Kau adalah mata, ketika aku tidak bisa melihat kesedihan.Kau adalah telinga, ketika aku tak sanggup mendengar kekecewaan
Kau adalah tangan, disaat aku dalam keterpurukan. Kau adalah kaki, disaat aku kehilangan harapan
Kau adalah malaikat tanpa sayap, yang ditempatkan Tuhan di sisi kanan , Kau adalah denyut nadi, disaat debaran jantung telah terhenti
Sungguh, aku menempatkanmu setara hujan perihal kerinduan dan seperti keabadian edelweis perihal perasaan
Suatu saat jika ada kesedihan datang singgah
Berarti sejarah muram memang sudah tertuliskan
Yang berawal karena aku terlalu percaya atas sebuah keniscayaan
Tanpa mencerna adanya sebuah kebohongan dari sebuah ucapan atau pendengaran