"SETAN!!" Zara berteriak membuat kedua sahabatnya ikut teriak.
"Aaaa!" Mala merasakan sesuatu di kakinya, Mala mengenggam tangan Zara sangat kuat.
"Mala, ish, sakit tau"
"A..ada...kaki gue..." Mala menoleh ke bawah, ia kembali teriak saat melihat tangan seseorang yang sedang memegang kakinya. Ia dengan cepat berlari meninggalkan kedua sahabatnya.
"Mala tunggu" Zara berlari menyusul Mala.Sementara Areta di belakang sekali menghalangi pandangannya dengan tangannya agar tidak melihat sesuatu yang tidak ia inginkan.
"Permisi, jangan ganggu saya, saya tau kamu hantu boongan tapi sumpah saya takut" Areta berjalan pelan-pelan, namun hal yang sedari tadi ia bayangkan terjadi juga. Seseorang tersebut juga memegang kaki Areta, sontak saja Areta berteriak. Ia ingin berlari namun tidak bisa.
"Aduh saya mohon jangan ganggu saya, saya sendiri loh disini, kamu gak kasihan?" Areta menutup matanya sambil berjalan pelan-pelan.
"Areta!" Terdengar suara kedua sahabatnya tadi.
"Sini! cepetan tolongin gue" Sahut Areta. Tidak lama kedua sahabatnya datang. Mala yang tidak mau kejadian tadi terulang, ia langsung menarik Areta. Mereka bertiga lari secepat yang mereka bisa.
"Huh, berhenti dulu, kayaknya kita udah jauh" Ucap Zara. Mala melihat ke depan, ia melihat cahaya lampu didepan sana, sudah pasti itu tenda mereka.
"Yuk, kita hampir sampai, gue gak mau lagi diganggu sama hantu boongan itu" Mala berjalan mendahului Zara dan Areta.
Mereka sampai di tempat berkumpul. Ternyata sudah ramai di sana, mereka istirahat sambil menunggu yang lainnya.
Areta melonjorkan kakinya, ia melihat ada sesuatu di celananya. Areta mengambilnya, ternyata itu sebuah gelang yang nyangkut di celana Areta.
"Sialan, celana gue rusak gara-gara gelang ini" Areta berusaha melepaskan gelang itu dari celananya.
"Kenapa sih?" Tanya Zara.
"Ada gelang nyangkut di celana gue" Tidak lama gelang itu lepas, namun celana Areta tidak berbentuk seperti semula.
"Tuh kan rusak celana gue"
"Coba liat gelangnya" Areta memberikan gelang itu pada Mala.
"Ini kayaknya gelang cowok, nih lo simpen aja"
"Dih, ngapain? buang aja ke sana"
"Areta.. ini gelang punya orang, siapa tau gelang ini berharga buat dia, mending lo simpen aja dulu, orang yang punya gelang ini pasti nyariin"
"Nyimpennya dimana?" Tanya Areta. Mala menarik tangan Areta kemudian memasangkan gelang itu.
"Nah, lo pakai aja, siapa tau dia liat lo pake gelang itu"
Beberapa menit kemudian, seluruh siswa sudah berkumpul kembali. Pak Rustam mengucapkan terimakasih karena sudah berpartisipasi dalam kegiatan jurit malam ini dilakukan.
"Terimakasih atas kerja samanya, kalian boleh kembali ke tenda, besok kita melakukan kegiatan terakhir, kemudian malamnya kita acara api unggun" Areta, Mala dan Zara kembali ke tenda mereka. Begitupun yang lainnya.
Sudah 2 hari mereka berkemah, besok adalah hari terakhir ditutup dengan acara api unggun. Setiap tahunnya murid baru (siswa-siswi kelas 10) sekolah Areta mengikuti kegiatan kemah, dibimbing oleh beberapa anggota pramuka dan pembina pramuka sekolah mereka. Walaupun mereka tidak ingin mengikuti kegiatan pramuka, namun kegiatan kemah ini wajib diadakan untuk membangun diri mereka menjadi lebih kuat, berani, dan belajar menjadi pemimpin.
****
Keesokan paginya setelah makan pagi mereka kembali berkumpul di lapangan. Hari ini mereka cuma bermain game. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dengan isi masing-masing kelompok 10 orang.
"Ada 3 pos yang sudah kami siapkan, yaitu di pos pertama kalian akan melakukan pengamatan nanti akan di jelaskan di sana, di pos kedua kalian adu kekompakan, di pos ketiga kalian akan menyusun puzzle. Di setiap pos akan diisi dengan 5 kelompok yang akan bersaing satu sama lain, nanti kalian akan di atur lagi dengan kakak kelas kalian. Saya minta kalian membawa pulpen masing-masing, jangan meminjam pada teman kalian"
..
Areta dan kelompoknya menuju pos pertama. Disana mereka dijelaskan lebih detail, pengamatan yang dimaksud bukan sekedar mengamati sesuatu tetapi juga mengingat dan menjelaskan kembali apa yang mereka amati.
Mereka diberi selembar kertas per orangnya. Di depan mereka ada 5 buah mikroskop, setiap orang hanya diberi waktu 30 detik untuk mengamati, setiap berubah orang benda yang mereka amati juga dirubah agar tidak ada yang saling mencontek. Setelah mengamati dalam waktu 30 detik mereka mulai mengingat, menjelaskan dan menggambar apa yang mereka lihat di selembar kertas tersebut. Sebelumnya mereka sudah mengisi nama dan nama kelompok mereka.
Setelah itu mereka lanjut ke pos kedua. Disana mereka akan adu kekompakan. Masing-masing kelompok diwakilkan dengan 5 orang. Kelompok Areta yang maju adalah Mala, Areta, Ali, Candra dan Akbar. Mengapa mereka memilih laki-laki 3 sedangkan perempuannya hanya 2, karena kalau perempuan pasti bakalan heboh karena di pos ini mereka akan bermain terompah atau bakiak.
Areta memilih posisi di tengah sedangkan Mala di belakang Areta. Mereka berjalan menggunakan terompah itu sejauh 100 meter bolak balik. Saat sampai di garis ujung mereka kesusahan berganti posisi. Mereka mulai berjalan kompak, kini mereka berada di posisi 2.
"Kiri...kanan...kiri...kanan" Teriak mereka kompak. Mereka sempat terjatuh jadi kini mereka berada di posisi ke 4. Mereka bersemangat lagi untuk mendapatkan posisi pertama. Namun sayang mereka hanya sampai di posisi ke 3.
"Udahlah gapapa, cuma game kok" Ucap Areta menenangkan Zara yang kesal karena tidak memenangkan game tadi.
..
Mereka lanjut ke pos terakhir. Kini sudah jam 11. Ada garis lurus yang sangat panjang. Disini mereka akan menyusun puzzle.
"Di meja ini ada potongan potongan puzzle, bisa kalian lihat dari potongan ini kalau puzzle yang akan kalian susun tidak kecil namun juga tidak terlalu besar. Untuk mempermudah kalian, puzzle yang sudah tersusun sempurna akan membentuk peta Indonesia. Kalian harus menyusun puzzle di belakang garis itu, namun tantangannya adalah, puzzle ini hanya boleh diambil satu orang satu, tidak boleh lebih. Kalian paham?" 5 kelompok tersebut menjawab paham secara bersamaan.
"Waktunya 30 menit, ingat satu orang satu, game ini dimulai dari sekarang"
Mereka mulai mengambil satu buah potongan puzzle lalu membawanya ke belakang garis. Yang lain sibuk mencocokkan puzzle yang mereka ambil dengan puzzle yang lainnya. Namun Akbar berusaha agar anggota kelompoknya mendengarkan dia.
"Woi dengerin gue!" Teriak Akbar sehingga kesembilan orang itu berhenti dan terdiam menatap Akbar. Akbar ikut terdiam.
"Ee..sorry, dengerin gue dulu, 2 orang ambil potongan puzzle lain sedangkan sisanya disini aja nyusun puzzle-puzzlenya. Kita harus gantian ngambil puzzlenya, ngerti?" Zara langsung menepuk Akbar dengan muka berbinar-binar.
"Ide bagus, pinter!" Akbar tersenyum kikuk setelah mendapat pujian dari Zara.
Mereka mulai menjalankan apa yang diucapkan Akbar tadi. Setelah 10 menit berusaha akhirnya mereka mulai mendapatkan bentuk peta Indonesia. Disini mereka saling membantu. Ini hal baru bagi Areta. Kini giliran Areta yang mengambil Puzzle. Seseorang yang berdiri di depan meja tersebut memperhatikan tangan Areta lalu ia melihat Areta. Areta yang tidak sadar langsung pergi sementara orang itu terus memperhatikan Areta sampai Areta bergabung dengan kelompoknya lagi.
"Waktu kalian 5 menit lagi, kalau ada yang selesai silakan berdiri" Ucap kakak kelas mereka yang berkeliling melihat hasil 5 kelompok tersebut. Kelompok Areta hampir selesai.
"3 menit lagi, ada yang sudah selesai?" Kelompok Areta mengangkat tangan sambil berdiri. Tidak lama 2 kelompok lain menyusul mereka.
"1 menit lagi" Ada 2 kelompok lagi yang belum selesai, Areta menggelengkan kepalanya saat melihat susunan puzzle salah satu kelompok yang sangat kacau.
"30..29..28..27....5..4..3..2..1... Selesai, silakan semuanya berdiri" Ada beberapa orang yang menertawakan hasil susunan puzzle salah satu kelompok. Akibat ulah mereka kakak kelas yang tadi menegur mereka dengan tegas, mereka semua terdiam.
"Baiklah, kelompok yang paling bagus adalah kelompok ujung sana" Kelompok Areta berteriak senang.
"Karena mereka selesai lebih cepat dan puzzle yang mereka susun sangat rapi"
"Kalian boleh istirahat"
****
Areta, Mala dan Zara duduk di depan tenda mereka beralaskan tikar sambil menyaksikan kelompok-kelompok yang belum selesai. Sekarang sudah jam 2 siang, karena tadi mereka istirahat untuk shalat dan makan siang jadi game ini dihentikan sebentar, sekitar jam 1 tadi mereka kembali melanjutkan game, sementara yang sudah selesai kini sibuk sendiri, ada yang tidur, mengobrol dan lain-lainnya.
Areta mulai mengantuk, ia mengambil bantal lalu tidur, tidak lupa ia menutupi wajahnya menggunakan jaketnya. Sementara Zara dan Mala sibuk memainkan handphone. Mala memutar musik sehingga Areta tertidur nyenyak. Hampir 30 menit Areta tertidur. Mala ikut mengantuk, namun Zara mengacaukan semuanya. Zara meminta Mala menemaninya ke toilet, toilet di sini cukup jauh dari tenda mereka.
"Reta gimana?" Tanya Mala.
"Bentar doang kok, gue udah gak tahan, ayolah" Zara menarik tangan Mala seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen.
"Iya iya, ayo" Mala memasang sendalnya, kemudian mereka berjalan cepat ketoilet.
Seseorang datang ke tenda mereka. Ia duduk di samping Areta yang sedang teridur pulas. Ia terus menatap tangan Areta yang memakai gelang berwarna biru. Areta bermimpi buruk sehingga ia terbangun.
"Mala tolong ambilin minum" Ucap Areta, Areta menangkap bayangan di sampingnya, ia kira itu Mala.
"Makasih" Areta meminum air itu, lalu ia mengambil nafas panjang kemudian ia hempuskan pelan.
"Gue kaget Mal, tadi habis mimpi buruk" Ucap Areta sambil menunduk, Areta sempat bingung kenapa orang yang ia kira Mala tidak menanyakannya.
"Nih, tolong balik...aaaaa lo siapa?" Areta kaget melihat seorang laki-laki di sebelahnya. Areta menjauhkan diri dari laki-laki itu. Tapi Areta baru ingat.
"Maaf Kak, aku kaget tiba-tiba ada cowok di sini" Areta seketika malu setelah menyadari orang yang di sebelahnya adalah kakak kelasnya, Elang.
"Iya, santai aja, gue juga minta maaf karena buat lo kaget"
"Kakak ngapain kesini? Ada masalah? atau temen-temen aku yang ada masalah sama kakak?"
"Bukan temen lo, tapi lo sendiri" Jantung Areta berdegub kencang, ia rasa ia tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada kakak kelasnya ini.
"Kenapa kak? Aku ada salah kah?" Tanya Areta.
"Bukan, lo gak salah tapi gue kesini karena ini" Elang mengambil tangan Areta yang memakai gelang biru yang ia temukan tersangkut di celananya. Elang melepas gelang itu dari Areta.
"Oh gelang itu punya kakak? gelang itu semalam nyangkut di celana aku"
"Iya gue tau, semalam gue yang jailin kalian bertiga, ingat kan semalem kaki lo dipegang, itu gue yang megang mungkin karena itu gelang gue nyangkut di celana lo"
"Kakak mau ambil gelangnya?"
"Kayaknya gelang ini udah nyaman sama lo" Elang memasangkan kembali gelang itu pada Areta. Areta menatap Elang.
"Jaga baik-baik" Areta tersenyum lalu menarik tangannya dan mengelus gelang tersebut menggunakan ibu jarinya.
"Malam nanti temenin gue nyanyi" Areta terkejut, bagaimana Elang tau kalau ia bisa nyanyi. Elang menunjukkan sebuah rekaman yang di posting Zara di Instagramnya.
"Ya ampun, udah kak aku malu sama suara aku" Elang tertawa pelan lalu mengunci layar handphonenya.
"Malam nanti, 2 lagu, gue kirim liriknya bentar lagi" Elang beranjak dan langsung peegi. Areta menatap kepergian Elang. Tidak lama Mala dan Zara datang.
"Siapa tadi? perasaan lo tadi duduk berdua disini" Tanya Zara.
"Tadi kakak kelas, dia nyuruh gue nyanyi untuk malam nanti" Jawab Areta, kedua sahabatnya mengangguk, mereka sudah tau kalau suara Areta bagus, bahkan mereka selalu menyuruh Areta untuk mengikuti kompetisi nyanyi, namun Areta selalu menolak dengan alasan tidak pede.
Tidak lama ada pesan masuk.
Elangzka_
Berbagi tautan
Areta membuka pesan dari Elang. Ia tersenyum membaca pesan dari Elang.
Elangzka_
Hafalin yang bener
Di lagu ke 2 kita duet
Jam 4 kita ketemu di danau
Siap!
Areta tertawa setelah membalas pesan dari Elang.
..
Seperti janji mereka, sekarang Areta dan Elang sudah berada di danau. Elang memainkan gitarnya sambil menunggu Areta. Areta datang lalu duduk di samping Elang.
"Gimana udah hafal?" Tanya Elang tanpa menghentikan petikan gitarnya.
"Hafal, cuman belum lancar aja masih ada lirik yang lupa"
"Kita latihan sakarang ya"
Areta dan Elang mulai berlatih. Benar saja apa yang diucapkan Areta tadi. Ada beberapa lirik yang ia lupa, agar tidak keliru Elang meminta untuk mengulang dari awal. Setelah mengulang Areta salah lagi di lirik yang berbeda.
"Ya udah, lo latihan sendiri dulu" Areta berlatih sendiri, sementara Elang memainkan gitarnya pelan.
"Ayo Reta, jangan malu-maluin" Ucap Areta dalam hati.
..
Setelah shalat isya mereka berkumpul di lapangan, di tengah mereka sudah ada tumpukan kayu untuk api unggun nanti. Setelah rangkaian acara dilakukan api mulai dihidupkan. Elang dan Areta berada tidak jauh dari api unggun. Mereka mulai menyanyikan lagu. Mala dan Zara tidak lupa untuk merekam momen ini. Mereka berdua paling heboh karena akhirnya Areta berani menunjukkan bakatnya didepan orang banyak.
Setelah selesai menyanyikan dua buah lagu, Elang berdiri dan menggenggam tangan Areta. Kemudian mereka keluar dari lapangan. Sekarang semua siswa dan guru menyaksikan drama yang dibawakan oleh anggota pramuka.
Jam 11 malam acara baru selesai, Mala yang terlelap beberapa menit yang lalu dibangunkan oleh Zara.
"Hah? Apa? Kenapa?" Ucap Mala latah.
"Buka dulu matanya, liat tuh hampir sepi, lo mau tidur disini sendirian?" Ucap Areta.
"Gak mau" Mala malah meninggalkan kedua sahabatnya. Areta dan Zara saling pandang.
"Temen lo tuh"
"Temen lo juga kali Ta" Sahut Zara sambil memutar bola matanya malas.
****
Satu tahun berlalu, sekarang angkatan Elang sedang merayakan kelulusan mereka. Semua kelas 12 dinyatakan lulus. Setelah malam itu Areta selalu diminta guru kesenian mereka untuk lomba menyanyi mewakili sekolah mereka. Kalau dihitung Areta sudah 5 kali memenangkan lomba menyanyi. Semua itu berkat Elang dan dua sahabatnya dan juga dukungan dari mamanya dan kakaknya.
"Hai kak" Sapa Areta pada Elang.
"Hai"
"Selamat ya kak"
"Iya, makasih" Elang melihat tangan Areta, ia tersenyum karena gelang itu masih Areta pakai sampai sekarang.
"Gelang itu masih lo pakai?" Tanya Elang.
"Iya, aku berterimakasih sama gelang ini dan juga sama pemilik lamanya, karena mereka aku berani tampil di depan orang banyak, dan sekarang aku juga udah menangin beberapa lomba"
"Jaga baik-baik gelang itu, lo tau gak belinya dimana?"
"Gak tau, emang dimana?"
"Di Jerman, jauh kan makanya jangan sampai hilang atau rusak" Areta tentu saja kaget. Elang menahan tawanya melihat Areta.
"Beneran kak? Jauh banget" Tanya Areta yang masih kaget.
"Boong lah masa beneran, gelang gitu doang belinya jauh-jauh, di pinggiran jalan juga banyak, eh tapi tenang aja gue gak beli itu di pinggir jalan kok" Areta menatap kesal pada Elang.
"Ish, gak lucu tau"
"Udah jangan ngambek, nanti pulang sekolah gue traktir"
"Emang kakak gak kumpul sama temen-temen kakak?"
"Gak penting, gue tiap hari juga ketemu sama mereka, kan sama lo jarang"
..
Elang mengajak Areta makan pangsit. Dengan kehadiran Elang, Areta dapat mengobati rasa rindunya pada kakaknya. Sudah 3 tahun ia kehilangan Papanya, sementara kakak Areta kuliah di luar negeri, ia pulang hanya satu tahun sekali.
"Kenapa nama kakak Elang?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Areta.
"Karena....gue gak tau lagi kenapa" Jawab Elang sambil tertawa.
"Karena kakak galak, sama kayak elang dia galak kalau berurusan sama mangsanya" Areta menjawab pertanyaannya sendiri.
"Eh lo tau dari mana gue galak?" Elang menatap Areta meminta penjelasan, walaupun dia hanya berpura-pura.
"Tuh kan galak" Elang tertawa lalu mengacak rambut Areta gemas, kemudian ia lanjut memakan pangsitnya.
"Makasih ya kak" Elang mengangguk lalu tersenyum lebar.
---