Dimana ada hal atau keinginan positif yang ingin dicapai, di situ pula jalan terbuka untuk setiap manusia.
Ryuu adalah seorang pemuda yang bertubuh lemah, semenjak divonis menderita leukimia akut.
Sedangkan, Kaori adalah satu-satunya sahabat yang selalu setia menemani dan menyemangati Ryuu. Tidak peduli hari itu hujan deras, hujan salju lebat, atau musim panas yang menyengat, Kaori akan menyempatkan diri untuk menjenguk Ryuu di rumah sakit.
"Kaori-chan. Mengapa kamu begitu peduli padaku?" tanya Ryuu pada suatu akhir pekan, di hari Sabtu.
Tak jarang dan sudah lumrah bagi Ryuu untuk mempertanyakan hal semacam itu kepada siapapun yang sangat mempedulikannya.
"Kenapa apanya? Bukankah kita bersahabat, Ryuu-kun?" balas Kaori tanpa menunda sedetik pun.
"Iya.. Tapi, tetap saja. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menemuiku di rumah sakit secara rutin." kata Ryuu, dengan ekspresi khasnya yang agak sayu.
PLAKK
"A-ah.. Kau kenapa, Kaori-chan?" ucap Ryuu terkejut.
Tiba-tiba, Kaori menepuk pipi Ryuu dengan kedua tangannya hingga menghasilkan bunyi yang sedikit keras.
"Ryuu-kun. Aku melarangmu berbicara seperti itu. Kamu tidak pernah membebaniku, apalagi membuatku lelah." ujar Kaori, seraya menatap wajah Ryuu lekat-lekat.
DEG
Mendadak, wajah Ryuu sedikit tersipu. Lalu, ia melepaskan wajahnya dari kedua tangan Kaori dan balas menatap gadis itu lebih dekat.
DEG
Kini, jantung Kaori malah berdebar.
Benar juga. Sebelum Ryuu yang malang divonis mengidap kanker darah, dulunya mereka sangat dekat. Bahkan, mereka sempat bersekolah di luar negeri, kemudian berakhir di kampus dengan jurusan yang sama. Hanya saja, secara tak terduga setelah lulus kuliah, Ryuu jatuh sakit dan langsung kembali ke Jepang. Kaori pun mengikutinya.
Ryuu dan Kaori telah cukup lama saling tertarik pada satu sama lain. Mungkin saja, mereka saling mencintai.
Di usia yang terus bertambah dan kondisi fisik yang menurun dengan cukup cepat, Ryuu hampir kehilangan semangat hidupnya secara total.
Ryuu rajin berdoa, bahkan mengikuti ibadah secara online. Walaupun begitu, kepercayaannya terhadap agama belum pernah benar-benar menguatkan, ataupun mengubahkan keadaan dan fakta.
Jika kedua orang tua Ryuu saja sudah putus asa pada kondisi putra mereka yang tidak bisa diharapkan ini, lalu bagaimana dengan orang lain?
Bagaimana perasaan Ryuu?
Hanya Kaori yang bersungguh-sungguh menerima dan menyayangi Ryuu.
Kaori bukan orang yang sangat baik seperti malaikat atau apapun julukannya. Namun, dia memahami arti kasih, kesetiaan, dan ketulusan.
Kaori takkan pernah mengkhianati Ryuu yang terlalu berharga baginya.
"Kaori-chan. Apakah aku boleh berbuat sedikit lancang kepadamu?" tanya Ryuu lembut dan cukup berani.
DEG DEG DEG
"Ryuu-kun.. B-boleh." jawab Kaori dengan wajah memerah dan jantung yang berdegup kencang.
CUUUUP
Ryuu mengecup bibir Kaori, sementara gadis itu menutup matanya dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Sudah jelas bahwa ini merupakan ciuman pertama mereka. Kaori menumpukan kedua tangannya pada bagian dada Ryuu yang bidang. Sementara, Ryuu mengangkat dagu gadis itu dengan tangan kanannya yang cukup besar dan sedikit kasar, hingga bibir mereka saling bersentuhan.
Ciuman pertama itu begitu manis, hingga seolah menyita seluruh waktu dan tempat khusus untuk kedua insan tersebut.
"Oh iya, Ryuu-kun. Aku membawakan buku resep kesukaanmu." kata Kaori dengan cepat, seketika ciuman itu berakhir.
Wajah Kaori masih saja memerah dan sedikit panas akibat sikap romantis Ryuu. Namun, Kaori selalu berusaha untuk mengendalikan suasana setiap kali bersama dengan pemuda itu.
Yang penting bukan hanya perkembangan dalam hubungan mereka, melainkan juga perasaan Ryuu saat ini. Kaori cukup lega dan yakin bahwa Ryuu juga merasa senang.
Gadis itu akan selalu memastikan kondisi Ryuu agar tetap terjaga dengan sebaik mungkin.
"Terima kasih, Kaori-chan. Jika aku tidak sakit seperti ini, mungkin saat ini aku dapat bekerja di dapur yang sama denganmu sebagai seorang chef. Tapi, aku sudah sangat senang melihatmu terus bertambah maju." kata Ryuu dengan senyuman tulus.
"Ryuu-kun.." Kaori tiba-tiba meneteskan air mata.
"Kaori-chan..?"
"Maaf. Aku juga sangat senang mengenal Ryuu-kun. Aku sangat ingin dapat terus bersama denganmu. Aku mencintaimu, Ryuu-kun."
Dalam seketika, Ryuu pun terharu mendengar pernyataan cinta dari Kaori.
"Aku sangat ingin--"
Tanpa berbicara apapun, Ryuu mencium gadis itu lagi.
Tak terasa, ciuman manis itu telah berlalu selama dua minggu dan mereka akan segera mengikat janji pernikahan.
Ryuu telah memberanikan diri untuk melamar Kaori. Tentunya, kedua orang tua Ryuu masih dapat menyetujuinya atau bahkan tidak peduli. Namun, bagaimana dengan kedua orang tua Kaori?
"Tidak! Pokoknya, jika kamu memaksa untuk menikah dengan lelaki itu, maka kita harus putus hubungan orang tua dan anak!"
Itulah peringatan keras dari Hibiki, ayah Kaori.
Lalu, apakah hubungan mereka otomatis gagal karena tidak mendapatkan restu kedua pihak orang tua dengan baik?
Walau pedih, Kaori memutuskan untuk melawan kehendak Hibiki, ayah yang selama ini selalu dihormati dan dipatuhinya.
Akhirnya, timbulah sebuah ide dalam benak Kaori.
Ia berencana untuk kawin lari dan tinggal bersama dengan Ryuu di kota impian mereka selama ini, yakni Paris.
Semenjak mengejar impian sebagai chef, keduanya tidak berhenti mengagumi berbagai jenis hidangan Perancis yang umum seperti; bouillabaisse, cassoulet, quiche lorraine, creme brulee, macaron, croissant, dan lain sebagainya.
Akhirnya, pada tanggal 30 Mei tahun itu juga, rencana mereka berhasil. Mereka pun menjadi sepasang suami istri.
Walau sebenarnya Ryuu dan Kaori telah mengetahui risiko dan segala kemungkinan buruk yang kelak dapat terjadi, keduanya sepakat untuk tidak menyesali keputusan mereka.
Hidup di dunia ini hanya sekali. Sangat singkat dan sementara. Oleh karena itu, mengapa kedua insan tersebut tidak diperbolehkan menjalaninya dengan penuh kebahagiaan hingga hanya maut yang memisahkan mereka?
"Jangan lari lagi dariku, Ryuu-kun." ucap Kaori berulang kali kepada Ryuu.
"Aku takkan pergi kemanapun. Aku akan selalu mencintaimu, Kaori sayang."
Begitulah balasan Ryuu dengan penuh cinta.
Keduanya adalah pasangan sempurna. Namun, kematian manusia memang tidak bisa dielakkan.
Ryuu telah dipanggil Tuhan pada usia 30 tahun, setelah Kaori melahirkan seorang putra bagi mereka. Walau terus menangis hingga kurun waktu tertentu, Kaori akan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang dan teladan yang diberikan oleh Ryuu semasa hidupnya.
Dalam sisa waktu hidupnya yang terbatas, Ryuu sempat menjadi seorang chef dan mengikuti kompetisi secara berpasangan dengan Kaori tercintanya. Tentunya, pada masa-masa itu, Ryuu juga mengalami berbagai kendala karena kondisi fisiknya dan beberapa kali diwajibkan untuk menjalani pengobatan secara intensif.
Namun, berkat dukungan dan cinta sang istri, mereka pun meraih juara pertama yang sangat membanggakan.
Melalui kisah Ryuu dan Kaori, seharusnya siapapun dapat belajar untuk memaksimalkan hidup dan potensi secara positif.
- The End (Selesai) -