Prolog :
Tak ada yang pernah tau perjalanan hidup kita akan seperti apa..
Siapapun tak akan pernah sanggup menduga jika rencana indah yang sudah tersusun bisa jadi malapetaka..
Tuhan selalu menciptakan 2 pilihan di setiap pilihan yang Beliau sediakan..
Ada A dan Ada B dalam A akan ada A1 dan A2 begitu juga dengan pilihan B akan ada B1 juga B2..
Sekarang tergantung pilihanmu dan pandai2nya kamu memilih.. jika ujungnya pilihanmu membuatmu bahagia/pun terluka itulah yang disebut takdir..
Dan inilah takdirku.. namaku Bela Nirmala.. aku biasa di panggil Bela.. aku anak ke 4 dari 4 bersaudara.. dan akulah penerima takdir yang paling pahit dr 3 saudaraku yang lain..
Aku pemilik impian terindah.. serangkaian cerita indah untukku telah kususun sebaik2nya utk masa depanku.. terutama cerita pernikahan ibarat cinderela yg sangat ku impikan.. bukan dengan orang kaya atau anak raja.. tapi di seseorang yg sudah menetap disisiku selama 6 tahun lamanya.. Pria sederhana yg tampan dan memiliki kebaikan hati melebihi sempurna..
Tapi sayang.. semua hancur hanya dalam hitungan detik saja.. seorang pria bajingan telah merenggut keperawananku dan memperkosaku.. aku pasrah.. aku iklas.. dan kebahagiaan itu kini hanya tetap menjadi mimpi..
Awal ku mengenalnya adalah ketika aku duduk di kelas 3 SMP.. kita beda sekolah.. dan bertemu di sebuah ajang sekolah dan berkenalan disana..
Oh ya.. orang tuaku adalah orang tua yang bijak.. terutama papa.. ia selalu mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kami anak2nya.. Dari ke tiga kakak2ku akulah anak yang paling disayang.. dan itu yang membuat papa agak mengekang aku..
Ku anggap wajar.. papa dan mama adalah panutanku.. jadi apapun yg mereka katakan sudah pasti adalah yang terbaik buatku.. seperti misalnya.. aku dilarang untuk berpacaran terlebih dahulu dan di haruskan fokus ke pendidikanku..
Dan sudah pasti didikan papa mama membuatku selalu menjadi siswa berprestasi di sekolah..
Namanya Renaldi.. lelaki manis yang yang membuatku terpesona ketika pandangan pertama.. ya.. aku mengenalnya sejak aku duduk di bangku SMP.. ia biasa di panggil Aldi.. berasal dari keluarga sederhana namun memiliki hati yang luar biasa..
"Hai..." Sapa Renaldi padaku..
"Ehh iya.."
"Boleh kenalan???"
"Ohh iya... boleh.." kusambut uluran tangan Aldi dengan malu2.. iya ku akui.. ini pertama kalinya seorang laki2 mengajakku kenalan.. apalagi masih SMP.. pemalunya masih lebih besar..
"Aku Renaldi.. biasa di panggil Aldi.."
"Aku Bela.."
Sejak perkenalan itu aku semakin akrab dengan Aldi.. tapi aku tidak memutuskan untuk menerimanya sebagai pacarnya.. aku masih ingat sekali pesan papa.. "Jangan pacaran dulu!!"
Renaldi adalah cinta pertamaku begitupun sebaliknya.. aku adalah cinta pertama baginya.. dan aku rasa ini adalah cinta monyet yang mungkin dalam waktu singkat semua akan berakhir begitu saja..
Masa2 SMP ku nikmati sampai akhirnya kami semua lulus sekolah dan melanjutkan ke tingkat SMA.. begitupu Renaldi.. dan masih dengan posisi yang sama.. kami beda sekolah..
Dan disinilah cerita cintaku dengan Renaldi dimulai.. kami sama2 tinggal di Palembang.. dimana merupakan kota kelahiranku dan asalku..
Saat kami menginjakkan kaki ku di kelas 1 SMA Renaldi mulai menyatakan kembali perasaanya padaku..
"Gimana Bel?? Kamu mau ga jadi pacarku??"
"Kamu yakin pacaran sama aku??"
"Memang kenapa??"
"Aku masih takut Al.. soalnya aku belum diijinin papaku buat pacaran.."
"Ohh.. masalah itu.. ya.. kamu tenang aja.. aku ga kan ganggu belajarmu.. aku janji.. akan selalu bantu kamu juga.."
"Boleh aku minta waktu??"
"Waktu?? Untuk apa??"
"Untuk memastikan perasaanku sama kamu.."
"Ya sudah.. ga apa2 kok.. kapanpun kamu siap untuk jawab.. jawablah saat itu.. aku akan nunggu kamu.."
"Makasih ya Al.."
"Iya.. sama2.."
Aku biasa bertemu Renaldi ketika pulang sekolah.. biasanya kita sama2 janjian bareng temen2 lain kemudian ngumpul.. dan kadang kita pun belajar bareng di salah satu tempat yang biasa kita gunakan kumpul saat pulang sekolah..
Entah jeda waktu berapa lama.. akhirnya aku menerima pernyataan cinta Aldi padaku.. dan aku menjawab Iya..
"Iya Al.. aku mau kok jadi pacar kamu.."
"Akhirnya... setelah nunggu lama.. kamu jawab juga.. makasih ya Bel.. aku janji.. akan jaga kamu.. merhatiin kamu.. setia sama kamu.. serius sama kamu.."
"Iya.. aku percaya kok sama kamu.."
Sejak hari itu hubungaku semakin baik dengan Renaldi.. dia benar2 membuktikan keseriusanya dan menjagaku.. sama sekali tak pernah marah padaku.. bahkan di saat ku salah sekalipun ia selalu mengalah..
"Bela..." Papa memanggilku..
"Iya pa.. kenapa??"
"Duduk dulu.."
"Iya.. kenapa pa??"
"Gimana sekolah kamu?? baikkan??"
"Baik pa.. guru2nya juga bijak.. Bela nyaman belajarnya.."
"Baguslah.. jangan lupa pesen papa.. belajar yang rajin.. papa mau kamu jadi orang kelak.."
"Iya pa... Bela janji.."
"Ha sudah.. kembali ke kamarmu.. belajar"
"Ok pa..." aku bergegas kembali ke kamar untuk melanjutkan PR yang td diberikan guru di sekolah.. tentunya sambil maen bbm sama Aldi..
"Bela.."
"Iya ma..."
"Masih belajar juga??"
"Iya.. ini lagi ngerjain PR ma.."
"Jangan terlalu capek sayang.. jaga kesehatan juga.."
"Iya ma.. makasih.."
"Ini mama bawakan camilan sama teh hangat.. di makan ya.."
"iya mama..." aku tersenyum kepada mama dan setelahnya aku ditinggal keluar..
Kebiasaan belajarku yang rutin di tambah lagi karena ketatnya papa ke aku jadi membuatku terbiasa dengan jadwal belajar di rumah.. dan itupun akhirnya menjadi kebiasaan baik buatku..
Ohh ya.. kakak2ku semua sudah tak tinggal satu atap lagi dengan kami.. mereka sudah menikah dan memiliki keluarganya masing2.. jadi hanya tersisa aku dan orang tuaku yang dirumah..
Ting.. bbm Aldi..
"Hai Bela sayang.. lagi apa??"
"lagi buat PR.. kamu??"
"Lagi bbm Bela.. heheh.."
"Kamu ga belajar???"
"Uda kok tadi.. ya udah.. kamu lanjut dl buat PRnya.. besok ketemu ya..??"
"Oke.."
Selama 3 tahun menduduki masa SMA membuatku benar2 menikmati sekolah.. selain belajarku bagus.. ada Aldi juga yang selalu mensuportku..
Bagiku Aldi benar2 sosok pria idaman setiap wanita.. aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung.. kenapa?? karena Aldi memilihki sebagai kekasihnya.. baik.. sopan.. penyayang.. perhatian.. mampu menjaga perasaan wanitanya.. bonusnya lagi.. Aldi bisa dikategorikan sebagai pria yang tampan..
Aku belum menjelaskan latar belakang keluargaku.. Papaku bekerja sebagai PNS di kantor camat dan memegang jabatan sebagai bendahara.. sedangkan mamaku adalah mama yang tangguh.. ia selalu memiliki kekuatan mengurus rumah tangga bahkan setelah ia mengurus tokonya.. iya.. mamaku memiliki toko sembako yang ia urus sendiri.. kecil2an.. tapi dari sinilah penghasilan mama yang digunakan utk membantu papa menyekolahkanku..
Lulus SMA
Hubunganku dengan Aldi masih berlanjut.. seusai sekolah aku memilih untuk melanjutkan kuliahku.. sedangkan Aldi memilih untuk berangkat ke Jakarta dan bekerja disana..
"Gimana Bel?? skarang kamu mau lanjut kuliahkan??"
"Iya pa..."
"Kamu mau ambil jurusan apa??" tanya mama..
"Bela pengen sekolah kebidanan ma.. niat banget kelak bisa jadi bidan.."
"Yakin??"
"Iya ma.."
"Tapi kalau menurut papa sih kamu jangan cari Bidan Bel.."
"Kenapa pa??"
"Papa pengen kamu jadi guru aja.. kuliah bidan skarang uda rame.. ntar susah cari kerjanya.."
"Ya udah.. Bela nurut sama papa.."
"Nah.. gitu donk.. anak papa.. trus mau ngambil jurusan apa??"
"Biologi ya??"
"Siappp!! papa percaya anak papa ini mampu.." papa mengusap2 rambutku dengan lembut dan penuh kasih sayang..
Walau papa pendiam.. tp dia begitu bijaksana dan tegas.. aku begitu disayang olehnya.. apapun keinginanku jika itu positif maka akan dipenuhinya..
Hari ini aku janjian bertemu dengan Aldi di sebuah taman kota.. walau aku sudah lulus SMA papa masih tetap menasehatiku agar tak berpacaran dulu.. bisa dibilang akunya yang agak bandel..
Jadi.. hubunganku dengan Aldi masih berlanjut juga walau harus backstreet..
"Udah lama nunggunya sayang??" tanya Aldi padaku yang memang sudah 10 menit menunggunya di kursi taman kota..
"Ga kok Al.. baru juga beberapa menit.."
"Gimana?? kamu jadi kuliah bidanya??"
"Ga Al.. ga dapet ijin dari papa.."
"Trus??"
"Aku ambil keguruan aja jurusan biologi.."
"Ohh.. ga apa2 sayang.. guru juga bagus kok.."
"Iya.. makasih ya Al.." jawabku kemudian tersenyum padanya..
Aldi menggenggam tanganku dengan lembutnya..
"Bel.. aku mau ke jakarta.." ucap Aldi..
"Jakarta?? kuliah disana??"
"Ga bel.. aku mau kerj disana.."
"Udah ada lowongan??"
"Kebetulan aku sudah dapat tawaran kerja di jakarta.. perusahaan kacamata.."
"Syukurlah kalau gitu.."
"Iya.. tp kamu ga apa2 kan kita pacaran jarak jauh??" tanya Aldi yang agak berusaha meyakinkan..
"Ga apa2 kok.. aku siap LDR"
"Bel.. kapan kamu mau ngenalin aku ke orang tuamu??"
"Sabar ya Al.. aku belum siap.. soalnya papa blom kasi ijin aku pacaran.."
"Hmmm..."
Sudah seminggu setelah pembicaraanku dengan Aldi.. penerimaan ijazahpun tiba.. setelahnya aku sibuk mengurus pendaftaran dan tes masuk universitas di salah satu kotaku..
Aldipun sama ia bersiap mengurus keberangkatanya ke jakarta dan bersiap untuk bekerja disana..
Sebelum berpisah.. sudah jelas kami meluangkan waktu untuk bertemu kembali..
Ting.. bbm to Aldi..
"Yang.. jadi ketemu??" tanyakunpada Aldi..
"Iya.. jadi kok.. tp ketemunya di rumah Meta ya??" Meta adalah salah satu temanku semasa SMA.. dan kebetulan Meta akan kuliah pula di universitas yang sama denganku hanya saja dia mengambil jurusan yang berbeda..
"Kok disana yank??" tanyaku lg..
"Iya.. kamu kesana dulu aja.. nanti aku jelasin disana.."
"Ya udah.. aku berangkat skarang ya.."
"Hati2 sayang.."
Sampai di rumah Meta blum ku dapati Aldi disana.. dan aku memilih untuk mengobrol dl dengan Meta..
"Ta.. maaf ya ganggu.."
"Idih.. kamu ini kayak sama siapa aja.. kamu janjian sama Aldi??"
"Iya.. dia minta ketemu disini.."
"Ohhh.. iya deh.. ngomong2 orang tuamu blom tau juga ya hubungan kalian??"
"Blum ta.. aku blom brani bilang.."
"Kenapa??"
"Papa blom kasi ijin aku pacaran.."
"Ya ampun Bel.. kita uda mau jadi mahasiswi lo.. masak belom dikasi pacaran juga??"
Aku hanya menggeleg sambil agak membuat wajahki tampak cemberut..
"Ga apa2 pacaran.. yg penting inget kewajiban dan pacaranya ya pacaran sehat.." ucap Ibu meta sambil mrnghidangkan teh hangat buat kami berdua..
"Iya tante.. tp papa blom ijin.. jadi maaf ya.. tempat tante jadi translit aku dan Aldi.."
"Tante ga apa2 kok.. tante tau juga Aldi anaknya baik.. ya sudah lanjut ya.. tante tinggal dulu.."
10 menit kemudian Aldi muncul di hadapanku..
"Maaf ya kelamaan?? tadi ada keperluan sebentar.." ucal Aldi padaku..
"Iya.. ga apa2 kok yank.."
"Ya udah.. aku tinggal kalian berdua ya??" ucap Meta..
"Ehh.. ga usah.. kami juga mau pergi.. jadi mau titip motor Bela aja.." jawab Aldi
"Lo.. emang mau kemana sayang??" tanyaku kemudian..
"Iya kamu ikut aja ya.." Aldi menggandeng tanganku dan membimbimbingku naik ke atas motornya.. ga tau dia mau mengajakku kemana..
"Al.. mau kemana sih??"
"Iya.. nanti juga kamu tahu kok.."
Dan ternyata Aldi mengajakku ke rumahnya bertemu dengan kedua orang tuanya..
"Wahh.. ini to yang namanya Bela??" ucap mama Aldi..
"Iya tante.."
"Cantik sekali ya... duduk dulu" tambah papanya..
Dan kami duduk bareng di ruang tamu.. oh ya Aldi adalah anak tunggal di keluarganya.. jadi papa dan mamanya begitu menyayangi Aldi..
Perasaanku agak degdegan.. ku rasa ini wajar.. aku hanyalah seorang gadis yang baru saja menyelesaikan sekolah SMAku dan sudah di kenalkan ke orang tua pacarku tepatnya cinta pertamaku..
"Nak Bela.. serius sayang sama Aldi?? maaf.. mungkin pertanyaan ini terlalu dini om tanyakan.. tp rasanya kalianpun sudah dewasa untuk memahaminya.." ucap papa Aldi
"Iya om.. saya serius.."
"Gini ya Bela.. om sama tante juga Aldi sudah sempat berbincang2 bersama dan membahas keberangkatan Aldi ke jakarta.. nah.. dia cerita kalau agak berat ninggalin Palembang karena ada kamu.. jadi ya biar hatinya tenang untuk berangkat.. gimana kalau kalian tunangan dulu?"
"Gimana Bel?? mau??" tanya Aldi..
"Aduh.. gimana ya.. maaf ya om.. tante dan Aldi.. bukan maksudnya Bela nolak.. Bela serius sama Aldi.. tp Bela blum siap untuk saat ini.. soalnya papa bela pun blom ijinin pacaran.. apa jadinya kalau dadakan Bela bilang mau tunangan"
"Nah.. itu denger penjelasan Bela.. gimana Aldi??" tanya mama Aldi..
"Ya sudah.. terserah Bela aja.." jawab Aldi..
"Kita jalani dl aja Al.. suatu saat kalau aku uda siap kita tunangan.."
"Amin..."
Setelah berpamitan kepada orang tua Aldi diapun mengantarku kembali ke rumah Meta untuk mengambil sepeda motorku kemudian pulang..
"Darimana Bel??" tanya papa..
"Dari rumah Meta pa.. persiapan untuk ospek"
"Ohh.. kapan mulainya??"
"Besok pa..."
"Ya sudah istirahat dl.."
"Iya pa.."
"Bela.. minum susunya dulu.." teriak mama dari arah dapur..
"Iya ma..."
Setelah aku makan dan minum susu.. aku membersihkan diriku kemudian tidur.
Hari ini Renaldi berangkat ke Jakarta.. sedangkan aku memulai masa ospekku di universitas..
Ting bbm Aldi
"Bela.. aku berangkat ya.."
"Iya Al.. hati2.. jangan lupa kasih kabar kalau uda sampai.."
"Pasti sayang.. kamu jaga diri disini.. jaga hati juga.."
"Iya.. pasti kok.. aku janji liburan semester akan main ke jakarta buat ktmu km"
"Iya.. Ya sudah aku berangkat.. km yg semangat kuliahnya.."
Akhirnya aku dan Aldi memulai hubungan kita dengan LDR tapi kami sama2 memegang kepercayaan dan apapun kegiatan ku Aldi pasti tau.. begitu juga sebaliknya.. kita selalu saling memberi kabar..
Tiap liburan semester aku selalu mencoba utk datang ke jakarta untuk liburan dan sudah pasti harus menggunakan segala cara agar papa memberi ijin..
"Paa... ya pa.. mau liburan di rumah tante Ratna.."
"Liburan dirumah aja kenapa sih Bel??"
"Bela pengen ke Jakarta pa.."
Emang agak susah membujuk papa.. apalagi mama.. mama ya nurutnya sama apa yang di bilang papa.. dan alhasil aku harus minta tolong sama Tante Ratna langsung agar membantuku membujuk papa..
Call Tante Ratna..
"Halo Bela.."
"Iya tante.."
"Kenapa Bel?? tumben telpon tante.."
"Tan.. bantuin..."
"Bantuin apa???"
"Nia pegen liburan ke Jakarta tp susah kali mau bujukin papa.. tante bantu donk bujukin papa.."
"Ohhh.. mau liburan ke Jakarta.. ya sudah.. nanti tante yg tlp papamu.."
"Asik... makasih ya tante.."
"Iya.. sama2 ponakanya tante yang paling cantik..."
Sebenarnya tujuanku berlibur ke Jakarta sudah jelas sekali.. aku ingin mengobati rasa rinduku ke Renaldi.. dan jelas sekali.. orang tuaku atau tantekupun tak pernah megetahui itu..
"Bela.."
"Iya pa.."
"Jadi mau liburan ke Jakarta??"
"Kalau papa kasih ijin jadi donk.."
"Ngebet banget kamu ke Jakartanya Bel??" tanya mama..
"Iya ma.. pengen refresh otak aja dikit.. hehe.. melepas lelah dari kesibukan kuliah kemarin.."
"Ohh.. ya udah... mama sih ga ngelarang.."
"Iya papa juga uda sepakat kasi kamu ijin buat liburan"
"Beneran pa??"
"Iya bener kok..."
Entah tante Ratna ngebujuk papa kayak gimana sampai akhirnya akupun di ijinkan buat ke Jakarta..
"Siapin dulu keperluan kamu berangkat besok Bela.. jagan sampai ada yg ketinggalan.."
"Iya ma... skarang Bela packing dl.."
Dan malam ini juga aku segera merapikan pakaian dan perlengkapan lainya utk ku bawa ke jalakarta.. tak lupa pula ku siapkan oleh2 buat Aldi..
Pagi mentari...
Hatiku terasa begitu bahagia.. sangat bahagia.. setelah sekian lama akhirnya aku akan bertemu kembali dengan Aldi.. ku kabari berita gembira ini padanya..
Bbm to Aldi..
"Al.. pagi ini aku segera berangkag ke jakarta.."
"Serius yank??"
"Serius kok.. ini udah mau otw kok.."
"Apa perlu aku jemput??
"Ga usah Al.. doain aku selamat sampai tujuan.."
Dan hanya degan hitugan jam saja akupun tiba di Jakarta.. Tante Ratna menjemputku..
"Ponakan tante yang cantik.."
"Maaf ya tante ngerepotin.."
"Ga apa2.. tante seneng kok kamu liburan kemari.. jadi ada tmenya tante.."
"Kan ada om tan.."
"Iya tp om mu sibuk jd jarang banget bisa ketemu.."
"Ohh gitu.."
Tante Ratna adalah adik dari papa.. dia sudah menikah tp blom di karuniai anak.. dan kedatanganku ke jakarta sangat mampu mengobati kesepianya..
Sampi di rumah Tante Ratna beliau memberikanku kamar sebagai tempat istirahat..
"Bela.. ini kamarmu..,kamu boleh istirahat disini ya.. ehh.. udah makan?? makan siang dulu ya..."
"Iya tante.. mau nauh tas dulu deh.."
"Sipppp... tante tunggu di ruang makan ya??"
"Iya.. makasih tante.."
Sampai di kamar ku taruh barang2ku kemudian melihat ponsel.. ada 4 panggilan tak terjawab dan 1 bbm masuk..
"Bela.. kalau uda di jakarta jangan lupa kabarin Aldi ya.. kangen.." ucapnya..
"Aku udah di Jakarta Al.. ini lg di tempat tante.. mau makan dl.."
"Ya sudah.. nanti Aldi jemput ya.. kasi tau alamat tantenya.."
"Iya Al.. "
Aku segera menuju ruang makan dan menikmati hidangan yang adah Tante Ratna siapkan.. setelah selesai aku ceritakan ke Tante tentang Renaldi.. aku ga mau tante salah paham nantinya..
"Tante... aku mau cerita.."
"Cerita apa sayang??"
"Tan.. sebenernya kedatanganku kemari selain liburan juga ingin menemui seseorang.."
"Seseorang siapa??"
"Pacarku Tan.."
"Oalah... ponakan tante uda punya pacar toh.. sejak kapan??"
"Pacaranya udah 3 tahunan tan.. lebih dikit kayaknya uda dr sejak SMA kelas 1.."
"Ohhh.. udah lama juga ya..??"
"Iya tan.. tp jangan bilang2 papa ya.. soalnya papa ga bolehin pacaran dulu.."
"Udah kuliahan kok ga di kasi pacaran to.. ada2 aja papamu.. Pacarmu mau kesni??"
"Nanti sore tan.. pulang dia kerja mau jemput ksini.."
"Baguslah.. biar tante juga bisa ngomong nanti sama pacarmu.."
"Iya tan.."
"Ya udah.. sana istirahat dl ya.. tante juga mau tidur siang dulu.. Bela jangan lupa kabarin papa mama.. bilang sudah sampai di rumah tante dengan selamat.."
"Iya tan.."
Aldi datang ke rumah tante Ratna untuk menjemputku.. namun seperti pesan tante tadi siang.. tante ingin mengenal Aldi.. jadi ku persilahkan Aldi masuk di ruang tamu dan bertemu tante..
"Aldi ya??"
"Iya tante.." ucap Aldi sambil salaman dengan tante Ratna..
"Duduk dulu.." ucap tante ratna lagi.. dan aku duduk di sebelah Tante Ratna..
"Bela sudah cerita ke tante tentang nak Aldi.. dan lumayan ya kalian lama pacaranya.."
"Iya tan.. saya memang serius menjalani hubungan dengan Bela.."
"Syukurlah kalau begitu.. orang tua Nak Aldi sudah tau??"
"Sudah tante.. bahkan semasih saya di Palembang kemarin sempat ajak Bela ke rumah.. papa udah minta supaya kita tunangan dulu.. cuma Bela yang belum siap.."
"Wah.. ternyata kamu memang pria yang baik.. ya sudah.. tante ijinin kalian keluar.. tp inget pulangnya jangan larut ya??"
"Siap tante.. ya sudah.. kalau gitu kita pamit dulu ya??"
Aldi mengajakku jalan2 keliling kota.. dan yang paling mengesankan adalah ketika Aldi mengajakku ke Taman Mekar Sari.. di sana ada air terjun taman bunga yang begitu cantik..
Disinilah Aldi mengungkapkan betapa besarnya perasaanya padaku.. dan ini pula kali pertamanya Aldi mencium keningku..
"Gimana sayang??? inilah jakarta.. disini aku mengais rejeki utk masa depan kita kelak.."
"Begitu ramai.. Aldi jaga diri ya??"
"Tentu saja.. semua untuk kamu Bel.. aku ga mau kehilangan cinta pertamaku yg paling cantik dan baik ini.. kelak ku harap kamulah jodohku.."
"Amin sayang.. Bela juga ga mau kehilangan Aldi.."
Dikecupnya keningku mesra.. dan ini yang pertama bagiku.. rasanya bahagia sekali.. aku rasakan ketulusan Aldi padaku.. tanganya tak pernah lepas menggenggam tanganku mesra.. manis sekali..
Pertemuanku dengan Aldi tak insten.. sekalipun aku liburan lama tapi bukan berarti Aldi selalu bisa menemaniku.. Dia sibuk dengan pekerjaanya dan akupun sebagai wanitanya sudah semestinya mendukungnya..
Sampai dengan semester 5 kujalani hubungan ini dengan Aldi.. bolak balik Jakarta Palembang hanya untuk mengobati kerinduan kami.. dan pada akhirnya Aldipun memberanikan dirinya untuk datang kembali ke Palembang dan bertemu dengan orang tuaku..
"Ya??? Please... udah ga seharusnya kita backstreet trus.. kita uda dewasa sayang.. aku juga pengen mengenal ortumu.." ucap Aldi padaku..
"Ya sudah yank.. boleh.. tp aku degdegan.."
"Tenang aja Bela.. aku akan meyakinkan papa dan mamamu kalau aku serius sama kamu.."
"Janji??"
"Janji sayang.."
"Paa.. Maa.. ada yang mau ketemu.." ucapku pada kedua orang tuaku ketika mereka sedang asik di ruang tamu..
"Siapa Bel??" tanya papa..
"Temen Bela pa.."
"Temen Bela?? kok mau ketemu kami?" tanya mama..
"Iya.. hampiri dululah di depan.."
Perasaanki cemas.. takut papa mama marah.. takut Aldi ga bisa bicara.. takut semua berantakan.. kami menuju ruang tamu.. dan disana Aldi sudah menunggu..
"Selamat sore om.. tante.." ucapnyanpada kedua orang tuaku..
"Iya sore.. ada apa ya??" tanya papa..
Aku duduk di sofa terpisah.. sedang Aldi duduk di sofa yang tepat sekali berada di depan kedua orang tuaku..
"Maaf om.. tante.. saya datang dan mengganggu waktu kalian.. perkenalkan saya Aldi.." Aldi menjabat tangan papa dan mamaku..
"Gimana nak Aldi??" tanya papa lagi..
"Gini om.. tante.. mohon maaf sebelumnya kalau saya lancang.. saya sebenernya adalah pacar Bela.. kami sudah beberapa tahun pacaran.. Niat saya sangat serius dengan Bela.. sebelumnya saya sudah sempat mengajak Bela tunangan tapi katanya dia belum siap.. dan hari ini saya memberanikan diri untuk datang kemari dan membicarakan masalah ini dengan om dan tante.. dengan Niat baik tentunya.."
"Ohhh jadi gitu.. maaf juga Nak Aldi.. Bela memang ga pernah ceritana apapun ke kita tentang nak Aldi.. tp yah kalau memang Nak Aldi serius.. saya tidak masalah.. alangkah baiknya jika orang tua nak Aldi juga di ajak kemari"..
"Tentu saja om.. jika om dan tante sudah memberi ijin utk kami tunangan maka saya akan mengakak kedua orang tua saya datang"
"Tante juga setuju dengan niat baik Nak Aldi.. lebih baik memang tunangan daripada pacaran lama2.."
"Iya tante.."
Beberapa hari setelah kunjungan Aldi kerumah akhirnya orang tua Aldi datang kerumah bersama Aldi dan hari itu juga melangsungkan pertunangan kami dengan sangat sederhana.. tanpa undangan siapapun hanya dari kami pihak keluarga masing2..
"Yank... makasih ya.. skarang kita sudah tunangan.. aku janji akan segera menikahimu.." ucap Aldi..
"Aku yang makasih karena sampai saat ini kamu masih disisiku.. ku harap ini selamanya.."
"Amin sayang.."
Sejak pertunangan itu kami semakin dekat begitu pula dengan sesama orang tua yang sering kali saling silaturahmi.. aku begitu bahagia sekali dipertemukan dengan Renaldi.. ia benar2 lelaki yang begitu baik dan sempurna di mataku..
Palembang, 12 Desember 20**
Semester 8 dan Malapetaka..
Jarak dari rumah ke kampus adalah 8 jam perjalanan begitupun sebaliknya.. dan keadaan ini mengharuskanku untuk naik travel karena tidak memungkinkan bagiku mengendarai kendaraan sendiri..
Aku memiliki travel yang sudah menjadin langgananku.. jadi selalu itu dan itu yang ku tumpangi.. spesialnya lg sopir travel itu menyukaiku.. bahkan sudah sejak lama..
Hanya saja aku selalu menolak cintanya dan jujur padanya kalau aku sudah bertunangan dengan Aldi..
"Sudah pulang ya Bela?? ucap sopir travel yang setauku bernama Deny..
"Sudah kok.. ini mau pulang dah.."
Keadaan travel penuh.. dan aku mendapat kursi terakhir yang berada di dekar sopir.. ku rebahkan punggungku di senderan kursi.. ku lepaskan lelahku td karena mendapat kelas penuh.. dan ku teguk air aqua yang ku letakkan di sebelah kananku..
Sudah kebiasaanku perjalanan panjang akan mengantarkanku pada mimpi.. ya.. aku sudah terbiasa tertidur di dalam travel.. jelas ini diakibatkan oleh rasa lelahku yang amat sangat..
Sudah berapa lama aku tertidur akupun tak sadar dan saat ku buka mata keadaan travel sudah kosong.. penumpang sudah habis dan tersisa hanya aku saja..
"Tidur aja dulu Bela.. ga apa2.. nanti kalau sudah sampai saya bangunin.." ucap Deny si sopir travel..
"Iya.. makasih.."
Ku ambil air aqua yang ku letakkan tadi di sisi kananku yang tepat berada di sebelah sopir.. dan aku meneguknya kembali.. entah kenapa perasaan ngantuk muncul lagi dan akupun kembali tertidur bahkan sangat lelap dan pulas...
Saat aku tersadar aku syok.. kaget.. semua jadi satu.. aku sudah berada di sebuah rumah kosong yang sepi.. sekelilingku adalah hutan.. dan aku dalam keadaan telanjang.. aku diperkosa.. Ya Allah.. apa yang terjadi padaku??
Ku kenakan pakaianku kembali dan air mataku tak sanggup ku bendung lagi.. aku menangis sejadi2nya.. mencoba mencari jalan kemudian pulang..
Sejak itu aku mulai berubah.. pendiam dan tak terlalu banyak bicara.. banyak yang bertanya tp aku pun tak pernah menjawab.. aku takut untuk jujur dengan orang tua dan Aldi..
Sebelumnya.. papa sudah mendaftarkan aku sebagai calon anggota DPRD.. papaku orang yang terpadang dan terhormat.. jadi ia berusaha keras agar aku bisa masuk dengan menghabiskan begitu banyak biaya..
Aldipun mendukungku.. bahkan selama ini ialah yang membiaya hidupku.. kuliahku.. karena gajinya selalu masuk ke tabungan yang ia buat untukku dan atmnya ia serahkan padaku..
Sudah seringkali aku ingatkan.. aku masih tunanganya dan orang tuaku masih memiliki tanggung jawab itu..
"Jangan gitu yank.. aku masih punya orang tua.."
"Sudah.. cukup.. kelak kamu akan jadi istriku.. sudah sewajarnya mulai sekarang aku menanggungmu.." jawab Aldi..
Bahkan pada mamakupun ia selalu berpesan agar tidak memberikan uang padaku lagi.. sedang mama juga memiliki pendapat yang sama denganku.. kalau aku masihlah menjadi tanggung jawab orang tuaku..
Sejujurnya aku berniat mencari sopir travel yang sudah menghancurkan hidupku.. tp tak pernah berhasil.. sejak kejadian itu ia tak lagi bekerja di travel dan melarikan diri..
Aku sudah terbiasa mengalami terlambat datang bulan.. dan aku pun sering mengalami mual muntah karena memiliki masalah maag.. kali ini sudah 2 bulan aku tidak menstruasi juga selalu mengalami mual muntah..
Karena tidak kuat akhirnya ku beranikan diri untuk memeriksakan diriku ke dokter..
"Dik Bela sudah menstruasi??"
"Belum dok.."
"Coba ya di tes kencingnya.." dokter memberikan aku tespek.. dan.. hasilnya adalah positif..
"Dik Bela sedang hamil 2 bulan.. di jaga ya kandunganya.."
Hancur sudah hatiku.. hancur harapanku.. seketika semua menjadi malapetaka besar... harus ku apakan kandungan ini?? mencari bapaknyapun aku tak tau lagi dia dimana..
Akal sehatkupun telah dibutakan oleh kesialan yang menghampiriku ini.. ku putuskan untuk menggugurkan janin yang usianya sudah menginjak angka 2 bulan..
Ku coba mencari beberapa informasi tentang cara dan obat yang bisa digunakan untuk menggugurkan melalui beberapa situs internet..
Dan yang pertama aku lakukan adalah memakan nanas muda yang konon katanya menurut mitos sangatlah ampuh untuk menjatuhkan janin.. tapi sayang.. itu tak berhasil sama sekali..
Selanjutnya ku datangi dukun beranak yang tempatnua agak jauh dari rumahku.. info inipun aku dapat dr seorang teman yang aku kenal di sosmed..
"Gimana mbah?? bisa ga??"
"Sudah berapa usianya??"
"Kata dokter sih sudah 2 bulan.."
"Ohh.. bisa kok.. tp ya akan terasa agak sakit.."
"Iya.. ga apa2 mbah.. yang penting bisa jatuh aja.."
"Ya sudah.. silahkan berbaring dulu.."
Mbah itu mulai mengoleskan minyak pada perutku.. kemudian secara perlahan mengurutnya.. semakin keras dan semakin keras...
"Aduh.. sakit mbah.. sakit.."
"Diam dik.. jangan ribut.. ga malu apa nanti di denger orang.."
"Sakit mbah.."
"Tahan donk.. nih sudah selesai.. besok pasti keluar.. jangan lupa nanti beli jamu dengan merk ini ya?? trus minum banyakin.."
Ku ikuti saran dari Mbah itu secara bertahap.. tapi hasilnya nihil.. janinku begitu kuat.. bahkan sama sekali tak ada tanda2 aku akan mengalami keguguran.. aku masih tampak begitu sehat..
Ya Allah.. aku tau ini salah.. tp aku bingung.. aku harus gimana.. apa lagi yang harus aku perbuat.. rasanya sudah taknada harapan lagi untuk meraih bahagiaku..
Ku putuskan untuk menceritakan semua ini pada Renaldi.. aku yakinkan diriku.. bahwa kejujuran adalah jalan satu2nya..
Aku pamit kepada kedua orang tuaku untuk berangkat ke Jakarta.. dan tentu saja mereka memberikan ijin.. apalgi papa mama sudah mengenal Aldi dengan baik..
Sebelum bicara pada Aldi.. ku tenangkan diriku terlbih dahulu.. ku siapkan diri utk menerima segala resiko yang mungkin akan ku alami.. termasuk kehilangan Aldi..
Aldi kos dengan Adik sepupunya yang bernama Anita.. saat aku datang Aldi masih bekerja dan hanya ada Anita disana.. Anita biasa ku panggil Nita.. sebelum menceritakan pada Aldi.. ku ceritakan semuanya pada Anita terlebih dahulu.. dia seorang wanita.. aku percaya.. diapun memahami perasaan dan keadaanku..
"Apa??? kamu diperkosa??? trus skarang hamil??"
"Iya Nita.. makanya aku bingung.. blum ada yang tau tentang ini semua.. baru kamu saja.. dan niatku kemaripun ingin menceritakan ini ke Aldi.."
"Ya ampun Bela.. kok kayak gini sih jadinya?? trus pelakunya gimana?? uda kamu minta pertanggung jawaban??"
"Dia melarikan diri.."
"Ya sudah.. nanti aku bantu kamu untuk bicara ke Aldi.. kamu tenang ya.. percaya semua pasti ada jalanya.."
Sebelum Aldi pulang kerja aku istirhat terlebih dahulu.. aku pasrahkan semua pada Allah.. apapun kelak yang ku trima ku anggap itulah takdirku dan aku harus siap dengan segala yang akan ku hadapi nantinya.. termasuk degan orang tuaku..
"Sayang.. uda datang ya?? tumben ga liburan uda dateng.."
"Iya.. ada yang mau aku bicarakan.."
"Apa?? kok kayaknya serius gitu?? wajahmu kenapa di tekuk gitu?? ada masalah??"
"Kak.. duduk dulu.. atau ganti baju dl.. kak Aldi uda makan??" tanya Nita..
"Udah kok dik.. kenapa ni?? kok kamu malag ikutan tegang gitu??"
"Iya sudah kakak ganti baju dl.."
"Ga usah lah.. nanti ganti sekalian.." jawab Aldi kemudian ia duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku..
"Al.. maafin aku.." baru saja aku berucap seperti itu saja.. air mataku udah keluar lagi.. rasanya perih sekali harus memberi tahunya tentang kejujuran yang pahit ini..
"Kenapa sayang?? kok sampai nangis gitu.." tanya Aldi.. tangan kananya membantuku mengusap air mata yg sudah merembet di pipiku..
"Gini kak.. ini Bela mengalami musibah buruk.."
"Maksudnya??"
"Bela diperkosa orang dan hamil.."
"Nita.. kamu jangan bercanda berlebihan gitu!!"
"Bener Al.. Nita bener.. aku diperkosa orang dan sekarang aku hamil 2 bulan.." jawabku membenarkan ucapan Nita..
Aldi terbengong2 kemudian air matanya jatuh.. yang pada akhirnya ia mengamuk.. semua barang yg ada di hadapanya dilempar..
"Kenapa?? kenapa?? kenapa ini terjadi padamu Bela??? kenapa?? aku ga kuat.. kenapa orang yang aku cintai dirusak orang?? kenapa?? ini ga adil.. sudahlah Bela.. aku mau mati saja.. aku mau mati.."
"Kak.. tenang kak.. tenangin diri dl.. ini juga bukan salah Bela.. ini bukan Niatnya.." ucap Nita pada Aldi sambil mencoba menenangkanya..
Ku tepuk2 punggung Aldi.. ku peluk dia.. ku tenangkan hatinya..
"Maafkan aku sayang.. aku yang salah ga bisa jaga diri.." bisikku padanya..
"Aku yang salah ga bisa jaga kamu.." balasnya..
"Aku mau mati saja Bel.. aku mau mati.." Aldi mencoba mencari2 sesuatu yg mungkin bisa ia gunakan untuk bunuh diri.. tapi aku dan Nita berhasil mencegahnya..
Aldi pun mulai tenang.. ia sedikit menghela nafas setelah kelelahan karena mengamuk tadi.. di tatapnya wajahku dengan pandangan pedihnya.. masih tampak ada butiran2 bening itu pada pelupuk matanya..
Aku hanya bisa menangis memandangnya.. tatapan penuh cinta itu begitu menusuk hatiku yg paling dalam..
"Bela.. aku sayang kamu.. sangat sayang padamu.."
"Aku tahu itu Al.."
"Sekarang jagalah calon anakmu ini dengan baik.. dia tidak bersalah.."
"Tentu saja Al.."
"Aku janji.. akupun akan membantumu merawatnya.. kan ku anggap dia seperti anakku sendiri.." Ku peluk Aldi dengan penuh kasih sayang.. ia membelai2 rambutku dengan sayangnya..
"Makasih banyak Al.. tp tidakkah kamu jijik padaku?? tidakkah ada niat kamu ingin meninggalkanku??"
"Tidak sama sekali.. aku tulus menyayangimu.. sangat tulus.. aku iklas utk semua yg terjadi padamu.."
Sama sekali ga pernah terduga olehku atas jawaban Aldi.. sebaik inikah dia?? rasa2nya aku yg kini menjadi pendosa.. membiarkan dia terjebak dalam kesalahanku.. bukan seharusnya dia yg bertanggung jawab atas janin ini..
"Bela.. jangan banyak fikiran.. kamu harus tenang.. biar bayimu sehat.." ucap Nita padaku..
"Iya.. makasih ya Nita.."
"Nita bener sayang.. kamu harus jaga kesehatanmu baik2.. oh ya ini udah aku belikan susu ibu hamil.. biar calon dede yg didalam sana sehat.." Aldi memberikan sekotak susu khusus ibu hamil padaku..
"Makasih ya Al.."
"Iya sayang.."
"Nita.. buatin dulu susunya.." ucap Aldi pada Nita..
"Ohh.. iya.. sini Bel.. biar aq buatin susu dulu utkmu.." Nita mengambil bungkusan susu yang aku pegang..
"Sini Bel.. duduk.." Aldi menarik tanganku dan mengajakku duduk di sebelahnya..
"Hmmm.."
"Bela.. jaga dia ya.. jangan sampai kenapa2.." ucapnya sambil mengelus2 perutku yg mulai membuncit..
"Iya Al.. tentu saja.."
"Kelak kalau dia sudah lahir.. jangan lupa.. masukkan namaku di blakang namanya.. dia adalah calon anakku.."
"Aldi.. "
Beberapa hari aku di Jakarta.. Aldi dan Nita benar2 merawatku dengan baik.. tp aku mulai berfikir banyak.. tak seharusnya mereka bertanggung jawab atas diriku dan calon bayiku.. ini bukan salah mereka..
Aku masih ingat pesan mama padaku.. "Siapapun yg sudah mengambil kehormatanmu.. pertahankan dia.."
Akhirnya.. ku pilih utk kembali ke Palembang dan jujur pada orang tua tentang apa yang sudah terjadi padaku.. rasanya mungkin aku memang harus berusaha mencari pelaku pemerkosaku..
"Aldi.. Nita.. aku pamit ya.. aku mau balik ke Palembang.."
"Iya sayang.. kamu hati2.. inget jaga dia" ucap Aldi sambil sedikit menyentuh perutku..
"Iya Al.."
"Bela hati2 dijalan jangan lupa kabarin kami kalau kamu sudah sampai.." tambah Nita..
"Iya Nit.. tentu saja.." jawabku..
Jelas.. aku tak mungkin ucapkan ke Aldi bahwa aku akan mencoba mencari tau keberadaan pemerkosa itu.. memang tak seharusnya Aldi bertanggung jawab atas apa yg sama sekali tak diperbuatnya..
Aldi harus menemukan kebahagiaanya pada wanita yg bersih dan lebih baik daripada aku.. aku hanyalah wanita kotor yang tak memiliki harga diri lagi..
Sesampainya di Palembang aku mempersiapkan diriku utk bicara pada kedua orang tuaku.. dan segala resiko harus ku terima.. termasuk bagaimana papa mama akan memperlakukanku..
Ku harap kejujuran ini adalah langkah awal untukku menemukan pelaku yang sudah menghancurkan masa depanku ini..
Sampai dirumah ku temui mama di tokonya.. ku sampaikan niatku ingin bicara sepulang papa kerja nanti..
"Memangnya mau ngomong apa sih Bel?? tumben sampe segitunya.."
"Ada penting ma.."
"Apa??kamu mau nikah sama Aldi??"
"Bukan itu ma.. nanti aja tunggu papa pulang.."
Sambil menunggu kata2 ku persiapkan caraku untuk bicara nanti secara perlahan dengan kedua orang tuaku.. aku harap mereka paham posisiku dan apa yang sudah menimpaku..
Entah terkadang aq menyalahkan diriku sendiri.. betapa bodohnya aku sampai bisa seperti ini..
Sejak kembali dari Jakarta aku berjanji akan menghilang dari kehidupan Aldi.. aku bukan wanita yang tepat untuknya.. ku ijinkan ia meraih kebahagiaan yang sepantasnya..
Papa mama sudah duduk di ruang tamu menungguku.. secara perlahan aku duduk dan mulai berbicara..
"Pa.. ma.. Bela mau bicara.."
"Ya.. kamu mw bilang apa?? td mama udah sampaikan ke papa juga klo Bela mau ngomong.."
"Pa.. ma... maafkan Bela sebelumnya.. kalau berita ini mungkin mengagetkan kalian.. inipun bukan kehendak Bela.. Bela pernah di perkosa sopir travel pa.. ma.. dan skarang aku sudah hamil 2 bulan.."
"Astagfirulah Bela... kamu serius??" tanya papa..
"Iya pa" jawabku sambil mengangguk.. air mataku keluar.. bibirku agak bergetar..
"Bela.. kamu ini jadi cewek ga bisa jaga diri ya.. skarang kamu malah hamil.. itu perutmu anak haram!!" bentak Mama..
"Ma... Bela juga ga ingin seperti ini.."
"Kenapa nasibmu begini nak??? kita harus cari pelakunya.." ucap papa
"Lalu gimana sama Aldi??" tanya mama
"Aldi sudah tau ma.."
"Malu2in keluarga kamu jadi anak!!"
Sakit sekali rasanya mendengar ucapan mama.. sepertinya mama benar2 menyalahkanku..
Setelah pembicaraan ini dengan kedu orang tuaku.. aku mulai rajin Sholat malam dan sholat tahajud (maaf ya kalau salah tulisan).. berturut2 selama 3 hari.. dan akhirnya semua membuahkan hasil.. pelaku pemerkosaan atas diriku ketemu.. ini tidak luput pula atas bantuan dari kakak si pelaku..
Papa ingin menyelesaikan segala permasalahan ini secara kekeluargaan.. dan sampai skarang mama blum busa menerima atas apa yg sudah ku alami..
"Gimana Deny?? kamu siap bertanggung jawab??" tanya papaku..
"Iya saya akan bertanggung jawab dan menikahi Bela.."
Ada hal yang tak ku duga.. ternyata Deny sudah memiliki istri dan seorang anak.. namun ia menterlantarkan mereka.. dan ini pula yang membuatku harus menikah siri deganya..
Pernikahan diadakan dengan sangat sederhana di rumah kakak tertuaku.. ini dilakukan untuk menutupi aibku.. dan menghindari pemberitaan yang tidak2 di masyarakat..
Namun apalah daya.. sebaik2nya bangkai disembunyikan maka akan tetap ketahuan juga.. Masyarakat mulai membenciku.. bahkan di kampus kabar ini sudah tersebar luas.. membuatku memutuskan untuk menunda kuliahku yang padahal sudah tinggal sedikit lg..
Pencalonanku oleh papa sebagai anggota DPRDpun gagal.. tak ada yang memilihku diakibatkan karena image buruk yg sudah terlanjur menjadi hadiah bagiku..
Setelah menikah.. aku tinggal terpisah dengan orang tuaku dan memilih utk kos.. ingin tinggal di rumah suami juga tidak mungkin karena ada istri pertama mas Deny..
2 Hari pernikahan Mas Deny pergi ke jakarta.. alasanya adalah untuk membantu bisnis pamanya disana.. Mas Deny adalah anak yatim piatu.. orang tuanya sudah meninggal..
"Aku mau kerja biar bener urus kamu juga anak kelak.." ucap Mas Deny..
"Ya udah mas.. silahkan..."
Setelah di tinggal Mas Deny.. aku tinggal sendiri di kos.. dan masalah muncul lagi disini.. istri pertama Mas Deny mulai menerorku..
Call by 081338xxxxxx
"Halo.."
"Halo.. ini Bela??"
"Iya.. ini siapa??"
"Aku Lala, istri Mas Deny.."
"Ohh.. Mbak Lala.. gimana mbak??"
"Gimana,gimana, gimana lagi.. ehh pelacur.. kamu itu udah menghancurkan rumah tanggaku.. dasar cew ga bener.."
"Mbak.. maaf.. bukankah mbak sudah tau masalah saya sama Mas Deny seperti apa.."
"Alah.. itu mah cuma akal2an kamu saja.."
"Sumpah mbak demi Allah.. aku ga ada merekayasa cerita.. untuk apa juga.. toh kemarin saya sudah tunangan.."
"Emang kamu cewek genit.. kegatelan.. awas aja kamu ya!!"
Tak ada yang bisa kulakukan lagi.. bagi orang2 aku ini hanyalah sampah yang menjijikkan.. Ya Allah.. apa salahku?? kenapa harus seperti ini yang ku alami??
5 hari menjalani pernikahan dengan mas Deny.. aku seperti seorang istri yang sama sekali tak merasakan memiliki suami.. Mas Deny cuek dan sama sekali ga pernah peduli atas kehamilanku..
Diluar sana dia tengah asik dengan pacar2nya yg ternyata tak cuma satu.. pernah sekali ku menghubunginya.. niat hati agar hubungaku denganya baik.. tp yang angkat telponya adalah pacarnya..
"Halo.." jawabnya..
"Halo.. ini siapa ya??"
"Saya Dina.."
"Kok kamu bawa ponsel Mas Deny??"
"Oalah.. kamu si Bela yang ngaku2 istrinya Mas Deny ya?? Ehh.. mbak ngaca donk.. orang Mas Deny itu pacarku kok malah kamu akui suami sih??"
Belum habis ku tahan.. dadaku sudah terasa sesak.. ku tutup tlp dan kembali lagi aku menangis.. sesak.. ku elus2 perutku yang sudah semakin membesar..
"Nak.. kelak kalau kamu lahir.. jadi anak yang baik ya.. jangan nakal.. sabar.. dan rajin ibadah.. jangan pernah cari musuh.. jangan pernah sakitin orang.. dan jangan pernah dendam.."
Pacar2 Mas Deny tak henti2nya menerorku.. aku sudah ga kuat lagi.. dan yang lebih parahnya lagi.. Mas Deny tidak pernah mengakuiku sebagai istrinya..
9 Hari pernikahanku Mas Deny menyatakan cerai padaku melalui sms.. Ya Allah.. aku pasrah.. aku kembali pulang kerumah orang tuaku.. dan syukur alhamdulilah Papa menerimaku dengan baik.. tapi tidak dengan mama.. mama begitu membenciku.. ia tak pernah berhenti menyalahkanku..
"Pa... maafin Bela.."
"Sudah sayang.. ga apa2.. ini bukan salahmu.. sekarang kamu fokus rawat calon anakmu ya.."
"Urus2.. urus anak haram" ucap mama ketus..
"Ma.. tolong.. jangan hina anakku.. dia tidak salah.. mama boleh benci aku tp jangan anakku.. dia tidak tau apa2.."
"Alah..."
Sanpai dengan akhirnya aku melahirkan.. Mas Deny sekalipun tak pernah memberiku biaya hidup apalagi untuk anakku yg jelas2 juga anaknya.. aku bersyukur masih mempunyai sedikit tabungan dan bantuan papa..
Bersyukur rasanya.. aku melahirkan malaikat kecil tak bersayap.. seorang bayi laki2.. dan dia ku beri nama Putra Revaldi.. aku sengaja memberi nama yang mirip denga Renaldi.. karena dialah satu2nya laki2 yg begitu baik padaku..
Seminggu sudah usia Revaldi.. aku tak bisa memberinya asi karena asiku tak bisa keluar.. bersyukur papa dan mama sangat menyatangi Revaldi.. mereka membantuku membiayai susu formula bagi putraku..
"Bela.. mama capek sekali.. setiap hari keluar rumah dengernya orang2 ngocehin kamu.. kok punya anak sial begini sih.."
"Maaf ma.. bela juga ga pernah berharap seperti ini.."
"Sudah ma.. sudah.. ini bukan salah Bela.. ini namanya musibah.." jawab papa yang membelaku..
Hampir setiap hari aku bertengkar dengan mama.. sebenarnya aku begitu menyayangi mama.. hanya saja aku lelah.. hanpir setiap hari mama menyinggung malapetaka yang menimpaku..
Ku putuskan untuk keluar dari rumah dan mencari rejeki untuk putraku.. ku titip Revaldi pada papa untuk di rawat dan di jaga.. aku janji akan pulang dan kembali untuknya setelah aku sukses dan berhasil..
Dan tempat yang ku tuju adalah Bali.. ya.. aku pergi ke Bali dengan membawa beberapa pakaian serta bekal dari sisa uang tabunganku.. berharap disinilah jalanku menemukan masa depan utk putra kecilku..
Aku ingin buktikan kepada seluruh keluarga yang membenciku kalau aku sanggup dan mampu melalui ini semua..
Apa kabar Renaldi?? sampai saat ini sudah tak ada komunikasi lagi denganku.. namun ku dengar dari teman ia belum menikah juga dan masih sendiri..
Sampai kini putraku berusia 3 tahun.. aku masih tak bisa pulang utk menemuinya.. bahkan keluargapun tak pernah menghubungiku..
Kelak aku berharap Allah memberikanku jalan untuk suskses dan mampu memperbaiki taraf hidupku dan kan ku buktikan kepada mereka bahwa aku mampu..
The End..