“Sudah tiga hari, kita semua tidak mendapatkan makanan yang cukup,” keluh Darsih--Burung Gagak yang gagah dari 41 gagak lainnya--kepada Jarsan, Sang Pemimpin Gagak.
“Jangan khawatir! Ku dengar sawah di daerah Barat sedang panen padi. Kita semua dapat pergi ke sana, besok,” jawabnya kemudian meninggalkan Darsih dan beranjak menuju sarangnya.
Pagi harinya, ketika Sang Surya telah keluar dari persembunyiannya, semua Burung Gagak termasuk pemimpinnya berangkat menuju arah Barat. Memakan waktu sekitar 10 menit hingga akhirnya mereka tiba di sana.
Mereka takjub melihat keindahan sawah, di mana hasil panen sangat berlimpah. Dengan cepat mereka mendarat dan memakan hasil panen. Begitu nikmat, setelah tiga hari menahan lapar, mengalah demi anak-anak Burung Gagak. Akhirnya mereka kembali menikmati makanan yang berlimpah.
Namun, sayangnya kenikmatan itu hanya sekejap. Beberapa manusia datang memburu mereka untuk pergi, dengan menggunakan tongkat. Para manusia mengusir habis para Burung Gagak. Hingga terjadilah keributan yang memicu dendam, tatkala pemimpin gagak--Jarsan--terkena pukulan yang begitu keras dan membuatnya jatuh terhempas. Saat itu pula, salah satu manusia mengambil Jarsan dan membunuhnya.
Sontak menimbulkan amarah besar bagi para Burung Gagak, termasuk Darsih.
Tanpa aba-aba, serentak semua Burung Gagak menyerang manusia tanpa ampun. Walau terus dihantam tongkat berkali-kali, tidak membuat mereka menyerah. Semua Burung Gagak bersatu menyerang para manusia. Sebagian para manusia kabur, tidak tahan lagi Menghadapi keganasan Burung Gagak. Tersisa sedikit para manusia yang masih bertahan, Burung Gagak bersatu mengeroyok mereka. Mematuknya berkali-kali, menghasilkan cairan merah segar keluar dari mana-mana.
Manusia kalah, Burung Gagak itu menang. Ada pengganti untuk peristiwa yang mereka alami. Santapan mereka sekarang lebih enak dibanding dengan yang tadi. Kini Burung Gagak merayakan pesta bersama-sama sebagai tanda keberhasilan.
—oOo—
Catatan: Cerita hanya imajinasi. Ambil kebaikannya, buang keburukannya.