Dangerous Monster
Author: Boyscamp Official
“Ken, kau serius nggak suka nih sama si Rachelle?” tanya Max, teman sebangku Ken sekaligus sahabat baiknya. “Kenapa? Kau menyukainya? Kalau iya, pacaran sana sama dia” tanggap Ken sembari fokus ke arah ponselnya. “Haaa?! Beneran nih? Serius?” seru Max tak percaya. “Apaan sih?” gerutu Ken yang tidak ingin diganggu. “Tapi dia... suka banget lho padamu” ucap Max. “Mau dia suka seberapa banget pun, aku nggak bisa membalasnya” jawab Ken. “Kenapa? Bukan tipemu? Atau kau memang sudah punya yang lain?” tanya Max mendesak. Ken menggeleng. “Nggak ada alasan. Memang aku nggak ada perasaan sama dia dari awal” ujar Ken. “Terus kenapa kau membiarkannya saja? Dia memberimu banyak sekali perhatian dan selalu ada untukmu. Kalau sudah tahu gitu, kenapa tidak kau lepaskan saja? Wah... jangan-jangan kau sengaja ya?” tebak Max. “Siapa sih yang nggak mau diperhatiin? Paling kalau terjadi padamu, kau akan melakukan yang sama. Sayang kan kalau perhatian seperti itu diabaikan?” tanggap Ken santai. “Yah, semoga kau nggak menyesal dengan keputusanmu nanti ya?” balas Max.
Mungkin bagi seorang Ken Braun, perasaan Rachelle Lyons nggak ada apa-apanya. Tapi dalam dua tahun terakhir ini, Rachelle benar-benar berusaha keras agar perasaannya bisa tersampaikan pada Ken dengan baik. Dia bahkan nggak peduli pada dirinya sendiri dan terus berusaha memberikan perhatian yang terbaik untuk Ken. Saat Ken berada dalam kesulitan, Rachelle nggak sama sekali keberatan untuk membantu cowok yang disukainya itu. Meski saat dia kesulitan, Ken tidak bisa membantunya. Hal itu tak menjadi masalah untuk Rachelle. Tapi yang namanya perasaan yang tak kunjung dibalas, bisa jadi akan menghilang.
Hari ini adalah hari besar bagi Rachelle. Selain dirinya diwisuda dan menjadi seorang sarjana, dia juga akan mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang selama ini sudah membuatnya berusaha keras. Hm, benar. Orang itu adalah Ken. Siapa lagi yang membuatnya berusaha keras selama ini? Tentunya untuk mendapatkan hati orang itu. Kali ini pun, rencana yang telah ia susun dengan matang telah berhasil dengan mulus. Rachelle mencoba untuk mengutarakan perasaannya pada Ken, di tempat yang sudah dia siapkan. “Jadi benar kamu menyukaiku ya?” tebak Ken pada intinya. Rachelle terkejut dan langsung menatap ke arah Ken yang berada di hadapannya. “Kenapa? Sebenarnya kamu membawaku kemari untuk mengungkapkan perasaanmu itu kan?” tebak Ken lagi. “Biar aku saja yang mengatakannya padamu. Aku...” “Tidak perlu. Karena aku sudah tahu maka, aku akan langsung menjawabnya” sela Ken. Rachelle memang tampak bingung, namun ia tetap menghargai Ken dan membiarkannya bicara.
“Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Dari awal saat aku mengetahui kalau kau menyukaiku, aku telah membuat sebuah keputusan” ucap Ken. “Apa aku mengganggu dan membuatmu tidak nyaman? Karena itulah kamu menolakku? Maaf, tapi aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi” sesal Rachelle. “Sebegitu besarnya ya perasaan sukamu padaku? Tapi sorry... aku nggak suka padamu” kata Ken sembari melangkah pergi meninggalkan Rachelle. “Makasih. Semoga kamu nggak menyesal” ujar Rachelle. Ken hanya membalasnya dengan senyuman dan tetap melangkah pergi. Sepeninggalnya Ken, Rachelle menunduk sejenak. Usai berulang kali menghela nafas untuk mengontrol emosinya, Rachelle akhirnya tersenyum. Rachelle mencoba untuk tidak bersedih meski perasaannya tak terbalas.
Ray tampak memeriksa barang-barang bawaannya yang ada di dalam kopor. Ia tak lupa mencheklist daftar barang bawaan yang dari tadi dibawanya. “Semua sudah lengkap kan? Ada yang ketinggalan? Rachelle?” tanya Ray dengan nada agak keras usai melihat adiknya melamun di depan kopor. Rachelle tampak terkejut mendengar kakaknya berbicara. “Maaf kak. Sudah kok. Semuanya sudah lengkap” jawabnya. “Kamu baik-baik saja?” tanya Ray. Rachelle mengangguk mantap. “Kita pergi sekarang. Nanti bisa ketinggalan kalau tidak buru-buru” pinta Ray. Rachelle mengangguk sembari melangkah mengikuti kakaknya.
Hari ini keluarga Lyons pindah ke Leicester agar lebih dekat dengan bisnis mereka. Ayah dan ibu Rachelle merupakan pengusaha sukses yang mengepakkan sayap bisnis di Leicester. Kakak Rachelle, Ray merupakan seorang arsitek. Rupanya, bakat keluarga Lyons benar-benar membuat Rachelle juga turut terjun ke dunia seni. Setelah lulus sarjana desain, Rachelle akan berkarya di tempat barunya. Saat dibayangkan saja, Rachelle sungguh beruntung bisa mendapat takdir yang baik untuk karirnya. Tapi mungkin untuk saat ini, situasi buruk hanya melanda hatinya. Saat di Leicester nanti, ia berharap dapat menyembuhkannya.
Rachelle berpamitan pada teman-teman baiknya di bandara. Seperti yang sudah diharapkan, Ken tidak mungkin akan datang ke sana. Dan Rachelle harus bersyukur akan hal itu. Jadi dia bisa pergi dengan nyaman. Ketika ia menyeret kopornya mengikuti Ray, seseorang di belakangnya berlari terburu-buru. Saking buru-burunya, orang itu sampai tidak melihat Rachelle dan menabrak bahu Rachelle dengan bahunya cukup keras. Orang itu bahkan nggak melihat ke arah Rachelle yang sedikit kesakitan, sehabis ditabrak dengan bahunya. “Kamu baik-baik saja?” tanya Ray yang sempat melihat orang tersebut menabrak adiknya. Rachelle hanya mengangguk sambil melihat ke arah kopor yang dibawa penabraknya tadi. “Dasar. Buru-buru tapi ya tidak perlu begitu sih. Membahayakan orang saja!” dengus Ray. “Sudahlah kak, aku baik-baik saja kok” ujar Rachelle mencoba menenangkan.
Beberapa jam setelah penerbangan, akhirnya kedua kakak beradik itu tiba. Rachelle hendak menyeberang mengikuti Ray ke arah taksi yang akan membawanya pulang ke rumah baru. Tapi tiba-tiba dari arah belakang, pria yang sama seperti sebelumnya lagi-lagi menabraknya. Kali ini Rachelle tak berdiam diri seperti beberapa jam tadi. “Excusme! You have to apologize!” seru Rachelle. Pria yang menabraknya tadi tampak sedikit terkejut dan segera berbalik menatap Rachelle. “Why should i?” tanya pria tersebut. “Cause you have crashed me. Two time!” jawab Rachelle. Pria tersebut tampak kaget. Sambil melepas kacamata hitam yang dikenakannya, pria tersebut tersenyum ramah. “I’m sorry, but... i do not regret” balasnya. “Hah? What?!” seru Rachelle kesal. “Cause i’m lucky to have crashed this beautiful woman for the second time?” ujar pria itu diikuti senyum mautnya. “Semoga kita bertemu lagi. Have a nice day!” tambahnya.
Rachelle terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa menatap pria itu yang mulai menghilang dari pandangan. “Dasar cowok sok keren!” seru Rachelle. “Elle? Kamu kenapa?” tanya Ray yang telah berada di seberang jalan. Rachelle menggeleng ke arah Ray. “Ayo, cepat!” seru Ray. Rachelle mengangguk sembari berlari ke arah kakaknya. Rupanya Ray agak kesal setelah menunggu Rachelle yang tak kunjung menyeberang.
3 Years after...
Butuh dua tahun bagi Rachelle untuk benar-benar melupakan perasaannya pada Ken. Sudah 3 tahun ini dia berada di Leicester dan berkarir disana. Dan sudah lama sekali dia tidak kembali ke rumah lamanya. Menghilang selama 3 tahun mungkin seperti tidak ada apa-apanya bagi orang lain. Mungkin juga terlalu sebentar. Buktinya, teman-teman Rachelle tetap sama seperti sebelumnya. Menjemputnya di bandara dan menanyakan pertanyaan yang sama. “Kamu masih menyukainya?”. Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang masih tetap sama. Mungkin sedikit bedanya, kali ini Rachelle hanya menjawabnya dengan senyum hangat dan kemudian mengabaikannya. Tidak seperti dahulu, Rachelle selalu bersikap seperti seakan dirinya tidak pernah bisa melupakan Ken.
“Tapi tuan Alexander, bagaimana bisa anda meninggalkan kakak anda sendirian di Leicester begitu saja? Bukankah ada pertemuan yang harus kalian berdua hadiri? Tuaaannn” rengek sekertaris Walter, salah satu sekertaris setia dan manja yang telah bekerja di samping Gray Alexander selama bertahun-tahun. Dia selalu mengikuti Gray kemanapun pria itu pergi. Meski harus pindah ke Leicester selama tiga tahun pun, dia lakukan. Keduanya sudah seperti keluarga yang tak terpisahkan lagi. “Walt, berhentilah berisik dan ikut saja aku. Disana kakak bisa menghandle semuanya. Kau tenang saja” jawab Gray. “Tuaannn” rengek Walter lagi. “Sst!” seru Gray keras hingga membuat Walter berhenti merengek. “Lagi-lagi anda melangkah terlalu buru-buru! Nanti kalau menabrak lagi seperti waktu itu bagaimana? Tuan Gray!” seru Walter mengingatkan. Gray berbalik ke arah Walter yang ada dibelakangnya sedari tadi.
Gray tersenyum sembari mengingat-ingat kejadian beruntun yang terjadi 3 tahun lalu sebelum dirinya berangkat dan tiba di Leicester. Gray hanya angkat bahu dan kembali berbalik ke arah jalannya. “Nah! Itu taksi! Ayo cepat!” pinta Gray pada Walter saat melihat sebuah taksi kosong yang menunggu di pintu keluar bandara. Saat Gray berhasil memegang pintu taksi, seseorang menghentikannya. “Stop! Aku yang lebih dulu” ucap seorang wanita yang berada di pintu taksi seberang sana. “Tidak bisa. Aku duluan lho yang megang pintunya” balas Gray tak mengalah. “Anda itu barusan datang. Tanya saja pada sopirnya” kata wanita tersebut tetap ngotot. “Pak sopir, apa wanita ini duluan yang memegang knop pintu?” tanya Gray pada sang sopir. “Maaf, saya tidak melihatnya tadi...” sesal sopir taksi.
“Yahh... tapi bagaimana ya? Memang aku duluan kok” ucap Gray. “Dasar! Sudah jelas-jelas aku duluan! Pria mana mau mengalah? Baiklah, nikmati saja taksimu itu!” seru wanita tersebut. “Rachelle, please, lebih baik kamu naik mobilnya Max. Kan lagian cuman sebentar saja?” pinta teman wanita tersebut. “Ya, daripada kamu naik taksi. Mana? Taksinya sudah penuh tuh!” timpal yang lain. Gray masih berdiri menatap wanita yang sebenarnya harus naik ke dalam taksinya itu. “Sudah kubilang, aku tidak akan lagi berhubungan dengan apapun yang terkait dengan dia. Disana ada Ken kan? Aku tidak mau lagi melihatnya, please! Aku akan cari taksi lain” ujar wanita yang dipanggil Rachelle itu. Ya, tentunya Rachelle Lyons yang juga baru saja tiba dari Leicester.
Gray membukakan pintu taksi untuk Rachelle. “Apa maksudmu?” tanya Rachelle kaget. “Mau pergi kemana?” jawab Gray balik bertanya. “Bukan urusan anda” balas Rachelle. Rachelle tak mau menjawab, namun teman-temannya menjawab kemana Rachelle harusnya pergi. Gray tersenyum sembari kembali mempersilahkan Rachelle untuk naik ke taksi yang sama. “Kita searah. Naiklah. Tidak semua pria tidak mau mengalah kok. Aku contohnya” ucap Gray. “Tidak perlu. Anda kira aku akan masuk ke dalam sana dengan senang hati? Wanita juga punya harga diri tahu!” balas Rachelle. “Aku tidak berusaha untuk merendahkan harga diri anda. Hanya saja... ini adalah satu-satunya taksi yang tersisa disini dan juga... bukankah anda harus menghindari pria itu?” ujar Gray. Rachelle menatap Gray yang kemudian beralih ke arah Ken yang ternyata sudah menunggunya di belakang teman-teman. Rachelle kembali menatap Gray. “Kalau kau macam-macam, aku bersumpah akan membuatmu keluar dari taksi itu hanya tinggal tulang” ancam Rachelle. “All right” balas Gray. Rachelle masuk ke dalam taksi tersebut, diikuti Gray dari pintu taksi yang satunya.
“Stop disini, pak!” ujar Rachelle. Usai taksi benar-benar berhenti di tempat yang seharusnya, Rachelle memberikan sejumlah uang untuk membayarnya. “Thanks for your help. Bye” pamit Rachelle sembari melangkah keluar dari taksi. Bukannya melanjutkan perjalanan, Gray malah keluar dari taksi dan mengikuti Rachelle. Gray menanting tangan Rachelle sebelum wanita itu masuk ke dalam sebuah restoran. “Aku tahu tempat makan yang enak” ucapnya. Meski terkejut dan berusaha melepas tangan Gray, Rachelle akhirnya tetap mengikuti pria aneh itu.
Gray mengajak Rachelle ke sebuah tempat makan yang tidak seberapa ramai, namun terlihat nyaman. “Kau tahu, kau itu pria aneh! Tiba-tiba baik denganku, pasti kau mau sesuatu kan?” tebak Rachelle. “Terima kasih bi” ucap Gray pada pelayan ketika makanan yang dia dan Rachelle pesan telah disajikan. “Jangan berprasangka buruk. I do this for apologize to you” jawab Gray. “Hah? Maksudmu?” tanya Rachelle bingung. Gray melahap makanannya dengan santai hingga Rachelle harus menunggu jawaban dari Gray. “Merebut taksimu dan menabrakmu. Dua kali” jawab Gray kemudian. “Merebut taksiku? Jadi kau benar-benar sengaja ya?! Eh tapi tunggu... kau bilang menabrak? Kapan kau...” “Cause i’m lucky to have crashed this beautiful woman for the second time?” potong Gray tak sabar.
Rachelle lagi-lagi membalas dengan ekspresi yang sama seperti waktu itu. Terkejut dan sedikit menganga. “Tunggu! Jadi kau... pria itu!” seru Rachelle ketika sadar. Dia cepat-cepat memeriksa stiker yang tertempel di kopor milik Gray. “Stiker ini... seperti liontin yang ada di sekuel film Harry Potter. Apa namanya itu...” kata Rachelle sambil berusaha mengingat. “Deathly Hallows?” ujar Gray dan Rachelle bersamaan. Keduanya tampak tersenyum. “Finally, we meet again yeah? Dulu kita bertengkar, karena tabrakan. Sekarang karena taksi?” kata Gray mengulang cerita pertemuan mereka. “Kamu sih nyebelin!” dengus Rachelle. “Kamu yang lebih nyebelin tahu!” balas Gray. “Ya kamu lah!” ujar Rachelle tak mau kalah. “Tapi enak kan makanannya?” tanya Gray. Rachelle mengangguk. “Tuh kan, aku tahu nih selera makanmu kayak gimana. Dari tadi lapar kan?” tebak Gray. Rachelle memegangi perutnya sambil menatap ke arah Gray dengan tersipu. “Kedengaran ya? Padahal sudah jawab telpon dengan suara keras lho” jawab Rachelle malu usai Gray mengetahui kalau perutnya keroncongan sejak berada dalam taksi.
“Gray Alexander. Ksmu...?” ujar Gray. Rachelle menatap ke arah Gray. “Rach...” “Rachelle kan?” sela Gray. “Darimana kamu tahu... Aih! Apaan coba? Jadi dari tadi nguping ya?” gerutu Rachelle. “Nggak kok. Kalau nguping itu berarti orangnya ngomong pelan. Orang tadi kamu ngomongnya keras. Temanmu juga tuh” tanggap Gray. “Masa? Kamu aja yang suka nguping” canda Rachelle. “Ih, ya nggak lah” balas Gray.
“Jadi kamu dari Leicester juga nih?”
“Hm. Sepertinya kamu juga. Tapi aku kok nggak pernah ketemu kamu ya?”
“Memang aku nggak mau ketemu kamu. Kamu nyebelin soalnya!”
“Oh jadi gitu? Tapi kamu kok bisa inget sih stiker di koporku? Kangen ya”
“Apaan? Aku nih penggemar berat film Harry Potter tahu! Biarpun orang suka ngeledekin, tapi aku tetap suka. Jadi, tentulah aku hafal stikermu”
“Orang bilang kenapa? Masih kayak anak ABG ya padahal kita sudah mau masuk umur 27?”
“Eh, kamu 26?”
“Iya. Sama ya? keliatan kok dari wajahmu. Tapi kayaknya, masih imut aku deh”
“Gray, fix kamu tuh nyebelin banget emang!”
Rachelle sepertinya harus menginap di hotel untuk sementara. Rumah lamanya benar-benar tidak mungkin untuk ditempati terlebih dahulu, karena masih terlalu kotor. Besok mungkin dia baru bisa tidur di rumah. Sudah berada di atas tempat tidur, menyalakan pendingin ruangan dan menghadap ke arah ponselnya. Rachelle sedang menelpon seseorang lewat video call. “Hai ayah!” serunya usai sambungan telponnya diterima. “Hai sayang. Sampai sana jam berapa?” jawab ayah Rachelle dengan lembut. “Beberapa jam yang lalu sih. Oh ya yah, rumah lama belum bisa ditempati. Masih kotor sekali. Tadi aku sudah coba bersih-bersih, tapi... kayaknya nggak maksimal deh. Masih banyak debunya” lapor Rachelle. “Sudah telpon seseorang untuk meminta bantuan?” tanya ayah Rachelle. “Sudah” jawab Rachelle singkat. “Kamu tidak lupa kan kenapa berada disana?” tanya ayah Rachelle. “Off course! Ketemu sama orang yang ayah bilang kan? Alamatnya nggak salah kan, yah?” ucap Rachelle. “Impossible. Itu sudah benar kok. Ingat Elle, bernostalgia adalah hal yang nggak penting. Oke?” tanggap ayahnya. “Oke. Besok akan kucari. Kayaknya aku ngantuk berat nih” keluh Rachelle. “Good night, dear” ucap ayahnya. “Night yah” balas Rachelle yang kemudian memutus sambungan telpon. Rachelle menarik selimut dan segera tidur menyiapkan energi untuk keesokan hari.
“Anda mencari siapa?” tanya resepsionis kantor itu. Sebuah kantor persis seperti yang dipesankan oleh ayah Rachelle agar dia mengunjungi tempat itu. “Hmm... direktur?” jawab Rachelle. “Sudah membuat janji?” tanya resepsionis lagi. “Eh, coba dihubungi saja ke direkturnya. Bilang kalau ada seseorang dari Lyons grup ingin bertemu dengannya. Please..” pinta Rachelle. Rachelle harus menunggu sejenak di ruang tunggu, sementara resepsionis mencoba menghubungi sekertaris sang direktur.
Tak lama kemudian, tiba-tiba banyak sekali orang keluar dari lift. Yang lebih menghebohkan adalah ketika Gray Alexander keluar dari lift bersama dengan seorang pria paruh baya yang sudah ngamuk-ngamuk tidak jelas. Hal itu tentunya menarik perhatian orang yang ada di lobby kantor. Rachelle perlahan-lahan mendekati si resepsionis dan menanyakan tentang apa yang sedang terjadi. “Oh, itu biasa. Direktur Gray selalu mendapat marah besar setelah ayahnya, Tuan Presdir datang. Padahal ya, Direktur Gray itu kerjanya sudah benar lho! Ditambah lagi teliti, perfect, ramah, baik dan kreatif. Tapi nih ya... Tuan Presdir selaluuu saja memarahi Direktur. Sampai-sampai karyawan disini kadang merasa kasihan pada Direktur Gray dan bekerja keras agar Tuan Presdir dapat melihat pencapaian perusahaan selama Direktur Gray menjabat” terang si resepsionis panjang lebar dengan nada pelan. “Jadi, Gray eh maksudku, Tuan Gray itu adalah direktur di perusahaan ini? Dan itu... ayahnya? Memang apa sih salahnya kok sampai begitu keras dimarahi?” bisik Rachelle. “Tuan Presdir itu kan memang selalu merasa tidak puas. Dia selalu membanding-bandingkan kakaknya Direktur dengan Direktur. Padahal ya, kakaknya Direktur itu kalau melihat hal ini terjadi lagi, malah marah. Tidak tahu deh. Eh sst, sudah jangan bahas lagi. Nanti kalau saya ketahuan, bisa kena sanksi” kata resepsionis yang kemudian mendadak bungkam.
Belum sempat Rachelle kembali duduk, si resepsionis kembali memanggilnya. “Tadi sudah sempat saya coba telpon, tapi setelah melihat kejadian barusan saya jadi mengerti. Tadi telponnya tidak diangkat, mungkin karena hal ini. Sepertinya, untuk sementara Direktur tidak bisa menerima tamu. Maaf...” ucapnya. “Iya, aku tahu. Setelah melihat kejadian hari ini, sepertinya aku harus menemuinya lain hari. Terima kasih sudah membantu” balas Rachelle. Gray tampak meminta maaf pada karyawan dan beberapa orang yang ada di lobby usai ayahnya pergi. Dia harus meminta maaf, karena telah membuat keributan dan mengganggu kenyamanan orang-orang. Bagi Gray, rasa nyaman pada orang-orang disekitarnya akan menciptakan sebuah sistem kerja yang baik antara karyawan dan pimpinannya.
Rachelle memang hendak melangkah keluar sih. Sayangnya Rachelle sudah lebih dulu ketahuan oleh Gray. “Rachelle? Kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Gray kaget. Rachelle segera melihat ke arah Gray sambil tersenyum. “Direktur, dia adalah tamu dari perusahaan Lyons. Nona ini ingin bertemu dengan anda untuk mengantarkan pesan dari perusahaan Lyons” jelas resepsionis tadi. “Kamu? Dari perusahaan Lyons? Kok bisa? Sudah lama kamu nunggu? Kenapa nggak ada yang bilang kalau ada tamu sih? Walter?” omel Gray pada sekertaris humoris dan setianya, Walter. “Saya baru mendapat telepon. Maafkan saya, Direktur” sesal Walter. “Kalau begitu, ayo!” pinta Gray. Rachelle mengangguk sambil melangkah ke belakang Gray. “Kenapa kamu disitu? Disini dong. Sampingku. Kamu kayak nggak kenal aja” dengus Gray.
“Oh jadi, kamu sekertaris pribadinya paman Darren? Wah... kebetulan banget ya? Paman Darren itu... baik sekali. Bagiku, dia sudah seperti keluarga sendiri. Paman Darren tuh kalau sudah bercanda, malah nggak bisa berhenti ketawa saking lucunya. Apalagi pas dia melakukan sesuatu yang lucu, aduh sumpah ya nggak bisa diam deh. Duh, jadi kangen nih...” kata Gray ketika dirinya dan Rachelle berada dalam ruang kerja milik Gray. “Iya... ayahku emang suka aneh, eh maksudku direktur! Iya direktur memang suka melucu” tanggap Rachelle. Sepertinya dia sengaja menutupi kenyataan sebenarnya bahwa dia adalah anak bungsu dari Darren Lyons. Pemilik perusahaan Lyons group. Sesuai dengan tugas dari ayahnya, Rachelle dikirim kembali ke tempat dimana rumah lama mereka berada untuk bekerja sama mengenai produk tertentu dengan perusahaan Alexander. Dan kebetulan sekali, perusahaan Alexander yang disini saat ini sedang dipimpin oleh Gray.
Gray mengantarkan Rachelle hingga tiba di lobby kantornya. “Sudah, sampai disini saja. Lagipula, aku bisa keluar sendiri kok” ujar Rachelle. “Kamu tahu nggak? Aku waktu pertama kali datang di kantor ini, sudah 25 kali nyasar. Padahal nih, aku biasanya nggak begitu lho. Kata karyawan yang sudah kerja lama disini nih, kantor ini tuh tata letak setiap jalan menuju ruangannya tuh agak membingungkan” terang Gray. “Oh jadi gitu. Beneran emang takut aku kesasar atau...” “Sebenarnya sih mau ngajak makan siang. Tapi daritadi kayaknya aku terus diawasin nih sama sekertarisku” potong Gray sembari melirik ke arah Walter yang berada di belakangnya. Walter tampak berulang kali menunjukkan tanda silang dengan jarinya. “Makan siangnya lain kali saja ya, Gray? Kita kan masih harus ketemu beberapa kali lagi. Hari ini aku juga mau mempersiapkan pekerjaan yang lain” pamit Rachelle. “Pekerjaan kan? Bukan untuk yang lain?” tanya Gray dengan tatapan sangat ingin tahu. “Nggak lah!” jawab Rachelle. “Oh, kukira kamu masih berhubungan dengan pria yang di bandara waktu itu” ucap Gray. “Buat apa coba?” gerutu Rachelle.
“Oke kalau begitu, aku boleh kan?” tanya Gray kemudian. “Boleh apa nih?” balas Rachelle balik bertanya. “Kita kan sudah rekan kerja nih? Biasanya kalau sudah sepakat, harus pakai jabat tangan dulu. Biar lebih akrab” kata Gray. “Jabat tangan ya? Harus nih? Kalau gitu, ya boleh sih. Jabat tangan kan?” tanya Rachelle. Gray mengangguk sambil mengulurkan tangannya. Rachelle pun menjabat tangan Gray. Bukannya segera melepaskannya, Gray malah membuat acara jabat tangan itu menjadi bagian dari jalannya ide modus dipikirannya. “Maksudku bukan jabat tangan hanya sekedar rekan kerja saja lho” kata Gray. “Maksudnya?” tanya Rachelle benar-benar bingung. “Jabat tangan ini juga menjadi saksi. Saksi dari awal langkahku untuk...” jawab Gray terhenti. Ia mengecup punggung tangan Rachelle dengan lembut. “Mendekatimu” lanjut Gray yang sukses membuat Rachelle tak bisa berkata-kata. Untuk yang kesekian kalinya.
Sesampainya dirumah lama, Rachelle kembali mengingat kejadian tadi saat dirinya bersama dengan Gray. “Pria aneh! Gila! Dia nggak malu apa ya? Tadi itu di Lobby kan banyak sekali orang yang lihat! Pake acara gombal segala sih?! Sebel kan jadinya, huh!” amuk Rachelle kesal. “Tapi... jujur saja Elle. Kamu nggak pernah kan ketemu sama laki-laki seperti Gray? Iya kan? Ya iyalah! Dari dulu kan kamu tahunya cuman laki-laki seperti Ken saja! Dasar!” kata Rachelle sambil menghadap ke arah cermin, rupanya dia berbicara dengan dirinya sendiri. Rachelle menatap ke arah tangannya. Yep, tangan yang sempat mendapat kecupan dari Gray tadi. “Sialan!” umpat Rachelle pada dirinya sendiri.
“Elle! Jangan lupa! Malam ini kamu harus gantikan ayah di pesta peresmian perusahaan Kang. Mereka sangat-sangat mengharapkan kedatangan kita. Ayah bilang pada mereka, kalau kamu yang bakal menggantikan ayah. Oke? Oke?” pinta ayah Rachelle lewat sambungan telpon. “Yah, sedekat apa sih ayah dengan Gray? Sampai sebegitunya kalau dia cerita tentang ayah” tanya Rachelle penasaran. “Kenapa kamu mau tahu? Haaa! Kamu mulai tertarik ya sama dia?” canda ayah Rachelle. “Aku nggak sedang bercanda lho ini, yah. Dia beneran seperti mengidolakan ayah sekali” tanggap Rachelle. “Ya kamu tahu sendiri kan? Ayahmu ini kan keren, berkarisma, humble dan bijaksana. Sudah pasti, kalau ayah punya banyak teman. Apalagi si Gray” ujar ayah Rachelle memuji diri sendiri. “Stopped! Sepertinya makin jauh, ayah makin sok keren nanti. Pokoknya acara malam nanti sesuai kan dengan jadwal?” tanya Rachelle. “Tentu. Nanti ayah kirim seseorang untuk mengantarmu kesana” jawab ayah Rachelle kembali serius. “Maksud ayah, pak Kwon?!” tebak Rachelle heboh. “Yeah. Right! Oh ya dear, dengar ya? Kalau kamu sudah dekat dengan Gray, itu artinya kamu punya sebuah tanggung jawab besar padanya” kata ayah Rachelle. “Hm? Apa itu? Dan why should i?” tanya Rachelle bingung. “Karena dia adalah orang baik buat ayah. And one again. Sekali dia memberikanmu segalanya, maka kamu tidak boleh membuatnya kecewa. Ingat ya? Kalau nanti kamu sudah kenal dekaaat sekali dengannya, kamu pasti mengerti apa yang ayah bicarakan. Bye darling. Take care!” tutup ayah Rachelle.
Rachelle bersorak gembira usai ayahnya memberi anggukan sebagai jawaban dari tebakan Rachelle. Tentu saja Rachelle senangnya bukan main, karena pak Kwon yang ayahnya sebutkan tadi adalah seorang sopir pribadi keluarganya sejak dari Rachelle kecil hingga kini telah berumur 26 tahun. Rachelle sangat senang, karena setahu dirinya pak Kwon masih berada di Leicester. Dan ternyata, pak Kwon dikirim secara khusus oleh ayahnya untuk menemani Rachelle nanti malam.
Malam itu berlalu sangat cepat. Rachelle baru saja melepas rindu dengan pak Kwon yang sudah ia tunggu tersebut. Sepanjang jalan menuju pesta, Rachelle tak henti-hentinya berbicara. Hingga dirinya baru sadar kalau sudah tiba di tempat seharusnya dia turun. “Elle, pak Kwon mau menjemput kakakmu dulu di bandara. Entah kenapa tiba-tiba dia menghubungiku, katanya dia sudah di bandara” pamit pak Kwon. “Serius? Ngapain kakak kemari? Harus benar-benar dipastikan itu. Dia itu kan biasnaya suka usil” kata Rachelle agak kesal jika mengingat hobi kakak laki-lakinya tersebut. “Kali ini serius, Elle. Dia sudah berada di pintu keluar. Nanti kalau kamu sudah mau pulang, langsung telpon saja ya? Pak Kwon nggak lama kok. Langsung balik menjemputmu setelah menurunkan kakak” ujar pak Kwon meyakinkan. Rachelle mengangguk mengerti.
Saat masuk ke dalam pesta itu, dia kembali menjadi Rachelle Lyons untuk sementara waktu. Dia menyapa beberapa teman bisnis lainnya yang ia kenal. Mengobrol tentang banyak hal yang telah terjadi selama tiga tahun ini. Dan juga... sedikit bernostalgia membahas tentang pria yang sempat Rachelle perjuangkan. Ken Braun. Sampai lupa kondisi dan waktu, Rachelle baru saja tersadar kalau ternyata Ken juga berada disana. Seperti biasa, dia tentu sedang berbincang seru dengan teman lamanya, Max. “Setelah kau menolak Rachelle, kau bilang masih single sampai saat ini ya? Awalnya sih aku nggak percaya, tapi pas lihat keadaanmu seperti ini. Kukira... akhirnya kau sadar dan menyesal ya sudah mengabaikan cewek sebaik Rachelle?” tebak Max. “Dulu aku memang bodoh sih. Kukira menerima perhatian dari cintanya itu nggak akan menimbulkan apapun untukku. Ternyata aku salah, aku baru saja sadar kalau perasaanku sudah berubah. Kau tahu sendiri kan, bagaimana keadaanku setelah menolaknya?” tanggap Ken. “Yep, kau stres berat. Jadi sensitif dan menggila. Kubilang juga apa? Akan lebih baik kan jadinya, kalau waktu itu kau terima saja dia. Dan kemudian kau belajar untuk menyukainya, daripada menyesal?” ujar Max. Ken membalasnya dengan senyum khas.
“Dia ada disini lho” kata Ken sembari menunjuk ke arah tempat Rachelle berada. “Serius? Terus kau mau bagaimana?” bisik Max. “Aku sudah pikirkan sesuatu sih” jawab Ken santai. “Ha? Serius? Jadi kau benar-benar sudah merencanakannya jauh-jauh hari ya? Berarti, kau sudah tahu dia bakal datang ke acara ini?” tanya Max takjub. “Iyalah. Cucunya pemilik Kang group itu kan teman baikku. Jadi, aku minta tolong padanya untuk mencarikanku data nama orang-orang yang ada dalam undangan dan pasti bakal datang di pesta ini” ujar Ken. “Wah, gila. Berarti, sudah niat ya? Beneran mau balikan lagi nih?” goda Max. “Lagian aku jadi yakin kalau dia masih punya perasaan padaku. Waktu yang dibandara beberapa minggu yang lalu? Ingat nggak? Dia berusaha untuk menghindar dariku. Berarti apa dong artinya?” kata Ken. “Apa tuh?” tanya Max tak paham. “Ya berarti gagal move on!” jawab Ken penuh keyakinan. Max tersenyum sembari terlihat mengangguk setuju.
Entah tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Ken mendekati Rachelle yang tengah sibuk ngobrol dengan teman-temannya. Dia nggak sendirian. Ken membawa seorang wanita yang rumornya akan segera dia nikahi di awal tahun nanti. Mungkin si Ken lagi pamer kali ya? Supaya Rachelle cemburu, terus memberinya perhatian lebih lagi. Agar nggak kalah dari si tunangan tentunya. Jadi itulah yang sudah direncanakan Ken dari jauh-jauh hari. “Oh, ada Rachelle juga toh disini? Apa kabar?” sapa Ken. Beberapa teman Rachelle tampak sedikit khawatir saat Ken menyapa Rachelle. Mereka takut Rachelle akan mengingat masa lalunya bersama dengan Ken yang mereka pikir cukup buruk untuk diulang kembali.
“Oh, hai. Kabarku baik. Bagaimana denganmu?” balas Rachelle diikuti senyum khasnya yang tak pernah dia lupakan. “Baik sekali nih. Apalagi mendekati tahun-tahun baru. Oh, kamu belum tahu ya? Kenalkan, ini Claire. Pas awal tahun nanti, aku dan Claire akan bertunangan. Tenang saja, aku sudah buatkan undangan untukmu juga kok. Jangan lupa datang saja deh pokoknya” kata Ken dengan gayanya yang sok. “Ngapain coba pake Rachelle diundang segala? Rachelle kan sedang sibuk di Leicester. Bentar lagi dia juga bakal balik. Ya kan, Elle?” bela salah satu teman baik Rachelle. “Iya sih, sebenarnya. Tapi kalau kamu ngotot mau mengundangku juga aku tidak keberatan kok. Asal aku ada waktu saja sih” tanggap Rachelle tenang. “Oke deh! Oh ya sayang, ini Rachelle namanya. Dia seperti yang pernah kuceritakan padamu waktu itu tuh” ujar Ken tampak mengenalkan Rachelle pada Claire, tunangannya. “Oh, ini yang namanya Rachelle? Cewek yang katamu nembak kamu duluan itu kan?” tebak Claire. “Masa aku bilang gitu sih? Yaa memang gitu sih. Ya kan, Elle?” timpal Ken.
Teman-teman Rachelle tampak ingin sekali memberi Ken pelajaran, meski sekali saja. Rachelle pun sedang berpikir untuk membalasnya dengan perkataan yang setimpal. Dia juga merasa cukup tersinggung dengan perkataan Ken maupun Claire barusan. Harusnya, pasangan baru itu nggak menyingung tentang masa lalunya. Sebelum Rachelle membuka mulutnya untuk membalas. Mendadak bahunya terasa berat. Bukannya dia mau pingsan atau drama bagaimana. Dagu seseorang sudah bersandar di bahu kanannya. “Kenapa kamu meninggalkanku sendirian sih? Padahal tadi aku sudah berusaha menghentikanmu lho. Aku ngambek nih” ucap pria itu. Pria yang dagunya masih bersandar di bahu Rachelle. Rachelle tampak kaget saat melihat pria tersebut. “Gray?!” teriak teman-teman Rachelle serta beberapa wanita yang ada disekitar sana. Teriakan mereka hampir kompak. Ditambah lagi, saat pria itu, ya Gray menyapa balik para wanita itu. Beberapa dari mereka malah ada yang sampai jatuh lemas. Dan beberapa lainnya tampak terpesona dengan tatapan Gray. One shot, kill all.
“Gray?” ujar Rachelle pelan. Gray tampak tersenyum usai berbalik menatapnya. Sebelum itu, Gray sempat memeluknya dari belakang sembari mencium bahu Rachelle yang terbalut gaun. “Jadi, Ken yang kulihat di bandara yang waktu itu memang benar ternyata Ken yang ini. Ken Braun. Kuberitahu nih, Claire. Ken waktu itu di bandara melihat Rachelle tuh sampai nggak fokus sama yang lain. Bahkan kelihatan sampai mau ngiler tuh. Saking kangennya kali ya? Tapi sayang sekali ya. Ah iya, Rachelle masih suka sama dia?” tanya Gray pada Rachelle yang dirangkulnya. “Sudah tiga tahun berlalu kali” jawab Rachelle. Gray tersenyum ke arah Rachelle, tentu dengan senyuman khas nan maut miliknya. “Kalau begitu, aku sungguh boleh kan?” tanyanya lagi. “Apa?” jawab Rachelle balik bertanya. “Mendekatimu?” kata Gray menegaskan kembali.
Rachelle kembali terdiam, dia nggak tahu harus menjawabnya dengan apa. Lagi-lagi. Dia beneran nggak siap menerima kejutan gila dari setiap kata-kata serta tindakan yang diterimanya dari Gray. “Sudah dua kali aku tanyanya. Kalau kamu masih nggak bisa jawab, aku bisa menunggu kok. Kalau kamu sudah mau pulang dari pesta bosenin ini, call me yah?” bisik Gray mesra. Hal itu sukses juga membuat Ken jadi geram sepuluh kali lipat. Tapi apalah dayanya dia. Gray mengerlipkan sebelah matanya pada Rachelle. Sebelum dia pergi menemui teman bisnisnya yang lain, Gray sempat membuat kode “call me” dengan tangannya. Sementara Rachelle hanya bisa menghela nafas tak habis pikir dan memikirkan cara untuk menghadapi pria satu itu.
“Kamu sejak kapan dekat dengan dia?” “Dimana kamu pertama bertemu dengannya?” “Dia itu baik, ganteng, perfect dan idaman semua wanita lho!” “Dia memang playboy sih. Tapi kabarnya... dia itu nggak pernah sekalipun dekat banget sama cewek lho!” “Elle! Gas deh!!!”. Kira-kira begitulah perkataan teman-teman Rachelle yang memang digunakan untuk mempengaruhi pikiran Rachelle. “Aih, Wait!!” tanggap Rachelle agak kesal. Rachelle meninggalkan teman-temannya dan melangkah menuju toilet. Rachelle beberapa kali menghela nafas sambil membasuh kedua matanya. “Ini gila!” teriaknya dalam hati.
Saat Rachelle keluar dari toilet, Ken telah menghadangnya. Pertama, dia meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia buat. Kedua, dia memohon pada Rachelle untuk memberinya kesempatan. Dan yang terakhir, dia mengungkapkan betapa menyesalnya dia dan mengungkapkan perasaannya yang sesungguh-sungguhnya. Tapi dia bukan lagi Rachelle yang Ken kenal tiga tahun lalu. Dia adalah Rachelle yang sudah melewati tiga tahun ini dengan meninggalkan masa lalunya di suatu tempat. Dan saat bersamaan, Gray yang sempat mencarinya, datang di antara keduanya. Gray khawatir Rachelle akan kembali pada Ken lagi. Mengingat, perasaan Rachelle waktu itu baru saja terbalas hari ini.
“Maaf Ken. Aku sudah meninggalkan perasaanku padamu waktu itu di suatu tempat. Dan aku juga lupa dimana itu. Kamu toh juga sudah punya pasangan sendiri kan?” balas Rachelle. “Claire bukan siapa-siapa kok. Aku dan dia hanya sebatas teman. Tadi yang kukatan itu, cuman candaan kok” kata Ken mencoba meyakinkan. “Oh, benarkah? Tapi... meski siapapun dia bagimu, aku sudah nggak peduli lagi” ujar Rachelle. “Tapi Elle... please...” pinta Ken memohon. “Kamu sudah punya pasangan. Begitu juga aku. Sepertinya... aku juga sudah memutuskan siapa yang akan menjadi pasanganku” jelas Rachelle. Kedua mata Ken melebar seketika saat Rachelle melangkah ke arah Gray yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Good choice” puji Gray. Rachelle tersenyum ke arahnya. Senyum yang benar-benar membuat Gray tergoda selama ini.
Gray dengan cepat menarik tangan Rachelle dan mendekatkan tubuh wanita itu lebih dekat lagi dengannya. Sementara Ken, memilih untuk pergi dari tempat itu. “Kamu bilang apa? Memutuskan siapa yang akan menjadi pasanganmu? Aku kan?” goda Gray. “Jelas-jelas aku nggak bilang namanya, bagaimana dia dan...” “Tapi kamu lari padaku” sela Gray. “Oh ya? Karena nggak ada yang lain lagi sih... jadi ya...” tanggap Rachelle sembari menatap ke arah lain. Gray memegang pipi kiri Rachelle dengan salah satu tangannya. Hal itu membuat Rachelle hanya fokus pada wajah Gray yang malam itu... bisa dibilang... yaah memang sedikiiiittt lebih baik dari biasanya.
Untuk pertama kalinya, Rachelle menatap wajah Gray sedekat ini. “Kenapa? Aku genteng ya?” goda Gray. “Biasa aja” balas Rachelle. Gray memeluk Rachelle erat. “Can you stay by my side, Elle?” bisiknya dengan suara parau. Rachelle jadi ingat dengan kejadian beberapa waktu lalu saat Gray bertengkar dengan ayahnya. Dia tampak tertekan dan tidak bisa bebas. Ditambah lagi dengan pesan ayahnya yang menyuruh Rachelle untuk tetap berada di dekat Gray ketika mereka telah dekat. Dan sekarang, dia benar-benar sudah dekat dengan Gray. Dia juga... “Can you be my soulmates, Elle?” bisik Gray lagi. Kali ini dengan suara tegas dan serius. Dia juga tampak menatap kedua mata Rachelle tanpa memeluknya lagi.
“Oh, nggak mungkin ya? Aku terlalu muluk nih...” “I can” potong Rachelle. Gray terkejut dan menatap Rachelle kembali. “Are you serious?” tanya Gray tak percaya. Rachelle mengangguk pelan. “Jangan karena kamu punya masa lalu buruk nih. Kamu pernah nembak Ken, tapi Ken malah menolakmu. Jadi kamu kasihan padaku. Merasa nggak enak dan malah me...” “Aku serius! I can do all. Always be your side, be your mates and yah... i’ll try the best for you. Sebisa mungkin” sela Rachelle yang benar-benar serius soal komitmennya. “Ya, kamu memang kelihatan bersungguh-sungguh” kata Gray. “Ya emang! Auh!” dengus Rachelle sebal. Gray tertawa pelan saat dirinya berhasil membuat Rachelle sedikit kesal. Gray kembali menatap Rachelle. Tatapannya berubah. Awalnya biasa menjadi agak tajam, tapi terasa hangat. Rachelle hanya bisa membalasnya dengan senyum. Senyum yang biasa ia gunakan. Nothing special. Namun tiba-tiba Gray menambar bibir Rachelle dengan bibirnya yang lembut. Sedikit terkejut memang, tapi pada akhirnya Rachelle membalas dan menikmati ciuman itu.
Ken memang telah menyerah terhadap perasaannya. Tapi hanya untuk malam itu saja. Dia masih bertekad untuk mengambil kembali hati Rachelle bagaimanapun caranya. Usai malam itu, Rachelle pun juga masih benar-benar nggak percaya dengan apa yang telah terjadi. Dalam semalam, dia bisa mengalami hal indah bagai mimpi yang membuatnya susah bangun. Namun kenyataannya, kehadiran Gray memang diciptakan untuk menjadi seseorang yang membayar kesulitannya di masa lalu dengan sebuah kebahagiaan.
Ponsel Rachelle bergetar cukup keras. Hingga Rachelle harus buru-buru mengambil ponselnya sebelum terjatuh dari ujung meja. “Kak Ray?” kata Rachelle kaget setelah mendapat telpon dari seseorang di pagi buta. “Pria mana lagi sih yang kamu suka? Aku jadi penasaran berapa banyak yang sudah kamu tembak nih” tanggap pria dari telpon. Rachelle kembali menatap layar ponselnya. Nomor asing. Tak tertulis nama dan tak tersimpan. “Kenapa? Nomorku nggak ada dikontak ya? Padahal semalam kita baru saja mesra-mesraan lho. Sekarang tulis nih, sayangku Gray gitu” ucap Gray, pria yang pagi-pagi sudah menelpon Rachelle. “Perasaan nomormu...” “Itu nomor bisnis. Kalau yang ini... khusus dong. Nomor ini cuman buat nelpon dua wanitaku di dunia ini” sela Gray. “Mamamu dan...?” tebak Rachelle terhenti. “Rachelle Lyons” jawab Gray buru-buru.
Rachelle tersentak dan hampir saja menjatuhkan ponselnya. “Menurutmu pesta itu boleh dihadiri seorang sekertaris? Bisa sih memang, tapi ya nggak disitu lah tempatnya. Ya kan, Rachelle Lyons? Bisa jelaskan yang satu ini?” tanya Gray yang ternyata sudah mengetahui rencana Rachelle untuk tidak memberitahu tentang identitas aslinya. “Itu... aku cuman...” “Jelasinnya sambil sarapan saja ya? Dibuka dulu pintunya” ujar Gray. “Ha? Pintu? Pintuku kenapa?” tanya Rachelle sambil melangkah ke arah pintu rumah lamanya.
Saat Rachelle membuka pintu rumahnya, ia makin terkejut melihat Gray sudah berada di depan pintu. Gray masih menempelkan ponselnya ke telinga. Tapi tangan kanannya menggoyang-goyangkan sebuah kotak berisi sarapan. “Wah... kukira kamu...” ucap Rachelle terbata-bata, karena masih terkejut. “Apa? Aku masih dimana? Di rumah ya?” tanggap Gray. Rachelle menghela nafas kesal. Gray tersenyum senang, karena berhasil membuat Rachelle terkejut. Rachelle tampak memeluknya hangat. Sementara Gray membalasnya dengan sebuah kecupan di kening Rachelle.
Rachelle turun di depan kantor perusahaan milik ayahnya persis. “Jangan lupa, makan siang ya?” pesan Gray. Rachelle mengangguk. “Dah! Sampai nanti” pamit Rachelle sembari berbalik melangkah ke arah pintu masuk kantor. Namun sebelum itu terjadi, Gray dengan cepat berlari menghentikannya. Rachelle lagi-lagi terkejut dengan tindakan kejutan dari Gray. Baginya tidak biasa. Dia baru saja bertemu dengan pria seperti Gray yang selalu mengandung kejutan di setiap tindakannya. “Kenapa?” tanya Rachelle masih kaget. “Ha? Lupa” jawab Gray singkat dan langsung mencium kening Rachelle. “Itu yang lupa?” tanya Rachelle lagi. “Nanti kalau kangen kan repot” canda Gray. Rachelle hanye menggelengkan kepala. Semenjak berhubungan dengan Gray, hidupnya benar-benar berbeda. Tak bisa ditebak dan menurutnya cukup nyaman menjadi seorang Rachelle yang baru.
“Elle!!” sapa Ray yang masih dari kejauhan. Ray segera berlari ke arah Rachelle ketika melihat adiknya tersebut melangkah ke arah lift. “Kakak nih. Kemana saja sih? Kemarin kan aku minta kakak pulang ke rumah. Eh, kakak malah ngilang. Pak Kwon pake acara rahasia-rahasiaan lagi” omel Rachelle. Ray tampak tertawa pelan. “Cowok biasa gitu lah...” tanggapnya santai. “Ya kan aku jadinya khawatir sama kakak. Dasar!” dengus Rachelle. Ray masih saja tertawa saat melihat adiknya kesal. Untuk menenangkannya, Ray segera merangkul Rachelle dan membawanya masuk ke dalam lift menuju ruang kerja.
Rachelle keluar dari kantor sambil membawa sebuket bunga yang ditemukannya di meja kerja. Gray segera keluar dari mobil ketika melihat Rachelle melangkah keluar dari kantor dan menuju ke arahnya. “Dari siapa?” tanya Gray terkejut ketika Rachelle membawa buket bunga. “Ken” jawab Rachelle singkat. “Sini kasih aku saja. Biar kuurus. Pasti selesai nih. Kalau kamu yang urus, malah senang dia” pinta Gray. “Kukira dia sudah menyerah waktu itu” kata Rachelle sembari memberikan buket bunga tersebut pada Gray. “Kupikir juga gitu. Ternyata... masih belum ya” tanggap Gray. “Kamu mau makan siang dimana?” tanya Rachelle. “Aku punya tempat bagus!” jawab Gray riang usai melempar buket bunga dari Ken ke dalam bagasi belakang mobil.
“Plak!”
Pipi kiri Gray langsung seketika memerah usai papanya menampar dirinya dengan sangat keras. Kali ini Rachelle nggak tahu apa kesalahan Gray hingga papa Gray melakukan hal demikian. Namun tugasnya, hanya berusaha untuk menenangkan perasaan Gray. “Anak brengsek! Dimana kau menyembunyikan wanita itu? Hah?!” teriak papa Gray. “Untuk itu, aku tidak bisa mengatakannya pada anda” jawab Gray. Lagi-lagi papanya menampar pipi kirinya dengan keras. “Wanita itu harusnya sudah mati dua tahun yang lalu! Aku menyayangimu, tapi jangan buat aku kesal Gray! Papa akan kasih kamu semua yang papa miliki, tapi tunjukkan dimana wanita itu berada” pinta papa Gray yang kali ini sedikit melunak. “Kenapa? Papa mau membunuhnya lagi?” tanya Gray dengan nada bicaranya yang mulai serius dan sedikit menakutkan. Dia marah. “Wanita nggak berguna itu, memang seharusnya mati. Jadi, cepat tunjukkan saja dimana dia!” “Aku nggak akan pernah menunjukkanya padamu! Nggak akan pernah!” teriak Gray kencang.
Rachelle tetap berada di sofa resepsionis sebelum Gray bertengkar hebat dengan papanya. Gray sengaja menyuruh Rachelle untuk duduk disana. Mungkin dia khawatir papanya akan menyakiti Rachelle juga. Akan tetapi, Rachelle tak bisa tinggal diam saat Gray dihantam keras oleh papanya. Gray sempat terjatuh, tapi dengan cepat bangkit kembali. Gray hendak membalas pukulan papanya, tapi Rachelle memeluknya dari belakang dan membuatnya sadar. Gray nggak seharusnya ngamuk di tempat itu. Ini kantornya, tepat di Lobby dan banyak orang memperhatikan. Jika Gray membalas papanya, mungkin papanya akan bertindak lebih jauh membahayakan lagi. Jadi mungkin, Rachelle ada benarnya. Sebagai gantinya, Gray hanya menatap papanya dengan tajam. “Aku tidak akan pernah memberitahu anda tentang keberadaanya. Jika anda tiba-tiba mengetahui dimana dia berada dan kemudian membuatnya terluka. Aku... tidak akan tinggal diam” ancam Gray.
Luka memar di pelipis Gray siang itu, cepat-cepat Rachelle obati. Gray hanya menurut dan duduk diam di kursi kerjanya. “Aku nggak bisa melakukan apapun, karena dia papamu... tidak mungkin aku membalik tubuhnya seperti menggoreng ikan. Jadi... aku bingung mau bagaimana” ucap Rachelle. “Aku tahu. Kudengar, kamu mahir bela diri juga. Tapi aku kaget. Kukira kamu akan menendangnya hingga jatuh, tapi kamu malah... memelukku dan bilang kalau aku harus mengendalikan emosiku. Rasanya... itu lebih baik daripada...” “Tendangan hingga tersungkur?” canda Rachelle sembari tersenyum. Gray tampak tertawa pelan. “Wanita yang ingin dia bunuh itu... ibuku...” ungkap Gray lemah.
“Kak, kakak pasti kenal dengan keluarga Alexander kan?” tanya Rachelle pada Ray yang terlihat sedang fokus pada laptopnya. “Hmm. Gray itu anak keduanya. Anak pertama, si Evan itu teman baiknya kakak. Dia tinggal di Leicester juga. Adik bungsunya, meninggal karena sakit. Ayahnya temperamental. Dulu sebelum mereka sukses, ibunya sering jadi korban pemukulan. Sampai pada akhirnya, mereka sukses pun ibunya tetap jadi korban kekerasan ayahnya. Kabar terakhirnya, mama Gray masuk rumah sakit dan koma. Katanya sih setelah dihajar habis-habisan oleh ayahnya itu. Banyak yang bilang sih, ibunya meninggal. Tapi beberapa waktu lalu saat Evan sedikit mabuk ketika pergi hangout dengan kakak, dia bilang kalau ibunya masih koma dan berada di suatu tempat. Jadi baik Evan maupun Gray, berusaha untuk melindungi ibu mereka dari si ayah. Emang gila tuh si bapaknya. Heran deh! Mana ada wanita yang dulu dicintainya, terus dibegitukan sampai hidupnya tragis” cerita Ray panjang lebar. “Kakak nih ya... kalau sudah disuruh jelasin, bisa sampai subuh saking banyaknya. Tapi... aku jadi tahu yang sebenarnya sih...” kata Rachelle. “Tahu apa?” tanya Ray sambil tidak berpindah fokus sama sekali. “Kalau kakak ternyata berteman baik dengan kakaknya Gray” jawab Rachelle.
Ray menatap ke arah Rachelle yang sedang berdiri di depan meja kerjanya. “Masa sih? Kakak sudah berteman lama lho dengannya. Bahkan dari kita bayi. Ibunya Gray sama ibu itu dulu teman SMA. Jadi nggak jarang deh kita ketemu” terang Ray. “Lho masa sih? Kok aku nggak tahu tentang itu?” tanya Rachelle kaget. “Alah, kamu kan waktu itu masih kecil. Pastinya kamu lupa kalau Evan itu sering main bareng sama kamu, kalau kakak lagi sibuk ngerjain PR sih. Kamu kan juga waktu itu masih tinggal sama kakek nenek. Oh ya, kata ayah kamu sekarang lagi deket tuh sama Gray. Serius?” tanggap Ray. “Apaan sih kak. Pasti ayah nyuruh pak Kwon lagi ya buat buntutin aku?” tebak Rachelle. “Yeee.. ya iyalah. Kamu kan sering ngilang nggak jelas gitu. Jadi ayah kan khawatir sama kamu. Lagian nih, kalau kamu udah deket sama si Gray, aduhh bakal lupa deh sama semuanya” kata Ray. “Maksudnya?” tanya Rachelle dengan nada menekan. “Yaa lupa kalau ada cowok lain. Dia orangnya suka banget tuh bikin cewek gila. Tenang dek, kakak yakin dia nggak bakal nyakitin kamu kok. Karena kakak tahu dia itu kayak gimana orangnya” ucap Ray. Rachelle cuman membalasnya dengan anggukan.
“Tapi kalau suatu saat dia nyakitin kamu... kakak pastikan kamu nggak akan kembali dengannya lagi” tegas Ray. Rachelle tersenyum ke arah Ray. “Yah, memang begitulah tugasnya kakak” balas Rachelle. “Tugas apaan cobak? Heh, kamu ya? Kamu tuh harusnya giliran bersih-bersih hari ini. Tuh kan kakak jadi inget mau ngomong apa ke kamu. Hampir aja lupa. Elle kamu ya... beneran deh! Kalau sudah pulang duluan itu, ya kakak dibantu kek! Cuci piring numpuk tuh. Kita nggak ada pembantu, jadi please deh...” omel Ray. “Apaan sih? Lagian kakak aja yang malas! Aku tuh sudah nyuci apapun yang kotor dirumah ini, termasuk... baju kakak! Kakak aja yang nggak pernah bersih-bersih! Dan satu lagi... hari ini tuh, hari Kamis! Berarti apa? Ini giliran kakak yang bersih-bersih. Kok malah aku yang disalahin? Huuu!!” balas Rachelle sembari melangkah menjauh dari Ray. “Kamu yaa! Awas lho!!!” teriak Ray sambil berlari mengikuti Rachelle. Ray mengusili Rachelle hingga adiknya tersebut tampak kesal dan hampir meledak.
“Lho, rambutnya kok berantakan?” tanya Gray saat melihat rambut Rachelle usai wanita itu masuk ke dalam mobilnya. “Iya nih, kak Ray tuh pagi-pagi sudah bikin kesal. Dia lupa naruh tasnya dimana. Terus teriak-teriak pas aku lagi ngerapiin rambut. Pas kujawab dimana tasnya, dia bilang nggak ada terus. Aku sebel kan jadinya. Pas aku nyamperin ke tempat itu... tasnya ketemu. Persis seperti yang kutunjukkin tadi. Aku makin sebel pas dia bilang, tasnya bisa teleportasi. Gila ya tuh orang. Karena aku marah, dia ngacak-ngacak rambutku. Kek gini nih!” cerita Rachelle masih sebal. Gray auto tertawa keras setelah mendengar penjelasan Rachelle. “Kok kamu malah ketawa sih!” dengus Rachelle sambil menepuk lengan Gray. “Iya maaf... memang ya kakak kamu tuh usil banget. Asli deh. Aku juga pernah diusilin, tapi yaa aku nggak bisa marah sih. Soalnya dia lucu” tanggap Gray. “Lucu apaan!” gerutu Rachelle sambil merapikan rambutnya kembali.
Tiba-tiba Gray memeluk Rachelle sembari mencium pelipis wanita itu. Rachelle yang tadinya masih kesalpun, dibuat tenang. “Sudah kuduga, kamu pasti punya sisi yang seperti ini” kata Rachelle. “Seperti apa?” tanya Gray sambil tetap memeluk Rachelle. “Kamu mau telat masuk kerja ya?” canda Rachelle. Gray tersenyum dan segera melepas pelukannya. “Karena itulah aku jadi yakin. Ibumu pasti sangat beruntung punya putera sepertimu” ucap Rachelle. “Kamu nggak beruntung juga? Ingat lho, kamu adalah bagian dari dua wanitaku di dunia ini” kata Gray dengan menatap ke arah Rachelle yang duduk di sampingnya. Rachelle menjawabnya dengan senyum khas.
Belum cukup beberapa hari yang lalu Ken mengirim buket bunga, kali ini Ken melancarkan aksinya. Tapi untuk yang ini, Ken cukup berani mengambil aksi yang agak kasar dan sangat menyiksa Rachelle. Ken menyuruh beberapa orang untuk membawa Rachelle ke suatu tempat tertentu yang telah Ken rencanakan sebelumnya. Dan benar saja. Ketika Rachelle hendak masuk ke dalam taksi, orang-orang suruhan Ken sudah lebih dulu menarik tangannya. Rachelle dipaksa untuk masuk ke dalam sebuah mobil yang sama sekali tak Rachelle kenal. Rachelle berusaha untuk menyelamatkan diri, namun gagal. Mobil tersebut telah melaju kencang.
“Direktur Gray! Direktur! Direktur!” teriak Walter panik. “Ada apa lagi?” tanggap Gray yang masih berkutat dengan pekerjaannya. “Bodyguard yang anda tugaskan untuk mengawasi nona Lyons baru saja menelpon. Mereka bilang, nona Lyons dibawa paksa oleh beberapa pria asing. Sepertinya, nona Lyons telah diculik saat hendak naik taksi. Sekarang mereka sedang berusaha mengejar mobil yang membawa nona Lyons” lapor Walter. Gray seketika bangkit dari tempat duduknya. “Sudah kuduga. Cepat atau lambat, dia pasti akan melakukan hal ini. Cepat, kita harus segera ke sana juga. Tolong siapkan mobil untukku” perintah Gray. “Baik, tuan!” jawab Walter.
Gray melangkah dengan setengah berlari ke arah sebuah rumah yang menjadi tempat Rachelle disekap. Ternyata, anak buah Gray cukup cepat dalam menangani hal ini. Semua orang suruhan Ken yang berjaga di depan pintu pun, tumbang satu persatu tanpa suara. Di dalam, kedua tangan Rachelle diikat ke belakang kursi. “Apa maumu?” tanya Rachelle tegas. “Aku hanya ingin kamu kembali padaku. Itu saja” jawab Ken. “Kejadian yang sudah lalu, tidak bisa kamu ulang seenaknya. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu” kata Rachelle jujur. “Itulah yang ingin kubangun kembali. Aku ingin...” “Tidak lagi, Ken. Aku sudah selesai. Waktu itu aku telah melepaskan seluruh perasaanku. Please, jangan melakukan hal yang bodoh” potong Rachelle. “Kenapa? Karena Gray akan datang dan membuatku babak belur?” ujar Ken.
“Dan memang benar. Itu yang akan kulakukan padamu. Brengsek!” seru Gray yang tiba-tiba datang entah darimana. Gray menghajar Ken hingga pria tersebut harus tersungkur ke lantai. Ken tak bisa sedikitpun membalas pukulan dari Gray. Gray justru makin menggila. Dia terus menghajar Ken tak ada hentinya. “Gray! Gray, berhenti! Gray!” panggil Rachelle yang tak sekalipun didengar olehnya. “Tolong lepaskan tali ini, sekertaris Walt” pinta Rachelle. Sekertaris Walter segera melepaskan ikatan tali yang melingkar di tangan Rachelle.
Rachelle segera berlari menghentikan Gray. Dia takut Gray akan malah membunuh Ken karena menyelamatkan dirinya. “Sudah, sudah berhenti. Kalau dia pingsan, kamu yang akan menanggung semuanya. Gray... berhenti” ucap Rachelle. “Dia membawamu pergi! Dia! Brengsek!” teriak Gray masih marah. Rachelle menyuruh anak buah Gray membawa Ken keluar dari rumah itu. Gray masih berusaha untuk menghajar Ken. Namun Rachelle sudah lebih dulu memeluknya dengan erat hingga Gray tak bisa bergerak lagi. Rachelle mengelus bahu Gray. “Sudahlah... aku baik-baik saja. Dia tidak melukaiku. Aku baik-baik saja. Lihat aku. Aku tidak apa-apa” ujarnya. “Tapi dia membawamu pergi. Ke tempat ini. Tanganmu diikat dan...” kata Gray terbata, karena Rachelle berusaha untuk membuat Gray melihat ke arahnya. Rachelle memegang kedua pipi Gray. “Aku baik-baik saja... kamu tenang... please...” pinta Rachelle melembut. Gray menghela nafas panjang. “Kamu... baik-baik saja?” tanya Gray dengan suara sedikit serak. Rachelle mengangguk pelan.
Seseorang melaporkan kejadian ini kepada polisi. Karena di dalam rumah terdengar ribut, tetangga yang ada di sekitar rumah merasa ketakutan. Polisi membawa Ken dan juga Gray untuk dimintai keterangan. Sementara sekertaris Walter dan juga Rachelle masih menunggu keduanya di depan kantor polisi setempat. Rachelle tampak cemas menunggu kabar dari Gray. Tak lama kemudian, Gray melangkah ke arah Rachelle yang tak jauh dari pandangannya. Jaket pria itu tampak ternoda oleh darah dari pelipis Ken. Rachelle baru saja sadar kalau pipi Gray terlihat lebam. Rupanya, Ken sempat membalas pukulan Gray hingga Gray marah besar dan memukul Ken berkali-kali.
Rachelle segera berlari ke arah Gray yang baru saja keluar. “Bagaimana?” tanya Rachelle khawatir. “Tidak apa-apa. Semua sudah beres. Kubilang, dia mencoba untuk menculikmu. Untuk sementara, dia ditahan di sana” terang Gray. “Bolehkah aku mengatakan sesuatu padanya?” tanya Rachelle meminta izin. “Jangan lama-lama” jawab Gray sembari masuk ke dalam mobilnya. Rachelle mengangguk dan melangkah masuk ke dalam kantor polisi.
Ken terkejut saat Rachelle menemuinya. Ken masih ditahan dalam penjara, atas perbuatannya. “Maaf” sesal Ken singkat. “Aku tahu, kamu pasti melakukan hal ini untuk membayar rasa penyesalanmu. Tapi Ken... jujur saja... waktu itu jika kamu tidak menolakku, mungkin saat ini kita sudah saling sapa. Kita bisa saja putus ditengah jalan kan?” ujar Rachelle. “Nggaklah! Aku pasti bisa menjagamu. Tapi yaa... aku memang bodoh sih” kata Ken. “Baru sadar kan kalau kau itu bodoh? Hah?!” dengus Rachelle. Ken tampak tertawa pelan. “Kuharap kau bahagia dengannya. Waktu perjalan kemari, aku sempat duduk di sebelahnya. Kau tahu, dia benar-benar mencintaimu Elle. Dan kau... beruntung sekali memilikinya” ujar Ken.
“Gray maksudmu?”
“Hm. Memang mungkin aku akan menjadi pria yang paling baik saat aku bisa bersama denganmu. Tapi pria itu... memang sudah ditakdirkan untuk membuatmu merasa paling beruntung. Benar katamu, mungkin kita bisa saja putus dan nggak saling menyapa setelahnya. Tapi dia... tetaplah pria yang akan membuatmu bahagia meski aku tidak ada”
“Kalau dia mendengarmu bicara begini, pasti dia akan memukulmu sekali lagi”
“Benar. Dia memang agak kasar. Mungkin karena kisah keluarganya. Kurasa, aku tidak perlu lagi menyuruhnya untuk menjagamu. Dia pasti akan menjagamu. Tapi... kamu. Kamu harus menjaganya ya?”
“Semua orang juga bilang begitu. Dan tentu, aku akan menjaganya”
“Benarkah? Baguslah. Elle... sekali lagi maafkan aku”
“Sudahlah...”
“Bolehkah aku mengatakan sesuatu yang harusnya kukatakan padamu 3 tahun yang lalu?”
“Apa harus kau katakan sekarang? Kalau tidak?”
“Hmmm, mungkin akan membuatku menyesal seumur hidup?” kata Ken. “Baiklah, kau boleh mengatakannya” ujar Rachelle mencoba mendengar. “Aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu, Elle. Aku bersyukur, karena ternyata perasaanku padamu tidaklah sia-sia. Terima kasih selama ini kamu sudah memberiku perhatian lebih dan lebih sekali. Aku... mencintaimu” ungkap Ken. “Bagus kata-katanya” tanggap Rachelle diikuti senyumnya. “Jangan ketawa!” seru Ken sebal. Rachelle dan Ken saling berbalas senyuman. “Bisakah kita... tetap dekat seperti dulu?” tanya Ken. “Tidak lebih?” jawab Rachelle. “Hm. Hanya dekat tidak lebih. Karena perasaanku sudah kuungkap, rasanya jadi lega sekarang. Terima kasih sudah mau dengar, teman” ucap Ken. Rachelle mengangguk dan membalasnya dengan senyum.
“Maaf aku membuatmu kaget tadi. Aku lepas kontrol” sesal Gray di sela-sela perjalanan kembali menuju kantor. “Hari ini sudah ada dua orang yang minta maaf padaku. Aku bisa mengerti kenapa kamu seperti itu. Karena kamu tidak ingin aku terluka. Ya, kan?” tebak Rachelle. “Pria itu minta maaf padamu juga? Dia pasti bilang sesuatu yang buruk tentangku padamu ya?” tanya Gray. “Sebaliknya. Dia bilang, kamu harus menjagaku. Tapi meskipun tanpa dia suruh, kamu akan tetap melakukannya. Dia mengatakan hal-hal yang baik tentangmu” jelas Rachelle. “Baguslah. Kukira dia akan memuji dirinya sendiri agar kamu bisa kembali padanya lagi” tanggap Gray. Rachelle tampak tersenyum melihat tindakan Gray kali ini. Dia benar-benar pria yang penuh kejutan bagi Rachelle. Dan baru kali ini, Rachelle merasa bahwa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia ini.
Gray membawa Rachelle ke suatu tempat. Agak jauh dari kota. Namun Gray, tidak memberitahu Rachelle mereka akan pergi kemana. Meski begitu, Rachelle tetap mengikuti saja pria yang penuh kejutan itu. Tak lama, mereka tiba di sebuah tempat. Mirip sebuah rumah sakit. Tapi bangunannya agak kecil dari rumah sakit pada umumnya. Di halaman rumah sakit tersebut, banyak anak kecil sedang bermain dengan riang. Ketika keduanya melewati halaman, beberapa anak kecil menyapa Gray dengan gembira. Gray juga tampak memperlihatkan keakraban dengan anak-anak itu.
“Pangeranku datang!!” teriak salah satu anak perempuan. Umurnya sekitar kurang lebih 6 tahun. “Hai, Meg!” sapa Gray. Seketika bocah perempuan tersebut berlari dan memeluk Gray dengan erat. “Aku merindukanmu, Gray. Kau tidak datang lagi setelah itu. Apa kau lupa jalan kemari?” balas Megan, bocah 6 tahun tersebut. Gray tampak benar-benar menyayanginya. “Maaf ya... banyak sekali yang harus dilakukan” sesalnya. Gray melepas pelukannya dengan Megan. “Ah ya, Meg. Kenalkan ini Rachelle. Elle... ini Megan. Dia ini...” “Hai, aku Megan. Aku pacar Gray sebelum kamu mengenalnya” sela Megan sembari mengulurkan tangannya ke arah Rachelle. “Oh, kamu ya pacarnya Gray? Jadi ini. Gray juga sering cerita tentangmu lho. Hai, Meg. Senang bisa bertemu denganmu. Aku Rachelle” balas Rachelle sembari menjabat tangan Megan. “Kau benar-benar dewasa sekali. Berapa umurmu Elle?” tanya Megan. “Rahasia!” jawab Rachelle. “Wah... kau benar-benar mirip denganku!” sorak Megan.
Meninggalkan Megan, Gray menanting tangan Rachelle agar segera masuk bersama ke dalam rumah sakit. Bangunan tersebut sudah nampak tua dan agak kusam. Tapi pasien disana lumayan banyak juga dari perkiraan. Letaknya memang ditengah-tengah pedesaan, jadi mungkin ini adalah rumah sakit satu-satunya yang berada disini. “Oh, Gray sudah datang rupanya” sapa seorang pria. Wajahnya tidak asing bagi Rachelle. Gray tampak menjabat tangan pria tersebut. “Bagaimana kabarmu?” tanya Gray. “Baik sekali. Oh, tunggu. Siapa ini?” jawab pria tersebut balik bertanya. “Dia...” “Lho! Kamu kan... astaga. Ini gila!” seru pria tersebut. “Hai Rachelle... lama nggak ketemu” sapa pria tersebut. “Hai, Luke. Kamu sekarang bekerja disini ya?” balas Rachelle diikuti senyumnya.
“Apa?! Jadi dokter Luke itu adalah mantan pacar Rachelle?!” seru Megan yang sedang duduk bersama dengan Gray. “Iya! Harus berapa kali lagi aku ngomong?” dengus Gray diikuti mukanya yang kesal. “Kamu tenang saja Gray... Rachelle nggak akan kembali lagi padanya kok. Tapi... kalau Rachelle beneran mirip denganku ya, pastinya aku akan kembali lagi dengan dokter Luke” kata Megan. “Kamu kok malah bilang gitu sih?!” seru Gray makin kesal. “Habisnya... dokter Luke kan ganteng!” tanggap Megan. “Aih!!” umpat Gray.
“Sudah lama kamu kenal Gray?” tanya Luke. Dia dan Rachelle tengah melangkah mengelilingi taman rumah sakit. “Baru sih. Tapi... keluargaku sudah lebih dulu mengenalnya dengan baik” jawab Rachelle. “Gray itu... ibunya dirawat di rumah sakit ini. Waktu pertama kali datang, ibunya terluka parah. Sempat koma juga, tapi akhirnya sekarang agak baik-baik saja. Masih dalam pengawasan juga sih” terang Luke. “Jadi ini?” tanya Rachelle terhenti. “Ya, ini adalah tempat rahasia yang tidak pernah Gray beritahukan pada siapapun. Yah yang tahu tempat ini sekarang cuman Gray, aku, kakak Gray dan juga... kamu” jelas Luke. “Aku?” tanya Rachelle sambil menunjuk dirinya sendiri. “Hm. Aku juga kaget waktu kamu yang dibawa kemari. Itu berarti ya Elle... kamu tuh spesial. Oh, jangan-jangan... kalian sudah pacaran ya?” kata Luke. Rachelle menatap ke arah Luke dengan ekspresi serius.
Gray merapikan buku-buku yang tercecer di meja. Dia juga tampak membuka tirai jendela. Gray terlihat menyiram bunga dalam vas yang berada di meja dekat tempat tidur pasien. Di dalam ruangan itu, seorang wanita paruh baya perlahan membuka matanya. Wanita itu rupanya terbangun, karena merasa ada seseorang dalam ruang inapnya. “Kamu sudah lama disini?” tanya wanita tersebut dengan lembut. Seperti biasa, suara yang selalu dirindukan Gray. “Masih beberapa menit yang lalu. Sudah makan?” jawab Gray. “Sudah, barusan juga” balas wanita tersebut. “Gara-gara aku berisik, jadi bangun ya?” sesal Gray. Wanita tersebut memegang punggung Gray yang sedang membelakanginya. “Kamu sudah tambah dewasa ya sekarang?” ucapnya diikuti air mata yang menetes. Gray berbalik menghadap ke arah wanita itu/ “Kalau aku nggak segera dewasa, aku pasti tidak akan bisa melindungimu ma” balas Gray. Wanita tersebut, mama Gray. Dia tampak tersenyum saat Gray mengatakan hal barusan.
“Oh, nyonya Moran sudah bangun ya? Bagaimana keadaan anda?” sapa Luke, dokter yang bertanggung jawab atas perawatan mama Gray. Rachelle ikut masuk atas perintah Luke. “Aku baik-baik saja berkat kamu. Terima kasih, Luke” ucap mama Gray. Mama Gray sedikit terkejut saat melihat kehadiran Rachelle. “Dia ini... bisa dibilang, calon menantu bibi” kata Luke. Mama Gray langsung menatap ke arah Gray seketika. “Bukannya itu calon istrimu? Lihat saja tuh, dia berada dimana? Dia berdiri di sebelahmu seperti kamu saja yang pacarnya!” dengus Gray. “Jadi selama ibu disini, kamu sekarang sudah berani pacaran ya? Wah wah...” canda mama Gray. “Yaa bagaimana lagi? Dia terus saja menggodaku” tanggap Gray. “Eih! Dia nggak mungkin begitu! Aku lho yang menggodanya dulu, agar dia mau pacaran denganku waktu itu” sahut Luke. “Jadi kau beneran pacaran dengannya ya?!” seru Gray kesal. Luke tampak tertawa senang, karena dia berhasil menipu Gray.
“Namamu?” tanya mama Gray pada Rachelle. “Rachelle” jawab Rachelle sembari memberi hormat. Mama Gray tampak tersenyum. “Rachelle, kemarilah” pinta mama Gray. Rachelle melangkah mendekati mama Gray. Mama Gray tampak memegang kedua tangan Rachelle. “Gray itu... keras kepala dan suka marah. Kamu kok bisa sih mau sama dia? Kamu itu cantik lho. Kalau menurut mama sih, lebih baik kamu kembali saja sama dokter Luke” katanya. “Kembali bagaimana bi? Dia itu menolakku. Padahal sudah bertahun-tahun aku naksir dia” timpal Luke. “Bukan begitu. Luke, kamu tuh! Bikin salah paham terus. Jadi, saya dan Luke sama-sama berada di klub bela diri. Kami berteman baik sejak SMP. Ternyata SMA, kami ketemu lagi. Tapi... kalau ketemu, kami selalu bertengkar. Bahkan, dia sudah beberapa kali menantang untuk berkelahi. Jadi seperti itulah hubungan kami” terang Rachelle. “Jadi dia bukan mantanmu?!” tanya Gray dengan nada tinggi. “Bukan. Kamu tuh kok mau saja dibohongin sama Luke sih? Lagian, Luke itu playboy kelas kakap. Dan sekarang sepertinya... masih sendiri ya?” canda Rachelle. “Kau ya! Awas saja!” amuk Luke. Mereka semua tampak tertawa bersama.
Rachelle masih bersama mama Gray, sementara Luke dan juga Gray berbicara di luar ruangan. “Yang tahu mama disini, cuman kamu lho. Gray pasti sangat menyukaimu ya?” kata mama Gray. “Saya juga terkejut saat dia membawa saya kemari. Tapi... itu membuat saya sadar akan tanggung jawab saya. Karena putera anda percaya pada saya, maka saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan dia” ujar Rachelle. “Kamu bisa berbicara nyaman denganku, Rachelle... Panggil saja aku mama atau bibi, sesukamu. Lagipula, ibumu adalah teman baik mama saat SMA. Kalau ngomong tentang itu, mama jadi kangen dengan ibumu. Sayangnya, mama tidak bisa bertemu dengannya” sesal mama Gray. “Ibuku pasti juga merindukan anda” tanggap Rachelle. “Rachelle... ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Ini soal Gray...”
Sepanjang perjalanan pulang, Rachelle tak berbicara sepatah katapun. Telinganya masih terngiang pembicaraan mama Gray. Wanita paruh baya tersebut memberikan tugas yang cukup berat untuk Rachelle. Karena suasana mobil terlalu hening, tiba-tiba Gray memegang erat tangan Rachelle. “Sekarang kamu membuatku takut” ucapnya memecah keheningan. Rachelle terkejut dan langsung menatap Gray. “Kenapa?” tanya Rachelle diikuti muka cemas. “Apa aku sudah salah bicara? Apa Megan mengatakan suatu hal yang buruk padamu?” jawab Gray balik bertanya. “Kenapa? Apanya yang salah bicara? Apa sih? Aku nggak paham” ujar Rachelle. “Kamu diam saja dari tadi. Aku jadi takut” keluh Gray. “Oh, kukira apa. Aku baik-baik saja kok. Tidak ada yang salah denganmu atau yang lain. Aku hanya... ya.. sedang berpikir. Nggak penting juga kok. Kamu tidak perlu khawatir” terang Rachelle. Gray menatap wajah Rachelle untuk memastikan, namun dirinya malah mendapat pukulan lembut di bahu. “Lihat depan! Lihat depan!” perintah Rachelle panik. Gray segera melihat ke arah depan kembali. Ketika Gray mengulangnya lagi menatap ke arah Rachelle, Rachelle kembali menggunakan jurus yang sama. Sukses membuat Gray tertawa melihat tindakan Rachelle yang tampak ketakutan.
Melihat Rachelle diantar pulang oleh Gray, Ray langsung melompat keluar dari rumah. Dia memaksa Gray untuk mampir ke dalam rumahnya sebentar. Karena sudah lama juga tak bertemu, Gray pun menerima ajakan Ray. Mereka berdua berbicara tak ada habisnya. Rachelle mendadak kaget saat melihat seorang pria keluar dari kamar mandi di rumahnya. Rachelle segera bersiaga dengan membawa peralatan dapur seadanya saat ptia tersebut mulai mendekat. “Elle?! Kamu tidak ingat kakak? Astaga, pake acara ambil panci jadi senjata pula. Aduh, ini kak Evan! Kak Evan! Masa kamu lupa sih?” omel Evan, kakak kandung Gray.
Ray dan Gray yang mendengar ribut-ribut langsung berlari menghampiri Rachelle. “Evan?” ujar Gray terkejut. “Lho, Gray? Kamu disini juga?” tanggap Evan kaget saat melihat adiknya. “Elle, ngapain kamu bawa-bawa teflon segala? Kamu kita dia maling ya?” tanya Ray. Rachelle segera menyingkirkan wajan teflon dari tangannya. “Kakak sih! Nggak bilang kalau ada orang! Huh!” dengus Rachelle yang kemudian melangkah naik ke tangga yang menuju ke arah kamarnya. “Yah... ngambek dia” kata Evan. “Jam berapa sih ini?” tanya Ray tiba-tiba. “Jam empat. Kenapa?” jawab Gray usai melihat jam tangannya. “Oh, pantas. Kalau jam segini dia biasa gitu. Mendadak marah-marah. Lagi PMS biasa” tanggap Ray. “Apaan sih?” cetus Gray kesal. “Bisa aja kau tuh!” timpal Evan. “Dibilangin emang gitu kok” ujar Ray. “Wah, kayaknya dia ngambek karena ada aku nih disini. Kaget dia” kata Evan. Ray tampak menggeleng. “Mungkin dia marah padaku” ungkap Gray. “Wah, kalau yang ini beda lagi nih” tanggap Ray. Evan tampak mengganguk, meski tidak tahu apa yang keduanya bicarakan.
Rachelle mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. “Rachelle... ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Ini soal Gray. Suatu saat keberadaan mama mungkin akan diketahui oleh papanya Gray. Kamu harus tahu, karena kamu adalah orang yang Gray percaya jadi mama juga harus memberitahu padamu. Kamu tahu perusahaan Alexander yang ada di Leicester?” kata mama Gray. “Ya, aku mengetahuinya” tanggap Rachelle. “Itu adalah perusahaan milik mama. Mama yang bangun perusahaan itu dengan dana perusahaan ayah mama. Dan papa Gray mengincar perusahaan itu. Dia bilang, dia harus mendapatkan perusahaan itu untuk dikembangkan lagi. Ternyata... perusahaan itu hendak dia jual. Dia kehabisan dana, sementara perusahaan miliknya mulai bangkrut. Setelah sukses, mama baru tahu kalau dia sering menggunakan uang perusahaan untuk berjudi. Dia marah pada Gray dan Evan itu bukan karena pekerjaan mereka yang buruk, tapi berusaha untuk meminta dana lagi. Evan sengaja tidak memberikan tempat pada papanya. Dia takut perusahaan akan hancur. Tapi Graylah yang menjadi sasaran papanya. Kamu pasti pernah melihat kan, bagaimana papa Gray memperlakukan Gray?” terang mama Gray panjang.
“Saya melihatnya. Papanya memukul Gray tanpa ampun. Jadi maksud anda, papanya Gray mengincar perusahaan itu untuk berjudi?” tanya Rachelle. “Ini, sertifikat gedung itu. Mama ingin kamu yang simpan” jawab mama Gray sambil memberikan sebuah map. “Tidak, maaf aku tidak bisa menyimpan ini untuk anda. Aku...” “Mama percaya padamu Elle, please...” sela mama Gray yang tetap bersikukuh memberikan map tersebut pada Rachelle. “Kenapa harus saya?” tanya Rachelle penasaran. “Karena kamu pasti akan menjadi anak mama juga” ujar mama Gray. “Maksud anda?” tanya Rachelle lagi. “Kamu akan menikah dengan Gray ya?” pinta mama Gray dengan wajah serius. Rachelle terdiam, dia terjebak dalam pikirannya yang mulai rumit. “Ketika Gray tiba-tiba meninggalkanmu tanpa alasan, pasti ada sesuatu dibalik itu semua. Dan dalam map inilah yang akan membuat Gray kembali lagi padamu” ungkap mama Gray.
Rachelle kembali berpikir tentang perkataan mama Gray sebelum dirinya pulang. “Gray memang pria yang keras kepala dan kadang pemarah. Terkadang dia suka bertindak aneh secara tiba-tiba. Jika kamu merasa, apa yang dilakukan Gray tidak seperti biasanya dan malah sebaliknya, itu berarti ada sesuatu yang terjadi. Dan hal itu menyangkut tentang bahaya yang mengancam dirimu. Ingat itu ya, Rachelle? Mama sayang kamu. Sampai ketemu lagi” ucap wanita tersebut sembari memeluk Rachelle. Rachelle sungguh tak mengerti apa yang dikatakan oleh mama Gray. Namun, yang terpenting dia harus melaksanakan tugas yang harus dilakukannya. Menyimpan map itu.
“Elle? Kamu marah padaku?” kata Gray yang sudah berada di depan pintu kamar Rachelle. Rachelle cepat-cepat membuka pintu kamarnya sebelum Gray berpikir yang aneh-aneh tentang kemarahannya barusan. “Nggak kok” tanggapnya. “Terus, kenapa kamu tadi langsung pergi begitu saja?” tanya Gray. “Malas saja. Lihat kak Ray. Nyebelin sih” jawab Rachelle. “Yakin marahnya sama kak Ray?” ujar Gray meyakinkan. “Kamu mau... aku marahnya sama kamu nih?” tawar Rachelle. Gray buru-buru menggeleng. “Elle, katanya ada sebuah hadiah untuk orang marah yang bagusnya melebihi bintang” kata Gray kemudian. “Apa?” tanya Rachelle, meski sebenarnya dia sama sekali tidak penasaran. Rachelle pikir, Gray pasti akan melakukan hal aneh yang membuatnya terkejut dan tak bisa berkata-kata.
Dan benar dugaan Rachelle. Gray mencium bibir Rachelle lembut. “Ciuman dari bulan. Katanya itu adalah hadiah yang paling istimewa untuk orang yang sedang marah” ucapnya. “Oh, kalau begitu... pas kak Ray marah nih, harusnya aku bilang kamu biar dia bisa kamu kasih hadiah itu. Jadi... dia pasti senang deh” cetus Rachelle. “Hah? Tapi ya nggak gitu juga, Elle...” keluh Gray. “Aku kan ngasih hadiahnya kan cuman buat kamu saja. Yang lain ya nggak” tambah Gray. Rachelle tertawa pelan usai berhasil membuat Gray kesal.
Rachelle menghidangkan makan malam untuk 4 orang, termasuk dirinya. Rumah kini jadi ramai setelah kakak beradik Alexander datang. “Wah, sudah nggak ngambek lagi nih?” goda Evan. “Nggak dong, kan habis ditreatmen?” timpal Ray. Rachelle menatap tajam Ray diikuti dengan tangannya memperagakan sebuah kapak yang akan memenggal leher seseorang. Ray hampir tersedak saat mencicipi masakan, usai melihat kode dari adiknya. Gray ikut membantu Rachelle menghidangkan makanan yang lain dari dapur menuju ke tempat makan. “Aduh, kalian sudah seperti pasangan saja nih” puji Evan. “Ya, memang” tanggap Gray. “Eh, Ray, gimana kalau kita jodohkan saja mereka berdua? Kayaknya cocok tuh” cetus Evan. “Ya emang udah pacaran kali!” seru Ray sedikit nyengol. “Maksudnya?” tanya Evan yang masih kebingungan. “Mereka kan? Dijodohin?” jawab Ray. Evan mengangguk. “Ya ngapain pake acara dijodohin segala? Mereka kan emang sudah berjodoh” kata Ray. “Hah?” ucap Evan yang masih saja nggak ngerti. “Hah heh hoh hah heh hoh! Tanya aja sama adikmu sendiri sana! Dasar! Bikin sebel tahu!” dengus Ray tampak sebal.
Evan beralih pada Gray yang duduk di hadapannya, disamping Rachelle. “Gray, maksud Ray apa nih?” tanyanya. Tanpa pikir panjang, Gray mendadak mencium pipi Rachelle dengan cepat. Kemudian, Gray langsung melihat ke arah kakaknya sembari angkat bahu. “Waahh! Kamu sudah pacaran dengannya, tapi nggak bilang kakak ya? Awas lho! Nanti nggak usah pulang ke rumah deh!” amuk Evan. “Kalau gitu, aku nginep disini saja. Boleh kan, kak Ray?” pinta Gray dengan imut. “Aih!” seru Evan makin kesal. “Eh, kak Evan marah tuh. Coba Gray, kamu kasih dia hadiah. Kamu kan tahu, hadiah yang cocok buat orang marah yang bagusnya melebihi bintang” canda Rachelle. “Hadiah apa? Aduh, gombalnya sudah level 11 kayaknya nih anak” tanggap Ray. “Ayo, Gray... kasih kakak hadiah dong. Kakak marah nih. Ngambek!” goda Evan dengan gayanya yang sok imut. “Eh, coba! Coba ngambek kayak Rachelle tadi” kata Ray. “Kamu sih! Nggak bilang kalau sudah pacaran! Huh!” canda Evan yang mencoba menirukan gaya marah Rachelle. “Sini! Sini deh!” ujar Gray sambil menyuruh kakaknya agak condong ke arahnya. Saat mulut Evan sedikit terbuka, karena hendak memanyunkan bibir, Gray segera bertindak. “Makan tuh sayur!” ucap Gray sembari menyuapkan sayur ke mulut kakaknya. “Aih!” dengus Evan makin marah. Tak lama setelah itu, keempatnya tampak tertawa keras dan menikmati makan malam sederhana di rumah tersebut.
Gray dibawa ke sebuah tempat oleh beberapa orang, anak buah papanya. Dia dibawa paksa untuk menghadap papanya. “Jadi, kamu sekarang sudah punya pacar ya?” tanya papa Gray. “Sejak kapan itu jadi urusan anda?” jawab Gray balik bertanya. “Justru itu jadi urusan papa, karena sekarang... kalau kamu nggak menunjukkan dimana mama kamu, papa nggak akan segan-segan membuatnya terluka” ancam papa Gray. “Coba saja. Sebelum anda lakukan itu, aku yang akan melakukannya padamu terlebih dulu!” ancam Gray balik. Usai berkata demikian, Gray melangkah pergi meninggalkan tempat tinggal papanya. Seorang bodyguard hendak menyeret Gray kembali, namun papa Gray melarangnya.
Gray berpikir keras dalam ruang kerjanya. Dia sampai tidak sadar kalau sekertaris Walter telah memperhatikannya lekat-lekat selama dua jam. “Anda baik-baik saja?” tanya sekertaris Walter. Jika tidak begitu, mungkin Gray akan terus melamun hingga jam kerja habis. “Oh, aku baik. Apa yang harus kulakukan lagi? Ada pertemuan lain mungkin?” jawab Gray. “Besok jam sepuluh, Direktur Gray” ujar sekertaris Walter. “Oh, besok ya?” tanggap Gray dan kembali melamun. “Sepertinya, anda harus beristi...” “Walt, kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan? Mempertahankan dia dan tetap melindungi dia dari papamu atau putus dengannya agar menjauhkan dia dari papamu?” sela Gray. “Ada masalah dengan nona Rachelle, tuan?” tanya sekertaris Walter. “Kau tuh! Suka nggak nyambung nih. Orang ditanya pilih yang mana kok malah jawabnya kemana?” dengus Gray. “Mempertahankan dan tetap melindungi dia” kata sekertaris Walter pada akhirnya. “Jadi kau akan tetap mempertahankan dia?” tanya Gray. “Boleh aku menjadi teman anda sekarang? Agar aku bisa memberi sedikit nasehat” izin sekertaris Walter. “Nasehat yang benar tapi ya?” jawab Gray.
Sekertaris Walter kini berubah menjadi teman curhat Gray. Seperti yang sudah dilakukan sebelum-sebelumnya. “Kau mencintai Rachelle, Gray?” tanya sekertaris Walter mulai non formal, karena berubah menjadi teman Gray. “Sangat. Bahkan melebihi diriku sendiri” jawab Gray tulus. “Kalau begitu, kau harus pertahankan dia. Lindungi dia, karena dia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatmu berubah ke arah yang lebih baik belakangan ini” kata sekertaris Walter.
“Aku? Berubah apanya?”
“Kamu jadi bisa mengendalikan diri saat papamu marah. Kamu juga lebih sabar, nggak suka ngomel dan nggak terlalu marah-marah lagi”
“Begitu ya?”
“Hm! Terutama denganku! Kamu saat kenal Rachelle jadi sering mengerti bagaimana susahnya berada di posisiku! Kau harus...” “Heh! Aku serius! Mau kupecat nih?!” ancam Gray. “Baik, bos. Sekarang aku serius. Lebih baik, pertahankan dia. Dia baik untukmu. Katamu, nyonya Moran sangat senang saat bersama Rachelle? Ya kan? Bukankah dulu, kamu sendiri yang memohon pada Rachelle agar dia mau menemanimu? Menjadi apa itu... aduh... itu lho apa sih namanya?” kata sekertaris Walter mencoba mengingat. “Soulmates! Soulmates!” jawab Gray agak meninggi. “Naah! Itu dia! Soulmates!” seru sekertaris Walter. “Gitu aja susah ngomongnya!” dengus Gray. “Kan lidahnya bukan inggris? So, ingat saja waktu itu. Disaat-saat kamu sulit untuk mendapatkannya. Perjuanganmu untuk mendapatkannya. Dan hal-hal baik saat kamu bersama dengan dia” lanjut sekertaris Walter. Malam itu, Gray telah menetapkan sebuah pilihannya untuk menghadapi sang papa. Dia ingin, dia bisa melindungi kedua wanita yang paling berharga dihidupnya. Mama maupun Rachelle.
Ternyata papa Gray memang benar-benar ingin menyakiti Rachelle. Di pagi hari, ketika Rachelle hendak pergi ke tempat pemberhentian bus, Rachelle dihadang oleh dua orang pria. Kedua orang tersebut hendak menyakiti Rachelle. Namun, belum sempat kedua orang tersebut melukainya, Rachelle telah memukul mundur keduanya terlebih dahulu. Sampai akhirnya, kedua orang tersebut berlari pergi. Gray yang memang akan menjemput Rachelle, tak sengaja melihat Rachelle dijalan usai hampir terluka oleh kedua orang suruhan papanya. Gray segera turun dari mobil dan berlari ke arah Rachelle dengan panik. Dia langsung memeluk Rachelle dengan erat dan berulang kali menanyakan keadaaan Rachelle.
“Aku baik-baik saja, Gray. Mereka tidak sempat melukaiku. Kamu kan tahu, kalau pacarmu ini punya jurus ampuh untuk menghadapi mereka” kata Rachelle santai. “Tetap saja!” seru Gray yang masih khawatir sambil tetap memeluk Rachelle. “Kamu tahu, ada hal yang paling kutakutkan di dunia ini. Hal ini tentangmu” ujar Rachelle. Gray melepas pelukannya dan menatap wajah Rachelle. “Apa?” tanyanya. “Kamu yang tiba-tiba menghilang. Dan kamu yang tiba-tiba meninggalkanku tanpa alasan” jawab Rachelle. Gray yang kali ini tidak bisa berkata-kata lagi. Dia mendadak terdiam dan hanya memeluk erat Rachelle. Tak lama setelah pikirannya kembali, dia mulai membalas Rachelle. “Aku nggak akan melakukan hal bodoh seperti itu” ujarnya.
Gray telah bersiap untuk melamar Rachelle. Gray tidak ingin menunda lagi untuk melamar Rachelle. Dia telah berulang kali gagal melamar Rachelle setelah papanya selalu menganggu. Tapi tepat malam ini, dia akan kembali mencoba melamar Rachelle. “Elle...” panggil Gray pelan sembari mengumpulkan keberanian. “Hm?” jawab Rachelle yang kemudian menatap ke arah Gray. “Kita nikah yuk” pinta Gray serampangan dan tak romantis sama sekali. Rachelle tercengang mendengar ajakan Gray barusan. “Barusan kamu bilang apa? Maksudnya, itu... purpose?” tanya Rachelle meyakinkan. Gray tampak kebingungan menjawab. “Hei? Gray?” panggil Rachelle. “Yeah! Purpose! Itu... jadi... aku...” “Oke, aku mau” potong Rachelle. “Hah? Sungguh?” tanya Gray tak percaya. Namun Rachelle telah mengangguk yakin.
Gray menghela nafas lega hingga harus meneguk seluruh minumannya. “Wait a moment! Aku sedang mengontrol jantungku. Gila! Jadi, kamu mau menikah denganku?” ujarnya kembali meyakinkan. “Kamu mau tanya berapa kalipun, aku pasti jawab sama. Ya. Aku mau” kata Rachelle. “Do you mind, if you wear this ring?” tanya Gray sembari memberikan sebuah cincin yang telah ia pesan dari jauh-jauh hari pada Rachelle. Rachelle tampak tertegun. Dia terkejut, karena Gray telah mempersiapkan segalanya. Rachelle menatap ke arah Gray dengan wajah akan menangis. Rachelle terharu, karena dia tidak percaya Gray benar-benar melamarnya. “Kamu kok nangis sih? Aih...” keluh Gray sambil memeluk Rachelle. Gray mencium kening Rachelle saat wanita itu masih berada di pelukannya. Gray mengenakan cincin tersebut ke jari manis Rachelle. “Mission complete!” sorak Gray. Rachelle akhirnya bisa tersenyum saat Gray terlihat senang. Gray tertawa pelan sambil menatap ke arah Rachelle yang masih berada di pelukannya. Gray mengusap air mata Rachelle yang sudah terlajur jatuh. Malam itu, Rachelle seperti sedang bermimpi indah. Dia merasa sedang melayang ke dunia lain.
Seperti terkena sambaran petir, pagi itu tepatnya setelah selesai sarapan, tiba-tiba Gray memutuskan sesuatu yang membuat Rachelle terkejut setengah mati. “Kurasa, kita harus membatalkan pernikahan” ucap Gray. “Maksudmu?” tanya Rachelle. “Aku ingin kita cukup sampai disini saja” jawab Gray. “Kamu ada masalah?” tanya Rachelle mulai khawatir. “Mengajakmu menikah kemarin adalah sebuah kesalahan” balas Gray. “Aku nggak ngerti maksudmu. Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?!” seru Rachelle agak kecewa. Gray mengambil kembali cincin yang semalam ia berikan pada Rachelle. Gray membuang cincin tersebut lewat jendela. “Maaf. Aku sudah tidak bisa lagi melanjutkannya denganmu” ungkap Gray. “Apa aku sudah buat kesalahan? Baik, anggap saja begitu. Lalu, aku akan memperbaikinya lagi dan...” “Bukan kamu yang salah, tapi aku. Dari awal, aku sudah menempatkanmu ke arah yang salah” sela Gray dengan ekspresi datar.
Gray tampak mengemasi berkas kerjanya yang tadinya masih berada di meja Rachelle. “Please Gray... kamu jangan seperti ini. Apa yang terjadi? Katakan padaku, apa salahku. Aku pasti akan memperbaikinya. Please...” pinta Rachelle memohon. Gray tetap tak memperdulikannya dan terus melangkah keluar dari rumah. Namun, Rachelle pun juga tak menyerah begitu saja. Rachelle berlari mengikuti Gray yang berusaha berlari menuju mobil. Gray segera menutup pintu mobil dengan cepat saat Rachelle mencoba menghentikannya. Rachelle kembali memohon pada Gray. Dia tampak mengetuk jendela mobil Gray berulang kali. “Please Gray... please...” pinta Rachelle. Gray tetap melajukan mobilnya dan tak berkata apapun. Sementara Rachelle hanya bisa bersimpuh sembari menangisi kepergian Gray.
Dalam perjalanan menuju kantor, Gray tak berhenti menangis. Dia juga berulang kali menghentikan mobilnya ke sisi jalan. Untuk yang terakhir kali, Gray benar-benar tak kuat lagi. Dia menangis tersedu-sedu usai mengingat kembali saat dirinya mengambil cincin dari jari Rachelle dengan kasar. Gray menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Maafkan aku Elle. Maaf...” sesal Gray sesenggukan. “Kalau kau tidak menjauh dariku, papa akan mengambil kamu dariku...” ujar Gray. “Sial! Aku tidak tahu lagi harus bagaimana! Dan sekarang... aku malah kehilangan dia. Kau memang brengsek, Gray! Kau pria brengsek!” umpat Gray sambil memukul-mukul bahunya.
Tanpa Gray, Rachelle mencoba untuk bangkit. Tapi setiap kali dia melewati tempat yang pernah disinggahinya dengan Gray, tangis Rachelle kembali pecah. Saat pergi dengan Ray pun, Rachelle tak bisa menahannya. Ray segera memeluk Rachelle dengan erat ketika hal itu terjadi. Ibu mereka meminta pada Ray agar membawa adiknya pulang ke Leicester. Berada di kota itu, membuat Rachelle harus kembali berhadapan dengan kesedihan. Seperti perintah ibunya, Ray mengajak Rachelle pulang. Saat di bandara pun, Rachelle kembali diingatkan akan Gray. Kali ini tentang pertemuan pertama mereka. Sejenak, Rachelle merasa menyesal, karena waktu itu dia dengan bodohnya menerima bantuan Gray untuk menghindari Ken.
Rachelle berjalan tanpa arah setelah dua hari tiba di Leicester. Dia hanya terus berjalan untuk menghibur dirinya. Putus cinta dan mendapat penolakan punya level rasa sakit yang berbeda. Penolakan mungkin bisa sembuh saat itu juga. Tapi putus cinta... kadang memerlukan banyak waktu. Apalagi putus yang tidak didasari alaasan apapun. Makan malam bersama keluarga pun, rasanya seperti hambar. Padahal ibunya sudah berulang kali memberi nesehat. Ayahnya pun tak kalah gila kalau sedang menghibur Rachelle. Tetap saja, tidak ada yang berubah. Kekosongan itu. Seperti melayang di tempat lain.
“Dasar Gray Alexander brengsek!!!” teriak ibu Rachelle. Wanita itu dari tadi mengikuti puterinya dari belakang. Ibu Rachelle juga terlihat khawatir dengan kesedihan Rachelle yang sampai menghilangkan senyum puterinya. “Ibu? Kenapa bisa ada disini sih? Cuacanya sedang dingin. Nanti ibu sakit lagi. Ibu pulang saja ya?” pinta Rachelle. “Lha kamu? Mau tetap disini?” balas ibu Rachelle. “Aku ingin sendiri dulu bu...” kata Rachelle pelan. “Kalau gitu, ibu juga mau sendiri. Nih, ayo! Kita jalan berjauhan ya?” ujar ibunya. “Ibuuu” rengek Rachelle. Ibunya tampak tertawa sembari memeluk puterinya. “Ibu yakin, dia menyesal meninggalkanmu. Ibu yakin, dia pasti ada di suatu tempat. Laut pastinya. Terus dia minum-minum sampai mau pingsan sambil manggil-manggil namamu. Bikin repot pokoknya deh!” ucap ibu Rachelle. “Ibu! Nggak seperti itu dong. Dia nggak bisa minum terlalu banyak” kata Rachelle. “Ooh gitu. Yaudah kalau gitu dia... apa yaa? Makan burger 200 potong deh!” cetus ibu Rachelle. “Ibu! Nanti kalau dia pingsan kan kasian? Udah udah deh, nggak usah berharap yang buruk” tanggap Rachelle. Keduanya tampak melangkah menyusuri jalan dengan suasana hati yang cukup baik.
Sudah beberapa hari ini Gray tak makan apapun selain minum air. Entah kenapa dia hanya tak selera makan. Karena hal demikian, dia jadi sering disalahkan oleh Evan. Tak terkecuali, hari ini juga. “Makanya! Kalau kau nggak mau putus, lebih baik bicarakan baik-baik. Biar nggak tersiksa sendiri. Kayak gini nih contohnya! Nggak makan dan cuman minum air putih. Lama-lama gila tuh” omel Evan. “Berisik deh. Kalau nggak niat menghibur, pulang saja sana!” dengus Gray. “Lagian, siapa suruh putus sama dia? Rachelle itu kan baik. Dia juga nggak mungkin macam-macam. Palingan kamu tuh!” seru Evan. “Ya memang! Dia memang nggak salah. Aku sudah tegaskan padanya. Dia nggak salah, tapi aku yang salah” balas Gray dengan nada tinggi. “Tahu gitu, ngapain dulu kau bersusah payah mendapatkannya?” tanya Evan. “Aku menyukainya. Aku sangat mencintainya” ungkap Gray. “Sekarang? Kau itu sebenarnya masih cinta kan sama dia?” tanya Evan lagi. “Kalau sudah nggak, ngapain juga aku harus merelakan dia?” jawab Gray. Evan menghela nafas sejenak. “Tapi nggak begitu caranya...” ucapnya kemudian.
“Rachelle?” panggil seorang pria ketika Rachelle keluar dari kantor aslinya. Rachelle sebenarnya seorang desainer yang sudah punya toko sukses di Leicester. Hanya saja, karena ayahnya butuh bantuan darinya untuk bekerja sama dengan perusahaan milik Gray, ayahnya mengirim Rachelle ke sana dan untuk sementara waktu bekerja di kantor milik ayahnya di tempat yang sama. Kini, Rachelle akhirnya kembali lagi ke tempat asal dia seharusnya bekerja. “Ken?!” seru Rachelle saat melihat pria yang tak lain adalah Ken itu sedang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Rachelle melangkah menghampiri Ken yang telah siap memeluknya. Rachelle memeluk Ken hangat. “Apa kabar?” tanyanya. “Baik. Kamu? Ah, iya.. Maaf...” jawab Ken mencoba menebak. Rachelle kembali menangis, kali ini dipelukan Ken. Ken mencoba untuk menenangkan Rachelle.
“Aku cuman dua hari disini. Waktu papa bilang, aku diberi liburan sejenak, langsung terpikir aku mau ke Leicester. Teman-teman bilang, kamu sudah kembali kesini, jadi aku beli tiket kemari. Ditambah lagi, teman-teman bilang kalau kamu... yah aku tidak akan sebutkan lagi” jelas Ken. “Makasih, kamu sudah mau melihatku” ucap Rachelle. “Harus. Kamu lupa ya aku siapa? Setelah kupikir-pikir, mungkin apa yang dilakukan pria itu ada alasannya” kata Ken. “Aku juga berpikir gitu. Tapi aku nggak tahu apa yang ingin dia jauhkan dari aku. Apa papanya atau yang lainnya. Aku masih tidak bisa berpikir sama sekali” keluh Rachelle. “Kamu nggak perlu berpikir terlalu keras. Kalau dia benar ingin melindungimu dari bahaya yang lebih besar, setelah itu mungkin dia akan kembali padamu lagi. Percayalah” tanggap Ken. Rachelle tampak mengangguk, meski berat rasanya untuk setuju dengan perkataan Ken.
Setelah mengantar Ken, Rachelle kembali mendapat kejutan. Tiba-tiba rumahnya kedatangan seorang tamu. Saat Rachelle melihat orang yang dipeluk erat ibunya itu, kedua matanya seketika melebar. Dia segera turun dan menemui orang tersebut. “Sayang...” panggil wanita paruh baya tersebut dari kursi roda. Rachelle langsung memeluknya dengan erat. “Maafkan aku...” sesal Rachelle pada mama Gray. Wanita yang datang bersama dengan Evan dan juga Luke tersebut adalah mama Gray. “Bukan kamu yang salah. Mama sudah dengar semuanya. Kamu ingat, mama pernah bilang apa padamu sebelum kamu pulang saat menjenguk di rumah sakit?” bisik mama Gray. Rachelle mengangguk pelan. “Sekarang, hal itu terjadi? Kamu tahu kan kenapa alasannya?” tanya mama Gray. “Menjauhkanku dari bahaya yang lebih besar?” jawab Rachelle. “Kamu tahu, kenapa ragu? Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Gray, pasti akan kembali padamu” kata mama Gray sembari mengelus rambut Rachelle dengan lembut.
Mama Gray memilih rumah Rachelle saat Gray menanyakan tempat yang aman bagi dirinya. Awalnya, Gray tidak ingin mamanya memilih Rachelle. Gray marah dan sempat beradu argumen dengan mamanya. Namun, jalan keluarnya tetap sama. Mamanya ingin bersembunyi di rumah Rachelle. Pertama, karena paman Rachelle adalah agent hebat disana. Dan kedua, karena hanya Rachelle yang bisa mamanya percaya. Tanpa adanya Gray, Evan beserta mama dan Luke pergi ke rumah Rachelle. “Dia mabuk setiap malam. Awal setelah meninggalkanmu begitu saja waktu itu, dia cuman minum air putih. Kubilang, dia bisa mati dan nggak akan ketemu kamu lagi. Dia cuman mengangguk saja. Kubilang, dia akan gila. Dia malah menangis lagi. Akhirnya, aku hanya bisa mengatainya” terang Evan yang sukses membuat Rachelle sedikit tersenyum. “Naah! Itu bisa senyum kan?! Kak Evan nih nggak suka kalau sampai Rachelle kehilangan senyum cuman gara-gara bocah tengik itu!” lanjut Evan. “Makanya, kakak tengik, urusin tuh adikmu!” celetuk Ray yang tak sengaja dengar. “Capek ngurusin dia terus. Tadinya dia ikut, tapi nggak tahulah” kata Evan.
Rachelle tampak terkejut saat mendengar perkataan Evan barusan. Dia mendadak kembali terdiam dan kehilangan senyum. “Kau tuh lihat-lihat dong kalau ngomong! Tadi sudah bagus dia senyum! Malah sekarang cemberut lagi! Dasar! Tengik!” amuk Ray pelan. “Eh, Rachelle... tadi kayaknya kak Evan dengar kamu dipanggil mama deh. Sana dulu deh, ketemu mama. Kayaknya mau bilang sesuatu sama kamu” kata Evan mengalihkan. Rachelle mengangguk dan melangkah pergi.
Seperti yang mama Gray harapkan, Rachelle masih menyimpan map berisi dokumen penting tersebut dengan baik. “Sekarang, mama akan buktikan kalau ini bisa membawa Gray kembali padamu” ucap mama Gray. Rachelle awalnya tidak mengerti maksud mama Gray, tapi setelah Gray mendadak tiba di depan pintu rumah Rachelle, dia baru mengerti maksud mama Gray. Map itu berisi sertifikat gedung yang mama Gray miliki. Dengan map itu, Gray bisa menjebak papanya agar jera. Map itu akan digunakan Gray pada waktu yang tepat. Dan sebaliknya, map itu digunakan mama Gray untuk menjebak Gray juga. Agar dia bisa bertemu dengan Rachelle kembali.
“Makasih. Maaf, marepotkanmu” ucap Gray saat dirinya nggak sengaja berpapasan dengan Rachelle di halaman belakang rumah Rachelle. “Oh... iya” balas Rachelle singkat. Dia tidak tahu harus berkata apa. Jadi, Rachelle meninggalkan Gray begitu saja. Melihat Rachelle pergi, Gray kembali mengumpat dirinya sendiri karena masih tidak bisa jujur pada Rachelle tentang perasaannya. Sementara Rachelle, memutuskan untuk menunggu saat Gray kembali padanya lagi.
Secepat Gray datang, secepat juga Gray pergi. Gray memang memberikan dokumen penting tersebut pada papanya. Dan benar, papanya menggunakan dokumen itu untuk digunakan sebagai jaminan utang yang sudah tidak dibayar papanya. Utang-urang itu berasal dari perjudian papa Gray yang selalu kalah karena ditipu. Setelah menutup utangnya dengan gedung milik mama Gray, papanya ditangkap polisi. Hal tersebut dikarenakan, polisi mulai mencium adanya perjudian ilegal yang kebetulan juga diikuti oleh papa Gray. Papa Gray beserta teman-temannya dihukum dalam sel. Akan tetapi, sebelum dikurung, papa Gray membayar beberapa orang suruhan untuk membunuh Gray. Dan saat krisis itulah, Gray yang terluka mengingat pesan Rachelle dari Leicester sebelum dia pergi meninggalkan wanita itu.
“Please hubungi aku sekali saja. Itu akan menjadi tanda kalau kamu benar-benar meninggalkanku karena sebuah alasan. Untuk menghindarkanku dari bahaya besar. Untuk memberi tanda kalau kamu, masih membutuhkanku” ucapan Rachelle yang masih terngiang. Sebisa mungkin Gray mengambil ponsel dari dalam sakunya. Darah terus mengucur keluar dari bahunya. Gray mendapat luka tembak yang cukup dalam di bahu kanannya. Dia berusaha menekan sebuah angka yang akan langsung tersambung panggilan dengan Rachelle.
Saat itu Rachelle, sudah menunggu Gray. Rachelle memutuskan untuk mengikuti Gray kembali. Dia tinggal bersama dengan Ray di rumah lamanya. Sementara Luke dan mama Gray masih menetap disana sampai benar-benar aman. Rachelle bergegas melaporkan panggilan dari Gray tersebut pada kakaknya. Ray segera menelpon Evan dan polisi. Ray dan Rachelle menuju tempat dimana Gray berada lewat pelacak GPS. Mereka berpapasan dengan mobil Evan di tengah jalan. Mereka bersama-sama menuju ke tempat Gray sebisa mungkin.
Rachelle melihat Gray dalam posisi terbaring di tanah. Rupanya, anak buah suruhan papanya menggiring Gray ke sebuah gudang terpencil. Untungnya, GPS masih bisa melacaknya. Evan dan Ray mencoba menahlukkan anak buah papa Gray. Sementara Rachelle berlari ke arah Gray yang ternyata masih sadar. “Bertahanlah. Please...” bisik Rachelle pelan. Rachelle barusan sadar kalau pelipis sebelah kiri Gray sobek. Kepala Gray juga terlihat mengucurkan darah. Gray terluka parah. Parah sekali. Rachelle tampak menggenggam erat tangan Gray. “Aku... beruntung... karena kamu... berada disini” ucap Gray terbata-bata. Rachelle menggeleng dan berusaha untuk membuat Gray tidak berbicara lagi. Tapi Gray, hendak mengungkapkan sesuatu pada Rachelle. Jadi dia, tidak akan berhenti bicara lagi. “Kamu... masih mau kan... menikah denganku?” ungkapnya meski terbata. Rachelle mengangguk diikuti air matanya yang tak sengaja jatuh. Gray meraba sakunya. Dia memberikan sebuah benda yang selalu ia bawa dan ia jaga kemanapun dirinya berada. Kini, benda itu sudah ada di tangan pemilik aslinya.
Gray mengenakan cincin itu kembali ke jari manis Rachelle. Sambil tersenyum ke arah Rachelle, Gray berharap serta berdoa dalam hatinya agar dia bisa hidup bersama Rachelle lebih lama lagi. Di saat bersamaan, ambulans beserta polisi akhirnya datang. Para medis memindahkan Gray dengan sangat hati-hati dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Setelah mendapat perawatan yang cukup intensif, dokter menyatakan kalau luka Gray bisa disembuhkan. Akan tetapi, Gray tak kunjung sadar dan terjebak dalam koma yang panjang.
~~ ~~
Sudah dua tahun ini, Gray masih terbaring lemah di atas ranjang tersebut. Satu persatu orang yang Gray sayang, selalu menjaganya. Tak terkecuali, Rachelle. Dia orang yang paling bersemangat saat menunggu Gray bangun. Tapi saat menjaganya, Rachelle memilih untuk tidak mengatakan apapun pada Gray. Rachelle hanya memegang erat tangan Gray dan membawakan Gray sebuah bunga. Setiap harinya, Rachelle akan menemani Gray sambil membaca buku dan merawat bunga tersebut. Hingga bunga itu tumbuh dengan indah, Gray tak kunjung membuka matanya. Dan sampai pada akhirnya, tim dokter telah menyerah. Gray secara signifikan tidak menunjukkan adanya peningkatan. Gray makin hari malah semakin melemah. Terkadang denyutnya ada, terkadang menghilang. Dokter memutuskan untuk melepas alat bantu Gray, karena dokter merasa Gray tidak bisa lagi bertahan dan malah makin tersiksa.
Di saat keluarga Gray melepaskannya, Rachelle menghilang. Dia pergi ke tempat yang tidak ada satupun orang tahu. Rachelle memutus komunikasi dan benar-benar hidup sendirian di tempat itu. Sebelum dia pergi, dia sempat menemui Gray. Saat itu, meski berat, dia akhirnya mengatakan sesuatu. “Gray... sudah dua tahun. Cincin ini masih tetap ada di jariku. Semua orang jahat, menyuruhku untuk melepaskannya. Termasuk, melepaskan kamu juga. Aku memang tidak sekuat itu, tapi hati kecilku punya keyakinan kalau kamu... bisa kembali sembuh. Kamu pernah bilang, saat semua orang tidak percaya padamu, kamu harus mencari tempat dimana masih ada orang lain yang bisa mempercayaimu. Jadi...” ujar Rachelle terbata. Dia harus menahan air matanya. “Aku... akan pergi ke suatu tempat dimana orang-orang di tempat itu percaya padaku. Percaya kalau kamu... pasti akan sembuh. Sampai ketemu di lain waktu. Aku... pasti akan merindukanmu” lanjutnya. Rachelle mencium kening Gray dengan lembut.
Kurang lebih, satu tahun Rachelle berada ditempat misterius itu. Di sisi lain dia bahagia, di sisi lain dia menyesal. Dia pengecut yang sedang lari dari masalah. Harusnya, dia mengantar Gray hingga ke peristirahatan terakhir. Namun dalam hati kecilnya, dia yakin bahwa Gray akan sembuh. Malam itu, Rachelle kembali mengingat di saat-saat Gray mencoba untuk melawan rasa takut dan melamarnya. Dia tak pernah lupa, bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari sebuah kisah yang membuatnya menjadi satu-satunya wanita yang paling beruntung di dunia ini. Ketika melangkah sambil melamun, Rachelle malah tak sengaja menabrak seseorang. Akan tetapi, ia mengabaikannya.
Rachelle kembali melanjutkan perjalanan, tapi sebuah tangan seseorang membuat Rachelle harus berhenti berjalan. “Excusme. You have to apologize!” dengus pria yang membuat Rachelle mau tak mau harus berbalik kembali. “Why should i?” tanya Rachelle sedikit kesal pada pria dengan kacamata hitam serta berambut sedikit gondrong tersebut. “Cause you have crashed me. In two time!” jawab pria itu dengan tegas. “Sorry then...” ucap Rachelle. “But, its okay” kata pria itu lagi. “Why? You told me to apologize, now what?” tanya Rachelle agak kesal. “Aku tidak pernah menyesal, meski harus mengejarmu hingga sampai disini. Wah... New Zeland benar-benar...” balas pria tersebut sembari membuka kacamata hitamnya dan menatap ke arah langit yang cukup cerah.
Rachelle kembali kehabisan kata-katanya. Lidahnya terasa kelu usai melihat pria yang telah berdiri di hadapannya itu. “Kenapa menatapku begitu? Jangan menggodaku! Aku sudah memiliki dua orang wanita berharga di dunia ini. Jadi, kamu tidak ada tempat” ucap pria itu. Rachelle tampak bingung menatap pria itu. “Kecuali... kalau kamu bernama Rachelle Lyons. Karena dia adalah... salah satu dari dua wanita yang berharga di dunia ini” lanjut pria tersebut diikuti dengan senyumnya yang khas. “Rachelle Lyons. Kamu...?” tanya Rachelle pada pria itu. “Gr...” “Gray, kan?” tebak Rachelle tepat. Pria tersebut tampak tersenyum kembali. “Eh, darimana kamu tahu kalau namaku Gray?” candanya. “Aku sempat nguping tadi...” balas Rachelle yang kemudian memeluk pria itu dengan erat hingga air mata kebahagiaannya turun dengan deras.
Yep, nyatanya hati kecil Rachelle memang benar. Saat tim dokter dan keluarga Gray mencoba untuk merelakan dirinya, Rachelle malah berdoa yang sebaliknya. Dia pergi ke suatu tempat dan mengenal beberapa orang. Di tempat barunya, Rachelle bertemu dengan orang-orang yang baik dengannya. Saat itulah, dia menceritakan kisah Gray. Dan teman-teman baru Rachelle percaya bahwa Gray pasti bisa pulih kembali. Mereka juga mengirim doa untuk Gray supaya Gray bisa sehat kembali. Ternyata, tuhan memberi harapan pada Rachelle kembali. Sebelum dokter melepas alat bantu dari tubuh Gray, jari Gray mulai bergerak. Tak lama setelah itu, Gray benar-benar sadar dari komanya.
Setelah benar-benar sehat, Gray mencari keberadaan Rachelle. Sedikit demi sedikit pada akhirnya, Gray dapat menemukan keberadaan Rachelle. Dan akhirnya, dia bisa bertemu dengan wanita itu di sini sekarang. Dan kalian pasti tahu, bagaimana kisah itu akan berlanjut.