Namanya Hope. Gadis yang merasa ditinggalkan oleh dunianya. Ia dikelilingi oleh ribuan orang di dunia ini. Akan tetapi, ketika membuka pintu kamarnya, ia akan terdiam di sudut kamarnya. Menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang ia peluk erat-erat.
Hope merasa hidupnya benar-benar kacau, tidak seperti namanya yang memiliki arti-Harapan. Hope pikir ia lebih pantas di beri nama Hopeless, alih-alih hanya Hope.
Tidak ada yang bisa diharapkan dari dirinya. Ia adalah yang terburuk. Setidaknya itulah yang Hope rasakan saat ini.
Di usianya yang beranjak dewasa, bukannya bersikap dewasa seperti kebanyakan orang, ia malah sibuk terpuruk dan meratapi hidupnya yang ia rasa tak sebaik orang lain.
Dulu ia memiliki harapan. Sebelum harapan-harapannya dihempaskan ke titik terendah dan tergelap dalam dunianya. Semua orang bergerak maju. Tapi, dia hanya terdiam di sudut kamarnya yang berbau keputusasaan.
Hope lelah menjadi parasit di dalam kehidupan orang lain. Terutama di kehidupan orang tuanya, dan orang-orang yang menaruh harapan besar padanya.
Malam ini, Hope memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Ia harus meninggalkan kehidupannya, yang ia pikir hanya selalu membagikan rasa kecewa kepada orang-orang di sekitarnya.
Hope berjalan ke arah nakas di samping tempat tidurnya. Dibukanya laci teratas nakas. Ia mengeluarkan sebuah pisau karter. Jarinya menyentuh mata pisau perlahan. Rasa dingin menyentuh kulit di ujung jarinya. Ia mengarahkan mata pisau ke lehernya. Tepat di atas urat nadinya. Kabarnya, hanya delapan detik ia akan merasakan sakit. Setelah itu tubuhnya akan tenang dan tak lagi bergeming.
Drrt ... drrt ... drrt ....
Terdengar getaran ponsel di atas mejanya. Hope menatap layar ponsel miliknya yang sekarang sudah berkedip-kedip. Tertera nama Mia, temannya.
Perlahan Hope menurunkan pisau di tangannya dan mengangkat panggilan telepon dari Mia.
"Halo, Hope?" kata Mia di seberang telepon.
"Ya. Aku disini," sahut Hope pelan.
"Syukurlah. Aku khawatir karena kau pulang begitu saja. Aku tau, berat rasanya ketika kau dipecat dari pekerjaanmu secara tiba-tiba." Mia menghela nafasnya pelan. "Yang lebih membuatku khawatir adalah, kau pulang tanpa meneteskan air mata—"
"Mia," panggilan Hope memutus kalimat panjang Mia.
"Ya, Hope? Aku mendengarkanmu. Apa kau baik-baik saja?"
Tubuh Hope perlahan merosot ke lantai. Kakinya terasa tak mampu lagi menompang tubuhnya. Hope menggelengkan kepalanya kuat, tat kala mendengar pertanyaan Mia. Tangisnya perlahan pecah.
Ia berusaha menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Akan tetapi, usahanya justru semakin memperderas derai air matanya.
"Hope?" panggil Mia cemas, ketika hanya mendengarkan isak tangis dari temannya.
"A-aku tidak baik-baik saja, Mia," katanya di sela-sela tangisnya. Tiba-tiba Hope tertawa getir. "Aku sungguh mendramatisir bukan? Hanya karena dipecat aku sampai seperti ini. Maksudku, di dunia ini ada ribuan orang yang bernasib sama sepertiku. Bahkan ada yang bernasib lebih buruk. Aku sungguh lemah," lirih Hope.
"Tidak, Hope! Kau salah jika kau berpikir seperti itu!" tegas Mia. "Tidak papa jika kau sedang tidak baik-baik saja! Menangislah hari ini. Kau tidak bersalah hanya karena kau tidak baik-baik saja—"
"Mia," potong Hope sekali lagi. "A-aku s-sudah melakukan yang terbaik," katanya dengan bibir yang bergetar. Membuat suara yang keluar dari mulutnya seperti suara kaset rusak. Ia mencengkram ponsel dengan kuat untuk menahan tangannya yang ikut bergetar seiring dengan isak tangis yang memenuhi seluruh penjuru ruangan.
"Iya, Hope. Aku tau .... Aku tau kau sudah berusahan keras. Aku melihat seluruh usaha yang kau lakukan atas pekerjaanmu. Sungguh, kau sudah melakukan yang terbaik—"
"Aku ingin mati saja rasanya," kata Hope pelan.
"Hope! Kumohon, jangan melakukan hal buruk! Aku sedang dalam perjalanan menuju apartemenmu. Sebentar lagi, aku sampai. Jangan matikan sambungan telepon ini!" titah Mia dari ujung telepon.
Tak lama kemudian pintu kamar Hope terbuka lebar. Mia tampak berdiri di ambang pintu. Langkahnya segera berderap maju ke arah Hope. Ia lantas memeluk erat Hope dan membiarkan gadis itu menumpahkan tangisnya.
Setelah air di pelupuk mata Hope perlahan mengering, Mia berkata, "ikutlah denganku. Aku akan menujukkan sesuatu."
Mia membawa Hope ke pinggir jalanan yang selalu dilewati kendaraan-kendaraan bermuatan besar yang selalu bergerak dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Mengapa kau membawaku ke sini?" tanya Hope sambil menatap bingung ke arah Mia. Dahinya sudah menciptakan kerutan-kerutan samar.
"Lihatlah ke depan. Lihat kendaraan-kendaraan itu bergerak. Jika kau ingin mati, bayangkan saja sekarang kau berdiri di tengah jalanan ini."
Hope menatap lurus ke depan. Dilihatnya kendaraan-kendaraan yang lalu lalang dengan kecepatan di atas rata-rata di hadapannya. Ia membayangkan dirinya berdiri di tengah-tengah jalanan di depannya.
Seketika bayangan tentang dirinya yang tertabrak kendaraan-kendaraan mengerikan di hadapannya membuatnya bergidik ngeri. Tubuhnya pasti akan hancur dan tercerai-berai.
"Apa kau takut?" tanya Mia.
Hope menganggukkan kepalanya.
"Jika kau benar-benar berdiri di tengah sana, ketika mobil-mobil itu mendekat ke arahmu, apakah kau akan mencoba melindungi dirimu atau mencoba menghindar?" tanya Mia lagi.
Hope menganggukkan kepalanya.
"Lihat. Kau tidak ingin mati. Kau takut mati.
Kau masih ingin hidup. Tapi, kau tak ingin kehidupan yang kau jalani sekarang," Mia menyimpulkan.
Hope sekali lagi menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Mia benar adanya. Ia hanya ingin meninggalkan kehidupannya.
"Aku akan mengajakmu ke tempat lain," kata Mia sambil menarik tangan Hope.
Mereka tiba di sebuah rumah sakit. Mia mengajak Hope duduk di kursi yang berjajar rapi di depan ruangan persalinan. Ada beberapa orang juga yang sedang duduk di sana.
"Mengapa kau membawaku ke sini?" tanya Hope. Sekali lagi, Mia membuatnya bingung.
"Tunggu dan lihatlah," kata Mia singkat.
Mereka duduk dalam diam. Sebelum akhirnya terdengar suara bayi pecah. Semua orang yang sedang duduk di depan ruang persalinan segera beranjak berdiri. Mereka berjalan menghampiri seorang perawat yang menggendong seorang bayi mungil.
Wajah mereka semua terlihat berbinar. Menyambut hadirnya nyawa baru di dunia. "Kau tau, Hope. Setua apapun kamu nanti, orang tuamu akan tetap menyambutmu layaknya mereka menyambutmu pada saat kau pertama kali hadir ke dunia. Setua apapun kamu, seburuk apapun kehidupan yang kau jalani, jadikan keluargamu sebagai tempatmu pulang. Karena setua apapun kamu, kamu tetaplah anak yang sama dengan anak yang pertama kali digendong oleh kedua orang tuamu saat pertama kali kau hadir di dunia." Mia menghela nafasnya pelan. "Kau pasti bertanya-tanya apa hubungan semua ini padamu."
Mia menolehkan kepalanya ke arah Hope yang pandangannya sedang terfokus pada keributan kecil di depannya. "Aku hanya ingin mengatakan. Jika kau tidak mempercayaiku sebagai tempat untuk bersandar saat kau memiliki sejuta masalah yang terasa mencekikmu. Kau bisa mempercayai kedua orang tuamu, karena mereka adalah orang terakhir di dunia yang akan meninggalkanmu, ketika kau berada di posisi terburuk dalam hidupmu sekali pun."
"Aku hanya mempersulit mereka," kata Hope pelan.
"Jika kau mati, kau akan membuat mereka lebih sulit. Jika kau mati, mereka akan menyalahkan diri mereka karena tidak tau bahwa selama ini kau mengalami kesulitan. Jika kau mati, semua usaha mereka untuk melahirkanmu ke dunia akan sia-sia," terang Mia sambil menatap lekat Hope.
Mia benar.
"Apa yang harus kulakukan? Aku merasa semua orang memiliki kehidupan yang baik kecuali aku," gumam Hope pelan sambil menatap kedua kakinya.
"Jika kau menyetandarkan kebahagiaanmu terhadap kebahagiaan orang lain, maka kau tidak akan pernah bahagia seumur hidupmu," komentar Mia serius.
Hope menatap kedua kakinya lekat. "Kau tau, Mia? Panggilan telepon darimu tadi, menyelamatkan hidupku hari ini." Air mata perlahan menetes dan merembes perlahan di celana Hope. Jika saja ia tadi tidak mengangkat telepon dari Mia atau Mia tidak menghubunginya, ia sekarang pasti sudah mengakhiri hidupnya.
Mia menepuk pelan pundak Hope. Membiarkan gadis tersebut menumpahkan air mata yang merupakan syarat atas rasa frustasinya.
Mulai hari ini, Hope memutuskan untuk bertoleransi terhadap dirinya sendiri. Membiarkan dirinya merasakan rasa sakit, yang selama ini selalu ia abaikan keberadaanya. Hingga akhirnya mereka tumbuh semakin besar, tanpa Hope sadari. Ia akan berusaha mencintai dirinya sendiri, untuk mengobati rasa sakitnya. Hingga rasa sakit yang sudah terlanjur menumpuk ini, bisa hilang perlahan.
-Selesai-