Menikah dengan seseorang dari masa lalu bukan kah akan membawa bahagia? Maksudku bukan menikah dengan mantan, tapi menikah dengan teman lama, seseorang dari masa kecil.
Rasanya, kebahagiaan memang tidak pernah berpihak kepada ku, tinggal di lingkungan broken home, tidak pernah mendapatkan kasih sayang layaknya anak pada umumnya.
Pernikahan ku menginjak 1 tahun, namun kekerasan dalam rumah tangga selalu ku dapatkan, apakah aku berencana untuk bercerai? Tentu saja, namun suami ku tidak pernah memberi izin atas itu, ntah apa maunya, aku sendiri juga tidak mengerti.
"Hari ini pulang larut lagi?" tanya ku saat mendapati suamiku baru pulang di jam 12 malam. Aku selalu menunggunya jam berapa pun dirinya pulang, aku lebih sering ketiduran di sofa, lalu saat mendengar deru mobilnya aku akan langsung terbangun.
"Bukan urusan mu" ucapnya berlalu begitu saja meninggalkan ku yang masih berdiri berharap mendapat kecupan manis atau bisa menggenggam jemarinya.
Aku sudah terbiasa seperti itu. Di abaikan. Bahkan seperti tidak terlihat di matanya mau pun di hatinya.
Bahkan aku sendiri tidak mengerti, apa tujuan dia menikahi ku, apa alasan dia mau menerima usulan keluarga ku dan keluarganya, bila ujung ujungnya akan menyakiti kedua belah pihak.
Aku memang belum mencintainya, mungkin begitu pula dengannya. Kami sama sama belum mencintai, atau bahkan tidak pernah saling mencintai.
Aku selalu berusaha menjadi istri versi terbaik untuknya, namun usaha ku akan terbayar oleh air mata, tidak ada yang bisa di harapkan dari pernikahan ini, semua kenangan hanya terisi oleh penyiksaan jiwa mau pun raga.
Sudah pagi, seperti biasanya, aku akan merapikan seluruh ruangan, menyiapkan sarapan walaupun tidak pernah di makan. Hingga detik ini, aku masih menyimpan banyak kesabaran, aku masih mampu menerima semua perlakuannya terhadap diri ku.
Dan detik ini juga, aku akan mengabaikannya seperti dia selalu mengabaikan ku dari dulu, aku ingin tau bagaimana reaksinya saat melihat perubahan ku, ya tekad ku sudah bulat.
Aku hanya ingin bermalas malasan, menikmati kedaan yang kacau ini tanpa berpikir keras. Aku akan menjadi orang yang tidak berperasaan untuk beberapa waktu kedepan.
Sepulangnya suamiku dari kantor, aku bahkan tidak menyambutnya, aku masih asik dengan siaran tv yang sedang ku tonton, mata ku berusaha untuk tidak sekedar melirik ke arahnya berjalan.
"Sial, sekarang dia berani mengabaikan ku" gumamnya sambil berjalan melewati ruang tv.
Aku hanya menahan tawa sepanjang makiannya, ternyata dia begitu meyadari perubahan ku. Aku kembali mengabaikannya hingga menjelang makan malam.
"Kalau kau lapar, masak sendiri atau pesan, aku ada acara, beri aku izin keluar" jelasku saat sampai di depan pintu kamarnya, dapat ku lihat suamiku sedang merebahkan dirinya di atas ranjang besarnya.
"Pergi saja, kenapa harus berpamitan" cueknya sambil memunggungi ku. Saat mendapat jawabannya aku bergegas menuju garasi, mobil dari hasil jerih payah ku sudah lama tidak ku kendarai, rasanya aku sangat merindukan sebuah kebebasan.
Sebenarnya aku sama sekali tidak memiliki tujuan, aku hanya memutari kota, mengirup udara sebanyak banyaknya, menikmati kebebasan yang telah lama terbuang begitu lama.
Sekarang aku sedang berada di taman, menikmati langit malam yang di taburi bintang, begitu indahnya ciptaan tuhan, memudahkan setiap orang mencari kebahagiaan, namun tidak dengan diriku.
Setelah merasa puas mengumpulkan oksigen sebanyak banyaknya, aku bergegas menuju mobil dan kembali menusuri jalan pulang.
Setibanya di rumah, aku mendapati suamiku berdiri di depan pintu, satu tangannya berada di dalam saku, satunya lagi di sembunyikan di belakang punggung. Aku merasa bahwa akan terjadi ledakan besar yang keluar dari mulut suamiku.
"Hebat sekali" ucapanya ketika aku tiba di depan pintu, tepat tempat ia berdiri.
"Seorang istri pulang selarut ini, apa kau tidak melihat jam di ponselmu" bentaknya. Aku masih mendiamkan tubuhku di hadapanya, aku masih ingin mendengar kalimat apa selanjutnya yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa masih diam, kau menyadari kesalahan mu" ucapnya masih dengan nada tinggi.
"Apa aku selama ini di anggap seorang istri? bukannya selama ini kau menganggap ku hanya sebagai benalu, manusia yang tidak tahu malu, dan hanya menumpang hidup dengan mu, bukah kah selama ini kau tidak pernah perduli dengan apa yang aku lakukan... Tapi apa sekarang, kenapa kau berulah seolah kau adalah suami terbaik di dunia ini,, suami yang selalu mengalirkan kasih sayang,, suami yang menjadikan rumah tangganya harmonis" aku berbicara satu oktaf lebih tinggi darinya, rasa kesal di jiwaku sudah tidak terbendung lagi, aku meluapkan semua kekesalan yang selama ini aku simpan.
"Pukulan disini, tamparan di pipi kiri dan kanan ku, apakah itu sebuah kasih sayang seorang suami kepada istri,, apakah itu bentuk perwujudan keperdulian mu selama ini,,, apa kau puas menghancurkan ku... Kalau memang kau membenci kehadiran ku,, ceraikan aku,, bila perlu bunuh agar kau merasa aman,, merasa tenang di dunia ini, tanpa penganggu seperti ku" aku mulai terisak, padahal niatnya aku tidak ingin menunjukan sisi lemah ku dengan menumpahkan air mata, karena selama ini aku tidak pernah menangis di hadapannya, aku selalu berusaha menjadi wanita kuat, apa pun yang dia lakukakan.
Aku sudah tidak perduli apa yang sedang dia pikirkan sekarang, ucapan ku akan membuatnya sadar atau bahkan malah menimbulkan masalah baru. Aku beralih meninggalkan dia begitu saja, dengan langkah lebar aku menuju kamar ku, aku ingin menangis sejadi jadinya, aku akan membodohi diriku sendiri, aku akan memaki diriku sendiri.
Kejadian panjang kemarin malam membuat ku tertidur lama, aku membuka mata saat jam menunjukan pukul sepuluh pagi, matanya yang masih merah akibat tangisan luar biasa kemarin, menjadikan aku malas untuk keluar dari kamar.
Rumah tangga yang aku alamai begitu rumit, tidak pernah aku mencicipi gula dalam rumah tangga ini, aku selalu mendapatkan empedu, tidak hanya sekali dua kali namun setiap hari.
Sejak awal menikah, dia memang tidak pernah menunjukan sisi lembutnya, bahkan harusnya seorang suami istri tidur di kasur yang sama, namun pernikahan ku berbeda, sejak awal aku tidak pernah merasakan kehangatan kasih sayangnya, aku selalu mendapatkan kehangatan amarahnya.
Dua bulan kemudian, aku benar benar memutuskan untuk bercerai darinya, tidak perduli apa tanggapannya, apa reaksinya, semarah apa nanti dirinya. Yang intinya aku ingin segera bebas, menikmati masa lanjang sebagai janda namun masih perawan.
Setelah suamiku, ah bukan mantan suamiku menandatangani surat perceraian, aku benar benar pergi dari rumah itu, aku sudah mengemasi barang barang ku sejak awal. Aku berniat akan pergi dari negara ini, memulai hidup di negeri yang baru dengan suasana baru.
Sudah setengah tahun aku menjadi seorang janda yang masih berstatus perawan, dan dari saat itu juga aku mulai merintis usaha, tuhan menjadikan aku sebagai orang yang kuat, dan tuhan masih memberikan ku kesempatan untuk bahagia.
Semakin lama usaha ku berkembang cepat, cabang di mana mana, memiliki karyawan tetap. Aku masih tidak menyangka bahwa aku akan menjadi orang sukses, tidak henti hentinya aku mengucap syukur kepada tuhan. Hidupku yang sebelumnya memang teramat menyakitkan, ternyata tuhan tengah menyiapkan sebuah kado besar yang saat ini tengah aku nikmati.