduri besar, ada juga yang tergeletak di akar pohon dengan isi perut memburai keluar. Kesemua mayat ini benar-benar menemui ajal dalam keadaan mengerikan. Apakah ini semua adalah korban dari perempuan penguasa hutan ini ?
“Pilihlah cara seperti apa yang kamu inginkan ?,” kata Luh Rimbawati.
Menahan rasa takutnya, Racun Dua balas perkataan itu.
“Sebelum kau membunuh dan memajangku di salah satu pohon celaka itu, nih makan terima dulu hadiahku !,”
Di keluarkannya sebuah benda yang sedari tadi tersimpan di dalam kantong yang tergantung di pinggangnya. Benda ini beukuran kecil dengan ujung berbentuk segitiga berlapis cairan mengering berwarna merah kehitaman. Sepertinya inilah senjata pusaka yang dimiliki oleh Empat Maha Racun yaitu Pahat El-Maut ! Tanpa banyak bicara Racun Dua terbakar amarah dan menyerang Luh Rimbawati. Serangannya itu bukan main ganasnya salah gerak saja lawan akan kehilangan salah satu bagian tubuhnya akibat tebasan benda itu, walaupun hanya tersentuh saja racun yang terkandung di ujung benda ini bukan main lagi jahatnya, setidaknya berada empat tingkat di atas bisa kalajengking.
Namun sepertinya Luh Rimbawati tidak merasakan takut sama sekali. Ketika pahat itu hampir sampai di ambang lehernya, maka perempuan ini maju satu langkah dan menarik nafas dalam-dalam. Di dahului dengan munculnya angin deras berhawa angker dan saat itulah Luh Rimbawati lepaskan teriakan sakti yang menyakitkan telinga. Teriakan itu mendayu seram membawa senandung kematian bagi Racun Dua. Sebisa mungkin Racun Dua tutup pendengaran, namun apa daya serangan ini lebih dulu masuk ke gendang telinganya, hingga Racun Dua merasakan kesakitan yang teramat sakit ketika mengetahui gendang telinganya pecah dan darah mulai mengalir keluar dari lubang telinga itu.
Amukan perempuan itu semakin menjadi hingga kini muncul tiga gelombang berbentuk bundar dari mulutnya. Tubuh Racun Dua terpental dan menabrak batang pohon, dia jatuh ke tanah dalam keadaan sudah menjadi mayat.
Ketiga kawannya benar-benar kehilangan nyalinya ketika melihat apa yang terjadi pada Racun Dua. Manusia itu menemui ajalnya dengan darah bersimbah membasahi telinga dan wajahnya, di beberapa bagian tubuhnya terlihat tanda bundar yang menghitam dan membakar isi dalamnya, sedang lehernya tampak patah ketika menghantam pohon tadi. Maka dengan serentak mereka memutar badan dan mengambil langkah seribu, tetapi rupanya Luh Rimbawati sudah mengetahui niat mereka maka dengan satu suitan nyaring berkelabat lima sosok makhluk hitam legam menghadang. Belum sempat ketiga orang ini hendak lancarkan serangan, lima pasang tangan hitam melayang ke kepala mereka dan disambut dengan pekikan seram dari ketiganya ketika kepala mereka luluh hancur di hantam pukulan keras ini. Nama besar Empat Maha Racun kini tinggal kenangan.
Panglima Jaya Rana bergetar sekujur tubuhnya melihat pembunuhan di depannya, seumur-umur baru kali ini dia melihat perempuan seganas dan sehebat Luh Rimbawati. Dan lebih takut lagi dia ketika melihat pengawal keraton yang rupanya sudah bergelimpangan di tanah dan menjadi mayat hampir kesemuanya mati dengan keadaan tubuh terpisah dan ada juga yang pecah kepalanya.
Karena merasa tidak ada gunanya melawan maka dia jatuhkan diri,
“Mohon ampuni selembar nyawa saya ini penguasa hutan,” pinta Panglima Jaya Rana
Luh Rimbawati tidak menjawab, tatapannya masih sama dingin laksana salju ! Dan ketika Panglima Jaya Rana terisak isak seperti anak kecil barulah perempuan ini berbalik naik ke tandu dan memberi perintah kepada anak buahnya untuk segera pergi. Keadaan kembali sunyi, dan mayat-mayat yang tadinya bergelimpangan kini sudah lenyap entah kemana. Segera saja Panglima ini bangkit berdiri dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat.
***
Surya Pati tetap berada di pinggiran pasar sembari mengemis sedekah dari orang-orang yang lewat, namun untuk sekarang perasaannya berbeda seperti biasanya. Dia terlihat gelisah dan waspada akan keadaan sekitar, seperti akan terjadi sesuatu buruk menimpa dirinya dan tempat ini. Padahal hari itu belum juga siang tapi Surya Pati putuskan untuk beranjak pergi.
Di persimpangan jalan itu hati kakek tua ini semakin was-was tatkala dia tak sengaja melihat beberapa bayangan hitam berkelabat di arah selatan menuju ke arah Keraton.
“Gusti Allah, apa yang akan terjadi ?,” renungnya.
Dia yakin sekali pasti semua ini ada hubungannya dengan hutan celaka itu, atau mungkin saja Batu Sabda Permata yang mengunci alam itu sudah lepas dari tempatnya ?. Semakinlah risau kakek tua ini mungkin saja kejadian tiga puluh lima tahun silam terjadi lagi menimpa dirinya.
Kala itu Surya Pati yang masih muda tinggal di sebuah desa bernama Pranda Bringin yang terletak di kaki Gunung Gede. Sewaktu itu dia bersama beberapa orang sobatnya sedang melakukan perburuan dan penebangan pohon di Hutan Alas Wangi. Namun tanpa sepengetahuannya tempat ini adalah daerah terlarang yang di kuasai oleh lelembut bernama Luh Rimbawati, kabarnya dia adalah titisan dari dewa yang bersemayam di langit ke empat namun karena satu kesalahan dia di usir dari tempat itu dan di kurung di sebuah gerbang perbatasan antara alam manusia dan alam lelembut di mana Batu Sabda Permata itu adalah kunci yang menutup gerbang ghaib itu. Selama beratus-ratus tahun Luh Rimbawati berdiam di tempat itu meratapi kesalahannya, namun ada sebuah kekuatan hitam yang perlahan masuk ke dalam raganya dan berangsur menguasai batinnya. Dari kekuatan ini dia mendapatkan kemampuan untuk menundukkan bangsa siluman dan di angkat menjadi pewaris tahta Hutan Alas Wangi itu. Sebenarnya, Luh Rimbawati yang memang merupakan seorang dewi ini berada di dalam kurungan batin dia sebetulnya sangat tersiksa akan keadaan. Dia membunuh tanpa sebab, semua yang dia lakukan bukanlah atas kehendaknya !
Alas Wangi atau Gerbang Siluman tetap terkunci rapat hingga Batu Sabda Permata itu di lepaskan oleh Surya Pati. Maka ini membuat segala hal yang berada di dalamnya bisa bebas keluar, semua kekuatan jahat masuk ke jagat manusia dan mulai membuat keonaran. Saat itu tanah Jawa benar-benar menemui kehancuran akibat serangan dari bangsa siluman ini yang di pimpin oleh Luh Rimbawati atau tepatnya kekuatan yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Hingga Surya Pati bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan kembali ke Hutan Alas Wangi. Hampir saja nyawanya melayang namun dia berhasil menancapkan kembali Batu Sabda Permata ke tempatnya hingga semua kekuatan termasuk Luh Rimbawati dan pasukannya terhisap masuk dan berhasil di kurung di dalam hutan itu.
Namun apakah kini batu itu sudah lepas lagi ? Siapa kini yang berani-beraninya membuka tabir gaib itu ?
Lamunan Surya Pati pecah tatkala terdengar suara berdentum yang kuat sekali. Laksana kilat menyabar sebuah cahaya hitam dari arah keraton. Suasana sekitar menjadi hening ketika lolongan aneh terdengar angker menegakkan bulu roma. Di pasar pun mendengarnya hingga membuat semua orang berhamburan ketakutan.
Sri Raja terlihat berlari bersama Pedang Halilintar dan istrinya mengarah ke Surya Pati. Benarlah tebakan kakek tua itu, pasti penghuni Alas Wangi sudah berkeliaran di alam manusia. Ketiga orang itu percepat lari ketika sepuluh sosok tubuh mendekati mereka, namun terlambat sepuluh tangan hitam bercakar sudah mencengkeram tubuh manusia itu dan menariknya ke sebuah lubang hitam yang muncul dari bawah tanah. Surya Pati yang coba loloskan diri, tidak luput dari incaran dua sosok siluman dan tak butuh waktu lama Surya Pati berhasil di ringkus dan di seret masuk ke dalam lubang hitam.
Ketika mata mulai terbuka, nyatanya Surya Pati kini berada di tengah sebuah rimba belantara yang gelap gulita nan sepi laksana perkuburan. Dia memandang sekeliling dan melihat beberapa tubuh tergeletak sekitar lima kaki di muka, dia dekati dan rupanya ketiganya adalah Sri Raja beserta sang istri, juga di sampingnya adalah Pedang Halilintar.
Segera Surya Pati membangunkan ketiganya dari pingsan, dan sekitar sepeminum teh barulah ketiganya siuman. Sri Raja bukan main kagetnya ketika mengetahui dirinya berada di tempat yang entah di mana ini. Apalagi ketika melihat Surya Pati di hadapannya mulai muncul pikiran buruk mengenai pria tua itu, namun segera di tepis oleh Surya Pati.
“Jangan berpikiran macam-macam. Sudah bagus di tolong orang !,” tepis Surya Pati agak membentak.
Darimana kakek tua ini mengetahui jalan pikir Sri Raja ?
“Kakek Surya Pati, sebenarnya kita sedang ada di mana ?,” bertanya Pedang Halilintar.
Surya Pati memandang sekeliling, “Kalau tidak salah, lubang hitam tadi adalah jalan gaib Hutan Alas Wangi,” menjawab Surya Pati dengan mata yang masih memandang pepohonan tinggi itu.
“Jadi, maksudmu kita berada di Hutan Alas...,”
Segera Surya Pati menyuruh Pedang Halilintar untuk memelankan suaranya dengan tatapan tajam mengarah ke sebuah jalan gelap di muka.
“Jangan terlalu keras berbicara, ini bukan rumah bapak moyangmu ! Bisa jadi maut mendatangi kita kalau kau berbicara sekeras itu,”
Tidak ada pilihan lain, mereka kemudian memutuskan untuk berjalan kaki melewati jalan gelap gulita di hadapan mereka. Keadaan begitu asing, tidak ada suara binatang yang berbunyi, bahkan angin pun tipis sekali ketika menderu. Dari kejauhan terdengar bunyi gamelan yang menggema keras sekali. Keempat manusia ini saling pandang keheranan, siapa yang memainkan gamelan sekeras ini di rimba belantara sesunyi ini pula ?
Langkah mereka terhenti ketika melihat sebuah layar putih di tengah sebuah lapangan kosong dan tampak di balik layar itu sedang berlangsung sebuah pertunjukan wayang kulit. Sang dalang yang tengah asyik menggerakkan wayangnya ke sana dan ke mari, membuka percakapan.
Manungsa urip ing jagad iki ora suwe.
Dheweke wis suwe mlaku ing bumi ijo iki.
Nanging manungsa ora bisa urip tanpa srakah.
Alampun mesthi dadi korban keserakahane.
Mungkin ing sawijining dina, alam bakal nesu lan ngulu weteng manungsa
Sri Raja keheranan, percakapan yang di sampaikan dalang itu seperti membawa pesan terhadap dirinya sendiri. Ketika Sri Ratu berjalan mendekati layar putih itu dan melihat ke belakang layar itu tersentak kagetlah dia menyaksikan bahwa tidak ada manusia atau makhluk apapun yang bermain wayang di belakang layar itu.
Dia terduduk lemas begitu pun ketiga orang lainnya. Sri Raja langsung tegak berdiri, laksana seorang pemimpin dia memberi perintah agar tiga orang lainnya tetap melanjutkan perjalanan dengan mengikutinya.
Kejadian wayang tadi belum juga pudar, kini mereka menemui pemandangan yang lebih mengerikan. Bau busuk menerpa hidung mereka di segala penjuru, mereka kini sampai di inti hutan ini. Ternyata tidak salah orang-orang menyebut hutan ini sebagai Hutan Mayat, di atas pohon sana tergantung beberapa tubuh manusia yang telah membusuk di antaranya adalah Empat Maha Racun dan Panglima Jaya Rana yang tampak masih baru di gantung di satu dahan pohon besar. Kemudian di tanah tergelimpang sekitar dua puluh mayat manusia yang sudah rusak keadaannya. Namun, satu mayat dapat di kenali dia adalah Pangeran Hanum Kencono yang sudah rusak sebagian wajahnya. Maka Sri Ratu langsung memburu tubuh anaknya yang telah membusuk itu, beribu-ribu air mata jatuh membasahi mayat itu.
Kalaplah Sri Raja, dia mengamuk sejadi-jadinya dan berteriak keras,
“Penguasa Hutan laknat ! Keluar kau kalau berani ! Kau telah berhutang nyawa anakku !,”
Bau busuk bangkai semakin keras, ketika kemudian menyeruak angin deras berbau busuk bangkai dari jurusan timur. Pedang Halilintar dan Surya Pati yang masih memiliki kemampuan dan tenaga dalam segera tutup jalan nafasnya, namun tetap saja bau busuk itu dahsyat sekali hingga masih bisa menembus pertahanan mereka. Bau bangkai semakin menyibak di ikuti dengan jeritan angker yang merobek suasana hening tadi, di susul dengan suara ratap sedih perempuan yang mendayu menyayat hati, namun serta merta berubah menjadi kekehan panjang menggema di segala antero tempat.
Mayat-mayat yang tergantung tiba-tiba bergerak -gerak dan mengeluarkan suara tercekik dan serak. Keempat orang yang menyaksikannya sangat kaget dan mandi keringat dingin. Mereka seperti benar-benar berada di neraka !
Kemudian mengepul asap hitam pekat yang muncul dari permukaan tanah, semakin lama semakin banyak dan kini asap itu berubah menjadi sosok makhluk hitam bermata merah menyala laksana api dengan barisan gigi besar dan setajam belati. Ketika melihat jari-jarinya, bentuknya seperti pisang tanduk dengan kuku bercabang lima namun jumlah jari itu hanya ada dua pasang di setiap tangan.
“Celaka, kita akan mati di sini,” kata Surya Pati.
Dari kejauhan terdengar bunyi gong di pukul menggema keras memekakan telinga. Bunyi kecapi menyusul dengan sumbang dan di iringi oleh nyanyian seorang perempuan.
Dunia seribu arah
Angin menderu ke selatan
Datang menghantarkan nyawa
Pulang menuju gerbang neraka
“Astaga, dia datang !,” Surya Pati panik setengah mati.
Di depan sana kini muncul sekelompok makhluk tinggi hitam mengangkat sebuah tandu di bahu mereka. Di atas tandu itu duduk sang penguasa hutan yang tak lain adalah Luh Rimbawati dengan tatapan dinginnya melirik kepada empat manusia di hadapannya.
Kelompok pembawa tandu berhenti sekitar sepuluh langkah di hadapan, dan menurunkan tandu ke tanah. Luh Rimbawati turun dengan langkah agungnya, dan menatap tajam pada Sri Raja.
“Selamat datang Aditama Kencono,” ujarnya pada Sri Raja.
Sri Raja yang memang bernama Aditama Kencono kaget perempuan asing ini mengetahui namanya.
“Dari mana kau tahu namaku ?,” bertanya Sri Raja.
Yang di tanya lemparkan kekehan pendek, “Ah, rupanya usia tua membuatmu menjadi pikun. Bukankah dulu kau adalah manusia gagah ? Punya sejuta simpanan ? Apakah perempuan di sampingmu itu adalah madumu ?,” Luh Rimbawati balik bertanya.
Paras Sri Raja berubah pucat, dari mana perempuan ini mengetahui segala cerita masa lalunya ? Padahal dia sudah menutup rapat cerita itu agar tidak bocor kepada siapapun !.
“Betina lantang ! Siapakah kau ini sebenarnya ? Seenaknya saja membongkar rahasia orang !,” membentak Sri Raja.
“Jangan pura-pura lupa laki-laki biadab ! Mungkin dengan raga ini kau tidak kenal, tapi tentu kau tidak lupa pada perempuan bernama Ning Cempaka dan kejadian lima belas tahun silam !,” Luh Rimbawati balik membentak.
Dengan terbata-bata Sri Raja berbicara.
“Tidak, tidak mungkin. Perempuan itu sudah mati... Tidak...,”
“Yah, dia sudah mati ! Namun arwahnya tetap mendendam kepadamu. Dan kini sudah kembali hendak menaburkan dendam kepada jiwa busukmu !,” bentak Luh Rimbawati yang kini telah berubah suaranya.
Lima belas tahun silam,
Saat itu Sri Raja yang berusia dua puluh tahun mendatangi sebuah rumah yang berada di lampung gunung itu, dia mengetuk pintu reot itu dan ada seseorang menjawab ketukkan itu untuk menyuruhnya masuk. Di dalam rumah itu nampak satu ruangan penuh benda aneh yang biasa di gunakan dukun. Di tengah ruangan tampak sesosok manusia berambut hitam tanpa baju hanya mengenakan celana hitam panjang saja. Dia duduk di tengah pendupaan dengan berjejer peralatan santet, sudah dapat di pastikan bahwa orang ini adalah dukun ilmu hitam.
“Ah, rupanya Pangeran Aditama,” kata dukun ini.
“Mbah saya datang lagi. Semua persyaratan sudah saya penuhi,” kemudian Pangeran Aditama mengeluarkan buntalan hitam berisi rambut dan tiga kepalan tanah, tanah kuburan !.
“Apakah pangeran sudah yakin mau melakukan ini ?,” tanya si dukun.
“Yakin, demi kekuasaan keraton, saya minta mbah segera binasakan kakak perempuan saya, Ning Cempaka,”.
Usai kejadian malam itu, Ning Cempaka yang tak lain adalah kakak kandung dari Pangeran Aditama jatuh sakit. Tubuhnya di penuhi koreng dan kudis yang menebar bau busuk. Seluruh tabib sudah di panggil namun tiada yang bisa menyembuhkannya. Sampai akhirnya karena putus asa, Sri Raja terpaksa mengasingkan Ning Cempaka ke sebuah hutan yang terletak di sebelah utara keraton. Karena usia Sri Raja yang sudah tua maka Pangeran Aditama naik tahta dan menjadi Sri Raja yang baru. Namun karena benar-benar ingin memmbunuh Ning Cempaka, maka dia, pun melarang siapapun untuk menjenguk Ning Cempaka hingga akhirnya perempuan itu mati kelaparan di tengah kesengsaraan.
“Hahaha... Rupanya kau sudah ingat adikku, sekarang mari kita bermain seperti kecil dulu. Bermain di neraka !,” kata Luh Rimbawati atau yang berada di dalam tubuhnya yaitu Ning Cempaka.
Perempuan itu berteriak keras sekali menyakitkan gendang telinga ! Saking kuatnya beberapa akar pohon tampak lepas dari tanah dan tumbang. Namun anehnya, hanya Sri Raja saja yang mendapatkan serangan in, ketiga orang di belakangnya hanya terdiam ketakutan. Melihat ini, Pedang Halilintar coba keluarkan serangan hendak menolong Sri Raja.
Namun terlambat bergerak, sesosok siluman raksasa menyerbu ke hadapannya sekali siluman itu mengangkat kaki kirinya dan menghantamkannya ke tanah, putuslah nyawa Pedang Halilintar saat itu juga.
Di depan sana, Sri Raja akan menemui ajalnya tak lama lagi, darah mulai mengalir deras dari sela-sela telinganya, sedang tubuhnya berubah menjadi pucat menandakan dia sudah kehilangan banyak darah. Hingga akhirnya Sri Raja jatuh ke tanah tumbang dan putus nyawanya.
Sri Ratu hendak memburu mayat suaminya itu, namun di hadang oleh Surya Pati karena serangan dari Ning Cempaka masih berlangsung. Hingga Luh Rimbawati ikut jatuh ke tanah, terlihat asap hitam mengepul keluar dari kedua lubang hidungnya paras perempuan itu lama kelamaan berubah menjadi putih sekali menandakan kini jiwanya sudah murni dan kekuatan gaib dari Ning Cempaka sudah hilang lenyap. Namun tak berselang lama, tubuh Luh Rimbawati memancarkan sinar putih menyilaukan dan ketika sinar itu hilang tubuhnya sudah tidak ada ladi ! Mungkin saja dia sudah kembali ke tempat asalnya ?
Kini tinggal Sri Ratu dan Surya Pati, karena keadaan sudah aman, menghamburlah Sri Ratu memburu mayat suaminya itu. Air matu berderaian jatuh menimpa tubuh yang sudah tidak berisi nyawa lagi ini. Di belakangnya Surya Pati memberi nasihat,
“Sri Ratu, ikhlaskan kepergian Sri Raja, mungkin ini jalan yang terbaik. Biarkan aku menguburkannya di sini, agar segera Sri Raja kembali kepada Gusti Allah dengan tenang,”
Sri Ratu mengangguk dan melepaskan tubuh Sri Raja dari dekapannya.
Hampir tiga jam lebih Surya Pati menggali tanah hingga cukup dalam. Mayat Sri Raja di kuburkan di sana dan di timbun lagi dengan tanah hingga membentuk gundukan tanah kuburan. Usia memanjatkan doa terakhir mereka segera pergi meninggalkan Hutan Alas Wangi ini.