Rhama pun tak, mau ketinggalan ikut, mengejar Hary sambil berlari-lari, " Hary tunggu, aku ikut, kamu cepat sekali, " ucap Rhama, " kepada Hary, ya habis kamu lama sih, tadi aku ajak ga mau, kenapa tiba-tiba jadi mau, " sahut Hary sambil menggerutu, " rupanya diantara mereka ada perasaingan cinta asmara buta, maklum masih terlalu muda mengenal cinta, cinta anak SMA yang sedang bersemi.
Hai, " Rhama, Hai Rhama, " dari beberapa wanita menyapanya dengan spontan, karena memang Rhama anak yang cukup tampan diantara, Teman-teman lainnya jadi semua wanita, menggandrunginya, kecuali Shinta, diam saja.
Hai, " Shinta, apa khabar kamu, setelah lulus ini mau melanjutkan kemana, " mungkin aku sih ingin melanjutkan sekolah pelaut saja, didaerah Jakarta, sahut Shinta, sambil tersenyum simpul.
Seharian Rhama dan Shinta ngobrol ngalor, ngidul yang tak kunjung habisnya cerita kesana kemari, sambil tertawa gembira ria, maklum mereka habis lulus sekolah entah apa, yang akan mereka lakukan setelah ini, apakah melanjutkan kuliah atau bekerja, tanpa diduga Rhama pun bertanya kepada Shinta, yang sedang melamun, duduk di teras sekolah pikirannya sedang menerawang jauh, " Shin.. shin.. sambil memegang pundak, kamu kenapa Shin dari tadi duduk sendirian saja, ga ngajak-ngajak aku, Shin tanya Rhama, " ya Ma,.. aku juga lagi bingung mau kemana ya, kamu kan tau sendiri, aku keluarga biasa-biasa saja, tidak seperti kamu, keadaannya, " jawab Shinta, " ah.. jangan begitu Shin, kita kan sudah cukup lama mengenal kamu, tentunya kamu tau kan, siapa aku, " sahut Rhama dengan penasaran.
Mereka berdua, memang sudah lama menjalin hubungan semenjak bangku SMA kelas 1, diantara mereka takut terpisahkan, terpisahkan oleh waktu, oleh kerinduan karena sebentar lagi Shinta, akan dibawa keluarga untuk di sekolahkan yang sangat jauh, jauh mata memandang, matanya berkaca-kaca takut kehilangan Rhama seorang.
Tak lama kemudian teman-temannya, mendekati mereka berdua yang sedang bercengkrama diantara, pintu-pintu jendela sekolahan nampaknya Rhama dan Shinta serius, berbicaranya, Tiba-tiba salah satu dari mereka memanggilnya.
" Hai.. Rhama.. Hai.. Shinta, wah kamu asyik ya, sebentar lagi, kamu berdu meninggalkan kita, pergi jauh, tanya salah satu temannya, rupanya temannya tadi penasaran, menanyakan lagi, " Rhama.. Shinta... sebenarnya kamu mau ada rencana kemana, "tanya temannya yang bernama Dewi, " Ah engga aku sih, di Jakarta engga kemana-mama " sahut Rhama, " dan kamu Wi, mau keman, " balik bertanya, aku sih rencananya mau keluar kota kebetulan Ayah dan Ibuku, dipindah tugaskan, ke daerah, "jawab Dewi.
Tak terasa perbincangan mereka sudah cukup lama, hari telah menjelang sore, hari akhirnya Dewi pun meninggalkan mereka, " Rhama, Shinta aku tinggal dulu ya, ' sahut Dewi dengan gembiranya.
Sepeninggalan Dewi, hilang dari pandangannya, namun mata Shinta, yang lentik berkaca-kaca, sedih hatinya menjadi galau, entah apa yang dipikirkannya, sementara Rhama, menenangkan hatinya, agar tetap sabar dan setia, walau nantinya mereka berdua berpisah, tapi hatinya tetap bersatu, secara perlahan Rhama pun diam-diam ingin mengatakannys, namun mulutnya seperti terkunci, ada rasa khawatir, kehilangan, berbaur menjadi satu, tapi walau bagaimana dalam keadaan terpaksa harus diiucapkan, waktu tidak akan mungkin berputar kembali seperti semula, " Shin.. shin.. ucap Rhama terbata-bata, " kamu meraskan apa yang, kurasakan sama, aku pun begitu, aaakkkuuu, juga Shin, " tapi janganlah engkau bersedih terlalu jauh, perjalanan kita masih panjang, suatu saat kita pasti dipertemukan kembali, " ucap Rhama memberi semangat, " bukan begitu Rhama, yang aku takutkan engkau lupa, dan tidak ingat aku lagi, apalagi aku akan pergi jauh, walau berbeda kota, " jawab Shinta dengan melas, " engga mungkinlah Shin, masa aku lupa, aku selalu akan memberi khabar, walau lewat WA maupun telephone, kan sekarang komunikasi mudah, jadi tidah perlu khawatirkan, oke" sahut Rhama, dengan riang gembira, agar Shinta kembali semangat, " ah kamu bisa saja sambil tertawa, ha.. ha.. ha.. tanda bahagia, mereka pun akhirnya berpamitan pulang ke rumah masing-masing.
Hari ini cuaca sangat sejuk, kebetulan semalam habis turun hujan, sepoi-sepoi angin pun menambah suasana sekitarnya, Shinta menjadi senang hatinya berbunga-bunga, ibarat bunga mekar di waktu pagi hari.
Rhama dan Shinta, akhirnya berpisah, di perempatan depan jalan sekolahan, yang penuh kenangan, sejuta impian, semasa indah kisah cinta di sekolah, karena mereka berdua, ingin melanjutkan kuliah di tempatnya masing-masing sesuai bidangnya, Shinta melanjutkan di bilang kelautan yang ada di Jakarta, sementara Rhama melanjutkan di bidang arsitektur, Bandung mengikuti jejak ayahnya, seorang arsitek, di sebuah perusahaan ternama, namun Shinta walaupun seorang perempuan tapi, agak tomboy, sesuai keinginannya sendiri, sejak kecil memang cita-citanya ingin menjadi seorang Nakhoda Kapal Laut, sebenarnya ibunya melarangnya, namun karena kemaun dan tekad yang bulat, akhirnya Shinta tetap melanjutkan apa yang dicita-citakannya, sedangkan Rhama, esok pagi akan segera berangkat ke Bandunh, untuk mendaftarkan sebagai mahasiswa baru, di Universitas yang baru, suasana baru, teman baru, tentu baginya sangat senang dan gembira setelah di terima di Universitas tersebut, Shinta pun demikian setelah di terima di Universitas Kelautan yang ada di Jakarta, sebagai seorang wanita, tentunya bangga dan gembira, sebagai mahasiswa baru, suasana baru, dan teman-teman yang baru.
Bersambung
Episode 3