Riri berjalan bersama ketiga temannya, sejenak langkahnya terhenti melihat seorang lelaki yang mengendarai sepeda motor bernama Dika. Wajahnya tidak asing, tapi Riri terus termenung sambil menatap Dika sampai dia tidak terlihat lagi oleh mata Riri.
" Liat apa sih?" tanya Wulan
" Liat si Dika." celoteh Dita
Mereka pun tertawa bersama-sama sambil mengoda Riri. Ya ketiga sahabat Riri memang mengetahui kalau Riri sedang menyukai Dika.
Sebenarnya Riri dan Dika satu sekolahan, Riri sudah lama menyukai Dika. Tapi dia tidak berani mengatakan perasaannya.
Riri hanya memendam perasaannya dan hanya ketiga sahabatnya lah yang mengetahui kalau dia menyukai Dika.
Pada setiap kesempatan Riri selalu mencari alasan untuk menatap Dika, walau dari kejauhan Riri sudah cukup puas dengan itu. Dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Dika karena Dika adalah salah satu cowok populer di sekolahnya. Jadi tidak heran cewek-cewek banyak yang mendekatinya. tidak hanya tanpan, dia juga pintar dan pandai main basket.
Suatu hari paman Riri berkunjung kerumah, Dia membawa pesan dari ayahnya yang bekerja diluar kota. Riri dan ayahnya sudah lama tidak bertemu karena pekerjaan sang ayah. tapi ayah Riri berjanji kalau Riri menduduki peringat pertama di sekolahnya dia akan membiarkan Riri menemuinya.
Hari ini adalah pengumuman hasil ulangan kenaikan kelas. Riri gagal mendapat peringat pertama, jadi gagal juga bagi dia untuk tinggal bersama sang ayah.
" Tidak apa-apa sayang, kamu bisa mencobanya tahun depan." kata sang ibu.
Hari-hari duduk dikelas dua berjalan biasa saja, Riri masih saja diam-diam mengagumi Dika. Anggi salah satu teman Riri memberi saran untuk mengungkapkan perasaannya kepada Dika. Tapi Riri tidak berani, dia cukup tahu diri siapa dirinya dan bagaimana penampilannya. Dia tidak secantik cewek-cewek yang berada di sekitar Dika.
Tapi untuk sesaat Riri memikirkan saran yang diberikan oleh Anggi dan teman-temannya.
" Apa aku bilang saja ya sama Dika?" gumam Riri sambil bercermin
" Tapi aku jelek, hitam. gak cantik."
Anggi, Wulan dan Dita menatap Riri yang terus bergumam sendiri, mereka tersenyum melihat Riri yang bergaya didepan cermin.
" Kita akan bantu kamu agar berubah jadi cantik." celoteh Wulan yang membuat Riri terkaget.
Hari-hari berlalu, teman-teman Riri mencoba mengubah Riri menjadi lebih cantik. dari berkuluran, maskeran sampai makan dan minum makanan yang sehat agar telihat lebih cantik. Usaha mereka pun membuahkan hasil Riri memang terlihat berbeda tidak sedekil sebelumnya.
Hari ini adalah pendaftaran ektra kulikuler yang wajib diikuti oleh siswa kelas 2. Riri dan teman-temannya berencana untuk masuk ekskul tari. tapi banyak sekali yang mendaftar sampai panjang sekali antriannya.
Saat itu Dika datang, dia tidak masuk ekskul tari dia masuk ekskul basket yang antianya disamping ekskul tari. itu membuat semua cewek yang sedang antri heboh dan membuat kegaduhan. Riri terlibat pekelahian dengan salah seorang siswi bernama Sarah. Dia salah satu cewek yang menyukai Dika juga.
entah apa yang mereka ributkan sampai-sampai Bu Endang selaku guru pembimbing mendekati mereka dan menyuruh mereka untuk pergi dari antrian dan tidak mengijinkan mereka masuk kedalam ekskul yang dia bimbing. Tapi melihat Sarah termasuk salah satu gadis populer Bu Endang membiarkan dia masuk kedalam ekskulnya.
Riri, Wulan, Anggi dan Dita pergi dengan kecewa. Mereka melihat Bu Heni yang teriak-teriak membujuk para siswa untuk masuk kedalam ekskulnya, yaitu ekskul Drama. Karena tidak ada tujuan lain, mereka pun mendaftar kesana.
Hari-hari berlalu. hari ini adalah hari peringatan ulang tahun sekolahan. Setiap ekskul menampilkan keterampilan-keterampilan yang mereka pelajari. Sarah dengan Tarian yang gemulai. sedangkan Riri dan teman-temannya menampilkan sebuah drama yang berjudul putri salju.
Riri terpilih menjadi sang putri salju. semua mengolok-golok Riri karena putri salju harusnya berkulit putih sedangkan Riri berkulit hitam. Tidak menyerah disitu, Sasa mendandani Riri menjadi sangat cantik, kini Riri terlihat bak seorang putri yang sesungguhnya. walau Riri tampil begitu memukau tidak banyak yang menonton drama yang mereka tampilkan.
Riri kembali kebelakang, dia mendapat hadiah apel yang sudah Digigit dan ada tulisan dibawahnya. "Putri apel ini sudah aman". Riri sangat berharap itu adalah hadiah dari Dika. tapi dia melihat seorang siswa yang mengigit apel dan tersenyum kepadanya. Riri pergi dan meletakkan apel itu kembali keatas meja, dia berfikir siswa itulah yang memberikan apel itu kepadanya.
Setelah tampil Riri dan teman-temannya pergi kelapangan basket karena Dika bermain disana, Riri bersorak dengan semangat untuk memberikan dukungan kepada Dika. etah hanya harapan Riri atau benar Dika tersenyum kepadanya. membuat Riri tersipu malu, dan teman-temannya menyoraki Riri.
Dan pada saat itu siswi-siswi yang berada disamping Riri terlibat adu mulut dan akhirnya bekelahi. Bahkan salah satu dari mereka terluka pada tangannya. Bu Endang menemui mereka. Dia sangat kecewa karena sebentar lagi ada pertandingan basket antra sekolahan dan mereka berdua yang terlibat perkelahian adalah ketua tim pemandu sorak dan mereka sudah terlibat proyek sebelumnya.
Bu Endang melihat ke arah Riri. dia melihat Riri sudah berubah menjadi cantik dan dia sempat melihat Riri bersorak dengan semangat tadi. dia menunjuk Riri menjadi salah satu tim pemandu sorak. Meski ragu Riri menerima nya.
Riri terus berlatih besama yang lain. itu menyita kebersamaannya dengan teman-teman. Tapi temannya mengerti. dan akhirnya saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. pertandingan basket dan penapilan perdana Riri menjadi pusat perhatian disitu. Riri tampil begitu cantik dan memukau. banyak yang menyukai Riri dari situ.
sampai teman Dika yang bernama Didik yang menonton pertandingan Dika kagum dan ingin mengenal lebih lenjut siapa Riri yang sebenarnya. Didik berasal dari kota lain, dia berniat pindah kekota ini dan pindah kesekolahan Dika dan Riri.
Dengan cepat Riri menjadi salah satu cewek populer di sekolahnya. tidak hanya pintar, kini Riri sudah berubah menjadi cantik, kulitnya pun berlangsung menjadi lebih putih. Didik berkenalan dengan Riri dan dia pun berniat mengungkapkan perasaannya kepada Riri pada hari valentine nanti.
Hari velentinpun tiba. Riri yang sudah menjadi gadis populer mendapat banyak coklat dan bunga. tapi dia terlihat sedih karena tidak mendapat bunga maupun coklat dari Dika.
" Riri... lihatlah Dika datang." kata Wulan
bertapa kaget dan senangnya Riri melihat Dika datang membawa bunga mawar ditangannya, bahkan bunga mawar itu diberikan masih dalam keadaan hidup yang dicabut bersama akar-akarnya.
" Ini Hadian dari didik untuk kamu." kata Dika
Tiba-tiba senyuman Riri berubah muram, bukan ini yang dia harapkan. Dia berharap bunga itu dari Dika tapi apa yang dia dengar. Riri menatap bunga itu meskipun kecewa dia tetap menanamnya.
Setelah populer Riri jarang bermain dengan Wulan, Dita dan Anggi. dia lebih sering bermain dengan Sarah, didik dan Dika.
Dalam kepopulerannya Riri sampai lupa dengan janjinya dengan sang ayah. hingga tahun ini pun Riri gagal mendapat juara pertama.
Dalam liburan sekolah, Riri habiskan bersama teman-teman barunya. bahkan dia melupakan ulang tahun Wulan yang teryata jatuh pada hari ini. sedangkan hari ini Riri sedang berlibur dengan Sarah, didik, Dika dan teman-teman yang lain. Disana didik mencium pipi Riri yang dilihat Dika secara langsung. Riri hanya diam. dia kaget dan tidak bisa berkata apapun.
Didik mengatar Riri pulang kerumah. disana Riri menjelaskan kalau selama ini dia tidak pernah menerima perasaan didik. dia hanya menganggap didik sebagai teman saja. Disitu didik sangat kecewa dia bercerita kepada Dika Tetang luka hatinya.
" Bro... aku minta, sampai kapanpun jangan pernah jadian sama Riri." kata Didik
" Kenapa?" tanya Dika kaget
" Karna aku tidak akan sanggup melihat temanku jadian dengan cewek yang selama ini aku suka." kata Didik
Riri pergi kerumah wulan, tapi dia terlambat. mereka sudah tidak ada dirumah Wulan dan Wulan tidak ingin bertemu dengannya. Hari-hari berlalu Riri tidak lagi bermain dengan Sarah dan yang lain tidak juga dengan Wulan dan yang lain. Riri sedih karena dia sendirian, dia mulai belajar dengan giat. dia bertekad kalau tahun ini dia harus menduduki juara pertama agar dia dapat bersama sang ayah.
hari-hari berlalu, Riri mencoba mendekati teman-temannya kembali. dalam suatu kesempatan Riri berdiri dipanggung dan membacakan puisi yang dia tulis sendiri yang dia tujukan kepada ketiga teman-temannya. Wulan, Anggi dan Dita meras terharu. dan mereka pun kembali berteman.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari penggumuman siapa yang mendapat perikat pertama dan lulus dengan nilai sempurna. yang diharapkan Riri menjadi kenyataan. Riri mendapat peringkat petama.
" Selamat.... kami sangat bangga kepadamu." kata Wulan sambil memeluk Riri bersama Anggi dan Dita.
" sebelum kamu pergi, lebih baik kamu ungkapkan perasaan kamu kepada Dika." kata Anggi dan didukung oleh Dita dan wulan
Riri terdiam, benar yang dikatakan temannya. untuk jawaban masalah belakangan yang penting ngono g dulu.
Akhirnya Riri memberanikan diri dan Riri menemui Dika ditaman.
" Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, sebenarnya aku sudah sangat lama menyukaimu." kata Riri
Dika hanya diam, dia ingat apa yang dia janjikan kepada didik sebelumnya. Sedangkan Riri terus menceritakan semuanya yang selama ini dia lakukan adalah hanya untuk bisa dekat dengan Dika bukan didik.
Tapi tiba-tiba Riri terdiam melihat diujung lenganDika tertulis "Dika❤️Sarah"
" Kamu dan Sarah?" tanya Riri sambil air matanya terus menetes.
Dika hanya diam sambil mengangguk. melihat jawaban Dika Riri buru-buru pergi meninggalkan Dika sambil terus menangis. Dika hanya menatap Riri yang pergi meninggalkan dirinya.
Hari-hari berlalu, Riri sudah kembali bersemangat. dia sangat bahagia akhirnya dia dapat bertemu dengan ayahnya. dan hari ini Riri akan berangkat kekota jakarta untuk menemui ayahnya.
Dika duduk termenung, dia menatap album yang telah dia susun selama dia duduk dibangku sekolah. Disana terdapat banyak foto Riri. dari kelas satu yang masih dekil dan hitam sampai kelas tiga yang berubah menjadi sangat cantik.
ada foto apel yang digigit. ternya apel itu dari Dika. dan bunga yang diberikan Dika atas nama didik pun sebenarnya dari Dika yang dia tanam sendiri dari kecil sampai berbunga untuk diberikan kepada Riri.
Setelah menyadari semuanya, Riri telah pergi jauh dari dirinya. bahkan sebelum Dika memberitahu perasaan dia yang sebenarnya. Dika berlari kerumah Riri tapi ibu Riri bilang kalau Riri sudah pergi ke Jakarta dia akan menempuh pendidikan disana. Dika berjalan pulan dengan penuh penyesalan sampai dia bertemu dengan Wulan.
Dika terlihat sangat kacau. Wulan yang penasaran mendekatinya dan mencoba bertanya. Dika menceritakan segalanya.
" Kamu terlambat... kamu tahu seberapa lama Riri menyukai kamu, sedalam apa Riri menyukai kamu. dan sekarang dia pergi. semoga saja dia bertemu dengan cowok yang baik disana nanti." kata Wulan yang kesal.
Dika tidak menjawab karna dia tahu dia yang salah. Dia tahu kalau Riri menyukainya tapi dia pura-pura tidak tahu, bahkan dia sebenarnya juga menyukai Riri. tapi semua sudah terlambat.
Beberapa tahun berlalu. Riri telah menjadi seorang perancang busana yang sangat terkenal. Riri kembali kekota Surabaya untuk bertemu dengan teman-teman nya sekaligus melihat dan mengenang kembali kota yang membesarkan dirinya itu.
Riri berjalan ditaman kota Surabaya. dia duduk disebuah taman dan memejamkan matanya sambil menikmati angin yang berhembus diwajahnya.
" Kamu kembali?"
Riri kaget, Suara yang terdengar tidak asing olehnya. ya Suara orang yang pernah mengisi hari-hari nya dulu.
" Dika?"
" Apa yang kamu lakukan disini? aku kaget melihatmu ada disini, aku mendekat karena aku tidak yakin kalau itu dirimu, dan benar itu dirimu." kata Dika sambil melihat awan dilangit
" hemmm.... apa kabarmu?
" Aku baik, bagaimana denganmu?" Dika menatap Riri yang terus menatapnya dari tadi
" Apa kamu sudah menemukan pria yang baik disana?"
" Tidak ada yang sebaik dirimu." kata Riri yang membuat Dika kaget
Dika mengeluarkan album dari dalam tasnya. Album yang dulu dia isi dengan kenangan Riri didalamnya. Riri membuka satu persatu halaman. air matanya menetes melihat gambar dirinya saat masih dekil sampai terlihat cantik bahkan apa yang diharapkan semuanya benar adanya. kalau sebenarnya Dika juga menyukai dirinya.
" Dari awal aku sudah menyukaimu, sampai saat ini pun aku masih menunggumu untuk kembali dan akan aku ungkapkan semua isi hatiku kepadamu."
Riri menatap Dika dengan air mata yang terus berderai dipipinya. ini bukan air mata kesedihan ini adalah air mata bahagia. bahagia akhirnya dia mendapat jawaban dari usahanya menjaga hatinya untuk Dika selama ini.
***Tamat***